Pemuda Pilihan Ayah

Pemuda Pilihan Ayah
Ketemu


__ADS_3

Amira yang sudah penasaran dengan asal usul harta Parlin pun segera menanyakan pada orang tua Parlin saat suaminya sudah kembali bekerja di ladang.


"Pak bolehkah saya bertanya apakah Parlin memiliki harta sebanyak ini karena hasil warisan dari Bapak?" tanya Amira.


"Bukan Nak, apa yang dimiliki Parlin saat ini adalah hasil dari kerja kerasnya sendiri, bahkan saudara saudaranya yang di luar pulau juga Parlin yang membantu memberikan modal," ucap Orang tua Parlin sambil tersenyum.


Amira merasa kaget dan tidak percaya orang yang seusia Parlin bisa memiliki harta yang begitu banyak dan harta itu bukan hasil dari warisan sungguh sangat mengagumkan.


"Bahkan kami dulu termasuk keluarga miskin di desa ini Nak sebelum Parlin berhasil dengan usahanya," lanjut orang tua Parlin.


"Lalu Parlin dapat modal dari mana Pak untuk memulai usahanya kalau bukan dari orang tuanya?" tanya Amira penasaran.


"Ada satu keluarga yang baik hati, mereka membantu Parlin dan memberikannya modal, dan Parlin adalah sosok anak yang tangguh dan penuh semangat hingga dia berhasil mengencangkan usahanya hingga saat ini," tutur orang tua Parlin.


Aku pun mengangguk angguk kagum dengan kepiawaian Parlin yang sukses dalam usahanya walaupun dia termasuk masih termasuk dalam usia muda.


"Parlin dulu juga mengawali usahanya seperti kalian, mulai dari nol, mulai dengan susah payahnya toh kalian masih mendingan alat bantu sudah banyak di sini, dulu Parlin alat pengangkut dan air untuk minum ternak saja sangat kesulitan mencarinya dia harus susah payah berjalan ke kampung tetangga untuk mendapatkan air," ucap Bapak Parlin.


Amira merasa kagum sekaligus merasa bersalah karena selama ini dia telah salah sangka terhadap Parlin, bahkan dia sering sekali menghina Parlin dulu sebelum tahu seperti apa Parlin yang sebenarnya.


Di tempat Parlin dan Sinta tinggal, mereka sedang berbaring santai di depan televisi, menikmati siaran kuis yang membuat mereka ikut dag dig dug.


"Oh ya Dik apakah orangnya sudah ketemu?" tanya Parlin tiba-tiba.


"Kan kita sudah memberikan uangnya tadi pagi Bang, kok Abang tanya lagi," ucap Sinta dengan pandangannya yang tidak beralih dari siaran televisi.


"Bukan itu Dik," ucap Parlin.


Sinta yang merasa terganggu karena Parlin yang ribut terus pun akhirnya menoleh dan menatap suaminya itu.

__ADS_1


"Lalu apa Bang?" tanya Sinta penasaran.


"Itu si Nita apakah adik sudah menemukannya?" tanya Parlin.


Sebenarnya aku kesal mendengar pertanyaan Bang Parlin ingin sekali aku marah tapi mau bagaimanapun aku sudah berjanji padanya untuk membantunya mencari si Nita itu jadi mau bagaimanapun aku harus menepati janji.


"Iya ...iya Bang aku bantu cari sebentar aku cek dulu," ucapku sambil cemberut.


Aku pun mengecek inbox dan si sana ada 7 orang yang mengaku Nita, ada yang masih sekolah,ada yang berjualan di pasar, ada juga yang jadi TKW. Aku pun merenggut mungkin bukan mereka yang di cari bang Parlin karena diantara mereka tidak ada satupun yang sesuai dengan kriteria yang diceritakan bang Parlin.


Dan ada lagi satu inbox yang menanyakan "apakah ini bang Pain? betulkah ini bang Pain." Aku pun berdecak sebal yang pasang iklan pencarian Parlin yang di tanya Pain.


"Semuanya tidak sesuai kriteria yang Abang ceritakan Bang, ini ada 7 orang yang inbox tapi ciri cirinya tidak ada yang sesuai dan ini satu lagi ada yang inbox cari bang Pain padahal di status sudah aku tulis dengan jelas kalau yang mencari Nita itu Parlin bukan Pain, jadi emosi aku," ucapku kesal.


Bang Parlin pun wajahnya terlihat bahagia dia pun tersenyum.


Aku pun segera melihat profil yang bernama Moms Nipar itu, dan di sana tidak terpasang foto profilnya aku pun segera menginbox kembali akun itu.


"Apakah ini Nita anak pak mandor?" tanyaku.


"Iya benar aku Nita, apakah ini istrinya bang Parlin ya?" tulis orang itu.


"Iya aku istrinya," jawabku.


"Bolehkah aku melakukan video call, sudah bertahun tahun kami putus kontak," tulisnya lagi.


"Boleh tapi aku tidak memiliki messenger yang bisa VC bisa lewat WA saja," balasku sambil memberikan nomor wa ku.


Tidak beberapa lama panggilan video pun masuk dan aku pun segera menyerahkan pada bang Parlin.

__ADS_1


"Ini Bang...Nita mu telepon," ucapku sambil menyerahkan ponsel.


Bang Parlin pun menerimanya dengan senyum sumringah, sejujurnya aku sangat sebal melihat bang Parlin yang bahagia karena wanita lain tapi aku berusaha menahan diri sebisa mungkin.


"Bang Parlin bagaimana kabarmu? sudah punya anak berapa Bang?" suara Nita dari sebrang sana aku dengar.


"Nita rambut panjangnya sudah hilang, padahal aku sudah dua puluh tahun lebih merawatnya hingga sepanjang itu tapi tiba-tiba hilang di makan tikus, dan si Jum juga sudah meninggal dia terlalu tua untuk bertahan hidup, kamu terlalu lama tidak kembali," ucapnya sambil menitikkan air mata.


Aku semakin geram melihat tingkah bang Parlin, dia terlalu berlebih-lebihan menyikapi rambut panjang dan juga si Jum nya itu.


"Kabar Bang Parlin baik Nita, kami belum punya momongan," ucapku menjawab sapaan Nita tadi sambil merapatkan tubuhku pada bang Parlin.


Aku ingin mengatakan pada si Nita secara tidak langsung kalau bang Parlin kini telah memiliki pasangan dan hidup bahagia.


Tiba-tiba kami melihat seorang bocah sekitar umur tiga tahun berjalan mendekati Nita dan memanggilnya ibu.


"Bang Parlin kenalkan ini anak aku namanya Nipar Anjani, nama Nipar sengaja aku ambil dari gabungan nama kita berdua," ucap Nita sambil tersenyum bahagia.


Hatiku rasanya ingin meledak karena amarah apa-apaan ini nama anak saja mereka ambil dari menggabungkan dua nama orang, lebay sekali mereka semakin membuatku ingin melempar itu ponsel.


"Eh lucu sekali cewek cantik, berapa usiamu?" ucapku karena bang Parlin diam saja sibuk menatap Nita mungkin dia sedang melepas rindu, ingin rasanya aku cokel itu mata bang Parlin enak saja di sisinya ada istrinya yang cantik bahenol seperti ini masih saja berani beraninya menatap wanita lain dengan sorot penuh cinta, seandainya tidak mengingat kalau Nita adalah anak dari orang yang membantu bang Parlin sampai sesukses ini sudah aku putuskan itu sambungan telepon.


"Aku baru mau tiga tahun Tante bulan depan," ucap Nita menirukan suara balita.


"Bagaimana dengan uang yang kamu gunakan untuk membeli sapi itu Nit,? dia sudah mati dan aku berhutang padamu kirim nomor rekening biar di transfer uangnya," ucap Bang Parlin tiba-tiba.


"Sudahlah Bang...aku melihat Abang sukses seperti ini sudah sangat senang, itu tandanya Abang setia dan pekerja keras," ucap Nita sambil menyeka air matanya.


Aku heran kenapa juga kedua orang ini saling menangis padahal bagiku tidak ada yang menyedihkan di pembicaraan ini.

__ADS_1


__ADS_2