Pemuda Pilihan Ayah

Pemuda Pilihan Ayah
Tetangga Julid


__ADS_3

"Bang apa bisa kita bulan madu terus? secara kalau kita bulan madu terus di sini lalu siapa yang ngurus kerjaan Abang di kampung?" tanyaku penasaran.


"Tenang Dik! di sana ada bapak dan beberapa pekerja yang sudah ada bagian sendiri sendiri dalam mengurus pekerjaan, Abang mau istirahat dulu mau menikmati hidup lelah juga sudah dua puluh dua tahun bekerja terus," jawab bang Parlin.


"Lagian kita jual sapi hanya setahun sekali Dik itu pun hari raya idul Adha, sedangkan tambak enam bulan sekali, panen jarak pun sudah ada yang ngurus," lanjut bang Parlin.


"Lalu kalau kebun jarak siapa bang yang ngelola?" tanyaku.


"Bapak dan para sepupuku mereka yang mengelolanya dan kita bisa menerima hasil panennya setahun dua kali," jawab suamiku.


"Cara bagi hasilnya gimana Bang kalau ternak sapi?" tanyaku mulai kepo ingin tahu segalanya.


"Begini Dik sapi itu pengembangannya ada 2 cara yang satu untuk sapi pedaging dan yang satu lagi untuk di kembangkan, kalau untuk pedaging mereka memelihara sapi menggembalakan di sekitar kebun jarak dan kalau sudah gemuk dijual keuntungannya di bagi dua dengan yang memeliharanya, selama ini satu sapi biasanya untung sepuluh juta dibagi dua dengan yang memeliharanya jadi kita dapat lima juta sedangkan untuk yang dikembangkan setahun sapi itu beranak satu kali jadi setiap beranak kita bagi 2 anaknya sama yang memeliharanya, selama dua puluh dua tahun Abang mengerjakan semuanya sendiri sekarang Abang sudah lelah ingin menikmati hidup masa ngawinin sapi terus orangnya ndak kawin kawin," ucap suamiku sambil cengengesan.


Aku mulai menghitung hasil dari panen sapi setiap hari raya idul Adha, bayangkan lima juta kali dua ratus sapi saja sudah berapa duit itu dibagi dua sama pemelihara kalau dihitung-hitung sebulan suami dapat duit lima belas juta dari hasil penggemukan sapi saja belum dari pembibitan atau pembiakan waduh aku kok jadi pusing ngitung berapa duit yang di dapat selama setahun oh suamiku kamu ndeso tapi rezekimu kuto.


Aku ingin menanyakan beberapa pertanyaan lagi pada bang Parlin lagi pertanyaan yang lainnya tapi terhenti karena ada suara pintu yang di ketuk ada tamu yang datang.


Aku buka pintu dan ternyata yang datang Zubair teman laknatku itu.


"Assalamualaikum Nia," ucapnya.


"Waallaikum salam, ayo masuk Zubair tumben kamu mampir ke sini?" ucapku.


"Memangnya gak boleh ya aku main ke sini? pelit amat sih Nia! mentang-mentang kamu sudah bersuami, jadi aku gak boleh main nih?" ucap Zubair.

__ADS_1


"Memangnya ada keperluan apa kamu mencariku?" tanyaku pada Zubair.


"Ini aku mau antar undangan, aku kan gak seperti kamu nikah gak undang teman," jawab Zubair sambil menyerahkan undangan padaku.


"Wah akhirnya laku juga bujang lapuk kampung ini," ucapku sambil cengengesan.


"Ya laku lah masa orang seganteng Anjasmara gak laku! jangan lupa datang sekalian kita temu kangen dengan teman teman yang lain, ajak juga suamimu," ucap Zubair.


Temu kangen? sudah bisa aku pastikan suamiku akan jadi bahan candaan oleh teman temanku, dan aku pun tidak akan luput dari bulian mereka karena penampilan suamiku yang aneh bin katrok.


***Dimata masyarakat rumah tangga ku terbilang aneh karena apa apa dan kemanapun kami selalu berdua, mulai dari belanja, nyapu, beres beres rumah, masak, nyuci, mandi pun kami lakukan bersama.


Dan yang semakin membuat tetanggaku heran adalah suamiku yang seorang pengangguran dan kerjaannya hanya berkebun di belakang rumah sambil memelihara ayam jago dua ekor dan betina dua ekor tapi kami selalu bisa belanja dan beli apapun kebutuhan kami.


"Kok di rumah terus Mas apa gak kerja?" tanya seorang tetanggaku di suatu pagi karena melihat suamiku sedang menjemur ayam ayamnya dan aku menyapu teras.


Si tetangga itu mengerucutkan bibirnya, dia meremehkan pekerjaan suamiku, mungkin anggapan tetanggaku masa iya pelihara ayam empat ekor kok kerja.


Tetangga itu menatapku yang kebetulan juga sedang menatapnya.


"Mbak Sinta apa suaminya pengangguran? kok hampir setiap saat aku lihat hanya di rumah saja?" tanya tetanggaku kepo.


"Maaf loh Mbk Sinta bukannya saya kepo tapi kok saya penasaran," lanjutnya.


Apa dia bilang tadi tidak kepo tapi penasaran? lalu apa bedanya, aku bingung harus jawab apa akhirnya aku pun menjawabnya asal asalan.

__ADS_1


"Sedang lagi gak ada pekerjaan Bu" jawabku.


"Aduh kasihan Mbk Sinta, nanti saya coba tanyakan sama suami ya Mbk barang kali ada lowongan untuk bagian kuli bangunan, lumayan Mbk gajinya bisa dibuat nyambung hidup," ujar tetanggaku.


"Ya Bu terima kasih," ucapku sambil melirik bang Parlin yang sejak tadi diam saja.


"Ya Mbk sama sama, jangan sungkan-sungkan Mbk kalau butuh bantuan saya siap bantu asal jangan minta bantuan setiap hari, oh ya Mbk saya permisi dulu mau belanja," ucap tetanggaku sambil berlalu.


Aku pun tersenyum mendengar ucapannya. menyuruh minta bantuan padanya jika aku butuh sesuatu tapi tidak boleh setiap hari ngomong saja kalau gak niat bantuin.


Tidak hanya satu dua orang yang merasa kasihan dan menilai rumah tanggaku sangat memilukan, sudah suami penampilan aneh, wajah seperti tukang kuli panggul ditambah lagi rambut yang panjang seperti pria dari abad 80an pengangguran lagi.


"Bang kita tidak bisa terus seperti ini pura pura sebagai orang miskin, sekali kali kita katakan yang sebenarnya pada tetangga agar kita tidak menjadi bahan kasihan orang lain," ucapku suatu hari.


"Abang tidak pernah pura pura Dik! tetangga kita saja yang menganggap kita miskin dan pengangguran," jawab suamiku santai.


"Bagaimana kalau kita setiap pagi pergi Bang agar dikira kita lagi kerja," usulku.


"La itu baru namanya pura pura Dik," ujar suamiku.


Ah susah ngomong sama suamiku, dia tidak peduli dengan apa anggapan orang lain selagi itu tidak menyinggung atau merendahkanku. Pernah ada salah satu tetangga yang menyindirnya tapi dia tidak peduli dan ditanggapi dengan senyuman.


"Jadi laki kok gak tanggung jawab kerjanya hanya ngurusin ayam saja, apa kenyang diberi nafkah dengan hasil melihara empat ekor ayam," ucap tetanggaku waktu itu.


Ingin rasanya aku membungkam mulut tetangga itu dengan mengatakan apa yang sebenarnya tapi suamiku selalu melarangku.

__ADS_1


Ingin rasanya aku pamer semua apa yang aku punya mulai dari tambak, sapi, ladang jarak, hingga kontrakan ini tapi selalu saja bang Parlin melarangku, katanya biarkan saja mereka mau menganggap kita seperti apa yang penting kita, tidak seperti mereka yang suka mengurusi urusan orang lain dan menghina sesukanya padahal mereka tidak tahu apa yang sebenarnya.


__ADS_2