Pemuda Pilihan Ayah

Pemuda Pilihan Ayah
Hamil


__ADS_3

Setelah satu bulan aku tinggal di tempat Parman, akhirnya hari ini aku pun kembali ke kotaku Bogor.


Aku bahagia sekali Rani langsung betah tinggal di tempat Parman yang dikelilingi rawa -rawa itu katanya di sini damai tidak mendengar keributan tetangga yang julid, tidak mendengar kebisingan lalu lintas, dan yang terpenting suaminya yang kaya raya ini aman dari gangguan makhluk yang namanya pelakor.


Rani sangat merasa beruntung saat melihat kenyataan kalau suaminya ini kaya raya bahkan kekayaannya lebih dari yang dibayangkan Rani sebelumnya, Rani pun langsung betah dan jatuh cinta pada suaminya saat tahu betapa luas perkebunan dan tambak milik Parman, maklumlah wanita seperti kami ini yang sudah cukup umur tidak lagi mementingkan cinta dan penampilan yang terpenting adalah uang, kalau ada uang pasti penampilan bisa di rubah dan cinta pun akan datang dengan sendirinya.


Rani mendapatkan emas yang lumayan banyak dari para handai taulan, dia yang sama sepertiku sejak kecil jarang sekali memakai perhiasan pun merasa sangat bahagia, pokoknya saat ini Rani merasa mendapatkan durian runtuh beserta pohonnya.


Kami pun tiba di Bogor jam tiga pagi, aku pun segera membuka pintu dan berbaring di kasur busa yang aku tempatkan di ruang tengah depan televisi, badanku terasa remuk setelah melakukan perjalanan yang teramat jauh bagiku, baru kali ini aku melakukan perjalanan sejauh itu.


"Dik bangun bersihkan tubuhmu dulu, dan beristirahatlah di kamar," ucap Bang Parlin mendekatiku yang ingin mencoba memejamkan mata karena saking lelahnya tubuh ini.


"Nanti saja Bang! aku mau beristirahat dulu capek," ucapku.


"Ya sudah deh Abang juga mau ikutan tiduran di sini," ucap Bang Parlin sambil ikut berbaring di sisiku.


Tiba-tiba perutku terasa mual saat mencium bau badan bang Parlin, sungguh aku merasa eneg aku pun segera bangun dan berlari ke kamar mandi memuntahkan semua isi perutku. Mungkin aku masuk angin karena perjalanan jauh yang baru pertama kali aku tempuh.


"Dik kamu kenapa, sini aku pijat tengkuknya biar lega saat mutah," ucap bang Parlin menyusulku ke kamar mandi dan memijat tengkukku tapi bukannya aku merasa lega tapi malah semakin menjadi mualnya saat mencium badan bang Parlin.

__ADS_1


"Bang mandi sana! menjauh dariku! Abang bau aku jadi mual mencium bau badan Abang," ucapku sambil menutup hidungku agar tidak tercium lagi bau aneh dari bang Parlin.


"Aku sudah mandi kok Dik! dan ini juga badanku tidak bau," ucap bang Parlin sambil mengendus seluruh tubuhnya yang dia rasa tidak bau.


"Menjauhlah Bang! sungguh aku muak," ucapku yang hampir menangis.


Bang Parlin pun menjauh dariku dengan rasa bingung, kenapa juga aku bilang dia bau padahal dia baru selesai mandi lima belas menit yang lalu.


Malam ini bang Parlin tidur sendiri di kamar sedangkan aku tidur di depan televisi, sungguh aku merasa bingung mutah karena mabuk perjalanan saja kok aneh jika ada bang Parlin di dekatku aku akan merasa mual dan ingin muntah tapi kalau tidak ada bang Parlin aku tidak merasakan apa-apa, sebaiknya aku tidur siapa tahu besok pagi aku bisa kembali segar dan fit kembali seperti sedia kala.


Pagi ini aku pun segera bergegas bangun membersihkan diri, dan memasak seperti biasanya, saat aku sedang memasak tiba-tiba bang Parlin masuk dan menanyakan keadaanku.


Aku pun menoleh dan melihat bang Parlin yang saat ini sedang berdiri di belakangku, tiba-tiba rasa mual itu kembali datang dan aku pun segera berlari ke kamar mandi, tidak ada sedikitpun cairan yang keluar saat aku mutah karena aku belum memakan apapun mulai saat datang dari Lampung pukul tiga semalam.


Bang Parlin pun bingung sebenarnya ada apa denganku, yang tadinya terlihat baik-baik saja tapi saat bang Parlin mendekatiku tiba-tiba aku merasa mual dan muntah.


Tiba-tiba bang Parlin pun tersenyum bahagia, aku yang sudah merasakan badan terasa lemas dan melihat dia yang tersenyum bahagia pun merasa kesal.


"Kenapa sih Bang senyum -senyum begitu, bahagia banget melihat istrinya menderita," ucapku kesal.

__ADS_1


"Bukannya begitu Dik! Abang merasa bahagia jangan -jangan Adik hamil, karena aneh saja setiap kali Abang berada di dekat Adik merasa mual, bagaimana kalau nanti kita pergi ke dokter untuk memeriksakan kandunganmu," ucap Bang Parlin dengan senyum bahagianya.


"Ah masa iya sih Bang? atau Adik cuma masuk angin karena perjalanan kemarin? jangan dulu pergi ke dokter Bang Adik takut kecewa karena hasilnya tidak seperti yang kita inginkan," ucapku yang masih ragu untuk pergi ke dokter.


"Tidak apa-apa Dik kalau memang benar Adik belum hamil kan kita bisa coba bikin lagi! tapi kalau kita tahu kalau Adik hamil kan kita bisa hati-hati dalam bertindak," ucap bang Parlin.


"Baiklah Bang nanti setelah masak kita pergi ke dokter tapi sementara Abang jauh-jauh deh dari Adik," ucapku sambil menutup hidungku.


Bang Parlin pun mengangguk dan segera keluar dari dapur, aku melihat wajah melas suamiku, sebenarnya aku tidak tega mengusir dia agar menjauh dariku tapi mau gimana lagi ini hidung tidak bisa mencium bau badannya bang Parlin aku juga heran padahal biasanya aku paling suka peluk bang Parlin saat mau tidur bahkan kalau tidak memeluk bang Parlin aku tidak bisa tidur.


Siang ini pun akhirnya kami pergi ke dokter kandungan, kami memutuskan untuk memeriksakan kandunganku.


Saat berangkat ke tempat praktek dokter aku pun memakai masker rangkap tiga agar tidak tercium bau badan bang Parlin ke hidungku. Rasanya engap sekali tapi mau bagaimana lagi ini satu -satunya cara menghindari agar tidak muntah sepanjang perjalanan menuju tempat praktek dokter kandungan.


Sesampainya di tempat praktek dokter kandungan aku pun segera melakukan pemeriksaan, dokter itu sangat ramah dan aku pun merasa nyaman saat menjalani serangkaian proses pemeriksaan.


Kami pun di suruh menunggu setengah jam selesai melakukan beberapa rangkaian pemeriksaan itu dan akhirnya kami pun dipanggil untuk mendengarkan hasil pemeriksaan yang sudah keluar.


"Selamat ya pak... Bu! Ibu sedang mengandung dan usia kandungan ibu saat ini enam minggu saya sarankan agar ibu jangan kecapekan, karena pada tri semester pertama seperti ini kandungan masih rentan," ucap Dokter menjelaskan pada kami.

__ADS_1


Aku dan bang Parlin pun saling menatap sungguh hati ini terasa sangat bahagia, kabar ini membawa kebahagiaan yang teramat sangat setelah sekian lama kami menunggu akhirnya kami diberi kepercayaan untuk menjadi seorang ayah dan ibu kebahagiaan ini tidak ternilai harganya.


__ADS_2