
Setelah semua orang yang ikut tahlilan pulang kami pun berkumpul di ruang tengah,
"Lusa kan malam hari ke tujuh sepeninggal ayah, setidaknya kita bikin nasi berkatan jadi lusa ijinkan aku datang kemari untuk membantu mempersiapkannya," ucapku.
"Nasi berkatan apa? uang darimana? kita tidak akan membuat nasi berkatan dan jajanan tidak ada uang kok mau bikin begituan emang duwit tinggal petik," ucap kakak iparku ketus.
"Kan ada uang hasil urunan warga untuk kemalangan kak," ucapku.
"Uangnya sudah habis di gunakan untuk beli jajanan dan minuman suguhan orang tahlilan mulai meninggalnya ayah sampai sekarang," ucap kakak iparku yang pertama.
Sebenarnya aku ingin menawarkan uangku untuk digunakan di acara malam tujuh hari ayah, itu uangku sendiri bukan uang bang Parlin tapi tetap saja aku takut kalau mereka mengatakan itu uang haram.
"Ini artinya kita positif tidak akan mengadakan nasi berkat tujuh hari ayah? sungguh malang sekali nasib ayah meninggal pun tidak ada ikut cara tradisi," ucap si bungsu dengan nada memelas.
"Kalau memang benar-benar tidak ada biarlah mengunakan uang kami untuk melakukan sesuai adat yang biasa di jalani di desa ini, kalau kalian tidak mau memakai uangku karena kalian bilang uangku...uang haram maka pakailah yang adikmu itu uang milik adikmu sendiri sebelum menikah dengan aku," ucapku.
Aku lihat semua saudaraku terdiam tidak ada yang berkata sepatah pun.
"Baik Bang aku ambil dulu," ucapku.
Aku pun pergi sebentar ke ATM yang tidak terlalu jauh dari rumah ayah, kali ini aku ambil menggunakan kartuku sendiri karena seingatku uang di ATM atas namaku masih ada saldo empat juta jika ditambah uang pembayaran sapi yang sudah masuk mungkin ada sekitar dua puluh empat juta.
Betapa kagetnya aku saat tahu berapa isi saldo di kartu ATM ku, aku cek sisa saldo ternyata kini saldoku berjumlah delapan puluh lima juta betapa shock aku di buatnya.
Seumur umur baru kali ini kartu ATM ku ada saldonya sebegitu banyak.
Awalnya aku kira harga si Jum cuma dua puluh juta ternyata si Jum berharga 80jt sapi sebesar gajah itu harganya fantastis sekali tidak pernah terbayangkan kalau harganya sebegitu mahal.
__ADS_1
Aku pun segera mengambil uang seperlunya saja seperti yang mereka butuhkan tiga juta setelah mendapatkan uang itu aku pun segera kembali ke rumah peninggalan ayah.
Setibanya di rumah aku pun segera memberikan uang tiga juta itu pada Kakak pertamaku dan entah telingaku yang bermasalah atau memang Abangku yang melupakan etika, tidak ada ucapan terima kasih keluar dari mulut Abangku, ya sudahlah aku pun cuek dengan apa yang mau dia perbuat.
"Baiklah karena kita sudah berkumpul semua di sini lebih baik kita bicarakan tentang apa yang di tinggalkan ayah untuk kita bagi karena kita sudah memiliki rumah masing-masing tidak mungkin kita tinggal di sini," ucap Kakak keduaku.
"Peninggalan ayah ada rumah, tanah, dan juga pekarangan yang ada di belakang, aku akan menjualnya karena kini ayah sudah tiada dan apa yang ayah tinggalkan harus kita bagi merata," ucap Kakak pertamaku.
"Aku tidak setuju kalau rumah ini dijual banyak kenangan bersama ayah dan ibu di sini," ucap Adikku sedih.
"Lalu harus bagaimana ini peninggalan dan kita anak anaknya punya hak atas rumah ini jadi supaya adil kita jual saja, aku akan menawarkan pada bang Maun aku rasa dia mau membelinya," ucap kakakku yang kedua.
"Bukan begitu Bang, begini saja gimana kalau siapa saja yang mau tinggal di sini biarkan tinggal di sini asal jangan dijual ini rumah, terserah Abang mau jual pekarangan aku tidak peduli tapi rumah ini jangan," ucap Adikku lagi.
"Tidak bisa begitu kami juga kondisi lagi butuh duwit jadi sudah sepantasnya rumah ini di jual dan di bagi," ucap kakak iparku yang kedua.
Aku faham dengan trik kakakku yang satu ini, aku yakin dia akan menggadaikan surat rumah ini dulu dan jika uang hasil gadai sertifikat cair baru dia berikan uangnya kepada kami, karena aku tahu kakakku ini suka sekali hutang bahkan padaku saja dia sering menghutang dan lupa untuk membayarnya.
Tiba-tiba suamiku berbisik.
"Bilang saja kalau kamu saja yang akan membeli rumah ini Dik," ucap suamiku.
"Kenapa Abang mau membelinya?" tanyaku.
"Inikan rumah peninggalan orang tuamu, dan banyak kenangan di dalamnya jangan sampai rumah ini di beli orang lain," ucap suamiku.
Aku pun mengangguk.
__ADS_1
"Kami yang akan membayar rumah ini dua ratus lima puluh juta," ucapku.
"Benarkah? tunai tanpa di hutang?" tanya Kakak iparku yang kedua seakan-akan dia meremehkan kami.
"Ya tunai tanpa di hutang lusa setelah tahlilan tujuh hari ayah aku serahkan uangnya," jawabku.
Mereka pun saling menatap satu sama lain seakan akan mereka tidak percaya dengan apa yang aku katakan.
"Dari mana kamu dapat uang sebegitu banyak Sinta? tidak usah membual deh!" sahut Kakak iparku yang pertama.
"Kakak lupa ya kalau bang Parlin punya sawah di desa kami bisa menjualnya demi untuk membeli rumah ayah ini," ucapku.
"Bukannya menjual sawah itu lumayan lama prosesnya? kok bisa kalian cepat mendapatkan uang?" tanya kakakku lagi.
"Sudahlah kak dari mana pun kami mendapatkan uang itu tidak penting yang penting uang itu halal bukan hasil ngepet seperti yang kalian tuduhkan," ucap ku kesal.
Mereka terdiam saat melihat aku yang kesal karena tuduhan mereka.
"Oke lusa pagi pagi uang itu harus sudah ada," ucap Kakak pertamaku memecah kesunyian.
"Tidak bisa Kak agak siangan paling tidak pukul 11siang karena kalau masih pagi aku belum bisa berubah jadi manusia masih dalam wujud babi," jawab suamiku santai.
"Mulutmu itu Bang! mereka sudah mempercayai kalau kita jadi babi ngepet malah Kamu bumbui!" ucapku kesal.
"Agak siangan Kak karena kami harus mengambil uang itu dari bank, orang suruhan kami di desa mengirimnya agak siang," ucapku.
"Baiklah yang penting lusa uangnya sudah ada dan rumah menjadi milikmu," ucap Kakakku.
__ADS_1
Aku pun merasa lega setidaknya aku bisa menyelamatkan rumah peninggalan ayah, rumah ini penuh kenangan bagiku hanya di rumah ini aku bisa mengingat betapa bahagianya dulu ayah dan ibu memiliki kami anak -anaknya tapi kini kakakku malah ingin menjual rumah ini pada orang lain untung suamiku yang jadul itu tajir jadi aku bisa menyelamatkan peninggalan ayah.