Pemuda Pilihan Ayah

Pemuda Pilihan Ayah
Isi Rumah untukku


__ADS_3

"Sudahlah Dik tidak usah! semua tidak harus sama seperti dulu lagian ini rambut sudah di makan cemburu," ucap Bang Parlin.


Aku pun tertawa saat dia bilang kalau rambutnya di makan cemburu.


"Bang bisa cerita sedikit tentang Nita," ucapku sebenarnya aku juga penasaran tentang Nita apalagi bersangkutan dengan itu rambut.


"Beneran kamu tidak akan cemburu lagi kalau aku ceritakan tentang Nita?" tanya Bang Parlin.


Aku pun menggelengkan kepalaku.


"Yakin?" tanya Bang Parlin lagi.


"Udah deh Bang cepetan cerita!" ucapku kesal.


"Baiklah tapi janji jangan marah ya, aku dan Nita dulu sering pergi kemanapun bersama, dan mamakku sudah menganggap Nita seperti anaknya sendiri karena mamak tidak memiliki seorang anak perempuan dan aku pun menganggapnya sebagai adikku sendiri, ingat Dik seperti adikku sendiri bukan seperti kekasihku garis bawahi itu," ucap bang Parlin padaku. Aku pun mencebikkan bibirku.


"Dulu suka sekali dengan orang yang bergaya rambut seperti ini Dik dan Abang pun bergayalah seperti orang orang di luaran itu dan dia suka dia bilang Abang pantas pakai model rambut cepak belakang panjang seperti ini dia suruh Abang selalu pakai gaya rambut begini selamanya, dan dia juga suka burung Nuri dia titipin burung Nurinya sama Abang dia juga sayang sama si Jum Nita bilang sampai kapan pun gak boleh jual si Jum dia sapi kesayangan Nita, sebagai Abang yang baik aku pun mengabulkan permintaannya," tutur bang Parlin.


"Tunggu Bang si Jum? bagaimana maksudnya," ucapku memotong cerita bang Parlin karena aku penasaran apa hubungannya si Jum sama si Nita.


"Si Jum itu sapi pertama Abang , Dik dulu membelinya dengan uang hasil tabungannya Nita, ia memintaku menjaganya seperti aku menjaga si Nita, dan sampai sekarang si Jum terpaksa harus di jual karena tidak mungkin bisa hidup lebih lama lagi," ucap Bang Parlin.


"Lalu burung nuri itu di mana Bang?" tanyaku yang penasaran tentang semua yang berkaitan dengan Nita.


"Burung itu meninggal setelah Nita pergi baru selama empat bulan, dan dari ketiga amanah Nita sebenarnya yang bisa bertahan hanya rambut tapi rambut juga sudah terbakar api cemburu," ucap Bang Parlin sambil menghela nafas.


"Baiklah Bang kalau begitu aku janji deh bantu Abang untuk bisa menemukan Nita, sebagai permintaan maafku," ucapku serius.


"Bagaimana caranya Dik? toh kita sudah putus kontak cukup lama," ucap Bang Parlin.


"Liwat ponsel Bang! kita cari saja liwat facebook aku yakin dia punya akun di facebook karena aku kira si Nita itu gak gaptek seperti Abang," ucapku.


"Terserah kamu saja Dik! asal jangan cemburu lagi," ucap bang Parlin sambil tersenyum.


"Ayo Bang kita foto dan aku akan mengunggahnya ke beranda dan beberapa grup," ucapku.

__ADS_1


"Abang ngaca dulu Dik apa Abang sudah ganteng apa belum, malu di lihat orang kalau berantakan," ucapnya dan dia pun berjalan masuk meninggalkan ku terbengong di teras.


Sungguh aku tidak menyangka kalau suamiku senarsis itu.


Aku pun mengambil foto kita beberapa kali dan memilihnya yang terlihat paling bagus dan mesra.


Setelah mendapatkan foto yang aku rasa cocok akhirnya aku pun langsung mengunggahnya ke sosial media dengan caption.


"Bagi yang bernama Nita dan mengenal bang Parlindungan tolong segera japri akun ini karena bang Parlin mau menepati janji"


Aku pun segera mengunggahnya dan mengirimkan ke beberapa grup di media sosial kini tinggal menunggu perkembangannya saja.


***Kakak keduaku menghubungiku dan mengatakan kalau rumah peninggalan ayah yang kami beli harus di tempati tidak baik di biarkan kosong karena adikku beberapa bulan lagi akan menikah dia pun sudah membeli rumah yang tidak begitu besar tapi cukup nyaman untuk di tinggali bersama istrinya nanti.


Aku dan bang Parlin pun memutuskan untuk pindah hari ini, ketika kami sedang sibuk mengangkat barang-barang kami ke atas mobil bak yang kami sewa untuk pindahan tiba tiba tetangga sebelah rumah pun datang menghampiri kami.


"Mau pindahan ya Mbk Sinta?" tanya tetanggaku.


"Ya Bu," jawabku sambil tersenyum.


"Iya Bu, kami harus pindah ke rumah peninggalan ayah karena menurut saudara saudaraku tidak baik rumah peninggalan ayah dibiarkan kosong," ucapku.


"Oh iya mbk Sinta memang rumah peninggalan orang tua itu banyak menyimpan kenangan sebaiknya jangan di jual atau dibiarkan kosong tidak berpenghuni kalau kata orang tua jaman dulu pamali," ucap tetanggaku.


"Hehehe iya Bu, oh iya kami pamit dulu ya Bu! kami minta maaf kalau ada kesalahan selama tinggal di sini," ucapku sambil menjabat tangannya.


"Iya Mbak Sinta sama sama," ucapnya.


Kami pun segera naik ke mobil dan meminta sopir untuk segera membawa kami meluncur ke rumah ayah.


Ketika kami sedang sibuk menata barang bawaan tiba tiba kakak keduaku datang dan menghentikan acara tata menata yang sedang kami lakukan.


"Sin Kakak mau bicara sebentar," ucap Kakakku.


"Ada apa Kak?" aku pun menghentikan kesibukanku dan menghampiri Kakak yang duduk di sofa ruang tamu.

__ADS_1


"Aku ingin meminta sofa dan isi rumah lainnya untukku saja karena semua perabotanku sudah usang," ucap kakakku.


Aku pun tidak mengerti apa maksud kakakku ini.


"Maksud Kakak bagaimana aku tidak faham," ucapku.


"Ini Sin perabotan yang ada aku minta ada tempat tidur, sofa dan almari karena perabotan kakak sudah usang sudah pada lapuk kamu kan anak perempuan jadi bagianmu cukup satu bagian kalau kakak anak laki-laki jadi dua bagian ini isi rumah tidak apa-apa kalau kakak yang berhak," ucap Kakakku.


"Lalu aku bagaimana kak? ini kan aku baru beli rumahnya masa iya melompong tanpa isi," ucapku.


Sebenarnya aku sangat malu dengan sikap saudara saudaraku yang sangat perhitungan dan juga terlalu mata duwitan ini tapi mau gimana lagi aku tidak bisa menolak permintaan mereka takut di kira aku serakah ingin menguasai peninggalan ayah seorang diri, padahal aslinya aku ingin barang barang ini masih ada di tempat semula agar kenangan ayah masih ada di sini bersama kami semua saat kami berkumpul di rumah ini tapi saudara saudaraku yang lain memiliki kemauan sendiri sendiri aku pun tidak bisa berbuat apa-apa.


"Ya kamu beli lagi toh kamu banyak uang," ucap kakakku.


"Kita bicarakan besok ya Kak, besok Kakak datang lagi kemari bersama si bungsu," ucapku karena kakakku yang pertama tidak mungkin bisa datang karena saat ini dia sedang perjalanan menuju kampung suamiku.


Aku pun segera kembali menyusul bang Parlin ke ruang belakang untuk menata barang barang yang aku bawa dari rumah lamaku.


"Abang bicara tentang apa Dik?" tanya bang Parlin.


"Abang mau isi rumah ini di berikan untuknya Bang," ucapku kesal.


"Isi rumah?" tanya Bang Parlin tidak mengerti.


"Itu sofa, tempat tidur, televisi dan lemari ayah," ucapku.


"Berikan saja pada mereka semua Dik!" ucap Bang Parlin.


"Lalu kita bagaimana bang tidak ada prabot dong padahal aku ingin barang barang itu masih di tempatnya untuk mengenang kebersamaan orang tuaku," ucap ku.


"Berikan saja Dik kita beli yang baru," ucap bang Parlin.


Sebenarnya aku merasa tidak enak hati pada bang Parlin saudara saudaraku sangat keterlaluan ketika ayah meminta bantuan menambahi uang haji mereka bilang tidak punya tapi kini setelah ayah tiada mereka berebut barang tinggalannya.


.

__ADS_1


__ADS_2