
Bang Parlin pun menghampiriku yang sudah menentukan pilihan pada Beat standar warna putih.
"Sudah menemukan yang cocok Dik?" tanya bang Parlin.
"Sudah Bang ini Beat," jawabku sambil menunjuk Beat di depanku.
"Tadi Abang lihat Adik menyukai itu motor matic gede kenapa menjatuhkan pilihan pada Beat ini?" tanya suamiku lagi.
Sejak tadi bang Parlin memperhatikanku jadi aku yakin kalau dia bisa tahu dari ekspresiku kalau aku menyukai motor matic terbaru itu tapi ya sudahlah.
"Kita beli sesuatu kebutuhan saja Bang tidak usah sesuai kemauan, butuh kita untuk transportasi jadi ku rasa ini cukup," jawabku.
Bang Parlin pun tersenyum padaku.
"Ayo Dik kita bayar!" ajak Bang Parlin.
Kami pun berjalan menuju tempat pembayaran dan di meja petugas dealer ada seorang wanita cantik yang sejak tadi menatap kami dengan tatapan yang tidak bisa aku artikan.
"Mbak kami ambil Beat itu," ucap bang Parlin.
"Oh yang itu DP lima juta angsuran satu juta lima ratus selama tiga tahun Pak," ucap wanita itu.
"Kami bayar kontan saja Mbak, gak berani kredit takut ngutang belum lunas sudah keburu meninggal malah ditagih di akhir," jawab bang Parlin.
Si petugas itu menatap suamiku dengan tatapan aneh seakan akan dia tidak percaya kalau kami bisa membayar kontan motor itu.
Secara penampilan suamiku seperti seorang kuli panggul di pasar.
"Ini harganya dua puluh dua juta loh Pak," ucap petugas itu.
"Ya boleh beli kontan boleh kan?" tanya Suamiku.
"Boleh... tentu saja boleh! mari saya proses," ucap petugas itu yang seperti antara percaya dan tidak.
"Tunggu sebentar Mbak"ucapku menghentikan petugas itu.
__ADS_1
Suami dan petugas wanita itu pun memandangku dengan tatapan heran.
"Ada apa lagi Dik?" tanya Suamiku.
"Bang bagusan Scoopy apa Beat ya? aku kok jadi bingung pingin Scoopy tapi kok tertarik Beat," ucapku bingung karena sejak tadi bang Parlin hanya menemaniku tanpa memberi pertimbangan untuk memilih aku jadi bingung.
"Kalau kamu suka keduanya ya ambil keduanya saja Dik," ucap bang Parlin.
Petugas wanita itu tersenyum sinis ketika mendengar ucapan bang Parlin seakan akan dia saat ini sedang menghadapi sepasang orang gila yang masuk dealer untuk memilih motor dan tidak mungkin bisa membayarnya.
"Pilih keduanya dan membayarnya dengan kontan?" ucapnya dengan nada merendahkan." Sebenarnya kalian ini jadi beli gak sih lama banget," ucap petugas itu kesal karena aku masih bingung memilih.
"Sudahlah Dik dari pada bingung ambil saja keduanya," ucap bang Parlin.
"Ambil keduanya bayar tunai?" tanya petugas itu dengan nada geli seakan akan ingin menertawakan kami.
"Ya bisakan beli dua motor sekaligus bayar tunai?" tanya bang Parlin.
"Tentu saja boleh," jawab petugas itu.
Wajah wanita petugas dealer itu menjadi pias dan matanya melotot seakan tidak percaya bahwa plastik kresek yang sejak tadi ditenteng suamiku berisikan uang lima puluh juta yang digunakan untuk membayar motor itu dua puluh dua juta dan masih sisa banyak.
Ku lihat wanita itu entah bicara apa dengan bang Parlin saat aku tinggal mengambil helm gratis dari dealer.
Ketika dalam perjalanan pulang aku bertanya pada bang Parlin apa yang dikatakan wanita di dealer tadi.
"Bang wanita tadi ngomong apa ke Abang?" tanyaku.
"Oh itu tadi minta nomor WA dan aku bilang tidak punya dia tidak percaya," jawab suamiku.
Wah calon pelakor rupanya, benar juga kata orang-orang kalau pelakor itu ada di mana-mana untung saja suamiku bukan tipe pria ganjen.
***Ayah pun jadi berangkat haji, semua keperluannya sudah diurus dan sebelum keberangkatannya ayah meminta kami anak anaknya berkumpul di rumah ayah makan makan melepas kepergian ayah ke tanah suci.
Aku pun datang menaiki motor beat baruku bersama bang Parlin, mulai aku datang dan masih di depan halaman rumah aku sudah melihat saudara saudaraku menatapku dengan tatapan heran mungkin mereka kaget aku datang menggunakan motor baru.
__ADS_1
"Motor baru Sin? kredit ya? berapa tahun?" tanya kakak keduaku ketika kami sudah duduk bersama di ruang tamu.
"Beli kes Kak," jawabku sambil berdiri dan berniat mengambil air minum di dapur karena sejak tadi tenggorokanku terasa kering.
Ketika aku kembali dari dapur aku mendengar mereka sedang berunding tentang konsumsi.
"Sinta sini duduk ada yang ingin kami bicarakan penting!" ucap kakak ipar istri Kakak pertamaku.
"Ada apa Kak ," ucapku dan duduk diantara mereka.
"Begini Sin tadi ayah berkata beliau mau nanti waktu acara tahlilan dan makan makan pelepasan untuk berangkat haji ayah mau ada kare rajungan dan juga sate, uang dari mana kita dapat secara usaha kami sedang sepi, ayah entah kenapa makin aneh ada ada saja yang dia minta seperti anak kecil saja," ucap Kakak keduaku.
"Memangnya kita butuh berapa porsi Kak dan berapa duit?" tanyaku.
"Tetangga dan saudara dekat juga ditambah kita dan anak anak semua kira kira ada seratus porsi dan itu setidaknya membutuhkan biaya sekitar enam juta," tutur kakakku.
Aku menatap suamiku, dia menganggukkan kepalanya seakan-akan tahu apa yang ingin aku katakan, dia pun mengeluarkan dompetnya dan mengeluarkan uang sebanyak enam juta.
"Ini uangnya ayo kita siapkan semuanya sesuai keinginan ayah," ucap suamiku.
Semua saudaraku seperti kaget dilihat dari ekspresi wajahnya yang menatap ke arahku dengan tatapan penuh tanda tanya.
Akhirnya suami dan adikku pergi untuk berbelanja keperluan yang akan digunakan untuk acara nanti malam mereka hanya tinggal mengambil belanjaan di tempat langganan kami.
Setelah kepergian suamiku aku pun diintrogasi oleh saudara dan saudara iparku.
"Sinta dari dulu aku sudah curiga dengan suami jadulmu itu," ucap Kakak ipar istri Kakak pertamaku.
"Curiga bagaimana Kak?" tanyaku tidak mengerti.
"Lihat saja dia jarang bicara, jarang sekali tersenyum bahkan wajahnya pun terlihat sangar dan dingin, kami curiga kalau suamimu ini pimpinan perampok atau mungkin piara tuyul atau babi ngepet secara dia pengangguran tidak pernah kami lihat dia bekerja tapi uangnya banyak bahkan kalian baru saja membeli motor baru secara tunai," ujar kakak iparku.
Aku yang mendengar ucapan kakak ipar pun tertawa terbahak-bahak sungguh aku kaget dengan cara berpikirnya aku tidak menyangka kalau saudara saudaraku mencurigai suamiku melakukan pekerjaan yang haram. Tuh kan benar perasaanku kemarin ngomong sama bang Parlin kalau kami akan di curiga mendapatkan uang dari cara haram.
"Kenapa kamu tertawa Sinta, aku sering membaca artikel di ponsel kalau orang desa pelosok itu kebanyakan mencari uang dengan cara pintas agar cepat kaya dan banyak duit aku rasa suamimu juga termasuk salah satunya," ucap kakak iparku lagi.
__ADS_1
Sungguh aku semakin tertawa terbahak-bahak mendengar ucapannya ingin rasanya aku bercerita apa sebenarnya pekerjaan suamiku tapi aku ingat bang Parlin melarangku biarkan mereka tahu sendiri suatu saat nanti.