Pemuda Pilihan Ayah

Pemuda Pilihan Ayah
Pingin punya Anak


__ADS_3

Setelah kami memberikan uang zakat kepada janda beranak dua itu banyak yang menganggap kami keluarga kaya, kami semakin terkenal karena menjadi bahan perbincangan orang, kabar yang tersiar di luaran sana kami adalah penyebab membaiknya kehidupan keluarga Bu Ifa, karena uang bantuan dari kami keluarga itu hidup lebih baik.


Banyak orang yang dulunya nyinyir pada keluargaku sekarang bersikap baik begitu pula dengan saudaraku yang dulunya menyepelekan bang Parlin kini mereka bersikap baik dan perhatian terhadap suamiku itu.


Tapi tidak sedikit juga tetangga yang julid dan menganggap bahwa kami melakukan jalan pintas secara setahu mereka suamiku pengangguran, pekerjaannya hanya menanam sayur di pekarangan rumah, kemanapun kamu selalu pergi berdua dan aku pun bukan ibu rumah tangga yang pembisnis jadi mereka juga merasa heran dari mana kami mendapatkan kekayaan itu kalau bukan dari pesugihan atau ngepet.


Siang ini aku sedang menikmati acara televisi sedangkan bang Parlin entah kemana katanya tadi mau keluar sebentar, tiba-tiba ponselku bergetar tanda ada pesan yang masuk aku pun segera melihat pesan dari siapa. Ternyata sahabatku si Zubair yang mengirimkan pesan.


"Sin ada sesuatu yang ingin aku bicarakan sama kamu," bunyi pesan dari Zubair.


Aku tahu kalau dia sudah memanggil namaku dengan benar itu tandanya ada sesuatu yang benar benar penting untuk di sampaikan.


"Apa bicaralah!" balasku.


"Maafkan sebelumnya ya Sin, bukannya aku mau jadi penghasut dalam rumah tanggamu tapi aku hanya mau mengingatkan saja," ucapnya lagi.


Aku jadi gregetan juga dengan ini anak yang bertele-tele.


"Sudah deh jangan bertele-tele katakan intinya saja!" balasku.


"Kok kamu jadi sewot sih Sin padahal niatku kan baik mau bantu kamu," balas Raffi.

__ADS_1


"Iya cepat katakan jangan bertele-tele aku bingung jadinya," balasku lagi.


"Begini Sin kita kan gak tahu ya bagaimana kedepannya rumah tangga kita, kadang rumah tangga yang terlihat baik-baik saja bisa tiba-tiba berakhir dengan perceraian, atau mungkin berpisah karena kematian, kalau tidak di ambil pelakor ya di ambil tuhan, apakah kamu sudah melakukan persiapan untuk itu semua," tulis Zubair


"Ih sialan kamu doain aku berpisah sama suamiku, aku jadi janda begitu," balasku kesal.


"Bukan doain Sin aku cuma mau nasehati kamu apakah kamu sudah melakukan persiapan jika itu sampai terjadi secara harta suamimu tidak sepenuhnya hasil kalian berdua, dia sudah punya semua sebelum menikah dengan kamu, jika kamu berpisah dengan suamimu karena pelakor dia pergi bersama pelakor dengan semua hartanya dan kamu tinggal gigit jari enakkan itu pelakor kan? jadi aku sarankan buat kamu beli lah apa gitu uang yang bisa jadi aset pribadi atas namamu misalnya properti atau apalah yang penting kamu memiliki aset sendiri atas namamu jadi sewaktu-waktu jika terjadi hal yang tidak diinginkan kamu sudah ada persiapan," balas Zubair.


Aku pun diam sejenak tidak langsung membalas pesan Zubair, aku memikirkan apa yang di katakan Raffi memang benar adanya, sekarang banyak orang-orang yang tahu kalau bang Parlin itu kaya, aku yakin banyak pelakor yang mengincarnya jadi setidaknya aku harus memiliki persiapan.


"Kamu ini Zubair harta orang kamu urusi! urus saja urusanmu sendiri," kilahku.


"Ya sudah kalau kamu tidak mau aku kasih saran toh aku hanya mengingatkan," balas Zubair.


"Ih gara-gara si jeber aku jadi berpikir yang tidak-tidak dasar si kompor meleduk aku yakin kok kalau bang Parlin tidak akan berpaling," gumamku yakin.


Aku dengar langkah kaki di teras depan rumah dan tidak beberapa lama bang Parlin mengucap salam. Aku pun menjawab salamnya dan tidak lama terdengar suara pintu terbuka karena aku sengaja tidak menguncinya agar bang Parlin bisa langsung masuk aku malas untuk berdiri dan membuka pintu kalau sudah asik menonton sinetron Indosiar.


Aku terkejut karena bang Parlin menyerahkan sebuah handphone model terbaru padaku sepulang dia minta ijin mau keluar tadi, aku sempat berpikir kalau bang Parlin sengaja membeli handphone itu untuk dia gunakan karena kemarin dia sempat memintaku untuk mengajarinya handphone android setelah bervideo call dengan cewek yang baru dikenalnya, aku tidak bisa membayangkan jika bang Parlin memiliki akun Facebook dan WA aku yakin banyak pelakor yang berusaha mendapatkannya secara bang Parlin itu orangnya polos aku takut banyak yang memanfaatkan kepolosannya itu untuk mendapatkan uang bang Parlin.


"Dik ini ponsel untuk kamu, aku tahu ponselmu sudah ketinggalan model," ucapnya menyerahkan ponsel padaku.

__ADS_1


"Abang dari mana tiba-tiba pulang bawa ponsel baru? apa Abang tidak ingat antara keinginan atau kebutuhan?" ucapku menirukan kata-kata yang sering bang Parlin ucapkan.


"Aku membelinya untukmu Dik tadi aku dapat voucher dari toko alat pertanian dan pakan ikan di ujung jalan sana yang penjualnya cina, aku tadi membeli pakan ikan untuk tambak kita dan aku kirim ke kampung karena belanja banyak penjualnya memberiku voucher potongan harga lima puluh persen untuk pembelian ponsel di konternya," jelas bang Parlin" Sayangkan kalau tidak dimanfaatkan," ucap bang Parlin.


"Oh begitu ya Bang," ucapku sambil menerima ponsel pemberian bang Parlin dan aku lihat ini model terbaru.


"Iya karena Abang sudah punya ponsel jadul dan tidak begitu mengerti dengan ponsel pintar ini jadi Abang berikan pada Adik saja," ucap Bang Parlin.


Aduh ternyata suamiku so sweet padahal tadi aku sudah sempat berburuk sangka aku berpikir kalau dia sengaja membeli ponsel itu agar lebih leluasa berkomunikasi dengan si Nita ternyata aku salah ini ponsel hadiah dan itu pun dia berikan padaku. Dan ponsel ini pun model terbaru seperti yang kemarin ingin aku miliki tapi aku berpikir kembali antara keinginan dan kebutuhan jadi aku mengurungkan niatku.


Aku yakin apa yang di katakan Zubair tadi tidak akan pernah terjadi pada pernikahanku dan bang Parlin secara bang Parlin orang yang jujur dan setia aku yakin dia tidak akan tergoda dengan wanita manapun secara dengan rambut gobel saja dia setia apalagi denganku yang istrinya.


Aku pun memeluk bang Parlin dengan rasa haru dan aku bersyukur memiliki suami seperti bang Parlin yang bodoh akan teknologi tapi dia pintar serta bijak dalam menyikapi setiap masalah bahkan dia bisa memberikan solusi untuk masalah yang di alami oleh saudara saudaraku.


"Apaan Dik jam segini peluk -peluk ini masih siang belum waktunya kasih jatah," ucap bang Parlin.


Aku gemas mendengar perkataan bang Parlin tapi jujur memang hati ini semakin cinta padanya.


"Aku pingin segera punya anak Bang," bisikku.


"Iya Dik Abang juga pingin tapi nanti malam ya bikinnya jangan sekarang...gerah," jawab bang Parlin.

__ADS_1


Aku pun tepok jidat dengan jawaban suamiku.


__ADS_2