
Kami pun sarapan sambil ngobrol ngomongin si Parman yang minta di carikan pasangan.
"Bang Parman minta di carikan istri, tadi kami sempat ngobrol dan dia minta aku untuk mencarikan dia istri," ucapku memulai percakapan.
"Iya Dik...nasib kita sama! kita sama-sama tidak bisa mencari pasangan hidup sendiri mesti di jodohkan baru punya pasangan," jawab bang Parlin.
"Itu salah kalian sendiri Bang lebih mementingkan cari uang daripada cari pasangan," ucapku sambil mencebikkan bibir.
"Iya Dik kami sibuk bekerja dan kami cuma orang desa jadi kami tidak tahu bagaimana cara menggoda wanita kami takut di tolak, tolong carikan istri buat si Parman ya Dik tapi jangan yang cantik dia orangnya suka pamer nanti kalau istrinya cantik dia pasti akan sering nelfon dan ngomongin istrinya yang cantik itu, jadi jangan carikan yang cantik ya," ucap Bang Parlin.
Aku pun tertawa mendengar ucapan bang Parlin, aneh sekali adiknya minta di carikan jodoh malah sama dia tidak boleh carikan yang cantik ada-ada saja.
"Memangnya kalau cantik kenapa sih Bang? malah bagus kan kalau dia pamer istri itu artinya dia sangat sayang dan perhatian sama istrinya bahkan dia merasa bangga akan istrinya," ucapku.
"Pokoknya jangan carikan yang lebih cantik dari Adik, eh tapi memang dimataku Adik cantiknya paripurna tiada tara jadi tidak ada yang bisa menandingi," ucap bang Parlin sambil mengacungkan kedua jempolnya.
"Hmmm sudah mulai pandai menggombal rupanya suamiku ini," ucapku.
Kami pun tertawa bersama sungguh indah hidup yang aku jalani sederhana tapi penuh makna.
Sekarang aku punya tugas baru yaitu mencarikan jodoh buat si Parman adik iparku itu, sebenarnya aku sudah punya beberapa kandidat tapi aku ragu apakah ada salah satu dari mereka yang bersedia hidup di rawa-rawa bersama si Parman kalau soal kekayaan sih jangan di ragukan tapi soal habitatnya aku tidak yakin kalau ada wanita dari kota ini yang betah hidup bersama Parman ditempat yang terpencil.
Aku menimang-nimang ada tiga kandidat yang lolos seleksi menurutku yaitu si Mila, Rina dan Maya teman-teman seangkatanku yang belum menikah tapi aku bingung diantara mereka bertiga ini kira kira siapa yang mau menjadi istri Parman.
Aku pun chat tiga orang kandidat pilihanku satu persatu dan aku pun menceritakan bagaimana keadaan sebenarnya kehidupan adik iparku itu, dari ketiga orang itu yang langsung tertarik dan meminta nomor telepon adalah si Rani, aku pun menghubungi Parman dan mengabarkan ada salah satu temanku yang tertarik dengan tawarannya, aku pun segera memberikan nomor Parman pada Rani dan nomor Rani pada Parman aku ingin mereka saling kenal dulu, kalau mereka merasa sudah saling cocok terserah mereka ingin melanjutkan atau tidak.
Setelah satu minggu aku memberikan nomor telepon pada Parman dan Rani akhirnya kedua orang itu setuju untuk menjalani hubungan serius, mereka sepakat untuk menikah bulan depan dan fantastisnya si Rani saat ditanya minta mahar apa dia minta mahar uang seratus lima puluh lima juta, hebat sekali itu anak mas kawinnya tidak main-main.
Sore ini aku sedang santai nonton televisi bersama bang Parlin dia baru saja mendapat telepon dari kampung yang mengatakan akan ada pesta pernikahan untuk si Parman dan kami harus pulang ke kampung sekalian mengenalkan aku pada keluarga jauh bang Parlin yang waktu pernikahan kami dulu mereka tidak bisa ikut datang menghadiri pernikahan kami.
__ADS_1
Aku pun setuju saja untuk ikut ke kampung toh aku juga penasaran adat tata cara mereka saat upacara pernikahan.
Setelah bang Parlin menceritakan bagaimana cara adat pernikahan di sana aku semakin penasaran dan ingin ikut terlibat dalam setiap ritualnya walaupun aku tidak mengerti tata caranya toh nanti pasti ada anggota keluarga yang mengajariku.
"Dik Abang mau mengatakan sesuatu tapi janji jangan marah ya?," ucap bang Parlin
Aku pun. kaget dengan kata-kata bang Parlin kenapa dia tiba-tiba mengatakan ingin jujur apa selama ini dia membohongiku? apa yang coba dia sembunyikan dariku? apakah dia sudah memiliki kekasih gelap?ah otakku rasanya mendidih membayangkan jika itu benar adanya.
"Bicaralah Bang!" ucapku dengan nada ketus.
"Janji dulu kamu tidak akan marah kalau aku berkata jujur," ucap Bang Parlin.
"Tidak mau! aku tidak mau janji sebelum aku tahu apa yang coba Abang sembunyikan dariku hingga Abang tega membohongiku," ucapku sambil mengerucutkan bibirku.
"Baiklah Dik... Abang akan mengatakan yang sebenarnya, bahwa Abang....Abang..
"Apaan sih Bang lama banget!" ucapku kesal karena bang Parlin tidak kunjung mengatakan nya.
"Ih Abang kirain mau ngomong apa," ucapku sambil melemparkan bantal ke arah bang Parlin.
"Hahaha Abang gak bohong Dik beneran loh," ucap Bang Parlin.
"Iya ...iya Bang Adik percaya," ucapku tersenyum manis.
"Gantian dong Dik rayu Abang," ucap Bang Parlin sambil menampilkan wajah sok manisnya.
"Apaan sih Bang sudah tua minta di rayu segala, malu tuh sama cicak," ucapku cengengesan.
"Ya sudah kalau adik tidak mau merayu Abang nanti Abang minta di rayu orang ah," ucap Bang Parlin.
__ADS_1
"Berani Abang minta di rayu orang aku potong burungmu," ucapku sambil melototkan mataku.
"Eh ternyata istriku kalau marah menyeramkan," ucap bang Parlin tertawa terbahak-bahak.
"Aku gak bercanda Bang kalau sampai Abang berani di rayu atau merayu orang akan aku potong itu burung," ucapku tegas.
"Apaan sih Dik! wong Abang cuma bercanda di anggap serius, tidak istriku sayang cintaku hanya untukmu," ucapnya.
"Beneran?" tanyaku dengan senyum yang aku tahan.
"Iya cintaku... Sayangku....manisku," ucap bang Parlin.
"Ya sudah Adik percaya tapi ingat jangan coba-coba ya," ucapku sambil memeluknya.
"Tidak akan pernah Dik, Abang pingin kita seiya sekata sampai tiada," ucapnya.
Hatiku berbunga-bunga mendengar ucapan bang Parlin, entah ini beneran atau cuma bualan tapi cukup bisa membuatku bahagia.
"Bang adik pingin punya anak secepatnya," ucapku.
"Ayo kita bikin sekarang! " ajak bang Parlin.
Aku pun mengangguk dan dengan semangat empat lima bang Parlin langsung mengangkatku dan membawaku ke kamar, duh suami pria ini sangat romantis.
Tiba-tiba bang Parlin menjatuhkanku dengan kasar di tempat tidur aku pun kaget.
"Duh Bang sakit...," ucapku.
"Maafkan Abang Dik pinggang Abang encok,' ucapnya sambil duduk di tepi tempat tidur.
__ADS_1
Aku pun geleng-geleng kepala, niatnya mesra-mesraan eh malah encok datang nasib gagal dong rencana kita bikin anak, padahal aku sudah ngebet banget segera pingin punya anak.