Pemuda Pilihan Ayah

Pemuda Pilihan Ayah
Daringan


__ADS_3

Keesokan harinya seperti yang telah direncanakan, kakak keduaku dan adikku yang bungsu pun datang ke rumah kami berkumpul di ruang keluarga.


"Seperti yang kita bicarakan kemarin Sin, isi rumah ini untuk aku karena saat ini kamu yang memiliki uang dan kakak pertama juga tidak bisa datang maka kami harap kamu bisa mengiklaskan," ucap Kakakku yang kedua setelah berbasa-basi sebentar.


"Bolehkah aku ikut terlibat dalam pembicaraan ini, Kak?" tanya bang Parlin tiba-tiba.


"Silahkan apa yang ingin kamu katakan," ucap Kakakku mengijinkan bang Parlin ikut berbicara bersama kami.


"Kalau Kakak menginginkan isi rumah ini silahkan ambil semuanya, kosongkan rumah ini jangan ada yang tersisa karena kami bisa membelinya yang baru dan kakak lebih membutuhkan," ucap bang Parlin.


Aku yang mendengarnya juga kaget aku tidak pernah membayangkan kalau bang Parlin benar benar kesal kalau isi rumah ini pun diungkit.


"Kenapa seperti itu Parlin? jangan sombong kamu mentang-mentang banyak uang berbuat semena-mena pada saudara tidak mau bantu saudara lagi," ucap Kakakku yang aku lihat sedang emosi.


"Iya sama saudara sendiri kok perhitungan, pelit sekali kamu," sahut Kakak iparku.


"Yang perhitungan dan pelit itu ya kalian bukan kami, masa baru tujuh hari ayah meninggal kalian sudah membicarakan warisan dan menjual rumah ini untuk di bagi bagi, tidak cukup dengan rumah ini isinya yang berupa tempat tidur pun kalian inginkan juga padahal kami sudah menambah jumlah uang pembelian rumah ini, seharusnya kita tidak bersikap seperti ini Kak! ingat pesan ayah sebelum beliau pergi haji kita harus hidup rukun tidak boleh saling iri," ucapku kepada saudara saudaraku.


"Siapa yang iri? kami tidak iri pada kalian Sinta untuk apa kami iri orang desa seperti kalian tidak layak membuat kami iri," sahut Kakak iparku ketus.


"Terserah kalian apa maunya, ambil saja semua isi rumah ini kami akan membeli yang baru," ucap suamiku dan pergi meninggalkan aku bersama saudara saudaraku yang terdiam saat mendengar ucapan bang Parlin yang tersirat kemarahan di sana.

__ADS_1


Aku pun merasa heran kenapa bang Parlin yang biasanya sabar kini terlihat kesal dan ketus, aku pun segera mengikutinya masuk kedalam kamar.


"Abang kenapa kok tumben uring-uringan? biasanya Abang selalu sabar," ucapku heran.


"Entahlah Dik, Abang jadi kesal melihat tingkah saudara saudaramu itu, Abang juga heran kenapa Abang tidak bisa sabar seperti biasanya," ucap bang Parlin sambil memegangi bagian belakang kepalanya.


Aku pun mengikuti arah tangan bang Parlin apakah ini semua ada hubungannya dengan rambut bang Parlin yang aku potong? bang Parlin berubah jadi emosional dan tidak bisa sabar karena pengaruh rambutnya, apakah rambut itu sangat berpengaruh sampai seperti ini. Aku seperti melihat sisi lain dari bang Parlin yang sangat berbeda dari biasanya.


Akhirnya saudara saudaraku pun beneran mengambil semua isi rumah ayah termasuk kulkas dan kompor gas pun ikut mereka angkut, sungguh aku malu dengan kelakuan saudara saudaraku ini tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa apalagi sampai membenci mereka itu tidak mungkin bisa aku lakukan biar bagaimanapun mereka adalah saudara saudaraku keluarga yang masih aku miliki setelah kepergian ayah dan ibu.


Sore ini tiba-tiba ayah mertuaku datang ke rumah kami, ayah datang bersama keluarga bang Parlin yang memegang kontrakan yang sering di panggil bang Parlin dengan sebutan Bulik.


Aku merasa malu karena mereka harus duduk di lantai beralaskan karpet karena kursi yang ada di rumah ini baru saja di lelang kakakku.


"Sudahlah Nduk tidak usah sungkan seperti itu, kita ini keluarga jadi tidak perlu merasa sungkan," ucap Bapak mertuaku sambil tersenyum ramah.


Tidak beberapa lama bang Parlin muncul dari dalam kamar, tadi waktu Bapak dan Bulik baru datang bang Parlin sedang mandi jadi aku dulu yang menemui Bapak dan Bulik.


Bapak mertuaku menatap bang Parlin kemudian tertawa lepas.


"Hebat kamu Nduk sudah berhasil membuat si Parlin membuang rambut kudanya," ucap Bapak mertuaku sambil tertawa terbahak-bahak.

__ADS_1


Beliau terlihat sangat bahagia dengan tampilan baru rambut bang Parlin, aku pun merasa ada yang mendukung perbuatanku yang berani nekat memotong rambut bang Parlin saat dia terlelap.


"Rambutku di makan tikus tadi malam Pak," jawab bang Parlin yang segera duduk di tengah antara aku dan Bapak mertuaku.


Bapak yang merasa jawaban bang Parlin mengada-ada itu pun kembali tertawa.


"Pasti itu tikus betina yang hebat hingga berhasil menghabiskan rambutmu Parlin, aku sangat kagum pada tikus yang menjadi sebab hilangnya rambut kuda dari jaman Majapahit itu," kekeh Bapak mertuaku.


Aku pun tersenyum mendengar ucapan bapak mertuaku yang ternyata orangnya sangat ramah serasa saat ini aku sedang berbicara dengan bapakku sendiri bukannya sedang berbicara dengan bapak mertuaku.


"Tumben Bapak datang sendiri ke sini tanpa memberi kabar dulu, ada hal apa yang penting hingga Bapak menyempatkan diri datang ke kota?" tanya bang Parlin mengalihkan topik pembicaraan.


"Ini Bapak mengantarkan uang hasil panen, ponselmu tidak bisa dihubungi tadi akhirnya aku menghubungi Bulikmu, aku datang ke sini sekalian jalan jalan mengunjungi kalian," jawab Bapak mertuaku.


"Ini uangnya Nak, ini hasil panen jarak sudah di potong ongkos pekerjaan dan biaya untuk beli bahan bakar tranportasi pengangkutan jarak menuju kota," ucap Bapak mertuaku sambil menyerahkan uang yang diwadahi plastik kresek warna hitam.


Mataku membulat saat melihat uang yang sangat banyak di dalam kresek hitam itu.


"Loh kok di serahkan padaku Pak? kan seharusnya bang Parlin yang menerima uang ini," ucapku sambil menatap heran Bapak mertuaku.


"Di dalam adat kami laki laki kalau sudah menikah, yang berhak memegang uang itu istrinya karena istri merupakan bendahara dalam rumah tangga kalau menurut perkataan orang desa kami wanita itu merupakan daringannya rumah tangga," jelas Bapak mertuaku.

__ADS_1


"Daringan itu apa, Pak?" tanyaku penasaran karena baru pertama kali ini aku mendengar kata daringan.


"Daringan itu kalau di desa kami tempat yang terbuat dari tanah liat yang dibentuk menyerupai gentong kemudian di bakar hingga awet dan tidak bocor jika digunakan. Daringan di tempat kami merupakan tempat untuk menyimpan beras, itu sebabnya wanita di samakan dengan daringan karena wanita tempatnya menyimpan hasil kerja keras suami, wanita yang berhak memegang uang itu kita para suami hanya punya kewajiban mencarinya tapi untuk menyimpannya itu tugas istri," ucap bapak mertuaku menjelaskan padaku apa itu artinya daringan dan juga tugas seorang wanita setelah menikah mereka akan bertugas jadi bendahara keuangan keluarga yang harus pandai-pandai menyimpan dan menggunakan uang sesuai kebutuhan bukan sesuai keinginan.


__ADS_2