
Aku pun tersadar dari pingsan aku lihat saat ini aku sedang berada di kamarku yang ada di rumah ayah entah bagaimana caranya aku bisa sampai di sini.
Aku berjalan keluar menuju ruang tamu di sana suami dan saudara saudaraku sedang berkumpul, aku menghampiri mereka dan mendengarkan apa yang mereka bicarakan, ayah sudah di makamkan kemarin, ayah meninggal di pesawat saat perjalanan pulang dari hajinya , beliau meninggal dalam tidurnya.
Aku menangis sesenggukan mendengarkan cerita kakak tertuaku.
"Kenapa kalian tidak menunggu kami saat memakamkan ayah," ucapku disela tangis.
"Mana bisa kami menunggu kalian, kami tidak tahu dimana keberadaan kalian ponsel tidak bisa dihubungi bahkan tentangga kalian saja tidak ada yang tahu kemana kalian pergi," ucap Kakak tertuaku.
Aku pun menghapus air mataku dan memegang lengan bang Parlin.
"Bang ayo antar aku ke makam ayah!" ajakku.
"Apa kamu yakin sudah kuat ke sana Dik?" tanya bang Parlin.
Aku pun mengangguk yakin, bang Parlin pun mengeluarkan motor dan membawa aku menuju makam ayah.
Sesampainya di pusara ayah aku menangis sejadi jadinya, aku menyesal karena tidak bisa melihat wajah ayah untuk yang terakhir, jadi ini maksudnya kemarin ayah bilang sebentar lagi nyusul ibu ternyata ayah benar benar menyusul ibu ke surga.
Setelah puas aku berada di pusara ayah, aku mengajak bang Parlin kembali ke rumah ayah karena nanti akan diadakan pengajian di rumah.
Sesampainya di rumah aku lihat Kakak keduaku menatapku dengan tatapan mata yang membuatku merasa seakan-akan dia ingin menghajarku aku pun ada apa sebenarnya dengan kakakku ini.
"Untuk apa kamu datang ke makam ayah pakai nangis segala di sana, toh kalian lah penyebab ayah meninggal," ucapnya ketus.
"Apa maksudnya Kak aku tidak mengerti dengan yang Kakak katakan? kami penyebab ayah meninggal kok bisa?" tanyaku heran karena tiba-tiba kami mendapatkan tuduhan yang tidak beralasan.
__ADS_1
"Ya kalian penyebabnya, kalian memberikan uang haram pada ayah untuk biaya haji, uang yang kalian dapat dari pesugihan babi ngepet," ucapnya pedas.
Mulutku pun menganga lebar aku tidak pernah menyangka kalau kakakku akan menuduhku sekeji itu.
"Atas dasar apa Kakak menuduh kami seperti itu Kak? demi Allah uang yang kami berikan pada ayah uang halal," ucapku kesal karena tuduhan yang kakakku ucapkan.
"Jangan banyak alasan Sin kami sudah menyelidiki semua tentang suamimu, dia tidak bekerja apa-apa bahkan setiap hari hanya berkebun dan merawat ayam, terus uang dari mana kalau bukan dari ngempet," ucap kakakku.
"Sebenarnya bukan seperti itu Kak, Kakak salah faham," akhirnya suamiku buka mulut juga aku sudah hampir mengatakan yang sebenarnya tapi masih ragu apakah para saudaraku percaya dengan ucapanku apa tidak.
"Gara gara uang dari kalian ayah meninggal mulai sekarang pergi jangan pernah injakan kaki di sini lagi," ucap Kakakku yang kedua.
Aku pun kaget dengan ucapan yang semakin pedas ditelinga sungguh aku tidak ingin keluargaku hancur hanya karena kesalah pahaman ini.
"Kak jangan begini, ini ayah baru saja dimakamkan kenapa kakak malah memutus silahturahmi," ucapku
"Maaf Kak bisakah aku menjelaskan semuanya," ucap bang Parlin mencoba bersabar.
"Tidak perlu! kami tidak butuh penjelasanmu, bahkan kamu tidak punya otak sudah tahu ayah akan pulang dari Mekah tapi kamu malah membawa Sinta pergi entah kemana memang kamu sengaja kan," ucap Kakakku lagi.
"Baiklah aku akan pergi!" ucap bang Parlin yang sudah habis kesabarannya.
"Ayo Dik!" ajaknya sambil mengulurkan tangannya.
Aku Bingung harus tetap di sini untuk Ikut acara tahlilan ayah nanti malam atau aku harus pulang karena kakakku telah mengusir kami.
"Ayo Dik!" ulang Bang Parlin.
__ADS_1
"Kak maafkan aku karena tuduhan kalian tidak beralasan dan kalian tidak mau mendengarkan apa yang akan kami jelaskan maka dengan berat hati aku pamit, aku akan pulang dengan bang Parlin," ucapku.
Aku meraih tangan suamiku dan mengikutinya pergi dari rumah peninggalan ayah yang selama ini menyimpan kenangan terindah.
"Ya pergilah kami tidak butuh adik seperti kamu! bukannya berbakti malah durhaka," ucap Kakak pertamaku.
Aku tidak perduli dengan apa yang mereka katakan karena mereka semua salah menilai suamiku tapi mereka tetap kukuh dengan pendapatnya tanpa mendengarkan penjelasan kami biarkan saja sementara seperti ini aku yakin suatu saat saudara saudaraku akan tahu kebenarannya.
Kami pun benar-benar meninggalkan rumah itu hingga ditengah perjalanan bang Parlin berkata pada untuk kembali ke sana.
"Dik aku kok merasa tidak enak ikut ikutan terbawa emosi seharusnya itu tidak usah aku tanggapi toh sekarang kita dalam masa berkabung bukannya kita saling menguatkan tapi mengapa kita malah ribut, ayo kita kembali ke sana biar aku minta maaf," ajak suamiku.
Aku pun menghela nafas dan menggelengkan kepala bukan artinya aku tidak mau kembali ke rumah itu sekarang tapi akan percuma jika kami kembali saat ini karena para saudaraku masih terbakar emosi yang tidak beralasan.
"Jangan Bang! percuma kita kembali ke sana sekarang mereka akan semakin membenci Abang dan akan tambah merendahkan Abang," ucapku.
"Tidak apa-apa Dik Abang akan minta maaf demi keutuhan keluarga kita," ucapnya.
"Tidak perlu Bang nanti mereka akan semakin ngelunjak aku tidak rela Abang selalu di hina aku yakin saat nanti Abang meminta maaf maka mereka akan semakin yakin kalau kita melakukan pesugihan dan itu akan semakin membuat mereka semena-mena," ucapku.
Malam harinya Bang Parlin mengajakku datang ke sana untuk ikut acara tahlilan ayah sebenarnya aku malas pergi ke sana tapi suamiku terus mendesakku katanya kita pergi ke sana demi ayah bukan demi siapa siapa.
Aku pun menurut ajakan bang Parlin kami datang di acara tahlilan itu walaupun kami tidak ditegur atau di sapa oleh saudara saudaraku.
Setiap malam kami tetap datang hingga malam ketiga adikku pun menghampiriku dan melarang kami pulang dulu selesai acara tahlilan katanya ada musyawarah keluarga.
Aku pun mengangguk dan bang Parlin pun tidak keberatan, kami pun tidak siegera pulang setelah acara tahlilan itu selesai.
__ADS_1