Pemuda Pilihan Ayah

Pemuda Pilihan Ayah
Pesan Aneh


__ADS_3

Kami pun singgah di Atm untuk mengambil uang untuk membeli perhiasan, aku pun mengambil uang sebesar penarikan maximal yang bisa diambil di mesin ATM.


"Aku ambil sepuluh juta Bang," ucapku pada Bang Parlin yang menunggu di depan mesin ATM.


"Apakah itu cukup untuk membeli perhiasan? ini Abang ada uang kes bisa untuk tambahan," ucap Bang Parlin sambil memberikan segepok uang padaku. Aku pun menerimanya dengan ucapan syukur di hati aku berterima kasih kepada Tuhan yang telah memberikan suami yang tidak perhitungan soal uang.


Kami pun pergi ke toko emas, hatiku serasa ingin melonjak keluar saking girangnya, ini pertama kali dalam hidupku datang ke toko emas dengan membawa uang yang bagiku cukup banyak, sebelumnya aku belum pernah datang ke toko emas karena aku tidak pernah memiliki uang untuk membelinya.


"Belilah apa saja yang kamu butuhkan Dik! pilih sesuai selera mu," ucap bang Parlin.


Aku pun mengangguk sambil menampilkan senyum termanisku untuknya, aku makin terlove-love padamu Bang.


Aku melihat lihat di etalase perhiasan itu untuk memilih apa yang harus aku beli akhirnya setelah puas melihat lihat aku pun membeli kalung, anting, gelang dan juga cincin dengan kadar emas murni, aku menyerahkan pilihanku pada penjaga toko dan memintanya untuk metotal berapa duwit yang harus aku bayar, ternyata uang yang aku bawa kurang dan aku pun menyerahkan kartu ATM pada penjaga toko untuk mengambil dari kartu itu.


Tidak bisa aku lukiskan betapa bahagianya hatiku saat ini bukan karena emasnya tapi karena perhatian suamiku tapi iya juga sih hatiku bahagia juga karena emas yang dibelikan bang Parlin seumur hidup baru kali ini aku memiliki perhiasan emas komplit mulai dari anting sampai cincin.


Sesampainya di rumah aku langsung mencoba semua perhiasan yang aku beli tadi, aku berdiri di depan cermin yang ada di sebelah pintu kamarku mematut dan mengamati bagaimana penampilanku ketika aku sedang memakai perhiasan, aku termenung menatap bayanganku di cermin, terbesit sebuah pemikiran aku harus berhias mulai sekarang aku harus berdandan untuk menyenangkan suamiku, memang suamiku kuno dan terlihat acuh terhadap wanita tapi seiringnya waktu pasti entah itu sedikit atau banyak pasti suamiku akan berubah, dan belum lagi kalau orang orang sudah mengetahui siapa dan bagaimana suamiku yang sebenarnya pasti para pelakor akan datang menghampiri dan aku tidak mau sampai suamiku tergoda dan pindah ke lain hati.


Tengah asyik aku tenggelam dalam pikiranku tiba-tiba datang salah satu tetanggaku yang tanpa permisi langsung nyelonong masuk ke dalam rumahku.


"Mbak Sinta pinjam mixer donk aku mau bikin kue tapi mixernya rusak dan kemarin aku lihat Mbk punya mixer," ucap tetanggaku itu.


Aku pun menoleh lalu tersenyum dan mengangguk.

__ADS_1


"Sebentar Bu saya ambilkan," ucapku.


Aku pun berjalan ke dapur untuk mengambil mixer yang dibutuhkan oleh tetanggaku itu dan kembali ke tempat dia menunggu lalu aku memberikan mixer itu.


"Ini Bu mixernya," ucap ku sambil menyerahkan mixer.


"Wah emas baru ya Mbak Sinta," seru tetanggaku sambil memperhatikan aku dari atas sampai bawah.


Waduh aku lupa tadi tidak melepas perhiasanku dulu pasti tetangga ini akan kepo.


"Hehehe iya Bu," jawabku sambil nyengir.


"Pasti mahal itu berapa gram Mbak?" tanyanya lagi.


"Ah tidak kok Bu ini cuma sedikit," jawabku dengan harapan dia akan segera pergi dari rumahku.


Bukannya pergi tetanggaku ini malah duduk di kursi yang ada tidak jauh dari tempatku berdiri sambil memangku mixer.


"Dulu aku juga punya perhiasan tapi habis di jual untuk bayar kontrakan, oh iya ngomong ngomong berapa Mbak Sinta bayar kontrakan sebulan?" tanya tetanggaku.


Aku bingung harus jawab apa toh aku juga tidak pernah bayar uang kontrakan berapa sebulan kontrak di sini pun aku tidak tahu karena aku tidak pernah bertanya pada suamiku.


"Kami bayar sebulan satu juta Bu," jawabku asal tapi juga ada rasa khawatir kalau kalau jumlah pembayaran tidak sama dengan mereka.

__ADS_1


"Sama kami juga bayar segitu, tapi ini tidak adil rumah kalian kan yang paling besar dan luas halamannya kenapa sewanya sama," gerutu tetanggaku.


Waduh aku salah ngomong lagi, pasti orang ini akan semakin heboh dan tidak mau segera meninggalkan rumahku.


"Aku juga tidak faham Bu, kemarin yang bayar uang kontrakan suamiku mungkin mereka berteman jadi dapat harga sedikit murah," tuturku beralasan.


"Mungkin saja begitu, jadi suami Mbak Sinta itu kerja apa kok banyak duwit bisa belikan Mbak perhiasan emas segala," ocehnya lagi.


"Suamiku hanya seorang petani Bu, oh ya kalau sudah tidak ada keperluan lagi saya permisi ya Bu mau masak untuk makan malam," ucapku sehalus mungkin mengusir tetanggaku agar tidak tersinggung sungguh aku takut kalau dia terus bertanya aku akan keceplosan mengatakan apa yang sebenarnya tentang suamiku.


"Oh iya Mbak maaf ya sampai lupa waktu saya permisi dulu ya Mbak," ucapnya sambil berjalan keluar.


Aku bernafas lega akhirnya tetangga kepo pun pergi dari rumahku, aku pun segera melepaskan perhiasanku dan menyimpannya di lemari, waktu ingin aku tutup pintu lemari tanpa sengaja aku melihat ponsel jadul milik suamiku dan di sana ada notifikasi dua pesan yang belum di baca.


Bang Parlin juga jarang sekali membawa kemana mana ponselnya, dan aku lihat setelah menikah beberapa bulan dengan bang Parlin ponsel ini juga jarang berbunyi kalau memang tidak ada yang penting.


Karena rasa penasaranku akhirnya aku ambil ponsel bang Parlin dan membaca pesan itu. Tapi malang nasibku pesan itu berbahasa Jawa dan aku tidak mengerti sama sekali apa artinya, tulisan itu berbunyi.


"Kang si Jum gerah mboten purun maem menawi si Jum kangen Kakang, monggo yen wonten wekdal Kakang wangsul,".


Setelah membaca SMS itu pikiranku jadi semrawut, aku penasaran siapa sebenarnya si Jum ini, sehingga orang itu SMS suamiku dan sepertinya ini sangat penting. Jangan jangan si Jum yang di maksud ini adalah kekasih suamiku di desa, ada rasa sakit di sudut hati ini jika sampai itu benar lalu bagaimana dengan hubungan kami apakah tragedi beberapa bulan lalu harus terulang lagi hubunganku dengan bang Parlin harus kandas seperti hubunganku dengan kekasih kekasihku yang lainnya dulu.


Tiba-tiba aku teringat dengan perkataan suamiku yang pengen membahas tentang orang dari masa lalunya apakah orang dari masa lalunya si Jum ini? siapakah si Jum jangan jangan dia istri pertama bang Parlin di kampung dan aku adalah istri keduanya, mulai otakku memikirkan hal hal yang belum tentu kebenarannya tapi nyesek jika di bayangkan.

__ADS_1


__ADS_2