Pemuda Pilihan Ayah

Pemuda Pilihan Ayah
Ketahuan


__ADS_3

Aku melihat seorang pria berjalan menghampiri Nita yang sedang asyik video call dengan bang Parlin.


"Oh ya Bang kenalkan ini suamiku namanya bang Samsul," ucap Nita pada bang Parlin.


Aku melihat sekilas tatapan pria itu pada bang Parlin terlihat sangat tidak suka entah perasaanku saja atau memang begitu adanya.


"Oh ini yang namanya Parlin? pria yang selalu di eluh-eluhkan oleh istriku," ucap Samsul dengan nada dingin.


"Iya bang salam kenal," jawab suamiku ramah.


Apa bang Parlin tidak sadar kalau suami Nita ini menatapnya dengan pandangan yang tidak bersahabat? atau dia pura pura tidak tahu seperti yang biasa dia lakukan selama ini.


Suami Nita pun berjalan menjauh dan tadi aku sempat melihat tatapan matanya sangat tidak bersahabat ketika menatap layar ponsel istrinya.


"Syukurlah kalau kamu sudah hidup bahagia Nita, hatiku sudah lega sekarang," ucap Bang Parlin.


"Iya Bang aku sudah hidup bahagia, dan aku juga melihat Abang demikian," ucap Nita.


"Bagaimana keadaan Bapak Nit? apakah beliau sehat?" tanya bang Parlin.


"Alhamdulillah Bapak sehat Bang, beliau sering menanyakan Abang padaku, dan aku pun bingung harus menjawab apa karena kita putus kontak," ucap Nita.


"Salam untuk Bapak Nit, aku sangat merindukan beliau, aku beberapa tahun ini kepikiran tentang hutangku padamu Nit," ucap Bang Parlin.


"Sudahlah Bang aku anggap hutang itu lunas jadi sekarang Abang bisa tenang, nanti aku sampaikan salam Abang pada bapak, sudah dulu ya Bang kapan kapan di sambung lagi, salam juga untuk istri Abang," ucap Nita yang kemudian layar ponsel pun menghitam tanda sambungan telepon terputus.

__ADS_1


Bang Parlin terlihat tersenyum bahagia, dia sudah lega menemukan Nita yang selama ini dia rindukan, ada sedikit rasa sakit di ujung hatiku ingin rasanya aku jambak rambut bang Parlin untung saja rambut panjangnya sudah aku potong kalau tidak sudah bisa di pastikan rambut itu akan menjadi sasaran amarahku.


"Dik terima kasih sudah membantuku menemukan Nita," ucapnya sore itu ketika kami sedang berbaring sambil menonton televisi.


"Iya Bang sama sama," ucapku sambil tidak mengalihkan tatapan mata dari acara yang saat ini sedang aku tonton.


"Dik boleh tidak Abang meminta sesuatu padamu?" tanya Bang Parlin tiba-tiba.


Aku pun merasa kaget dan heran baru kali ini bang Parlin meminta sesuatu padaku, aku pun segera menoleh menatapnya heran.


"Mau minta apa Bang?" tanyaku.


"Ajari Abang main ponsel seperti punya Adik dong," ucap Bang Parlin ragu ragu.


Aku pun mendelik tidak percaya, suamiku yang selama ini tidak tertarik pada ponsel android setelah melakukan video call sama si Nita tiba-tiba dia meminta untuk diajari ponsel apa ini tidak membuatku geram.


Bang Parlin menatapku heran, mungkin dia bingung apa hubungannya dosa dan main ponsel android, tapi aku masa bodo yang penting bagiku suamiku terbebas dari pengincar sugar Daddy secara jaman sekarang kalau sudah pegang ponsel android kebanyakan mereka akan tergoda oleh penampakan penampakan yang gentayangan di sosmed apalagi suamiku yang awam terhadap ponsel canggih ini sudah bisa dipastikan akan menjadi sasaran empuk bagi para kadal betina.


"Berarti selama ini Adik banyak dosa dong?" ucapnya tiba-tiba yang membuatku gemas, bisa bisanya dia membalikkan kata kataku.


"Ih Abang lucu deh, pakai nanya Adik banyak dosa atau tidak jawabannya sudah pasti Iya Bang," ucapku cengengesan.


Ketika kami tengah asik bercanda tiba tiba pintu rumah kami di ketuk seseorang, aku pun bangkit dari posisi tiduran dan segera berjalan menuju pintu untuk segera membukanya, aku lirik jam dinding sudah menunjukkan pukul delapan malam, siapa yang jam segini datang bertamu.


Aku membuka pintu dan terlihat kakakku yang kedua datang bersama istrinya. Mereka tersenyum ramah dan aku lihat di tangannya tergantung tas kresek hitam yang bisa aku tebak kalau jeruk isi di dalam tas kresek itu.

__ADS_1


"Ada apa Kak malam malam datang kemari?" tanyaku.


"Ih kamu Sin masa iya ada saudara datang bertamu bukannya di suruh masuk dulu malah diberondong pertanyaan," ucap kakak iparku ramah.


Aku sedikit heran kenapa nih orang tumben ramah tidak seperti biasanya yang selalu ketus dan cuek padaku.


"Oh ya silahkan masuk Kak!" ucapku mempersilakan mereka masuk ke dalam rumahku.


"Begini Sin kami sangat berterima kasih kepada Parlin dan juga kamu yang sudah bersedia membeli rumah ini kalau tidak sudah di pastikan rumah ini akan menjadi milik orang lain dan perabotannya juga kami ucapkan terima kasih, kita tidak bisa datang kemari suatu saat jika merindukan kenangan bersama orang tua kita," ucap Kakakku basa basi ketika melihat bang Parlin yang datang menghampiri ikut duduk bergabung bersama kami.


"Oh ya Sin ini ada sedikit buah tangan dari kami," ucap Kakak iparku sambil menyerahkan tas kresek yang sejak tadi dia bawa.


"Aku lihat lihat kamu makin cantik Sin setelah menikah," lanjutnya.


Aku pun mulai curiga dengan kedatangan mereka, tidak seperti biasanya mereka bersikap ramah dan sok perhatian padaku biasanya mereka acuh dan selalu mengolok-olok aku dan bang Parlin.


"Aku dengar dari Kakak, suamimu memiliki perkebunan jarak yang cukup luas dan juga memiliki peternakan sapi yang sangat banyak, dan juga tambak yang lumayan banyak aku senang adikku menikah dengan orang yang tepat," ucap Kakakku.


"Aku juga ingin memiliki usaha seperti kalian, memiliki pekerbunan dan peternakan sapi, kami ingin membuka usaha seperti kalian," lanjutnya.


"Bagus dong Kak, itu malah lebih baik memiliki usaha sendiri," ucap bang Parlin.


"Iya tapi kami tidak memiliki modal dan lahan boleh kan kami pinjam modal darimu, kalau bisa kami akan membeli lahan yang sudah ditanami jagung dan jarak yang siap dipanen jadi kami tidak usah menunggu lama dan susah susah merawatnya," ucap kakakku lagi.


Oh jadi mereka mau pinjam modal pantesan bersikap ramah dan pakai bawa oleh-oleh segala padahal biasanya mereka selalu ketus padaku.

__ADS_1


"Dan aku dengar kemarin kamu juga menghibahkan uang kepada janda sebelah untuk dijadikan modal, kalau mau mengeluarkan uang hibah lagi berikan saja padaku, kita kan saudara dan posisiku saat ini sedang membutuhkan dan kamu kan tahu kalau saudara itu harus didahulukan," ucap Kakak iparku.


Ternyata soal uang zakat itu sudah sampai di telinga mereka, aku tidak menyangka kalau soal uang itu akan menyebar secepat ini, aku semakin khawatir kalau suamiku akan menjadi incaran para kadal betina diluaran sana, jika sampai bang Parlin memiliki akun sendiri dan dia pun sudah mahir bermain ponsel android itu sangat berbahaya, aku yakin banyak Mak lampir pencari mangsa akan mengejarnya setelah mereka tahu seperti apa sebenarnya suami jadulku ini dan aku tidak akan membiarkan itu sampai terjadi, aku tidak akan pernah membiarkan bang Parlin bermain ponsel android sendirian aku harus selalu mengawasinya untuk berjaga jaga agar suami jadulku ini tidak termakan buaya betina di dunia maya.


__ADS_2