
Setelah melakukan kewajiban dengan bang Parlin, aku pun semakin terngiang-ngiang apa yang dikatakan oleh Zubair dia mengatakan kalau suami itu tidak meninggal ya direbut pelakor terus bagaimana jadinya jika kedua kemungkinan itu terjadi salah satunya dan aku belum memiliki persiapan, aku belum memiliki apapun yang menggunakan atas namaku dengan kata lain aku belum memiliki harta sendiri bisa jadi runyam hidup ini.
Saat ini aku sedang berbaring santai bersama bang Parlin di kamar, aku pun berniat mengutarakan apa yang ada dalam otakku saat ini.
"Bang aku kok pingin punya uang sendiri ya ada solusi gak gimana aku dapat duwit Hasil keringat sendiri?" ucapku
"Memangnya mau buat apa lagi Dik duwit sendiri toh duwitku duwetmu juga?" ucap bang Parlin.
"Ya pingin aja bang kalau punya sendiri kan enak," ucapku
"Sebenarnya aku ingin kamu di rumah saja Dik tidak usah mengurusi bisnis apapun fokus saja pada urusan rumah tangga kita, aku pingin cepat punya momongan umurku sudah tua," ucap Bang Parlin.
"Tapi aku bosen bang di rumah terus gak ada kerjaan cuman tiduran doang balik dapur balik tidur lagi, jenuh juga bang," ucapku kukuh.
"Terserah kamu saja bagaimana yang baik menurutmu," ucap Bang Parlin.
"Tapi kalau Abang gak sah ya sudah deh gak jadi mending aku tak jadi koki pribadi saja, gosong seperti tempe goreng ya biarin," ucapku sambil cemberut.
"Kalau kamu merasa bosan atau jenuh kita bisa liburan Dik, kemana saja sesuka hatimu, abang akan turuti asal jangan keluar angkasa saja," ucap bang Parlin.
"Beneran Bang?" tanyaku dengan sumringah.
Betapa indahnya hidupku ngomong jenuh langsung ditawari untuk pergi liburan dan enaknya lagi liburan pun aku di suruh milih sesukaku mau pergi kemana.
"Iya Dik, kita nikmati saja hidup ini tanpa harus pusing-pusing memikirkan cari Duwet kalau Abang boleh tahu sebenarnya Adik mau cari Duwit sendiri dengan cara apa?" tanya Bang Parlin.
"Belum kepikiran Bang mau mau ngapain apa gak jadi aja deh. Sekarang aku mau menikmati hidup bersamamu seperti yang tadi kamu katakan, bagaimana kalau kita pergi berlibur ke Bali," ucapku sambil memeluk bang Parlin.
__ADS_1
"Terserah kamu ayo kita berangkat kapan sekalian bulan madu," ucap bang Parlin.
"Nanti dulu dipikirkan waktu yang tepat Bang sekarang kita tidur dulu, sudah malam," ucapku sambil memeluk bang Parlin.
****
Pagi ini bang Parlin olahraga lari-lari mengelilingi kompleks sekitar rumah, pagi ini aku tidak ikut menemaninya karena aku ingin membuat sarapan spesial untuk orang yang istimewa.
Setelah menyelesaikan acara memasak aku pun berniat untuk mandi dan berganti pakaian berdandan biar terlihat cantik di depan mata suamiku, kalau aku selalu bisa menyenangkan hati suamiku aku yakin dia tidak akan dibisa diambil pelakor.
Saat aku selesai mandi dan sedang mengeringkan rambut menggunakan handuk kecil kesayanganku tiba-tiba ponsel jadul bang Parlin berdering, biasanya ponsel ini akan berdering satu bulan dua kali tapi ini belum ada sepuluh hari sudah berdering lagi kalau tidak ada yang penting aku yakin ponsel ini tidak akan berdering.
Aku pun segera mengangkat panggilan ponsel itu dan nama Parman terpampang di layar ponsel bang Parlin. Seingatku Parman adalah nama adik bang Parlin yang saat ini hidup di pelosok yang katanya hidup di rawa-rawa tempatnya sangat terpencil.
"Halo," ucapku.
"Bang Parlin sedang lari pagi mengelilingi kompleks, apa ada yang penting biar aku carikan," ucapku.
"Tidak usah Kak nanti bisa aku telfon lagi, oh ya Kak aku adiknya bang Parlin paling ganteng loh tapi Sayang aku juga belum laku sendiri," ucapnya sambil tertawa.
"Salah siapa suka hidup di rawa-rawa dan tambak jadi ya tidak ada gadis yang bisa dikenal di sana kan adanya hanya buaya betina ma ikan ******,"jawabku sambil ikut tertawa. Entah kenapa aku mudah akrab dengan adik bang Parlin ini.
"Ih jangan begitu dong Kak! ayolah dibantu carikan jodoh untukku, kenalkan teman kakak biar cepat punya istri aku usiaku sudah semakin tua ini," ucapnya.
"Coba kirimkan fotomu nanti tak sampaikan ma teman teman barang kali ada yang mau," ucapku.
"Aku kirim lewat apa kak aku gak punya ponsel yang bisa buat kirim gambar liwat kantor pos gimana besok pagi tak kirim ke kota dulu aku," ucap Parman.
__ADS_1
Aku pun kaget ternyata adik bang Parlin itu juga sama saja tidak mengenal handphone android.
"Kalau soal kriteria wanita aku tidak berharap muluk-muluk Kak penting dia setia mau hidup di rawa-rawa bersamaku dan yang terpenting dia cantik," ucapnya sambil terkekeh.
"Kalau kamu tidak bisa mengirimkan foto bagaimana caranya gadis yang ingin aku jodohkan denganmu melihat rupa dan bentuk mu?kan tidak mungkin tiba tiba ada cewek berdiri di depanmu lalu bilang bang nikah yuk, kecuali demit rawa," ucapku lalu ketawa.
"Disini ada jaringan Kak tapi gak lancar jadi malas beli ponsel canggih," ucap Parman.
"Kalau begitu datanglah kemari untuk berkenalan dengan beberapa gadis kotaku siapa tahu ada yang cocok," ucapku.
"Ini Kak yang sulit, aku tidak bisa meninggalkan tempat ini, usahaku tidak bisa di tinggal," ucap Parman.
"Ah kalau sudah seperti ini pasti akan sulit mencari cewek yang mau denganmu karena belum tahu bagaimana orang yang akan menikahi gadis itu mereka tidak akan mau menikah dengan orang yang belum pernah di lihatnya ibarat membeli kucing dalam karung," ucapku.
Tiba-tiba pintu kamar terbuka dan aku lihat bang Parlin bertanya kepadaku siapa yang menelepon dengan bahasa isyarat.
"Parman telepon Bang! Parman ini Abangmu sudah datang bicaralah sama Abangmu," ucapku.
"Iya Kak tapi jangan lupa tolong aku ya," ucap Parman.
Aku pun hanya mengiyakan saja toh aku juga bingung bagaimana caranya mencarikan jodoh si Parman mana ada wanita yang mau menikah dengan orang yang belum pernah di lihatnya barang sekalipun.
Aku menyerahkan ponsel jadul itu pada bang Parlin sebelumnya ponsel itu sudah aku aktifkan pengeras suaranya agar aku juga bisa ikut mendengar apa yang mereka berdua bicarakan.
Bang Parlin pun menerima ponsel yang aku berikan dan mereka pun asik berbincang-bincang tapi sialnya mereka ngobrol dengan menggunakan bahasa kampung mereka jadi aku pun tidak tahu apa yang sedang mereka bicarakan, kesal juga sih padahal mereka bisa berbicara bahasa Indonesia dengan baik kenapa juga suka sekali ngobrol menggunakan bahasa jawa yang aku tidak begitu faham maksud apa yang mereka bicarakan.
Setelah puas ngobrol dan entah apa yang di bicarakan karena aku tidak paham akhirnya sambungan telepon itu pun berakhir, bang Parlin pun menyerahkan kembali ponselnya padaku dan dia berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri karena baru saja selesai lari pagi tubuhnya pun berkeringat gerah harus di guyur air biar segar.
__ADS_1