Pemuda Pilihan Ayah

Pemuda Pilihan Ayah
Kakakku Nekad


__ADS_3

"Kenapa kamu melihatku seperti itu Dik?" tanya bang Parlin padaku karena aku menatapnya lama dan lekat, aku merasa kagum pada suamiku ini yang bisa membuat Kakakku berubah haluan.


"Tidak apa-apa Bang, aku cuma penasaran ini masih bang Parlindungan suamiku atau bukan ya?" ucapku dengan tetap menatapnya aku lihat dia sedikit malu.


"Bukan Dik ini Adam Jordan," ucapnya sambil cengengesan.


Kami pun tertawa bersama, sungguh aku tidak menyangka pemuda pilihan ayah ini penuh kejutan, dulu aku menganggap dia hanyalah sosok pria jadul ketinggalan zaman dan kolot tapi nyatanya dibalik penampilan jadul dan gapteknya dia menyimpan pemikiran yang sangat ajaib dengan caranya yang sederhana dia bisa menuntut seseorang untuk keluar dari masalahnya.


Malam ini kami lalui dengan canda tawa hingga aku melupakan kalau belum lama ini ayah meninggal, aku sangat berterima kasih pada sosok ayah yang memilihkan orang terbaik seperti bang Parlin, aku ingat nasehat ayah sebelum beliau meninggal, sesama saudara jangan saling iri harus hidup rukun, tapi itu sangat sulit dan tidak semudah yang aku bayangkan karena aku yakin saudara saudaraku yang lain pasti akan iri jika tahu bahwa suamiku seorang milyarder.


Aku selama ini hanya cocok dengan adikku paling bungsu dia selalu membelaku ketika saudara saudaraku yang lain memojokkanku.


Keesokan harinya sesuai janji kami pun datang ke rumah ayah untuk memberikan uang pembayaran rumah seperti yang kemarin telah di sepakati, aku lihat kakak pertamaku dan juga istrinya belum datang jadi kakak keduaku memutuskan untuk belum menerima uang itu dia ingin uang itu kita terima bersama nanti jika saudara saudaraku sudah datang semua.


Nanti malam acara malam ketujuh sepeninggal ayah jadi kami memasak untuk nasi berkat dan jajanan seperti biasa adat kami, ketika kami sedang sibuk memasak tiba-tiba kakak iparku datang dengan wajah di tekuk bukannya membantu dia malah marah marah kepadaku.


"Sinta apa yang dikatakan Parlin pada kakakmu? mengapa dia mempengaruhi kakakmu dengan ilmu jadulnya, hari ini kakakmu sibuk menjual rumah dan motornya bahkan dia keluar dari pekerjaannya, katanya dia ingin memulai hidup baru di desa ingin hidup sederhana tapi tenang, dia ingin menjadi petani dan peternak, ah sungguh aku sebenarnya tidak sudi hidup seperti itu tapi dia mengancam akan menceraikanku jika aku tidak mau menurutinya, ini semua gara gara kamu dan suamimu Sinta!" ucap kakak iparku setengah berteriak.


"Aku tidak mempengaruhi apapun terhadap kakak, kemarin malam suami Kakak datang ke rumah minta ajarin cara ku mendapatkan uang jadi ya aku ajarkan dia caraku yaitu dengan cara pesugihan pedet," ucap bang Parlin yang tiba-tiba masuk ke dapur karena mendengar ada keributan.


"Apaan itu pedet Sin? bukannya pedet itu anak sapi?" tanya Kakak iparku yang kedua ikut angkat bicara.


"Itu loh Kak saudaranya ngepet," ucapku sambil cengengesan

__ADS_1


"Kamu ini Sin ada ada saja, memangnya ada pesugihan pedet," ucap Kakakku yang kedua.


"Kan kata kalian suamiku ngepet dan semalam kakak datang ke rumah minta diajarin ngepet suamiku kan gak ngepet tapi pesugihan pedet ya diajarilah kakak caranya bang Parlin dapat duit kenapa sekarang kakak ipar malah marah marah," ucapku.


"Gara gara kamu kakakmu menjual semua aset yang dia punya untuk membayar hutang dan mengajak kami pindah kedesa terus bagaimana jadinya hidupku," ucapnya.


Aku lihat air mata kakak iparku hampir menetes keluar mungkin dia memang merasa shock dengan keputusan kakak yang tiba tiba itu.


"Sudahlah Kak ambil hikmahnya saja, setidaknya dengan cara ini semua hutang Kakak lunas, tidak kepikiran untuk membayarnya setiap saat, Kakak mulai usaha baru dari nol lagi, hidup di desa tidak seburuk yang Kakak bayangkan di sana terasa damai Kak suasana di sana tenang tetangga pun ramah tamah, aku yakin Kakak lama lama akan betah hidup di sana," ucapku.


Aku mengatakan yang sebenarnya, kemarin waktu aku berada di desa merasa sangat damai dan aku betah tinggal di sana walaupun internet masih sulit jaringannya.


"Aku akan menjadi orang kampung," ucap Kakak iparku sedih.


"Jadi orang kampung itu tidak sehina seperti yang ada di pemikiran Kakak, aku sudah pernah pergi ke sana dan aku lihat pekerjaan paling mulia itu petani, mereka tulus merawat tanaman yang akan menjadi sumber makanan untuk kita yang orang kota," ucapku meyakinkan kakak ipar ku.


Malam pun tiba acara tahlilan pun berjalan dengan diiringi rintik hujan dan angin kencang.


Modin orang yang biasa membacakan doa saat ini tidak datang kami semua yang ada di sini kebingungan siapa yang harus membacakan doa di malam terakhir acara tahlilan ini.


Para tamu saling tunjuk untuk membacakan doa tapi tidak satupun dari mereka yang bisa membacanya karena doa itu harus di bacakan orang yang benar-benar fasih.


Satu dari yang hadir di acara tahlilan ini mengatakan kalau sebaiknya yang membacakan doa yang punya rumah. karena doa ahli waris dari si Fulan lebih afdol dan mudah di ijabah.

__ADS_1


Kami pun menyuruh Kakak tertua untuk membacakannya tapi Kakakku yang tertua menyuruh Kakakku yang kedua dengan alasan dia tidak begitu pandai mengajinya dan kakakku yang kedua menyuruh si bungsu dari mereka bertiga tidak ada yang bisa membacakan doa malam ini.


Sungguh aku merasa malu sekaligus tidak enak pada tamu yang hadir malam ini masa dari tiga orang saudaraku tidak ada satupun yang bisa aku juga merasa sedih kenapa ayah yang rajin ibadah anak anaknya tidak ada yang bisa membacakan doa untuknya saat dia telah tiada.


Tiba-tiba aku lihat bang Parlin mengambil mikrofon dan mulai membacakan doa, aku tidak pernah menyangka kalau suamiku sehebat ini dia membacakan doa dengan khusuk dan khidmat, suaranya terdengar merdu dan sangat menyentuh.


Aku tidak pernah menyangka dibalik penampilan jadulnya suamiku memiliki otak brilian multitalenta hampir semua dia bisa. Oh Abang jadulku kamu selalu membuatku meleleh. Saking khusuk dan menghayati doa yang dipanjatkan suamiku aku hingga meneteskan air mata saat nama ayah ku di sebutkan dalam doa itu.


Setelah pembacaan doa selesai nasi berkat pun dibagikan dan para tamu mulai pulang satu persatu. Setelah semua tamu pulang kakak keduaku pun kembali mengajak kami untuk segera membicarakan tentang penjualan rumah itu.


"Bagaimana Sinta sudah adakah uang pembayaran rumah yang kemarin kita bicarakan?" tanyanya memulai pembahasan.


"Ini uangnya Kak sudah siap tapi aku minta surat suratnya di bereskan terlebih dahulu," ucapku sambil menunjukkan uang yang ada di dalam tasku.


"Itu butuh waktu berapa lama Sinta, toh kamu saat ini sedang membutuhkan uang itu," ucap kakakku.


"Kan memang sudah sewajarnya Kak kalau kita membeli rumah surat suratnya harus lengkap dulu," jawabku.


"Ckkk...sama saudara sendiri saja perhitungan sekali kamu Sin," ucap Kakak iparku ketus.


"Walaupun sama saudara memang tetap harus seperti itu Kak kan itu sudah tata cara jual beli," sahut suamiku yang sejak tadi diam saja.


"Baiklah kalau begitu sambil menunggu surat suratnya jadi aku hutang dulu," ucap Kakak keduaku.

__ADS_1


"Boleh saja Kak tapi kita buat surat hitam diatas putih sebagai bukti," ucap bang Parlin.


Aku pun merasa kaget dengan apa yang diucapkan bang Parlin baru kali ini aku melihat dia seperhitungan ini soal uang.


__ADS_2