Pemuda Pilihan Ayah

Pemuda Pilihan Ayah
Orang Yang Tepat


__ADS_3

Aku pun berjalan menghampiri wanita seusiaku yang sedang menyiram tanaman di depan rumah.


"Permisi Kak bolehkah saya bertanya sesuatu?" ucapku.


Wanita itu menghentikan aktivitasnya menyiram bunga dan menatapku sambil tersenyum.


"Silahkan Kak...Kakak mau tanya apa?" jawab wanita itu ramah.


"Maaf sebelumnya, siapa pemilik rumah itu ya Kak?" tanyaku pada wanita itu sambil menunjuk ke arah rumah yang terlihat paling sangat sederhana di lingkungan itu.


"Oh itu... itu rumah Bu Ifa dia janda beranak dua masih usia 8tahuh dan 10tahun, suaminya meninggal setahun yang lalu karena sakit," jawab wanita itu.


"Bu Ifa itu pekerjaannya apa ya Kak? maaf kalau saya kepo karena tadi saya sempat dengar dia sedang bersedih," ucapku.


"Dia berjualan sayuran Kak tapi dia berjualannya berjalan kaki keliling komplek sini kadang juga sayurnya tidak habis dalam sehari akibatnya busuk dan terbuang sia sia, dia tidak mempunyai kulkas untuk menyimpan sayuran itu dan lagi dia tidak memiliki kendaraan untuk berjualan, kasihan sekali melihatnya tapi kami tidak bisa berbuat apa-apa untuk membantunya, kami para tetangga hanya bisa kadang memberikan lauk atau nasi untuk makan saja," ucap wanita itu.


"Oh begitu ya Kak, makasih infonya Kak! saya permisi dulu," ucapku sambil tersenyum.


"Iya Kak silahkan," ucap wanita itu.


Aku pun berjalan menuju pasar untuk membeli keperluan untuk masak hari ini, hatiku merasa sedikit lega akhirnya aku menemukan orang yang tepat untuk menerima uang zakat kami, orang ini benar-benar sangat membutuhkan motor untuk berjualan, setidaknya uang yang kami berikan bisa untuk membeli motor walaupun bekas.


Aku pun mempercepat langkahku menuju rumah setelah menyelesaikan acara belanjaku, aku ingin segera memberi tahu bang Parlin kalau aku sudah menemukan kandidat yang sangat tepat.


"Bang...Bang Parlin di mana kamu," teriakku ketika sampai di depan pintu rumah.


"Ada apa sih Dik teriak- teriak! bikin orang kaget saja," ucap bang Parlin yang muncul dari dalam rumah dengan setengah berlari.

__ADS_1


"Aku sudah menemukan orang yang tepat untuk menerima zakat itu Bang," ucapku sambil membawa bang Parlin duduk di karpet yang ada di depan televisi di ruang tamu karena kami belum memiliki kursi belum sempat membelinya.


"Siapa Dik orang yang tepat untuk menerima uang itu?" ucap Bang Parlin penasaran.


"Ada Bang, seorang janda beranak dua suaminya meninggal setahun yang lalu karena sakit, dia bekerja sebagai penjual sayur tapi dia tidak memiliki kulkas dan kendaraan untuk berjualan, dia berjualan dengan cara jalan kaki hingga kadang sayurannya yang tidak habis terjual itu terbuang sia sia karena sudah busuk tidak layak jual," ucapku bercerita dengan semangat empat lima.


"Ayo kita ke sana Dik! bawa sekalian uangnya jadi nanti sekalian kita serahkan uangnya," ucap Bang Parlin.


"Bang...Adik berniat menambahkan uang itu dua juta dengan uang Adik sendiri biar bisa di belikan kulkas jika ada sisa uang yang kita berikan biar bisa di buat tambahan modal jualan, apa boleh Adik menambah lagi uang zakat itu?" tanyaku ragu ragu.


"Abang malah senang kalau Adik mempunyai niat seperti itu, iya Dik Abang ijinkan," ucap Bang Parlin sambil tersenyum manis.


"Oke Bang, aku ambil dulu ya uangnya dan kita langsung ke rumah orang itu," ucapku.


Bang Parlin pun mengangguk, aku segera bergegas masuk kamar dan mengambil uang yang kemarin telah kami siapkan untuk zakat tidak lupa aku menambahnya dengan uangku sendiri yang aku kumpulkan dari sisa belanja yang diberikan oleh Parlin.


"Ayo Bang kita pergi!" ajakku.


Aku pun mengangguk dan bergegas mengunci pintu, kami memutuskan untuk pergi dengan berjalan kaki, hitung hitung olahraga juga toh rumah orang yang akan kami tuju tidak terlalu jauh juga.


Setelah berjalan kaki kurang lebih setengah jam akhirnya kami pun sampai juga di rumah janda beranak dua itu, aku pun segera mengetuk pintu dan tidak beberapa lama kemudian seseorang membuka pintu untuk kami.


"Iya ...Adik sedang mencari siapa?" tanya wanita yang mungkin lebih tua beberapa tahun dariku.


"Kami sedang ingin bertamu di rumah Kakak, boleh kami masuk?" tanyaku.


"Oh iya mari silahkan masuk! tapi maaf tempatnya hanya ada amben ini untuk duduk," ucap wanita itu sambil mempersilahkan kami duduk di sebuah tempat tidur yang terbuat dari bambu hanya beralaskan tikar yang sangat tipis.

__ADS_1


"Tidak apa-apa Kak ini sudah lebih dari cukup," ucapku sambil tersenyum.


Aku melihat kedua bocah yang sedang menikmati makan yang aku lihat hanya nasi bercampur garam tapi mereka menikmatinya seperti seakan-akan sedang makan makanan yang sangat lezat.


Hatiku menangis melihat pemandangan yang ada di depan mataku saat ini, sungguh aku merasa sangat bersalah karena selama ini aku kurang bersyukur, kadang aku yang bisa makan secara layak saja merasa masih kurang, tapi lihatlah kedua anak ini yang hanya makan dengan nasi yang bertaburkan garam sudah terlihat sangat bersyukur dan menikmatinya.


"Oh ya maaf ada perlu apa Adik ini datang kemari?" tanya wanita itu.


"Sebelumnya kenalkan Kak saya Sinta dan ini suami saya Parlin," ucapku memperkenalkan diri.


"Oh iya Dik Sinta...Dik Parlin saya Ifa," ucap wanita itu.


"Begini Kak maaf sebelumnya bukannya kami sok kaya, tapi ini sudah menjadi kebiasaan suami saya setelah mendapatkan hasil panen dia sering menyisikan uang untuk zakat dan kali ini kami ingin menyerahkan pada Kak iga, apa Kak Ifa bersedia menerimanya?" tanyaku dengan rasa sungkan takut menyinggung perasaan wanita ini.


"Alhamdulillah... terima kasih Dik, saya akan menerimanya dengan senang hati, karena saat ini keadaan saya memang sangat membutuhkannya," ucap wanita itu dengan mata yang berkaca-kaca.


"Alhamdulillah kalau Kakak bersedia menerimanya, ayo Dik berikan!" ucap bang Parlin kepadaku.


Aku pun mengangguk dan segera mengeluarkan uang yang sejak tadi aku bawa dalam keresek hitam.


"Ini Kak kami ada uang dua puluh lima juta untuk Kakak, tadi saya tidak sengaja mendengar kalau Kakak membutuhkan motor untuk berjualan, jadi Kakak bisa menggunakan uang ini untuk membeli motor agar bisa berjualan ke tempat yang agak jauh," ucapku pada Kak ifa.


Wanita itu kaget ketika mendengar jumlah uang yang aku sebutkan, dia pun menangis saking terharunya dan itu membuat kedua anaknya berlari ke arah kami dan segera memeluk ibunya.


"Kenapa Ibu menangis? apa mereka menyakiti Ibu?" tanya anak yang berumur sepuluh tahun itu.


"Ti..dak Nak! mereka malah memberikan rezeki yang sangat banyak untuk kita," ucap wanita itu di sela tangisnya.

__ADS_1


Kedua anak itu pun menatap kami dengan mata yang berkaca-kaca sungguh hatiku sangat terharu melihat kedua anak ini yang sangat menyayangi ibunya.


"Terima kasih Tante... terima kasih Om telah sudi berbaik hati kepada kami," ucap anak itu lalu mencium tanganku kemudian tangan suamiku dan kemudian diikuti adiknya yang melakukan hal yang sama kepada kami, aku sangat terharu hingga tidak terasa air mataku pun ikut menetes.


__ADS_2