Pemuda Pilihan Ayah

Pemuda Pilihan Ayah
Puncak Kebahagiaan


__ADS_3

Hari yang ditunggu-tunggu pun akhirnya tiba, hari dimana kehadiran buah cinta kami ke dunia ini. Pagi ini perutku terasa mulas dan tidak nyaman, biasanya dijam segini aku sudah jalan-jalan disepanjang kompleks sambil mencari tukang sayur untuk berbelanja tapi tidak di pagi ini, tubuhku terasa sakit semua dan anehnya rasa sakit itu kadang-kadang datang dan kadang-kadang hilang dengan sendirinya. Bang Parlin yang melihatku tidak kunjung keluar dari kamar pun merasa khawatir pria itu menghampiriku ke kamar dan melihat keadaanku yang tidak seperti biasanya.


"Kamu kenapa, Dik? Tumben jam segini kamu belum keluar untuk berbelanja?" tanya bang Parlin.


"Perutku sakit, Bang! Tubuhku juga rasanya kurang nyaman semua, rasa sakitnya kadang -kadang datang dan pergi secara tiba-tiba," ucapku lirih. Saat ini rasa sakit itu kembali muncul.


"Jangan-jangan kamu sudah mau melahirkan, Dik! Ayo kita pergi ke dokter biar diperiksa aku tidak mau terjadi sesuatu pada kamu dan bayi kita," ucap Bang Parlin.


Aku melihat kepanikan diwajahnya. Ini untuk yang kedua kalinya aku melihat bang Parlin sepanik ini yang pertama waktu dia harus kembali ke kampung karena hewan peliharaannya yang sakit dan saat ini saat melihat aku kesakitan karena kehamilanku.


"Abang keluar sebentar ya, Dik! Abang akan menyiapkan mobil dulu! Jika kamu merasakan sakit yang teramat sangat teriak saja panggil Abang!" ucap Bang Parlin.


Aku pun tersenyum dan menganggukkan kepalaku, bang Parlin pun segera berlalu, pria itu dengan setengah berlari pergi meninggalkan diriku sendiri di kamar ini. Tidak beberapa lama aku mendengar suara deru mesin mobil bang Parlin pria itu benar-benar sedang menyiapkan mobilnya untuk membawaku ke dokter. Tidak beberapa lama bang Parlin pun kembali masuk dan membantuku untuk mengganti pakaian yang lebih nyaman dan sopan karena saat ini aku sedang mengenakan daster yang sangat pendek tidak mungkin aku pergi ke dokter dengan pakaian seperti ini.


"Mari Dik! Abang bantu Adik mengganti pakaiannya dan kita segera pergi ke dokter," ucap Bang Parlin. Aku hanya bisa menganggukkan kepala sebagai tanda setuju karena untuk saat ini tubuhku benar-benar sedang tidak baik-baik saja, rasa sakit yang muncul dan pergi secara tiba-tiba membuat tubuhku terasa lemas.


Setelah membantuku mengganti pakaian, bang Parlin pun memapah ku, membawa aku keluar menuju mobil yang telah dia siapkan.


"Hati-hati, Dik!" ucap Bang Parlin membantuku masuk ke dalam mobil.


Aku pun mengangguk dan tersenyum agar sedikit menenangkan pria itu, karena aku lihat dia sangat khawatir dengan keadaanku saat ini.


"Loh Bang, sejak kapan barang-barang ini ada di dalam mobil?" tanyaku saat melihat perlengkapan bayi yang sebelumnya sudah aku siapkan didalam tas jika sewaktu-waktu aku melahirkan jadi tidak perlu repot-repot mencari.


"Aku tadi yang memasukkannya ke dalam mobil, kita pergi ke dokter kandungan siapa tahu ini sudah waktunya untuk melahirkan jadi kita tidak usah bolak-balik untuk mengambil perlengkapan segala," ucap Bang Parlin.

__ADS_1


Pria ini memang sangat spesial, dia sudah siap sedia untuk menyambut kedatangan buah hati kami bahkan demi bisa membawaku ke rumah sakit atau tempat dokter jika sewaktu-waktu terjadi kontraksi dia pun rela mengikuti kursus menyetir, dia ingin bisa menyopir mobilnya sendiri jika terjadi sesuatu padaku seperti saat ini.


Mobil pun melaju menuju tempat praktek dokter kandungan yang biasa kaki datangi, sesampainya disana kami tidak perlu mengantri lagi karena tadi bang Parlin sempat menghubungi dokter itu sebelum membawaku ke tempat prakteknya.


"Dokter tolong periksa istri saya sepertinya ini sudah waktu melahirkan," ucap bang Parlin saat kami sudah berada dalam ruangan dokter kandungan.


"Baik pak tunggu sebentar, saya akan memeriksa ibu, tolong bapak tunggu di kursi itu!" ucap Dokter menunjuk kursi yang ada di sudut ruangan, meminta agar bang Parlin duduk menunggu sejenak saat aku melakukan pemeriksaan karena sejak tadi bang Parlin mondar-mandir mengikuti kemana dokter itu pergi mungkin karena dia saking khawatirnya padaku hingga dia tidak menyadari apa yang saat ini dilakukannya.


Bang Parlin pun mengangguk dan berjalan menuju kursi itu, aku melihat kecemasan yang teramat sangat terpancar dari wajahnya, rasa sakit yang aku rasakan tiba-tiba berkurang saat melihat betapa pria itu sangat peduli dengan keadaanku, betapa pria itu sangat mengkhawatirkan diriku dan bayinya.


"Pak Parlin istri Anda akan segera melahirkan kami akan memberikan pertolongan dan penanganan tolong Anda selesaikan administrasi di depan sementara itu kami akan segera membawa istri Anda ke ruang persalinan," ucap Dokter setelah melakukan pemeriksaan kepadaku.


"Baik Dokter saya akan segera melakukannya," ucap Bang Parlin yang aku lihat segera bergegas pergi untuk menyelesaikan administrasi.


"Dokter apakah aku boleh berada di samping istriku untuk menemaninya saat melahirkan?"tanya bang Parlin.


"Tentu saja boleh, Pak!" jawab Dokter.


Bang Parlin pun berada di sampingku menemani aku melahirkan tangannya terus saja menggenggam tanganku seakan-akan dia menyalurkan kekuatannya padaku. Sesekali priaku mengusap peluh yang ada di dahiku.


"Aku yakin kamu bisa, Sayang!" bisik bang Parlin saat melihatku berjuang untuk melahirkan penerus keturunan kami.


Setelah berjuang selama hampir satu jam akhirnya bayi kami pun lahir, samar-samar disisa tenaga dan kesadaran aku masih bisa melihat bang Parlin meneteskan air mata penuh kebahagiaan.


"Terima kasih, Dik! Kamu telah berjuang untuk membuat bayi cantik kita terlahir ke dunia ini!" ucap Bang Parlin mengecup keningku.

__ADS_1


Setelah semua yang dilakukan bang Parlin aku pun tidak mengingat apa-apa lagi rasa ngantuk dan lelah yang teramat sangat membuat mata ini terpejam dan tidak menyadari apapun yang terjadi.


Entah sudah berapa lama aku terlelap suara tangis bayi membawaku kembali ke alam nyata, perlahan aku buka mata ini dan yang pertama kali aku lihat adalah sosok bang Parlin yang sedang mencoba menenangkan bayi mungil dalam dekapannya, bayi itu seakan-akan menolak diberi minum susu formula.


"Bang," Sapaku lirih.


Bang Parlin pun segera menoleh ke arahku dan tersenyum lega.


"Dik apakah kamu sudah baikan? Apa perlu aku panggil dokter?" ucap Bang Parlin sambil terus menggoyangkan badannya berharap bayi mungil itu berhenti menangis.


Aku pun perlahan-lahan mencoba untuk bersandar pada kepala ranjang tempatku dirawat, setelah aku merasa posisiku lebih nyaman aku pun meminta bayi kami yang saat ini masih menangis dalam gendongan bang Parlin.


"Bawa kemari anak kita, Bang! Mungkin dia lapar," ucapku pada bang Parlin.


"Apa kamu yakin kalau keadaanmu sudah membaik, Dik? Aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu," ucap Bang Parlin.


"Aku sudah lebih baik, Bang! Lagian aku hanya kecapekan setelah melahirkan dan aku sudah beristirahat kini tubuhku lebih segar," ucapku.


Bang Parlin pun memberikan bayi kecil itu padaku, aku pun tersenyum saat melihat bayi cantik itu. Aku pun segera memberikan asi betapa lahap bayi itu menyusu benar saja dugaanku malaikat kecil itu sedang lapar kini bayi kami pun tenang dalam dekapanku.


"Dia sangat cantik ya, Bang!" ucapku sambil menatap wajah bayi itu.


"Iya, Sayang! Bayi kita cantik seperti dirimu," ucap bang Parlin.


Aku dalam hati berdoa semoga dengan lahirnya Puteri kami ini maka semua bertambah pula kebahagiaan dalam rumah tanggaku bersama bang Parlin dan dengan bertambahnya nikmat yang kami dapatkan maka kami pun jangan sampai lupa bersyukur pada sang maha pemberi. Aku tidak pernah menyangka kalau kehidupan rumah tangga bersama suami desoku akan seindah ini. Terima kasih ayah karena engkau telah memilihkan pemuda yang tepat untukku.

__ADS_1


__ADS_2