Pemuda Pilihan Ayah

Pemuda Pilihan Ayah
Si Jum Mengamuk


__ADS_3

Bang Parlin baru pulang saat hari sudah berganti malam, ketikan dia berbaring di sampingku langsung aku cerca dengan beberapa pertanyaan.


"Bang kenapa sih itu sapi di kasih nama si Jum," ucapku sebal.


Bang Parlin menatapku sekilas dan langsung tertawa, tawa lepas yang jarang sekali aku lihat, ternyata suamiku ini manis juga kalau tersenyum seperti ini.


"Ada yang cemburu pada sapi ternyata ya," ucap Bang Parlin di sela tawanya.


"Gedek aku sama Abang banyak nama lain untuk kamu berikan sama si sapi itu kenapa juga di kasih nama si Jum," ucapku semakin kesal.


"Karena sapi itu putih mulus badannya gemuk mirip si Jum tetanggaku yang jualan nasi pecel di depan gang masuk desa sana," jawab Bang Parlin cengengesan.


"Idih Abang kejam banget nama seseorang di pakai untuk sapi karena tubuhnya sapi gemuk seperti orang itu, dosa loh Bang," ucapku.


"Hahaha ya tidak Dik kan hanya nama saja banyak kan yang namanya mirip lagian orangnya juga tahu kok kalau namanya sama dengan sapi Abang," tutur bang Parlin.


"Si Jum gemuk banget ya Bang," ucapku.


"Iya tapi dia harus di jual karena kata dokter hewan tadi umur si Jum gak bisa sampai setahun lagi," tutur bang Parlin.


Aku kaget mendengar ucapan bang Parlin, aku melihat ada kesedihan di sorot matanya.


"Kenapa kok bisa begitu Bang bukannya si Jum cuma sakit perut ya?" tanyaku.

__ADS_1


"Ya memang batas usia sapi itu hanya cukup segitu Dik, oh ya nanti uang hasil penjualan si Jum adik saja ya yang pegang," ucap bang Parlin.


"Loh kok aku Bang?" tanyaku heran.


"Karena sekarang Adik jadi ganti si Jum, jadi kesayanganku," ucap Bang Parlin.


"Abang ini suami apaan sih masa iya aku di jadikan pengganti sapi, berarti selama beberapa bulan kita tinggal bersama Abang tidak sayang ya sama aku," ucapku pura pura cemberut.


"Tidak begitu Dik! Abang sayang banget sama Adik tapi kini sayangnya tidak terbagi lagi hati Abang seutuhnya untuk Adik," ucap bang Parlin sambil menoel pipiku.


Ah sial banget aku selama ini saingan sama sapi untuk rasa sayangnya bang Parlin, tapi tidak apalah sekarang toh aku yang menikmati uang hasil kasih sayangnya pada sapi, uang akan masuk ke rekeningku sendiri aduh senangnya kalau begini caranya mah aku rela bang Parlin memiliki si Jum beberapa lagi.


Pagi ini aku ikut Bang Parlin ke perkebunan jarak dan juga sekalian ke kadang melihat keadaan si Jum dan sapi sapi yang lain.


Aku melihat sapi sapi milik bang Parlin ini besar dan gemuk gemuk sungguh memuaskan hati melihat hewan ternak yang sehat dan gemuk seperti ini pasti mereka merawat sapi sapi ini dengan perasaan jadi sapi sapi ini merasa nyaman dan juga tenang akhirnya apa pun yang dimakan jadi daging.


"Bang sapi gemuk besar bertali merah itu apakah juga punya nama?" tanyaku ketika melihat sapi jantan yang terlihat sangat gemuk.


"Oh itu si Jimmy anaknya si Jum," jawab bang Parlin.


"Idih namanya bagus banget Bang kalah tuh nama pemiliknya," ucapku sambil cengengesan.


"Tidak apa-apa Dik namaku adalah doa dari bapak aku bangga, dengan nama ini bapak berharap aku menjadi orang yang dapat melindungi keluarga dan orang orang di sekitarku," tutur Bang Parlin.

__ADS_1


Benar juga yang di katakan bang Parlin semua nama seorang anak adalah doa terbaik yang diberikan orang tua untuknya, orang tua ingin anaknya memiliki nasib dan jalan hidup yang mapan.


"Yang itu Dik yang punggungnya ada bercak coklat itu namanya si Holden, terus yang sebelahnya si Safir, dan sebelahnya lagi si Damian," tutur bang Parlin.


Hebat banget ya sapi sapi ini namanya seperti artis Hollywood saja.


Akhirnya kami pun menuju tempat di mana si Jum diikat, dia terlihat sedikit kecil di banding sapi bernama Jimmy tadi tapi menurutku si Jum ini juga sudah termasuk besar, bang Parlin segera menyuruhku memperhatikan si Jum dari balik pohon mangga saja jangan dekat-dekat karena takut si Jum ngamuk.


Kali ini aku pun menurut aku bersembunyi di balik pohon mangga memperhatikan apa saja yang di lakukan bang Parlin pada sapi itu.


Bang Parlin mengelus si Jum dengan penuh kasih sayang bahkan dia juga mencium sapi itu, aduh suamiku main nyosor sama sapi aku kan cemburu, melihat begitu sayangnya bang Parlin pada sapi itu tidak heran kalau si Jum merasa tidak suka kalau ada yang dekat dengan bang Parlin mungkin sapi itu takut kalau bang Parlin di rebut oleh orang, wah aku sudah seperti pelakor saja merebut bang Parlin dari si Jum.


Iseng-iseng aku ingin mencoba lagi untuk menggoda si Jum apakah dia benar-benar akan ngamuk lagi jika aku mendekati bang Parlin tiba-tiba.


Aku berjalan mendekati bang Parlin yang tengah berjongkok membersikan sekitar tempat si Jum di ikat aku pun segera melompat ke punggung bang Parlin, suamiku kaget dengan tingkahku dan dia pun melihat ke arah si Jum yang sekarang terlihat sedang gelisah dan memberontak dari ikatannya seakan akan ingin menyerangku.


Dan benar dugaanku tidak berapa lama si Jum terlepas dari ikatannya dan berlari mendekati aku dan bang Parlin. Bang Parlin segera berdiri dan membawaku lari dengan posisi aku berada di punggungnya, bang Parlin menggendongku di punggung dan terus berlari, ternyata suamiku kuat juga padahal tubuhku termasuk gemuk, sehat dan montok.


"Kok bisa sampai segitunya ya Bang," ucapku saat kami sudah keluar dari tempat para hewan ternak itu berada.


"Ya begitulah aku sangat menyayangi si Jum dia sapi pertamaku, dulu aku merawatnya waktu dia masih berusia tujuh bulan hingga saat ini, anak si Jum sudah banyak, hasil yang aku peroleh dari si Jum sudah ratusan juta belum lagi susunya yang aku jual dan aku konsumsi sendiri entah sudah berapa banyak,


aku sebenarnya tidak tega berpisah dengan si Jum tapi mau bagaimana lagi kita semua pasti akan kalah dengan yang namanya umur jadi ya mau tidak mau aku harus merelakannya," ucap bang Parlin.

__ADS_1


Suamiku memang sosok penyayang aku yakin saat ini aku sudah berada di tangan lelaki yang tepat sama sapi saja dia begitu sayang apa lagi padaku yang cantik jelita seperti ini.(Narsis dulu ya guys🤭).


__ADS_2