
Kami pun berjalan menyusuri perkebunan dan bang Parlin menuntun satu sapi yang cukup besar dan sapi sapi yang lain mengikuti, kami pun berjalan menuju tanah lapang yang lumayan dekat dengan perkebunan itu yang terlihat menghijau karena banyak di tumbuhi rumput liar.
Setelah tiba di pinggir tanah lapang bang Parlin pun mengikat sapi yang sejak tadi dia tuntun dan para sapi itu segera asik mencari makan sendiri sendiri.
"Seperti inilah pekerjaanku selama dua puluh dua tahun ini Dik, menggembala sapi," ucap Bang Parlin. Kami pun duduk di bawah pohon besar sambil melihat sapi sapi itu makan.
"Damai dan tenang ya Bang hidup di desa," ucapku. Aku pun menyandarkan kepalaku di punggung bang Parlin. Dan tiba-tiba aku dengar bang Parlin memainkan seruling yang entah dari mana dia dapatkan seruling itu.
Suara seruling itu mendayu-dayu terdengar sangat merdu dan membuat hati terasa damai.
Kami berada di tepi tanah lapang ini sampai sore, dan ketika petang menjelang kami pun segera membawa sapi sapi itu kembali ke kandangnya.
Membawa para sapi sapi itu ke kandang ternyata tidak sulit, mereka sudah tahu jalan pulang hanya dengan menuntun satu sapi di depan.
****Hari ini si Jum di jemput orang, kata bang Parlin si Jum akan di bawa ke rumah jagal akan di potong dan diambil dagingnya, aku sangat terharu sekaligus cemburu ketika melihat bang Parlin sampai menangis saat berpisah dengan si Jum, bang Parlin mengelus dan menciumi kepala sapi itu saat mau di naikkan ke dalam truk.
"Dik tadi si tukang jagal minta nomor rekening tak kasih nomor rekeningmu saja, biar di transfer ke rekening mu," ucap bang Parlin m
"Kenapa tidak pakai nomor rekening Abang saja," ucapku.
"Aku sudah berniat memberikan uang hasil penjualan si Jum padamu Dik jadi pakai nomor rekeningmu saja," ucap bang Parlin.
Aku pun menganggu senang akhirnya nomor rekeningku ada isi duwit selama ini kosong.
__ADS_1
Aku merasa sangat senang uang hasil penjualan sapi itu di berikan padaku oleh bang Parlin, aku juga terharu punya suami yang tidak pelit, sebenarnya aku ingin bertanya berapa harga sapi seperti si Jum itu Tapi aku takut di bilang mata duwitan padahal aslinya aku memang paling suka lihat uang apalagi kalau dalam jumlah banyak wah pokoknya happy always, maklum selama ini rekeningku paling banyak terisi tiga juta dan sekarang akan terisi dengan uang hasil penjualan sapi sebesar si Jum aku sudah tidak sabar melihat berapa duwit yang masuk ke rekeningku.
Bang Parlin pamit keluar sebentar untuk membeli alat keperluan perkebunan dan aku pun tinggal di rumah duduk duduk di teras bersama bapak mertuaku dan lagi lagi bapak bercerita tentang bang Parlin yang membuatku semakin kagum dengan sosok suami jadulku itu.
Aku kira ladang yang di sulap menjadi perkebunan jarak dan juga di gunakan untuk lahan ternak sapi itu adalah warisan dari mertuaku, aku kira mertuaku kaya raya, tapi ternyata aku salah, perkebunan dan peternakan itu di mulai dari nol oleh bang Parlin, dia yang pertama kali membuka perkebunan ini, dia membeli lahan ini pertama kali hanya satu petak dan itu pun di modali oleh seorang mandor perhutani yang berasal dari Sumatera yang saat itu ditugaskan di desa ini dan si Jum juga sapi pertama bang Parlin yang di dapat dari anak pak mandor itu.
Bahkan bang Parlin yang membuka jalan dan memberikan modal untuk saudara saudaranya yang lain untuk berkebun jarak, kelapa sawit dan juga peternakan sapi.
Aku semakin kagum dan bangga memiliki suami bang Parlin, dia sosok suami yang luar biasa.
Setelah seminggu tinggal di desa tiba waktunya kami kembali ke Bogor, sopir mobil rental yang kemarin kami gunakan datang kembali untuk menjemput kami seperti perjanjian yang telah kami sepakati.
Bang Parlin membayar ongkos mobil itu tiga juta katanya itu ongkos yang sepadan dengan jarak yang di tempuh.
"Bang kenapa tidak beli mobil Fortuner atau Pajero di kampung jadi kalau kita mau jalan-jalan saat berada dikampung enak gak perlu sewa," ucapku.
"Balik lagi itu kebutuhan atau keinginan Dik, kalau di desa kita yang dibutuhkan truk untuk mengangkut hasil panen dan Alhamdulillah kita punya tiga truk Dik dan harga truk itu tidak kalah dengan harga Pajero loh, lagian mobil Pajero di kampung buat apa Dik," ucap bang Parlin.
Tiba-tiba aku mendengar pintu rumahku di ketuk seseorang dan aku pun segera bangun dan berjalan ke arah pintu untuk segera membukanya.
Aku melihat tetanggaku sebelah rumah berdiri di depan pintuku.
"Ada apa Bu?" tanyaku.
__ADS_1
"Itu Mbak Sinta kemarin saudara Mbak datang kemari mencari Mbak kelihatannya ada yang penting, katanya ponsel Mbak tidak bisa di hubungi, dia meninggalkan pesan pada saya kalau Mbak sudah pulang di suruh telfon balik," ucap tetanggaku itu.
"Oh iya Bu makasih ya informasinya," ucapku sambil tersenyum.
"Iya Mbak Sinta sama sama, saya permisi ya Mbak," ucap tetanggaku berpamitan.
Aku pun menutup pintu dan segera masuk ke kamar, aku cari ponselku di dalam tas, aku lupa kalau selama seminggu di kampung ponselku tidak pernah aku hidupkan, ternyata kehidupan di kampung yang damai membuat aku melupakan ponsel.
Aku pun segera mengecas ponselku yang kehabisan daya setelah terisi dua puluh persen aku pun segera menelfon abangku yang tertua.
Pada deringan kedua sambungan telepon ku pun langsung diangkat, sebelum aku sempat bertanya ada apa kakak mencariku aku sudah di berondong dengan omelan oleh kakak tertuaku.
"Kamu ini bagaimana sih kita kena musibah malah ponselmu tidak bisa di hubungi dan saat dicari ke rumah pun tidak ada tetangga pun tidak tahu keberadaanmu sebenarnya kamu itu kemana saja," ucap kakakku
"Musibah apa kak? maaf ponselku gak ada sinyal kak " tanyaku cemas.
"Ayah yang meninggal Sin! entah kamu ini anak macam apa orang tuanya meninggal tidak tahu," ucap kakakku ketus.
Aku pun shock mendengar kabar ini tanah yang aku pijak tiba-tiba terasa berputar hebat, aku pun berteriak memanggil bang Parlin sedangkan ponsel yang aku pegang sudah terjatuh.
"Bang ...ayah Bang!" teriakku di sela tangis.
"Ada apa dengan ayah Dik?" tanya bang Parlin sambil berlari ke arahku.
__ADS_1
"Ayah meninggal Bang," ucapku dan setelah itu aku tidak tahu lagi apa yang terjadi karena tiba-tiba semua menjadi gelap.