Pemuda Pilihan Ayah

Pemuda Pilihan Ayah
Kenyataan


__ADS_3

Kakakku pun melotot ke arah bang Parlin.


"Bagaimana kamu sekarang menjadi perhitungan seperti ini pada kami Parlin? bukannya dulu kamu tidak sepelit ini saat memberikan uang tiga puluh juta untuk membayar kekurangan haji ayah kenapa sekarang saat kami hutang kamu malah mau bikin surat hitam di atas putih," ucap kakakku.


"Beda itu Kak! kalau dengan ayah aku memberikannya tapi kalau ini namanya jual beli bukan pemberian," jawab bang Parlin.


"Baiklah, Dik tolong belikan kuitansi dan materai," perintah Kakak pertamaku pada si bungsu.


Setelah semua beres dan surat perjanjian telah di buat bang Parlin pun menyerahkan uangnya dengan membawa surat perjanjian sebagai jaminan, ternyata bang Parlin menjadi sangat hati-hati dan perhitungan jika berhubungan dengan jual beli, dia tidak mudah percaya pada orang lain walaupun itu dengan saudara sendiri.


Keesokan harinya kakakku yang pertama datang ke rumahku mengabarkan kalau rumahnya sudah di over kredit kan.


"Parlin aku sudah menuruti semua saranmu, aku bersedia pindah ke desa mana lahan yang kamu janjikan," ucap Kakakku.


"Baiklah Kak datanglah ke tempat yang alamatnya sudah aku tulus di sini, temui bapakku dan serahkan surat ini, beliau akan membantumu untuk mendapatkan pedet terbaik juga lahan yang cocok untuk bercocok tanam," ucap bang Parlin menyerahkan dua surat yang satu berisi pesan untuk bapaknya dan yang satu berisi alamat desanya.


Kakakku berpamitan dan pulang dia memutuskan untuk berangkat ke desa hari ini juga, sore harinya kakak iparku berpamitan di grup WA keluarga mengatakan kalau mereka akan hidup di desa yang tidak ada sinyalnya maka jangan terkejut jika tidak bisa menghubungi mereka, salahkan saja Parlin dan Sinta yang memberikan ide gila ini. Begitu isi pesan yang dikirimkan kakak iparku di grup WA keluarga aku pun menanggapinya hanya dengan senyum saja.


"Bang... Abang akan ketahuan kalau punya sapi banyak ladang luas tambak banyak secara aku yakin kakak dan kakak iparku akan bercerita di grup WA sesampainya di kampung dan tahu kalau Abang punya sapi dan perkebunan jarak juga tambak yang luas," ucapku yang saat ini kami sedang berbaring santai di depan televisi.


"Memangnya Abang pernah berbohong atau menyembunyikan dari mereka Dik? toh mereka tidak pernah bertanya dan Abang pun tidak mau mengatakannya takut dikira pamer," ucap bang Parlin santai.


"Aku kagum deh sama Abang ternyata Abang pandai nyanyi, pandai main seruling, juga pandai ngaji," ucapku sambil membaringkan kepalaku di pangkuannya.


"Iya Dik saat menggembalakan ternak hiburanku hanya bernyanyi dan bermain seruling," jawabnya.


"Abang kok pandai ngaji juga," ucapku.

__ADS_1


"Iya Dik kan Abang pernah nyantri di pesantren selama empat tahun," jawabnya.


"Pesantren mana Bang?" tanyaku.


"Pesantren Derajat Lamongan, pimpinan Abah kyai Ghofur," jawab bang Parlin.


"Oh aku pernah mendengar pesantren ini, dan aku pernah mendengar cerita dari bapak kemarin waktu aku di desa dan Abang tidak belajar sampai tamat" tanyaku.


"Orang tua Abang tidak bisa membiayai lagi, jadi terpaksa aku berhenti sekolah," jawabnya.


"Lalu bagaimana caranya Abang bisa memiliki perkebunan begitu luas?" tanyaku lagi.


"Pertama ada yang memberikan lahan dan modal untukku begitu, setelah panen hasil bagi dua, pertama kali Abang di modali dan diberi lahan sebesar lima hektar setelah panen dan Abang berhasil lahan menghasilkan panen yang memuaskan di tambah lagi modalnya untuk membuka sepuluh hektar kebun jarak dan lima petak tambak setelah waktu panen tiba orang itu memberikan semua kepada Abang mereka pindah ke Sumatra dan kami lepas kontak sampai sekarang," ucap bang Parlin bercerita.


"Baik banget orang itu Bang," ucapku.


"Anaknya pak mandor itu laki laki atau perempuan Bang?" tanyaku penasaran.


"Perempuan Dik namanya Nita, dia suka sekali film si Doel anak sekolahan dan film India kami sering sekali menonton video kedua film itu, hanya di rumahnya yang ada televisi dan mesin DVD di desa kami, jadi aku sering menonton di rumahnya," cerita bang Parlin.


"Lalu sekarang dimana Nita tinggal Bang?" tanyaku.


"Entahlah Dik, kami kehilangan kontak, kami tidak lagi saling berkomunikasi, padahal Abang masih punya hutang sama si Nita," jawab bang Parlin.


Hatiku terasa tercubit ada rasa cemburu di hatiku, mungkinkah yang dimaksud orang dari masa lalu oleh bang Parlin tidak lain adalah si Nita ini?.


"Bagaimana penampilan Nita itu Bang?" tanyaku lagi.

__ADS_1


"Orangnya berkulit putih, matanya sipit dan dia tingginya sekitar seratus enam puluh sentimeter, kalau tersenyum ada lesung pipit di pipinya, pokonya dia sangat cantik Dik," jawab bang Parlin.


Aku yang penasaran pun segera mengetikkan nama Nita di Facebook siapa tahu ada orang yang bang Parlin maksud. Sesungguhnya hatiku panas karena bang Parlin mengatakan wanita lain sangat cantik di depanku.


Pencarian ku di Facebook pun membuahkan hasil ada beberapa nama Nita di Facebook aku pun menunjukkan satu persatu foto orang yang bernama Nita di Facebook ini siapa tahu salah satu dari mereka adalah Nita yang di maksud bang Parlin.


"Ini Nita Bang?" tanyaku sambil menunjukkan foto seorang wanita.


"Bukan," jawab bang Parlin.


"Ini," ucapku sambil menunjukkan foto yang lain.


"Tidak," jawabnya lagi.


"Kalau yang ini," ucapku sambil menunjukkan foto lagi.


"Tidak yang ini Dik," jawabnya.


"Berarti Nita sudah tidak ada Bang, kini yang ada Sinta dan Sinta. jadi Abang gak usah cari dan nunggu itu orang lagi," ucapku.


"Bukan begitu Dik Abang punya hutang sama dia Abang harus bayar karena si Jum awal beli pakai duwit dia hasil tabungannya," ucap bang Parlin.


"Jadi Abang berpenampilan seperti ini juga karena tuh cewek ya bang? ayo ganti penampilan bang aku tidak suka Abang dandan seperti itu," ucapku kesal


"Hehehe iya dan gak Dik! dulu kami sering lihat orang tampil seperti ini dan dia bilang suka lihat orang seperti itu jadi Abang niru penampilannya," ucapku


Aku meninggalkan bang Parlin sendirian di ruang tengah aku memilih untuk pergi ke kamar dan mengunci pintunya, biarkan saja bang Parlin tidur di luar malam ini.

__ADS_1


__ADS_2