Pemuda Pilihan Ayah

Pemuda Pilihan Ayah
Bang Parlin Yang Istimewa


__ADS_3

Hari ini aku menyalurkan uang titipan kakak dan juga wanita tukang sayur yang kemarin di titipkan kepadaku.Aku memilih untuk memberikan pada anak yatim-piatu yang diadopsi oleh seorang tukang becak dan orang itu pun termasuk fakir.


"Terima kasih banyak, Nak! uang ini sangat besar artinya untuk kami, saya doakan agar lancar persalinannya," ucap Pria itu.


"Amiiin, kami permisi dulu ya, Pak," ucapku yang kemudian meninggalkan rumah bapak tukang becak itu.


"Seneng ya, Bang bisa berbagi seperti ini," ucapku.


"Iya Dek ada kelegaan tersendiri dalam diri kita," ucap Bang Parlin.


"Oh ya Bang setelah ini kita kemana?" Tanyaku karena masih ada satu titipan lagi yang belum kami salurkan.


"Kita ke rumah sakit saja, Dik! aku dengar rumah sakit dekat tempat tinggal kita membutuhkan sebuah ambulan kita tambahi uang itu dan kita gunakan untuk membeli mobil yang akan digunakan sebagai ambulan," ucap Bang Parlin.


"Bukannya setiap rumah sakit sudah mendapatkan jatah dari pemerintah, Bang?" Tanyaku.


"Iya Dik tapi kalau cuma satu pasti kurang mewadahi," ucap Bang Parlin.


"Baiklah Bang, ayo kita ke sana!" ucapku penuh semangat.


Kami pun segera pergi menuju rumah sakit yang tidak jauh dari tempat tinggal kami, Aku dan bang Parlin memberikan sejumlah uang untuk membeli mobil yang akan digunakan sebagai ambulan kendaraan yang akan membawa para pasien ke rumah sakit yang lebih lengkap peralatannya.


"Terima kasih banyak, Ibu dan Bapak telah berkenan memberikan uang dengan jumlah besar untuk pembelian mobil yang akan digunakan sebagai ambulan kendaraan yang mengangkut orang yang sedang sakit menuju ke rumah sakit yang lebih lengkap alat medisnya," ucap kepala rumah sakit itu.


"Sama-sama, Pak! Semoga bisa bermanfaat, kami permisi dulu Pak," ucap Bang Parlin permisi pada kepala rumah sakit untuk segera pulang.

__ADS_1


"Oh ya, Pak ... Bu silahkan! sekali lagi kami ucapkan banyak terima kasih," ucap Kepala rumah sakit itu.


Kami pun segera pergi meninggalkan rumah sakit itu, sepanjang perjalanan aku menatap suamiku yang sering disepelekan oleh saudara-saudaraku ternyata dia adalah sosok yang sangat sempurna bagiku, dia adalah pria penuh dengan kejutan, apapun anggapan orang terhadapnya tidak pernah dia masukkan dalam hati hanya dia sikapi dengan santai seakan-akan dia tidak mempunyai rasa sakit hati. Aku berdoa dalam hati agar kelak anakku memiliki hati yang lapang dan memiliki rasa peduli pada orang disekitarnya sama seperti ayahnya, bang Parlin kini telah berhasil menjadi idola dalam hatiku.


"Kenapa kamu senyam-senyum sendiri seperti orang kesambet begitu, Dik?" tanya bang Parlin yang sejak tadi memperhatikanku tanpa aku sadari. kami memang sengaja pergi ke rumah sakit dengan berjalan kaki, selain letak rumah sakit yang lumayan dekat kami juga sekalian berolahraga.


"Tidak kenapa-kenapa, Bang! Aku merasa bahagia saja bisa bermanfaat untuk orang lain seperti yang dulu pernah aku impikan," jawabku.


"Oh aku kira kamu kesambet jin penunggu rumah sakit," ucap Bang Parlin cengengesan.


"Tenang saja, Bang! itu tidak akan pernah terjadi karena aku punya pawang penangkal setan dan jin jadi tidak mungkin aku kesambet," ucapku santai.


"Oh ya? Kenapa Abang tidak pernah tahu?" tanya Bang Parlin yang menanggapi ucapanku serius entah hanya pura-pura serius aku tidak mengerti bisa membedakan karena saat aku menganggapnya serius biasanya bang Parlin malah bercanda tapi saat aku anggap dia bercanda ternyata serius seperti sungguh aku kesulitan menebak apa yang sebenarnya ada dalam pikiran suamiku itu.


"Karena Abanglah penangkalnya," ucapku santai.


"Bisa jadi," jawabku asal.


"Wah berarti aku sangat sakti ya? selain bisa jadi penangkal setan ternyata aku bisa mengirim santet pada orang lain juga," ucapnya dengan menampilkan wajah sok seriusnya.


Aku yang mendengar ucapannya pun penasaran dengan apa yang sebenarnya dia maksud dengan mengirim santet pada orang lain? Daripada aku penasaran lebih baik aku tanyakan apa sebenarnya maksud perkataan bang Parlin.


"Mengirim santet bagaimana, Bang?" tanyaku penasaran.


"Itu aku membuat perutmu melembung selama sembilan bulan, seperti orang yang terkena kiriman santet," jawab bang Parlin cengengesan.

__ADS_1


"Ihhhh...Abang ini kalau ngomong sekate-kate!" ucapku jengkel karena menanggapi apa yang dia ucapkan dengan serius ternyata dia hanya bercanda.


"Hahahaha jangan ngambek, Sayang! Abang cuma berjanda," ucapnya diselingi tawa khas miliknya.


"Ah bodo amat! Mau Abang berjanda atau berduda aku mah tidak bisa apa," ucapku asal.


Kami pun tertawa bersama setelahnya, seperti inilah kehidupanku dengan bang Parlin hal-hal sepele dan receh akan selalu menjadi bahan kami menghibur diri.


"Dik bagaimana kalau nanti sore kita pergi berbelanja untuk kebutuhan persiapan kelahiran bayi kita? kita beli baju bayi dan perlengkapan lainnya," ucap Bang Parlin saat kami sudah tiba di rumah.


Aku yang saat ini sedang menyajikan minuman untuknya pun menghentikan sejenak tanganku memandang wajah suami desoku yang penuh perhatian ini. Aku tidak pernah menyangka dia pun memikirkan semua kebutuhan untuk persiapan kelahiran bayi kami.


"Diminum dulu, Bang! Iya nanti sore kita pergi ke mall untuk membeli semuanya," ucapku.


"Bagaimana kalau kita beli di pasar sore saja, Dik? Aku rasa kualitas barang di sana tidak jauh berbeda dengan yang ada di mall. Setidaknya kita bisa berbagi rezeki dengan stand pasar yang sepi pembeli di sana, siapa tahu mereka menunggu rezeki itu hanya sekedar untuk membeli beras yang akan dimasak hari ini," ucap Bang Parlin.


Aku pun diam mendengarkan ucapannya, selama ini tidak pernah terlintas dalam pikiranku hal seperti itu, terlihat sepele tapi sangat berarti kalau dipikirkan kembali. Aku yang selalu membeli apa-apa di mall tidak pernah memikirkan apa yang kemungkinan terjadi pada penjual di pasar tradisional mungkin mereka memang membutuhkan uang dan menunggu pembeli dengan sabar berharap hari ini ada yang membeli dagangan mereka yang bisa digunakan untuk membeli sesuap nasi. Dan bodohnya lagi saat aku sesekali pergi belanja di pasar tradisional selalu saja membeli dagangan para pedagang yang standnya ramai, tanpa berpikir kalau saat ini yang memiliki stand pembeli dengan jualan yang sama berharap ada yang membeli dagangan mereka. Aku semakin kagum dibuat oleh pemikiran bang Parlin, pemikiran yang selama ini tidak pernah terlintas dalam benakku.


"Iya Bang nanti sore kita pergi ke pasar sore sekalian jalan-jalan cuci mata, siapa tahu ada cowok tampan yang naksir aku," ucapku cengengesan.


"Wah itu namanya rezeki, Dik! Tapi memangnya ada cowok yang mau dengan wanita berperut buncit seperti terkena santet? Kalau cewek melihatku aku yakin mereka akan naksir padaku kemungkinannya ada yang seperti itu," ucap Bang Parlin dengan santainya.


Aku pun terdiam dan memikirkan apa yang diucapkan oleh Bang Parlin. Kalau dipikir-pikir memang benar adanya, aku pun tersulut emosi membayangkan para wanita yang mengerumuni bang Parlin dan meminta untuk dijadikan istri kedua secara para masyarakat di kota ini banyak yang mengetahui kalau bang Parlin yang berpenampilan seperti orang deso ini tapi rezekinya kota, dia banyak duwit tidak menutup kemungkinan wanita di luaran sana merayunya walaupun hanya sekedar mengincar uang bang Parlin saja.


"Jika ada yang seperti itu maka aku akan memotong burungmu, Bang!" ucapku sambil mempraktekkan memotong sesuatu.

__ADS_1


Bang Parlin pun terkekeh mendengar ucapanku.


__ADS_2