Pemuda Pilihan Ayah

Pemuda Pilihan Ayah
Hidup di Kampung


__ADS_3

Bu Ifa berlinang air matanya, dia merasa senang dan bingung bercampur jadi satu, orang yang tidak dia kenal dan tiba-tiba datang ke rumahnya memberikan uang sebanyak itu sungguh membuatnya terharu.


"Terima kasih... terima kasih banyak Dik Sinta...Dik Parlin saya tidak tahu bagaimana cara membalas kebaikan kalian, semoga Allah membalas dengan rezeki yang semakin berlimpah," ucap Wanita itu.


"Aamiin... Kakak tidak perlu memikirkan bagaimana caranya membalas kami, kami ikhlas memberikan uang ini, gunakan uang itu untuk modal Kakak berusaha entah Kakak gunakan untuk membeli motor atau apa terserah Kakak, semoga usaha Kakak berkembang, bila suatu saat nanti Kakak memiliki rezeki yang berlimpah tolong lakukan hal yang sama kepada orang yang lebih membutuhkan, anggap saja itu zakat Kakak," ucap bang Parlin.


"Iya Dik... saya akan mengingat pesan Dik Parlin," ucap Kak Ifa.


"Oh ya Kak ini aku ada sedikit rezeki lagi, ini khusus dari aku tolong di terima ya Kak! Kakak bisa menggunakannya untuk membeli kulkas," ucapku sambil menyerahkan uang yang sudah aku siapkan dari uang sisa belanjaku.


"Ya Allah Dik Sinta ini apalagi? uang yang Adik berikan tadi sudah cukup banyak kenapa ini di tambah lagi," ucap Ifa sambil terisak.


"Tidak apa-apa Kak, uang yang dua puluh lima juta bisa Kakak gunakan untuk beli motor jika ada sisanya bisa Kakak buat tambahan modal, yang uang ini bisa Kakak gunakan untuk membeli kulkas untuk menyimpan dagangan Kakak biar tidak cepat rusak," ucapku.


"Terima kasih atas kebaikan kalian," ucap Ifa sesenggukan.


"Sama-sama Kak, kalau begitu kami permisi dulu ya Kak!" pamit ku.


"Iya Dik silahkan! sekali lagi terima kasih banyak," ucap Ifa.


Kami pun segera pula dari rumah janda beranak dua itu, hati terasa sangat bahagia setelah bisa berbagi dengan sesama yang sangat membutuhkan, baru kali ini aku merasa bahagia dan lega yang amat sangat.


"Bang begini ya rasanya kalau kita bisa berbagi dengan orang yang benar-benar membutuhkan, rasanya bahagia banget," ucapku di saat kami berjalan kaki menuju rumah.


"Iya Dik ... Alhamdulillah kita bisa meringankan sedikit beban janda itu," ucap bang Parlin.

__ADS_1


"Sudah lama Abang melakukan zakat dengan cara seperti ini?" tanyaku sambil menatap bang Parlin.


"Sudah selama dua puluh tahun Dik," jawab bang Parlin.


"Wah hebat ya Abang, sudah banyak orang yang terbantu dong Bang," ucapku kagum.


"Ya Alhamdulillah Dik lumayan," jawab bang Parlin.


"Abang belajar cara zakat seperti ini pasti dari pesantren yang dulu Abang tempati ya?" tanyaku kepo.


"Bukan Dik! dulu ada seseorang yang memberikan zakatnya pada Abang untuk dijadikan modal dan berpesan pada Abang jika suatu saat nanti Abang sukses maka jangan lupa melakukan hal yang sama, semacam zakat berantai lah Dik," ucap bang Parlin.


"Siapa orang itu Bang?" tanyaku penasaran.


"Ayahnya Nita," jawab bang Parlin.


"Oh ya Bang apa Abang tidak pingin beli handphone begitu?" tanyaku pada bang Parlin.


"Kan Abang sudah punya ponsel Dik, buat apa beli lagi," ucap bang Parlin.


"Bukan ponsel yang seperti punya Abang, ponsel android yang canggih seperti yang digunakan orang-orang sekarang Bang," ucapku menjelaskan.


"Untuk apa Dik! kembali lagi kepada kebutuhan atau keinginan Dik, Abang butuh ponsel hanya untuk menghubungi pekerja atau Bapak di desa saja, pakai ponsel yang Abang punya bisa kan Dik," ucapnya.


"Apa Abang tidak penasaran dengan ramainya dunia maya?" ucapku.

__ADS_1


"Buat apa Dik? nanti malah Abang di taksir janda apa Adik tidak malah mengamuk?" ucapnya terkekeh.


Benar juga ya yang di katakan bang Parlin, di dunia maya banyak sekali pelakor yang mencari mangsa, kalau sampai bang Parlin punya ponsel android dan dia digoda oleh pelakor pencari mangsa lalu bang Parlin yang polos dan belum begitu tahu kejamnya dunia maya tertarik dan dibawa kabur pelakor bisa bisa aku gigit jari dong.


Tidak terasa kami pun tiba di rumah, aku pun segera memasak untuk sarapan walaupun waktu sarapan sudah terlewati karena kami pergi ke rumah janda beranak dua tadi, tapi tidak apalah sekali sekali makan agak siang hitung hitung diet.


Sementara itu kakak Sinta yang menurut pada saran Parlin untuk bekerja dan pindah ke kampung saat ini sedang sibuk mempersiapkan lahan untuk menanam jarak di desa tetangga tempat Parlin dulu tinggal, jarak tempuh antara rumah Parlin dan rumah kakak iparnya sekitar tiga puluh menit jika di tempuh dengan jalan kaki.


saat ini kakak ipar Sinta sedang membersihkan kotoran sapi, dengan wajah yang di tekuk, dia masih merasa kesal pada Parlin dan juga Sinta, karena mereka suaminya memilih untuk tinggal di desa dan bekerja sebagai petani serta peternak sapi.


Baginya hidup di kota lebih nyaman dan menyenangkan seandainya mereka tidak terlilit hutang, tapi mau apa di kata demi terbebas dari hutang dan hidup terasa tenang tanpa memikirkan bagaimana caranya membayar hutang setiap kali membuka mata waktu pagi telah tiba dia harus rela dan bersedia hidup di desa seperti ini.


Amira kakak ipar Sinta sempat berpikir apa dulu Parlin benar benar bekerja seperti ini atau hanya karangannya saja, sebenarnya Parlin mempunyai warisan yang banyak sehingga dia memiliki uang dan lahan yang cukup luas begitu pikir Amira.


Hari ini setelah menyelesaikan tugasnya membersihkan kotoran sapi, Amira pun menyusul suaminya ke pekerbunan jarak mengantarkan makanan untuk makan siang suaminya, kebetulan saat ini orang tua Parlin juga berada di sana.


"Eh Nak Amira ngirim makanan Nak?" sapa orang tua Parlin.


"Iya Pak... tumben Bapak ada di sini, mari ikut makan bersama kami Pak!" ajak Amira sambil menaruh makanan di gubuk tempat suaminya dan orang tua Parlin sedang duduk-duduk melepas penat.


"Ini tadi Bapak kebetulan liwat sekalian mampir melihat perkembangan tempat yang mau ditanami jarak suamimu, Bapak tadi sudah makan Nak silahkan kalian makan saja," ucap orang tua Parlin.


"Ini saya bawa makanan lumayan banyak kok Pak cukup untuk kita makan bertiga, mari Pak ikut makan bersama tidak usah sungkan," ucap Amira sambil menata makanan.


"Ayo lah Pak sekali sekali icipi masakan istri saya, dia pintar masak loh Pak," ucap suami Amira sambil terkekeh.

__ADS_1


Akhirnya karena di bujuk Amira dan suaminya orang tua Parlin pun ikut menikmati makanan yang di bawa Amira dan mereka pun menikmati makanan bertiga di gubuk, Amira serasa saat ini mereka sedang piknik.


__ADS_2