
Setelah aku merasa lebih baik dan perempuan yang tadi memijitku telah pergi aku pun ingin keluar untuk menghirup udara segar pedesaan, hatiku terasa lega ternyata apa yang sebenarnya terjadi tidak seperti yang aku bayangkan ternyata bang Parlin tidak memiliki istri lain di desa ini dan lucunya lagi yang selama ini aku cemburui adalah seorang sapi, sapi yang sangat gemuk bentuk badannya hampir sepertiku kelebihan daging.
Aku pun keluar dan berjalan menuju teras aku ingin melihat suasana kampung sore ini, ketika aku tiba di teras aku lihat bapak mertuaku sedang duduk-duduk di sana sambil menikmati secangkir kopi di temani ketela pohon yang di goreng dan terlihat masih panas.
"Eh kamu sudah bangun Nak, sini duduk sama bapak! bagaimana keadaanmu apakah sudah mendingan?" tanya Bapak mertuaku ramah.
Aku pun tersenyum dan berjalan menuju kursi penjalin yang ada di sebelahnya tempat kami duduk di pisahkan oleh sebuah meja yang berada tepat di tengah tengah kami.
"Saya sudah mendingan Pak," jawabku sambil tersenyum.
"Syukurlah, bapak beritahu ya kalau si Parlin sedang berada dekat si Jum kamu jangan mendekatinya karena entah kenapa si Jum itu seperti tidak menyukai jika Parlin dekat dengan perempuan dulu juga pernah begitu ada juragan sapi seorang perempuan sedang bicara berdua dengan Parlin membicarakan harga sapi di kandang tiba tiba di Jum mengamuk dan menendang perempuan itu kasihan dia sampai pinggangnya terkilir," ucap Bapak mertuaku bercerita.
"Aneh ya Pak sapi kok bisa cemburu," ucapku sambil tersenyum.
"Iya Bapak juga heran sapi kok seperti manusia punya rasa cemburu, mungkin karena Parlin memeliharanya sejak dia masih kecil hingga sebegitu besar dan sapi itu merasa nyaman saat bersama Parlin," kekeh Bapak mertuaku.
__ADS_1
"Mungkin begitu Pak, tadinya saya juga salah sangka sama bang Parlin waktu saya membaca pesan bang Parlin dari seseorang yang mengabarkan kalau si Jum sakit saya pun menyuruh bang Parlin untuk membaca sendiri pesannya karena saya kira bang Parlin memiliki orang lain selain saya di kampung ini, apalagi setelah melihat tingkah bang Parlin yang kelabakan dan gelisah setelah mengetahui kabar tentang si Jum dan itu semakin meningkat saya curiga dan cemburu tapi ternyata cemburu saya salah tempat, saya cemburu dengan seekor sapi," ucap ku sambil tersenyum.
"Hahaha Bapak faham Nduk! kamu belum tahu semua tentang Parlin wajar kalau kamu merasa cemburu, Bapak senang kamu merasa cemburu itu tandanya kamu sudah bisa menerima anak Bapak sebagai suamimu dengan hati," tutur Bapak mertuaku.
"Parlin itu seorang anak yang pintar punya tekad besar bahkan dia pun rela harus berhenti dari sekolahnya karena kami yang tidak memiliki cukup biaya setelah ibunya meninggal dunia aku berusaha membesarkan mereka berempat seorang diri, Parlin membantuku bekerja di ladang milik orang, kadang dia juga buruh mengembala sapi sapi milik bapak pegawai perhutani yang dulu sempat tinggal di desa kami ini selama bertahun-tahun, Bapak tidak pernah menyangka kalau Parlin akhirnya bisa menciptakan lapangan pekerjaan untuk orang orang di desa ini," tutur Bapak mertuaku menceritakan kisah bang Parlin. Ada rasa bangga yang terlihat jelas di mata Bapak mertuaku itu.
"Oh ya Pak bang Parlin itu memiliki beberapa saudara?" tanyaku.
Ya aku belum tahu berapa saudara suamiku karena dulu yang aku lihat saat pernikahan hanya beberapa orang saja yang hadir di sana.
"Parlin empat bersaudara dia yang nomor tiga, Kakak tertuanya bernama Ucup dia merantau di Kalimantan dia juga memiliki perkebunan serta ternak kerbau di sana, bahkan kini kabarnya sedang mau mendirikan pabrik pengolahan sawit, yang kedua namanya Hasan dia sedang tinggal di pekan baru di sana dia beternak sapi sama seperti Parlin dan memiliki sampingan membuka lahan jarak di sana, dan si bungsu Parman dia masih singgel belum berumah tangga tapi sudah merantau katanya ingin belajar mandiri dia memilih tinggal di Sumatra, Parman sedang berusaha menjadi seorang petani sawit di sana dia memilih tinggal di rawa-rawa di kelilingi kebun sawit berteman buaya betina dia, hahaha dia juga mengubah rawa rawa menjadi tambak ikan," cerita mertuaku sambil tertawa.
"Oh ya Nduk ayo kita jalan jalan melihat lihat keadaan kampung ini, tapi ya maklum ini desa jadi suasananya seperti ini sepi dan rumah tetangga pun jaraknya lumayan jauh," ucap mertuaku.
"Mari Pak! saya nyaman tinggal di sini lebih tenang dan asri," jawabku sambil tersenyum.
__ADS_1
Kami pun pergi sebelum meninggalkan rumah kami tidak lupa menutup pintu dulu takut kalau ada tamu yang tidak di undang masuk rumah, jangan salah kalau kalian anggap tamu itu maling atau pencuri tapi melainkan sapi yang bisa masuk dengan seenak hatinya ke dalam rumah karena di sini sapi sapi bebas berkeliaran tanpa diikat saat pagi hingga petang menjelang kalau malam sapi sapi itu di masukkan kandang juga tanpa diikat.
Kami pun berjalan menyusuri ladang yang di biarkan di tumbuhi rumput dan di penuhi tanaman jarak yang tingginya hampir satu meter setengah itu, dan anehnya sapi sapi yang ada di sana tidak memakan atau merusak tanaman jarak itu mereka lebih memilih makan rumput rumput yang tumbuh liar di bawah pohon jarak.
"Luas sekali ladang jarak ini Pak," ucapku kagum karena selepas mataku memandang yang terlihat hamparan tanaman jarak.
"Ini milik suamimu Nduk, dia yang merintis usaha ini dengan cara dan keringatnya sendiri hingga seluas dan sesubur sekarang," tutur mertuaku.
"Lalu tanaman jarak ini diapakan Pak? bagaimana cara panen dan penjualannya?" tanyaku penasaran.
"Tanaman jarak ini kalau sudah cukup usiannya di panen dan di kirim ke kota di gunakan sebagai bahan bakar dan minyak serta obat, kadang kami pun tidak perlu susah susah mengirimnya ke kota malah bos besar dari kota datang kemari membeli dan membawanya ke kota dengan armada mereka sendiri," tutur mertuaku.
Aku pun terus berjalan mengikuti mertuaku mengelilingi ladang jarak ini hingga akhirnya kamu sampai di ujung dan aku lihat di sana ada sebuah rumah dari kayu yang lumayan besar dan di depan rumah itu terdapat 3 buah truk besar mungkin itu di gunakan untuk mengangkut jarak ke kota.
" Itu armada yang sering membawa jarak ke kota ya Pak?" tanyaku.
__ADS_1
"Iya Nduk itu armada yang di gunakan untuk mengangkut panen jarak, dulu sebelum Parlin punya armada sendiri kami harus pergi ke kota dulu setiap tiba masa panen untuk mencari armada yang bisa membawa tanaman jarak ini ke kota," tutur mertuaku.
Aku kaget mendengar penuturan Bapak mertuaku ini, ternyata truk truk besar di hadapanku saat ini juga milik suamiku, bang Parlin sebenarnya kamu itu sekaya apa aku kok jadi merinding, suamiku yang di kira orang cupu ternyata suhu.