Penantian Yang Tertunda

Penantian Yang Tertunda
Kesempatan


__ADS_3

Malam Minggu pun tiba, seperti permintaan Dinda malam ini aku akan datang kerumahnya, aku yang telah menyiapkan segala hal yang di perlukan dan aku telah siap untuk berperang melawan ketakutan ini.


Ya walaupun aku sangat dek dekan, aku harus tetap berani menghadapi ini demi masa depan yang cerah.


hehehe..😁😁


Tapi bagaimana dengan Zakia pikirku tiba tiba


Aku pun terdiam sejenak, meletakan tangan di kepala sambil berpikir apakah langkahku sudah benar, tunggu dulu belum tentu juga aku jadian sama Dinda.


Dan Zakia juga belum tentu mau padaku.


Lah, jadi gimana dong, di antara Zakia dan Dinda aku lebih suka Dinda karena aku benar benar berdebar saat dengan nya dan itu tak terjadi pada Zakia.


Tapi! tapi aku lebih cocok dengan Zakia karena sama sama orang kampung yang kehidupan ekonomi nya standar, sedang Dinda punya status ekonomi yang jauh di atas kami.


Tapi Dinda memberikan harapan sedangkan Zakia tidak.


Dinda menyajikan senyuman yang manis dan juga menenangkan hati sedangkan Zakia ia sering mengabaikan aku.


Aku bingung mau harus bagaimana, rasanya aku ingin terus bersama Dinda, tapi di satu sisi lagi aku mencintai Zakia sejak duduk di sekolah dasar.


Mungkin aku harus membuat pilihan, atau mengikuti kata hatiku.


Ya aku harus tetap berjalan dan melangkah ke depan tidak boleh tunduk apalagi menoleh ke belakang.


Aku pun berangkat dengan hati yang penuh keyakinan, memantapkan hati dan mengambil keputusan yang tepat.


Sambil berkendara aku bersiul dan bernyanyi nyanyi untuk menghilangkan rasa dek dekan ku.


Tiba tiba ban motorku terasa oleng dan juga berat hingga aku berhenti untuk memeriksa ada apa gerangan.


Benar saja ban ku ternyata telah kempes.


"Eh si ban***t" ujarku.


Lalu aku pun mendorong ke bengkel terdekat, namun ternyata bengkel itu cukup ramai.


Kenapa bisa dengan kebetulan bocor ban sampai lebih dari 4 motor di tambah motorku ini sudah yang ke 6 dong.


Wah ini sih kacau sekali, bisa bisa aku telat ke sana sedangkan aku tidak memiliki ponsel sama sekali jadi tidak bisa menelpon atau mengabarinya.


Sedang bengkel yang buka di malam hari cuma bengkel ini saja, mau tidak mau aku harus menunggu.


Aku pun duduk dengan gelisah melihat jam di tangan yang mulai naik ke angka 9 malam namun motorku belum di sentuh juga.


Hingga akhirnya tepat jam 9 lewat baru motorku siap di perbaiki.


Aku pun dengan hati yang campur aduk bergegas menuju rumah Dinda.


Aku melaju dengan kencang hingga tanpa sadar ada kucing yang melintas dengan tiba-tiba.


aku yang terkejut dengan cepat menghindari namun karena terlalu cepat berkendara aku pun tersungkur jatuh.


Ya cukup lumayan sakit dan juga lutut dan sikut ku harus mencium aspal hingga lecet lecet.


Nasib baik aku tak tertabrak oleh mobil atau pun motor lain yang melintas, dan syukur saja ada orang orang baik yang dengan suka rela membantu aku.


Ya walaupun begitu aku tetap melanjutkan perjalanan menuju ke rumah Dinda karena aku tidak ingin mengecewakan dirinya, meski pun aku sadar kedatangan ku yang cukup larut ini pasti mengecewakan ia yang menunggu.


Aku pun telah sampai di depan halaman rumah Dinda.


Namun rumah itu tampak gelap seperti tak berpenghuni atau mungkin sudah tidur.


Aku menatap jam di tangan ku dan melihat waktu yang mulai memasuki pukul 10 malam.


Ini salahku, benar benar salahku.


Aku pun duduk lemas di kursi yang ada di halaman itu sambil menahan perih dari luka akibat terjatuh di aspal itu.


Tampak noda darah mengaliri pergelangan baju ku yang panjang.


Hingga tiba tiba pintu rumah Dinda pun terbuka.


Aku menoleh ke arah tersebut, dan tiba tiba rasa sakitku hilang dan jantungku mulai berulah melakukan aksi dak dik duk nya.


Aku tampak senang sekali namun di barengi rasa takut dan juga dek dekan.


Ia pun perlahan keluar dan menghampiriku dengan setelan baju tidur dan ia nampak membawa bantal kecil.


Memberi senyuman dan menyapa dengan lembut.

__ADS_1


"Wah akhirnya datang" ucapnya sambil duduk.


"Maaf Dinda, aku telat".


"Ya, ini cukup larut sih, tapi kamu tetap datang" ucapnya tersenyum namun nampak seperti menyembunyikan rasa kecewanya.


"Maafkan aku, aku membuatmu kecewa" ucapku, namun ia tetap tersenyum sembari menepuk bahuku.


Aku pun sedikit teriak karena tampaknya ada luka di bahuku, hingga iapun terkejut.


"Kenapa?"


"Oh tidak, cuma kaget".


Ia pun sontak melihat tanganku dan melihat telapak tangan ku ada darah yang mengering, dan juga bajuku ada bagian yang sobek karena terseret aspal.


"Kamu jatuh ya!" tanya Dinda.


"Eh iya, tapi gak apa apa kok" jawabku mencari alasan.


Ia pun langsung masuk ke rumah tanpa berkata apa-apa hingga aku kira dia marah dan meninggalkan aku.


Aku pun tertunduk lesu, nampak nya aku sial sekal malam ini.


Namun ternyata ia keluar lagi dengan membawa air dan sebuah kotak misterius.


"Ayo buka bajumu" ucapnya dengan tiba-tiba.


"Eh apa?" jawabku terkejut, tentu saja aku tidak mau melakukan itu.


Karena badanku yang jauh dari kata sixpack dan juga banyak panu mana mungkin aku buka baju.


"Ayo cepat biar aku obatin nih".


"No, aku baik aja".


Kemudian ia memencet bahuku yang sakit.


"Aduh aduh sakit" ucapku kesakitan.


"Apa itu di sebut baik baik aja".


"Jadi mau masuk kerumah" ucapnya tiba tiba.


"Ah tidak, jangan begitu".


"Kamu ini bawel ya, udah cepat buka kancing itu dan buka bajumu".


Aku pun dengan terpaksa menurutinya dan ia pun mengoleskan salep yang dingin itu, ia juga mengoles bagian sikut dan juga lutut kakiku yang lecet akibat terseret aspal, sambil mengoleskan salep ia bertanya mengapa aku bisa terjatuh dan aku pun menceritakan semua dari awal ban bocor hingga terburu buru kerumahnya.


Ia pun memukul jidatnya dan tertawa.


"Dasar kamu ini".


"Kenapa?".


"Ternyata kamu bertanggung jawab atas sebuah janji ya" ucapnya.


"Oh entahlah, aku melakukan nya begitu saja".


"Jadi, kapan?" ucapnya.


"Apa?".


"Itu yang itu?"


"Yang itu apa?" jawabku bingung.


Sepertinya ia memberikan isyarat untuk ku namun aku begitu tolol hingga tak mengerti maksud kata katanya.


"Ih pura-pura bego sih, aku serius" ucapnya mulai kesal.


"Ini pertama kali aku mendatangi wanita, jadi aku gak tau".


"Serius,haha lucu ya" ucapnya tertawa.


"Jadi katakan kau mau apa?".


"Ah kenapa jadi aku".


"Hem, harus laki laki kah".

__ADS_1


"Ya kalau perempuan dan laki-laki mau mengikat hubungan harus di mulai dari laki laki dahulu" ucapnya menjelaskan.


Aku pun sontak kaget dan berkata.


"Maksud nya nikah!".


"Kejauhan, apa sih kamu ini".


"Lah katanya ngikat hubungan?".


"Ya Allah, bego ya!".


"Hehe maaf".


Tampak nya aku mulai paham maksud kata kata Dinda namun aku berpura-pura bodoh untuk mengulur waktu dan memantapkan hati.


Ia yang nampak menunggu mulai membuat aku cemas.


Aku mulai bertanya serius.


"Apa kamu yakin".


Ia pun langsung mengangguk seakan langsung tau maksud dari kata kata ku.


"Dinda, lihatlah aku, aku ini cuma orang kampung yang buruk rupa".


"Kamu ganteng kok!"jawab Dinda.


"Eh beneran, masa sih?".


"Ya, aku suka kamu dari pandangan pertama".


"Kau ini jujur sekali".


"Ya kenapa".


"Enggak, hanya saja aku bingung".


"Emang kamu gak suka aku ya!" ucap Dinda.


"Bukan gitu!".


"Kalau memang gak suka, jangan di paksa nanti kamu sakit" ucapnya tersenyum.


"Ah tidak mungkin, dari awal jumpa aku udah jadi gila karena kebayang kamu terus".


"Yang bener".


"Eh tadi aku bilang apa!".


"Ih kamu mah gitu".


"Aku keceplosan, tapi itu jujur".


"Jadi kamu maunya gimana!?"


"Bagaimana kalau Minggu depan" ucap ku menggantung perasaan.


"Hmmm, sudahlah" jawabnya cemberut memeluk Bantar yang ia bawa.


"Beri aku waktu dan aku juga memberi mu waktu".


"Kamu gak takut aku di ambil orang lain" ucapnya.


"Ya, tapi aku punya keyakinan".


"Kedengarannya bagus".


"Jadi kamu mau menunggu".


"Ya sampai menggu depan,bulan depan dan tahun depan".


"Waw itu waktu yang lama" jawabku.


"Aku juga punya keyakinan Momo".


"Baiklah kita sepakat".


Akhirnya aku dan Dinda sepakat untuk menunggu waktu yang lebih tepat sambil memantapkan hati masing masing dan menghabiskan malam itu berdua.


*****

__ADS_1


__ADS_2