
Bimbang ragu.
Tidak tidak ini lebih di sebut marah dan cemburu.
Entah mengapa aku tidak bisa ikhlas menerima kata kata Dinda bahwa ia menumpang pada Nanda karena motornya rusak.
Lalu mengapa tak menghubungi aku, bukanlah aku pacarnya.
"Kamu kok diam terus, kamu marah aku di anterin Nanda." Ucap Dinda padaku yang saat itu berbalik arah membelakangi dia.
"Aku tidak tahu, rasanya aku seperti janggal gitu." Jawabku dengan jujur.
"Hahaha..! Kamu polos banget, itu namanya kamu cemburu." Balas Dinda tertawa.
"Oh seperti ini rasanya, ternyata tidak enak!"
"Sebenarnya aku tuk gak mau di boncengin dia, aku sih lebih milih numpang sama kak Tina tapi dia maksa dan ngikutin terus." Ucap Dinda menjelaskan.
"Kenapa sih dia itu?" Balasku.
"Gak tahu, prilakunya gak baik, mungkin dia broken home."
Broken Home, sepertinya orang bisa menjadi kasar, jahat ataupun pemurung karena hal itu,
Broken home adalah keadaan dimana seseorang tertekan akibat perpecahan rumah tangga yang lebih mengacu pada orang tua.
Broken home sangat berdampak sekali pada anak, hal yang dapat menggangu mental anak, dan membuat ia menjadi berprilaku buruk.
"Dari mana kamu bisa tahu?" Tanyaku pada penasaran.
"Ayah dan ibunya cerai, ibunya menikah lagi dengan teman ayahnya." Jawab Dinda.
"Wah mengerikan juga".
"Bukan cuma itu, ayah dan ibu Nanda sering sekali bertengkar di rumah karena ibunya selalu ketahuan selingkuh."
"Astaga mengerikan sekali!" Jawabku.
Kami pun terus berbincang bincang berdua saja sampai jam menunjuk ke angka 3 sore.
"Wah gak kerasa udah jam segini, aku harus pulang nih."
"Baiklah hati hati ya." Jawab Dinda sembari memeluk aku.
Aku pun beranjak dari tempat itu sambil melambaikan tangan ke padanya.
Iya tersenyum dan menutupi mulutnya yang sambil tertawa kecil.
Memang jika kita sedang duduk bersama waktu akan terasa begitu cepat dan terus saja begitu.
Aku rasa aku belum bahas apa pun dengan nya namun hari sudah memaksaku pulang.
Tampak dari kejauhan seseorang duduk di atas motornya di pinggiran jalan, orang itu tampak tak asing.
Sudah jelas itu Nanda, pasti ia menunggu aku.
Aku pun berpura pura tak melihatnya dan terus melajukan motor ku.
__ADS_1
Lalu, dengan cepat ia mengangkat sebilah bambu dan melintang kan bambu tersebut tepat di depan motorku.
Dengan sigap aku pun langsung menghentikan motor ku dan iya pun buru buru mendekat.
Ia langsung menarik kerah baju ku dan langsung mengamuk.
Namun ini tak akan sama dengan yang dulu, aku langsung menangkap tangan nya dan memutarkan kearah yang berlawanan hingga cengkraman nya pun terlepas.
Ia pun tak tinggal diam sebuah pukulan melayang mengenai bahuku, lalu aku berusaha menghindari pukulan berikutnya dengan merapat kan tubuhku kerahnya.
Setiap kali dai memukul aku selalu berhasil menghindar hingga ia semakin mengamuk menjadi jadi.
Pukulan demi pukulan pun terus ia layanhkan namun tetap saja aku berhasil menghindar.
"Hentikan, atau aku akan balas memukulmu!" Ucapku sambil menahan tangan kirinya.
"ANJ***!!!" Teriaknya sambil berusaha melepaskan tangan nya.
Gerakannya yang tiba tiba membuat aku sedikit terpleset dan ia pun berhasil mengenai wajahku.
Emosiku pun meluap dan aku membalas dengan menendang wajahnya hingga tersungkur dan hidung nya berdarah.
Iya yang terkapar nampak semakin menjadi jadi dengan cepat ia mengambil bambu yang ia lintang kan dan berusaha memukul aku dengan bambu itu.
Aku pun segera menjauh menghindari pukulan bambu yang besar itu.
Saat itu juga seseorang melintas dan melihat aku yang di kejar bambu oleh Nanda.
Orang tersebut pun langsung menghentikan Nanda, namun Nanda yang di lumuri amarah malah menyerang orang tersebut karena berusaha menghentikan nya.
Hingga datang lah seseorang yang menghentikan Nanda dengan cara menubruk nya dan akhirnya mengikatnya dengan tali.
Akhirnya aku dan Nanda di bawa ke salah seorang rumah warga, dan kami pun di Introgasi.
Aku menjelaskan semuanya kepada mereka, bahwa kami hanya salah paham sedangkan Nanda masih angkuh dan mulai bertingkah sok kuat.
Ia bahkan mengancam orang orang di sana dengan menyatakan bahwa ayahnya adalah seorang DPR.
Hal itu justru membuat orang orang semakin geram padanya dan ingin memukulinya.
Untung saja di tempat itu ada kepala desa yang berhasil menahan para warga yang marah.
Sayu jam berlalu di tempat itu, akhirnya semua berakhir dengan jalan damai dan tanpa ada kekerasan.
Nanda akhirnya mengakui kesalahannya setelah mendapat desakan dan juga pukulan dari warga.
Dia juga berjanji tidak akan bertindak buruk atau melakukan hal memalukan lagi.
Setelah itu kami pun bersalaman dengan para warga sembari meminta maaf.
Bahkan Dinda pun datang untuk melihat namun aku sengaja tidak menyapanya supaya ia tak malu.
Nanda pun pergi meninggalkan tempat itu, sedangkan aku masih di tempat itu untuk membersihkan kerusakan yang di buat Nanda sebelum pulang.
Aku senang karena orang orang yang ada di kampung itu begitu baik.
**
__ADS_1
Malam pun datang, seperti biasa aku duduk di ayunan dengan di temani gitar tua yang suaranya mulai bantut.
Menatap malam yang gelap berselimut awan hitam dan angin yang meniupkan udara dingin.
Rasanya tidak lengkap malam ini tanpa suara mu..
Bagaikan bermain biola tanpa dawai.
Bagaikan malam tanpa bintang.
Bagaikan kopi tanpa gula.
Aku merindukan mu.
Meski baru saja bertemu
Rasanya aku selalu rindu..
"Hallo my baby honey." Ucapku padanya di telpon.
Ya beginilah cara terbaik untuk melepas rindu dengan menelpon mu agar dapat mendengarkan suaramu yang merdu.
"Hallo juga my husband, kamu baik baik ajakan!" Jawabnya cemas.
Tentu cemas, ia melihat aku dan Nanda dalam masalah lagi siang ini.
"Ah aku baik kok, dia gak berhasil mengenai aku."
"Benarkah, kamu harus lebih hati hati sama dia, dia itu nekat banget orang nya." Ucap Dinda, ia nampak mengkhawatirkan aku.
Bahkan ia tak bertanya mengapa aku pura pura tak melihatnya waktu di kerumunan tadi.
Padahal ia tahu betul aku melihatnya juga saat itu.
"Kamu udah makan."
"Udah, kamu juga udah makan belum."
"Aku sih nunggu kau nyiapin aku baru aku makan." Jawab Dinda bercanda.
Dinda andai kau di samping aku malam ini, aku ingin memeluk tubuh mungil mi.
Mengusap rambutnya mu yang halus dan lembut.
Serta mencubit pipimu yang chubby.
Andai saja kau dan aku selalu bersama, mungkin setiap hari aku akan memelukmu setiap kesempatan, setiap pagi, siang, sore ataupun malam.
Bukti betapa aku mencintaimu.
Namun nyatanya kita terpisah oleh keadaan, waktu dan tempat.
Biarlah lagu yang ku nyanyikan ini menjadi pengantar tidur mu yang lelap hingga pagi.
Dan pastikan mimpi mu hanya aku seorang.
*****
__ADS_1