
Aku melihat Selviah sedang duduk di depan teras rumah nya.
Aku melewati nya dan bertanya pada Tiara, apakah ia mengenal Selviah dan iya berkata bahwa Selvi adalah saudara nya.
Aku pun terdiam sejenak sembari mengingat kejadian di siang itu di mana aku terakhir kali bertemu dengan Selvi.
Rasanya aku ingin menemuinya lagi bertanya mengapa ia tidak ikut rekreasi di Pantai Romantis saat perpisahan sekolah, namun rasanya agak aneh, mungkin ia tidak mau mengenal aku lagi.
"Kenapa kamu." Tanya Tiara heran melihatku terdiam.
"Tidak, aku hanya mengingat Selvi." Jawabku tersenyum.
"Oh, apa kau suka dia atau dia mantan mu?"
"Ah enggak, cuma teman yang akrab."
Teman yang akrab bagiku, tapi mungkin beda dalam hati Selvi.
"Ini rumah mu." Tanyaku saat berbelok ke halamannya.
"Iya, mampir dulu yuk di rumah lagi sepi nih." Ucap Tiara tersenyum.
Mendengar ucapan nya malah membuat aku jadi takut, rumah sepi kenapa malah ngajak mampir.
Tiara pun turun dari motor dan menarik tanganku untuk mampir ke rumahnya.
Namun sebagai pria sejati menolak adalah cara terbaik, aku tidak mengenal gadis ini dengan benar, aku harusnya lebih berhati-hati agar tidak terjadi kesalah pahaman.
Namun dengan tiba tiba hujan pun turun mengguyur debu debu jalanan yang kering menjadi basah dan becek.
Aku yang berniat untuk pulang pun akhirnya terpaksa berhenti dan mampir di rumah tiara.
Tiara ini adalah kakak kelas ku, umurnya pun 2 tahun lebih tua dari aku, namun postur tubuh nya yang mungil malah seperti lebih muda dariku.
Dan saat ini ia terus tertawa melihat aku.
"Kenapa sih, lucunya dimana." Tanyaku bingung.
Ia pun tetap saja tertawa, mungkin lucu aku menolak mampir tapi aku terjebak di sini bersamanya.
Jadi seperti menjilat ludah sendiri.
"Mau kopi atau teh, atau mau aku hehe..!" Ucapnya sambil tertawa.
Ia begitu manis dan senyumnya sangat menawan sekali.
"Jangan repot repot, sebentar lagi juga reda." Jawabku.
"Baiklah teh aja." Ucap Tiara, dan setelah itu ia pun masuk ke dalam rumahnya.
Setengah jam berlalu, aku masih di teras ini karena hujan, dan anehnya Tiara tak kunjung muncul.
__ADS_1
Apa membuat teh selama itu atau terjadi sesuatu dengan dirinya.
Tapi bagaimana, aku tidak mungkin masuk ke dalam rumah nya, karena tak ada siapapun di rumah itu kecuali Tiara.
Aku takut terjadi fitnah dan membuat malu keluarga ku.
Dan yang paling utama aku takut Dinda salah sangka dan kecewa padaku.
"Apa aku lama, enggak terlalu kan." Ucap Tiara yang tiba tiba keluar membawa nampan berisi air hangat dan juga kue.
Aku pun sontak terkejut melihat penampilan nya setelah tidak memakai pakaian sekolah.
Harum dan juga menggoda, seperti itulah rasanya melihat Tiara.
Tenyata ia mandi dan ganti pakaian, itulah sebab ia sangat lama di dalam sana.
Badan nya wangi sekali, entah mengapa aku terlena karena wangi ini, juga celana pendeknya yang membuat gairah ku tiba tiba bangkit.
Tapi bukankah pakaian ini terlalu hot untuknya.
"Kok kamu diam aja sih, ayo masuk kedalam." Ucap Tiara lagi mengajak aku duduk di sofa.
"Maaf, gak baik kita berduaan di dalam saat rumahmu kosong." Jawabku agak gugup.
"Ah tadi aku bercanda kok, nenek aku ada di dalam rumah sedang tidur." Balas Tiara.
"Maaf deh, kayaknya di luar lebih nyaman."
Akhirnya aku pun masuk dan duduk di sofa ruang tamu.
Nampak pemandangan rumah yang lumayan luas dan mewah, nampak nya Tiara dari keluarga yang lumayan kaya.
"Ini di minum teh nya, kuenya juga di abisin ya." Ucap Tiara padaku dengan wajah pul senyum dan rambutnya yang masih agak basah menetes di lehernya dan mengalir ke itu, Astaga haruskan ku sebutkan oppai nya.
"Tii.. apa gak apa apa kita berdua aja di sini." Tanya ku agak canggung.
"Santai aja Momo, anggap rumah sendiri, lagian udah biasa kayak gini." Ucap Tiara menjelaskan "Lagi pula Sandy dan Fauzan juga sering mampir."
"Apa kau menyambutnya seperti ini." Tanyaku spontan.
"Iya, mereka teman yang baik, ya walaupun Sandy agak sedikit ******." Jawab Tiara.
"Kau gak boleh begitu, bukan masalah Sandy dan Fauzan tapi kamu Tii.” Ucapku memotong perkataan nya.
"Ngomong apa sih tiba tiba!"
"Kau sedikit agak extrim dalam penampilan, maaf aku harus jujur tapi kalau kamu kayak gini dahaga kami para laki laki akan bertambah."
Tiara pun terdiam sejenak di iringi suara rintikan hujan yang mulai melambat.
Lidahnya nampak kelu, dia seperti memikirkan sesuatu.
__ADS_1
"Apa kamu gak suka lihat badanku yang seksi." Ucapnya sambil menatapku.
"Awalnya aku suka melihatmu, sekarang bukan hanya suka namun ada hasrat yang bangkit dan membuat pikiranku tidak baik baik saja." Jawabku.
Ia pun sontak tersenyum, namun senyuman nya kali ini tak terlihat manis.
"Kau mau mencoba!"
Entah apa yang ada di pikiran Tiara, ia nampak seperti wanita malam.
Padahal tadi saat pertama bertemu ia tampak anggun dan elegan seperti gadis yang berkharisma tinggi.
Namun kini ia menunjukkan sifat aslinya atau mungkin sesuatu terjadi padanya dan ia bingung harus berbuat apa.
Tiara pun mendekat dan menyandarkan wajahnya di dadaku dan berkata.
"Ayo lakukan kalau kamu mau!"
"Kau sedang menguji aku ya!, itu tak akan berhasil." Jawabku.
Ia pun menoleh, dan tertawa ”Dih ketahuan, ternyata kamu hebat juga."
Aku tahu ini bukan ujian, kau mencari seseorang agar kau dan keluargamu tak malu dan menanggung aib.
"Aku tidak melakukan hal semacam itu sebelum resmi menikah." jawabku.
"Oh ya, wah itu hebat, kamu yakin bisa nahan hasrat mu itu." Ucap Tiara.
"Tidak janji, tapi sekuat tenaga aku berusaha."
"Kamu memang laki laki sejati."
Hujan pun berhenti, dan aku pun beranjak pulang meninggalkan Tiara.
Ia memberikan ciuman di pipi sebagai ucap maaf dan juga terima kasih.
Ada wajah malu terpasang jelas di raut wajahnya yang tampak seperti sebuah penyesalan.
Aku tahu dia pasti merasa malu akan kelakuan nya karena ia mencoba menggoda aku namun aku menolak.
Dia takut di cap sebagai wanita yang tidak baik, namun dia bingung harus bagaimana.
Sepertinya dia hamil.
Mungkin tidak, mungkin ia melakukan sesuatu itu dengan seseorang dan ia takut hamil sedang orang itu tidak mau tanggung jawab.
Karena itu ia menggodaku agar ia bisa merasa lebih aman dan dapatkan orang yang bisa menutupi aib keluarga.
Tampak dari cara ia merayu, ia juga tampak tak begitu baik melakukan itu dan meski pun ia memakai baju yang hot ia juga kelihatan tidak begitu nyaman.
Ini hanya dugaan ku dan semoga saja aku yang salah.
__ADS_1
*****