
Setelah kami sampai, Dinda pun langsung terbangun.
Aku menuntun nya masuk kerumah dan saat itu rumahnya masih saja kosong.
Aku heran kenapa ayah dan ibunya jarang sekali di rumah.
"Duduk dulu, masih jam sepuluh ini." Ucap Dinda yang menangkap tangan ku yang saat itu ini bergerak keluar rumah.
"Bukankah ini sudah malam." Jawabku.
"Tunggu lah sebentar, aku buatin kopi ya." Jawabnya lagi.
Aku pun melihat wajahnya yang pucat dan tubuh nya yang lemah.
"Kamu yakin baik baik aja!" Tanyaku sambil kembali masuk.
Ia hanya mengangguk sambil tersenyum.
Nampak jelas bahwa ia berbohong tentang kesehatan nya.
Aku pun mendorong nya pelan ke sofa dan ini pun jatuh terduduk.
Ia menatap ku tanpa kata.
"Duduklah biar aku yang buatin kamu minum." Jawabku.
"Mana bisa, kamu itu tamu di rumah ini." Jawabnya membantah.
"Anggap saja seperti suamimu memberikan pelayanan kepada istrinya."
Ia pun lantas tertawa dan mengangguk.
Aku pun berjalan masuk menuju ke belakang.
"Eh sayang dapur sebelah kiri kalau kanan itu kamar ayah." Jawabnya tertawa.
"Hmm, hampir saja." Jawabku juga sambil tertawa.
Akhirnya Dinda pun mengikuti aku ke dapur dan ia tampak berjalan sangat perlahan lahan.
Setelah selesai membuat teh kami pun duduk di sofa berdua, aku memang masih di sini karena aku khawatir jika aku pulang dan terjadi sesuatu dengan Dinda bisa gawat jika tidak ada seorang pun di rumah.
Aku tidak percaya dengan Dinda yang berkata bahwa ia baik-baik saja.
Wajahnya pucat dan nampak lemas tidak mungkin baik baik saja.
Bahkan aku berulang kali bertanya ia sakit apa namun jawabannya tetap saja sama.
Ia bilang masuk angin karena kecapean.
Waktu pun terus berjalan, saat ini sudah masuk jam 11 namun ayah dan ibunya tak kunjung pulang.
Padahal saat Dinda menelpon ayahnya dan ibunya mereka bilang akan pulang sebentar lagi.
__ADS_1
"Kamu yakin gak mau coba.!" Ucap Dinda yang saat ini sedang berada di pangkuan ku.
Matanya tertutup namun mulutnya tetap saja bicara.
Ia semakin genit saja seperti orang minum obat perangsang.
Sangat sulit untuk di kendalikan, bahkan beberapa kali ia meraba ke dalam bajuku.
Tampak nya ia sangat penasaran dengan hal itu dan sebagai laki laki aku juga penasaran.
Bahkan saat ini isi kenapa ku di penuhi dengan pikiran untuk melakukan hal itu namun aku terus menahan hasrat itu.
"Sayang kamu yakin, aku ikhlas kok anggap aja ini sebagai permintaan terakhirku." Ucap Dinda.
"Dinda, please stop nanti aku khilaf.!" Jawabku.
Ia pun tertawa lagi, sepertinya memang ada yang salah dengan pacarku ini.
***
Sekian lama menunggu hingga Dinda benar benar ketiduran di pangkuanku.
Jam pun menunjukkan pukul 23:21 yang berarti kurang 39 menit lagi jam 12 malam.
Akhirnya waktu yang panjang pun berakhir.
Nampak mobil milik ayah Dinda memasuki halaman rumah dan aku pun segera berpindah kursi dan pura pura tertidur.
Aku hanya tidak ingin terjadi kesalah pahaman atau pikiran pikiran yang tidak baik dari keluarganya.
"Biarin aja deh biar tidur di sini, kan udah malem banget." Jawab ayah Dinda.
Mendengar ucapan itu aku pun langsung membuka mataku dan pua pura menguap.
"Nah kan udah bangun, maaf ya Momo Tante bangunin." Ucap ibu Dinda lagi, mereka adalah orang tua yang baik dan ramah kepadaku.
"Makasih ya udah jagain Dinda, sampe sampe kamu nungguin segala." Sambut ayah Dinda.
"Oh ga apa apa Om Tante, tadi gak tau kenapa Dinda tiba tiba sakit, jadi aku tungguin takut kenapa kenapa!" Jawabku.
Aku pun bangkit dan langsung berpamitan kepada kedua orang tua Dinda.
Ayah Dinda bahkan mengusap rambut ku seolah-olah aku adalah anak kandungnya sendiri.
"Eh tunggu, Tante ada oleh oleh nih buat mama sama papamu ya." Ucap Tante Lisa sambil menyodorkan plastik besar yang nampaknya berisi buah buahan.
Aku pun mengucapkan salam lalu bergegas pulang.
***
Pagi itu kakak ku terbangun dan terkejut melihat buah buahan yang banyak sekali di meja dapur.
Ia pikir Ibu yang membeli buah apel dan buah naga sebanyak itu.
__ADS_1
Namun saat ibu di tanya oleh kakak ibu pun lantas bingung karena sama sekali tidak pernah membeli buah buahan beberapa minggu ini.
Karena bingung kakak pun mengetuk pintu kamarku dan bertanya tentang buah yang ada di meja tersebut.
"Itu dari mamanya Dinda, tari malam di kasih sama mereka." Jawabku.
Mendengar hal itu mereka pun kegirangan adik adik ku langsung memilih apel yang paling besar begitu juga kakak ku.
Sedangkan sisanya di simpan di dalam kulkas.
Saat ini aku masih di dalam kamar, bukan sedang tidur melainkan sedang bingung dan juga merasa takut.
Ada noda darah di Hoodie sweater ku dan tampaknya itu darah Dinda.
Aku sangat yakin karena tadi malam ia batuk batuk dan seperti memuntahkan sesuatu.
Aku yakin sekali bahwa itu adalah dara Dinda.
Dengan sigap aku pun langsung mengirimi pesan pada Dinda dan saat itu pun langsung ia jawab.
Aku bertanya mengapa ada darah di sweater ku dan Dinda pun langsung memberikan alasan.
Ia bilang bahwa itu karena saat di jalan secara tidak sengaja ia tergigit bibirnya sendiri hingga berdarah.
Bahkan ia menyalakan aku karena mengerem secara mendadak.
Alasan nya memang masuk akal karena tadi malam memang aku sempat mengerem mendadak karena ada lubang di jalan yang tak terelakkan.
Namun itu tidak cukup kuat untuk di jadikan alasan mengingat noda darah di Hoodie sweater ku cukup banyak.
Namun ia tetap bersikeras mengatakan bahwa tidaklah berbohong.
Bahkan ia mulai memarahi aku karena tidak percaya padanya.
Tak ingin berselisih aku pun lantas mengalah saja.
Aku yakin ia sakit, namun ada sesuatu yang ia sembunyikan dan tidak ingin aku ketahui.
Aku tidak bertanya hal itu lagi dan hanya bertanya pertanyaan yang biasa di lakukan oleh sepasang kekasih seperti. "Sedang apa?"
"Sudah makan atau belum." dan lain sebagainya.
Dinda pun menjawab dengan cepat dan juga mengatakan bahwa ia baik baik saja dan sudah mendingan.
Mendengar hal itu aku pun lega namun tetap penasaran hingga aku mencari gejala gejala dan penyebab muntah darah di google crome.
Mencari semua browser mengenai muntah darah dan aku pun terkejut membaca sebuah blog tentang hal ini.
Muntah darah adalah muntah di serta banyak keluar darah yang berwarna merah terang,
Hal ini di sebabkan oleh berbagai hal dari yang dari yang ringan seperti mimisan hingga yang besar seperti kanker.
__ADS_1
Muntah darah identik dengan kondisi yang berbahaya, seperti TBC atau penyakit lain seperti kanker. Padahal sebenarnya, kondisi ini tidak selalu mengancam nyawa. Ada banyak hal yang bisa menyebabkan seseorang muntah darah.
membaca hak ini pun seketika membuat tubuhku langsung down