Penantian Yang Tertunda

Penantian Yang Tertunda
Hayalan saja


__ADS_3

Hari berganti lagi tapi semua masih terasa sama, aku pun bingung apa yang harus aku lakukan dengan keadaan ini.


Tidak terasa dua bulan berlalu dari semenjak Dinda meninggalkan aku dan telepon terakhirnya.


Keadaan di mana aku ingin bersama tapi sulit, ingin jauh tapi aku tidak bisa aku, merasa terjebak di dalam keadaan ini.


Terlebih lagi kabarmu yang kian hari kian memudar.


Seperti cahaya yang tak lagi bersinar.


Kau pergi tanpa permisi tanpa bicara tanpa pesan.


Dan kau tak pernah memberi aku kabar sedikitpun lalu aku harus apa.


menurutmu bagaimana aku bisa menjalani semua ini tanpamu. Karena aku telah terbiasa hidup dengan senyuman manis mu.


Lalu kini kau pergi, tak ada siapa lagi yang bisa memberi aku senyuman manis dan sabuah ucapan selamat pagi saat mentari terbit.


atau mengingatkan aku untuk sarapan atau menungguku di ujung jalan sambil melambaikan tangan.


Lalu bagaimana dengan mu, apa kau di sana memikirkan aku.


Mencari atau merindukan aku yang jauh dari pandangan mu.


Kuharap iya, namun juga tidak.


Kuharap kau merindukan aku seperti aku merindukanmu tapi jika kau merasakan sakit yang aku rasakan lebih baik kau tak usah merindukanku karena aku tak mau membebani pikiranmu dengan rasa rindu ini.


Biarlah aku yang tertatih tanpa kau disini, menanti dengan sebuah keyakinan bahwa kita akan kembali bersama dan tak akan pernah terpisahkan lagi.


Pagi ini pun tetap cerah meski hatiku tak secerah pagi ini, aku yang diselimuti dengan rasa ingin melihatmu tidak bisa menampilkan senyum di wajahku dengan benar.


Dan aku tidak biasa berbohong, ya mungkin membohongi diriku sendiri aku terbiasa tapi aku tidak bisa bersikap biasa saja seperti orang pada umumnya.


"Kau kenapa Momo?" Tanya Zakia yang sekarang sedang ada tepat di belakangku.


Ya ia adalah penumpang setia yang selalu menunggu aku di pagi hari.


"Gak, bukan apa apa." Jawabku datar.


"Kalau kau sedih, coba ceritakan aja siapa tau aku bisa bantu." Ucapnya menawarkan diri untuk memberikan semangat.


Namun tak semudah itu, ucapan nya hanya akan membuat aku tambah resah.


"Apa kau kesepian karena lama jomblo?!" Ucap Zakia lagi.


"Maksudnya gimana!" Tanyaku.


"Iya, kamu jomblo kan." Kata Zakia lagi.


Mungkin ia merasa demikian karena ia tak pernah melihat aku bersama Dinda.


"Aku punya pacar, namanya Dinda." Jawabku.


Ia pun lantas terdiam.


Singkat cerita kami pun sampai di sekolah Zakia dan aku menunjukan photo Dinda padanya dan saat itu dia hanya tersenyum seolah olah ada sesuatu yang ia pikirkan.


Namun karena aku tak mau ambil pusing dengan nya aku pun langsung pergi menuju sekolahku.


Sesampainya di kelas aku pun membuka Hp untuk mematikan nada dering ponsel tersebut dan mengubah menjadi mode getar agar tidak mengganggu pelajaran dan juga tidak tertangkap oleh guru.


Dan di sana terdapat dua pesan dari Zakia yang isinya tidak menyenangkan.

__ADS_1


"Maaf ya Momo jangan tersinggung tapi berhentilah halu." isi pesan pertama.dan yang kedua.


"Gambar tadi orang cina kan yang kamu ambil di internet, hahaha."


Pesan yang membuat aku tersenyum kecut.


Aku tidak harus meladeni ini tapi aku kesal karena di bilang halu.


Ia pikir aku berbohong dan ber imajinasi seolah-olah aku memiliki pacar hayalan seperti Dinda.


Tapi.


Tapi mungkin dia benar aku orang halu karena sampai saat ini pun aku tidak tahu di mana keberadaan Dinda.


Oh sudahlah, masa hanya karena tidak ada kabar saja aku sampai se menderita ini.


Harusnya aku lebih bijak menyikapi ini, apalagi aku tahu jelas jika ia sakit.


Tapi bagaimana jika ia sudah sembuh dan memang sengaja pergi.


Atau memang ingin menjauhi aku.


Astaga diam dalam dilema ini membuat aku menjadi gila.


Sering sekali aku memikirkan hal hal aneh tentang hubungan ku dengan Dinda.


Bahkan konsentrasi belajarku pun terganggu karena terus memikirkan itu.


Wajah ku selalu murung di sekolah dan juga tak bersemangat untuk melakukan apapun.


**


Tak terasa berbulan bulan waktu berlalu dan hari hari berganti dan aku masih merindukan mu.


Sebuah penentuan untuk naik atau tinggal kelas.


Tak tahu sudah berapa bulan Dinda pergi.


Yang aku tahu aku merindukan dirinya apapun yang terjadi.


Bahkan kerinduan ini ku tuang kedalam sebuah lagu yang berjudul "SENDIRI MALAM"


Lagu dengan semua perasaan yang ada di hatiku.


Ku rekam di ponsel ku dan ku post di situs YouTube dan ku ceritakan sedikit demi sedikit sambil menuangkan perasaan ini.


"Malam ini ku duduk sendirian."


"Nikmati indah sinar rembulan."


"Dan semua bintang berkelipan.."


"Membuat aku merindukan."


"Gadis impian yang ku sayang."


"Dan saat ini dia tak di sampingku."


Begitulah sedikit dari bagian liriknya dan begitu aku menuangkan perasaan ini dan yang aku harapkan adalah engkau dapat mendengarkan nya.


Ujian pun selesai aku pun langsung pulang ke rumah dan tak lagi latihan Band.


Aku memutuskan untuk berhenti dan meminta mereka mencari pengganti dirimu.

__ADS_1


Aku tak bisa lagi latihan, hatiku terasa tidak nyaman dan aku sulit untuk konsentrasi.


Meski kecewa mereka pun mengerti dan menerima keputusan ku untuk keluar dari grup band.


Dan sekarang tinggal aku sendiri tanpa kekasih tanpa grup band.


Kesendirian ini menyenangkan ya kalau di lihat dari segi lain nya.


Tapi aku tak benar benar sendiri, ada Zakia yang sering ngobrol denganku karena menumpang saat sekolah.


Namun tak ada rasa lain kecuali teman ya hanya teman, begitu lah aku menganggapnya sekarang.


Seperti biasa dia pasti sedang menunggu ku di simpang jalan.


"Momo.!" Panggil nya.


Benar kan ia menungguku, dia seperti pelanggan tetap yang memiliki kartu Unlimited yang tidak ada jangka waktunya.


Aku pun menyebrang dan ia pun bangkit dari tempat duduknya.


Ia tersenyum senang dan ya senyuman nya tetap saja manis sama seperti waktu di SD dahulu.


Bedanya dulu aku tergila gila padanya dan sekarang.


Dan sekarang aku.!


Aku bingung dengan perasaanku padanya.


Entah lah semoga ia hanya.


Dia hanya wanita cantik di jok belakang motor ku yang selalu menumpang dan aku senang ia menumpang.


"Mikir apa?" Tanya Zakia yang bingung melihat raut wajahku yang lesu dan aneh.


"Bukan apa apa." Jawabku.


"Semenjak 6 bulan ini kau kelihatan lesu aja" Ucap Zakia "Apa kau kehilangan kehidupan mu."


"Ya, aku memikirkan gadis hayalan ku itu" Jawabku.


Dan ia pun tertawa mendengar nya.


Seolah tau segalanya ia pun menasehati aku, tapi tak terlihat seperti nasehat namun lebih seperti mengejek.


"Dengar ya Momo hentikan itu, jangan hidup dalam mimpi yang gak akan pernah kau capai, keluarlah dan sadarkan dirimu, kamu tuh gak cocok sama dia."


Terdengar jahat tapi juga masuk akal.


"Kau masih gak percaya omonganku ya." Jawabku.


"Buktikan aja dulu."


"Gak bisa, dia pergi jauh pulang ke kampungnya."


"Tuh kan halu, sayang banget hidupmu jadi kek gini."


"Terserah mu lah, aku udah jujur." Jawabku lalu aku diam dan tak merespon nya lagi.


Dia terus mengoceh tentang Dinda ku yang ia sebut sebagai halusinasi semata.


Aku yang lelah meyakinkan nya tak lagi bisa berkata apa-apa.


*****

__ADS_1


__ADS_2