Penantian Yang Tertunda

Penantian Yang Tertunda
Kembali sekolah


__ADS_3

Dua hari telah berlalu, semua terasa sangat cepat seperti baru saja terjadi.


Aku sedang duduk di depan toko servis paman ku, karena saat ini sedang tidak ada bahan untuk di perbaiki.


Entah mengapa aku tak merindukan sekolah, aku seperti terbiasa dan tak merasa terguncang saat harus libur dalam waktu yang lama, padahal sebentar lagi akan di adakan UN (ujian nasional).


Aku hanya bimbang apakah aku harus lanjut atau berhenti di sini.


Sepertinya dunia SMA tak begitu bagus untuk ku, mungkin aku harus berhenti sekolah dan bekerja saja.


Atau setidaknya dapat kan Ijazah SMP, tapi jika aku berhenti di SMP sekarang aku tak akan bisa melamar kerja di kantoran atau pabrik.


Karena sistem di Indonesia adalah pendidikan tinggi dan juga uang, mereka tidak akan perduli dengan kemampuan dan keterampilan yang diperlukan, atau kreativitas dan bakat.


"Selamat pagi sayang" ucap Dinda yang tiba tiba muncul di hadapan ku.


"Dinda, sedang apa?" jawabku sedikit kaget.


"Aku sedang, belanja untuk ulang tahun guru".


"Waw, kenapa sendiri".


"Oh kami berempat, tapi mereka ada di seberang sana" ucapnya menunjuk toko kue di seberang jalan.


"Ya baiklah, tapi aku heran juga sih".


"Heran kenapa?".


"Siang siang gini kok banyak bintang".


"Bintang, gak ada kok?" ucap Dinda sambil melihat ke arah langit.


"Ada coba lihat bener bener deh".


"Ah bohong nih,coba tunjuk".


"Itu di bola mata kamu, banyak bintang bintang🤭".


"Ih kamu mah🥰🥰🥰, bisa aja🤭".


"Dih imutnya".


"Hehehe, ngomong ngomong kamu ngelamunkan apa?" tanya Dinda mulai serius.


"Oh ini, aku lagi bingung dengan sekolah ku".


"Kenapa?, kamu di keluarin dari sekolah".


"Bukan, aku cuma bingung mau lanjut sekolah atau berhenti"


"Wah kenapa berhenti, kamu harus tetap sekolah loh".


"Kenapa, apa karena sulit cari kerja di kantoran".


"Ah bukan, lebih tepatnya menambah ilmu".


"Ilmu".


"Iya Momo, kalau sekolah cuma untuk ijazah lebih baik beli paket c atau beli Ijazah" ucap Dinda serius.


"Hmm jadi".


"Jadi kamu harus sekolah, untuk lebih mengasah Ilmu pengetahuan dan teknologi serta keterampilan kamu".


"Dinda, tanpa sekolah aku lebih mengasah kemampuan kan, dan lagi belum tentu ilmu di sekolah bisa di serap, kadang malah tambah gak masuk ke otak".


"Oh Momo jangan gitu, kalau ilmu itu gak masuk itu kan salah kita sendiri".


"Ya jugak".


"Dengan sekolah pengalaman yang kamu dapat akan jauh berbeda dari pada kamu belajar sendiri".


"Apa lagi, kamu akan dapat nilai dan kwalitas karena skill yang kamu lakukan dapat bimbingan pengawasan secara terdidik".


"Kamu benar, maaf Dinda aku akan lanjut sekolah".


"Nah itu bagus, semangat yah".


"Baiklah'.


Dinda pun langsung meletakan tangan nya di pipiku tersenyum manis lalu bergerak menjauh.


"Aku harus pergi, Meraka sudah menunggu".


"Iya, hati hati" jawabku sambil melambaikan tangan.


Karena sudah menyebrang, ia pun berteriak dari kejauhan.


"Aku tunggu janjimu".

__ADS_1


Aku pun mengangkat tangan ku dan memberikan isyarat jempol👍👍.


Dan ia pun pergi bersama teman temanya dan meninggalkan aku yang berada di seberang jalan menatap ia dengan senyuman.


***


Dinda benar, aku harus lanjut sekolah agar wawasan ku lebih luas dan ilmu yang kudapat bisa langsung peraktek kan.


Tapi bagaimana cara aku sekolah lagi, 2 bulan itu cukup lama sedang kan ujian akan di mulai 2 Minggu lagi.


Sepertinya sesekali aku harus mampir ke sekolah untuk menyapa teman teman.


Dan mungkin juga aku dapat bertemu Zakia, walaupun hanya sebentar.


Tapi jika guru melihat aku, nanti aku malah kena sangsi dan hukuman ku di tambah, bisa bisa aku di keluarkan dari sekolah.


Atau aku minta ayah ajukan surat pindah, tidak mungkin, jika aku pindah dalam keadaan seperti ini tidak ada sekolah yang akan menerima aku.


Aku harus minta pak Ibrahim untuk menghilangkan dan membersihkan nama baik ku, dia harus jelaskan segalanya agar aku bisa sekolah lagi.


Aku pun bergegas masuk ke toko dan izin pulang sebentar untuk menemui teman teman ku di sekolah.


Ia pun langsung memberi izin dan juga memberi uang untuk ku.


Tanpa basa basi lagi aku segera berangkat ke sekolah dengan kencang karena aku harus menemui Buk Limah sebelum ia pergi.


Dan juga aku harus bicara pada Eka, karena dia adalah biang masalah dari semua kejadian ini.


Akhirnya aku sampai di sekolah, terlihat teman teman ku sedang istirahat di kantin, dan aku pun langsung masuk ke kantin untuk menemui mereka.


"Hai kalian, apa kabar".


"Momo" jawab Dede terkejut.


"Lah iya sih Momo" sahut Irma dan Ayu.


"Apa kalian lihat Madi" tanyaku.


"Oh dia di kelas, kenapa?".


"Aku mau meminta Madi menemui Eka".


"Eka kan udah gak masuk sekolah lagi" jawab Anita yang juga ada di kantin.


"Kenapa?, apa yang terjadi?" tanyaku bingung.


"Apa yang mereka lakukan".


"Mereka memaksa Eka untuk jujur ke buk Limah yang juga kepala sekolah".


"Lalu?".


"Ya ia bicara hal yang sebenarnya".


"Jadi apa tanggapan buk Limah".


"Ia memberikan surat untuk mu supaya kembali ke sekolah" kata Dede memotong.


"Tidak ada surat yang datang ke rumah" ucapku.


"Loh, Final yang di suruh mengantarkan" kata Irma.


"Tapi kenapa gak pernah sampai" jawabku.


"Wah ini aneh sekali" kata Dede.


"Aku kira kamu yang udah gak mau masuk sekolah lagi" sambungan Anita.


"Lalu kenapa Eka jadi gak masuk sekolah lagi".


"Dia malu pada seisi kelas" kata Irma.


"Apa lagi Selviah sering menyindirnya" sambung Dede.


"Ya Zakia juga sering menyindir Eka" ucap Irma lagi.


"Bohong kalian,aku tak pernah peduli" ucap Zakia.


Ternyata dia ada di kursi di pojokan kantin, sedang menikmati Miso.


Aku pun menatap nya dan ia memalingkan wajahnya, dia memang seperti itu.


"Zakia apa kabar" tanyaku padanya.


Namun ia diam tak menjawab, dia memang aneh, sikapnya selalu berubah ubah.


"Momo makin putih aja kulihat" kata Dede.


"Ya, itu karena aku kerja di tempat ber AC".

__ADS_1


"Wah keren" sambut Anita.


"Oh iya kalian mau makan apa,aku terakhir" jawabku.


"Serius" ucap Anita.


"Ya, pesan aja" ucapku meyakinkan kan.


Anita pun langsung memanggil pelayan kantin dan memesan tiga mie ayam.


"Bang Udin, Mia ayam tiga".


"Anita, kita baru aja makan" kata Irma.


Dan dengan tiba tiba Dewi pun masuk dan langsung memesan.


"Tambah 1 lagi bang" ucapnya.


"Gak usah bang 3 aja" kata Dede.


"Lah kenapa?" ucap Anita.


"Aku kenyang banget nih".


"Aku juga" sambut Irma.


"Lalu 3 mie ayam itu untuk siapa?".


Dede pun berteriak ke Selviah yang saat itu ada di lapangan sekolah.


Karena melihat ada aku di kantin ia pun bergegas datang.


"Hai Momo, gimana kabarmu".


"Selvi jangan lari nanti jatuh".


"Cie si Momo perhatian" ucap Irma.


dan tiba tiba "GUBRAK!!".


Selviah benar benar terjatuh dan membuat seisi kantin tertawa.


"DIAM KALIAN!" bentak Selvi.


"Lagian lari lari sih".


"Ih Momo jahat'.


"Lah aku pulak yang salah".


"Duduk di sini dan makan nih mie ayam" ucap Dede.


"Aku udah makan bekal di kelas".


"Jangan bohong, semenjak Momo gak masuk kamu gak pernah bawa bekal".


"Eh sih hidung kucing, malah bongkar aib" balas Selvi.


"Udah Sel makan aja, aku yang traktir" sambutku.


"Beneran".


"Ia, tapi aku harus pergi sekarang".


"kemana?".


"Cari uang untuk melamar aku" kata Dede.


"Ngajak adu mekanik buk" ucap Selvi pada Dede.


"Hahaha kalian ini" ucapku memotong.


"Momo makin ganteng deh, juga makin putih aja kulitnya.


"Ia Momo kayak orang cina gitu jadinya" sambut Anita.


Aku hanya tersenyum dan kemudian melangkah ke kantin untuk membayarkan makanan mereka.


Setelah selesai aku pun pamit, dan saat itu aku juga pamit pada Zakia namun ia tetap dengan respon dingin nya.


Di jalan aku memikirkan Zakia, kenapa sikapnya sering begitu, apa sebenarnya yang menjadi pada orang itu.


Sepertinya ia memang tidak cocok untuk di perjuangkan.


Mungkin karena itulah Tuhan mengirim Dinda padaku.


Terima kasih Dinda kau sudah hadir, aku janji tidak akan menyia nyiakan waktu ku, aku akan selalu bersamamu.


***

__ADS_1


__ADS_2