
Ada rasa kecewa yang dalam, entah mengapa dan bagaimana.
Rasa ini muncul tiba tiba, mungkin karena kabar Dinda yang kian hari semakin hilang.
Ini seperti kembali seperti masa dimana ia pergi tanpa kabar.
Dan yang jadi beban pikiran ku adalah tentang malam dimana Dinda muntah darah.
Hingga kini aku belum juga tau sebenarnya ia sakit apa.
Rasa khawatir dan takut benar benar menyelimuti seluruh perasaan ku.
Aku tak ingin Dinda ku sakit dan lemah.
Senantiasa aku ingin selalu berada di sisinya.
Andai saja aku bisa, aku akan pindahkan sakit itu di tubuhku dan biarkan aku yang merasakan semuanya.
Agar engkau dapat selalu tersenyum seperti dulu.
**
seminggu ini telah berlalu, Dinda bilang ia mulai membaik namun aku tak di izinkan menemui dirinya.
Alasan nya adalah kesehatan Dinda dan tentu aku tak keberatan soal itu.
Istirahat lah sayang ku dan biarkan rindu ini tumbuh seperti bunga yang akan menjadi pemandangan indah saat nanti kita bertemu.
Walaupun kabarmu begitu sulit untuk di dapatkan namun aku percaya jika kamu tak akan melupakan aku.
Rabu sore tepatnya aku selesai sekolah, aku sengaja tidak memberi tahu kepada Dinda jika aku datang berkunjung.
Ku bawakan buah apel kesukaan nya dan juga coklat meski kantong ku sangat krisis saat ini.
Aku sangat bahagia membawa oleh-oleh ini yang tentu saja kan ku berikan kepadanya.
Sangat tidak sabar aku menunggu waktu untuk bertemu Dinda dan melepaskan rinduku.
Bahkan jalanan yang penuh dengan bebatuan padas ini tidak terasa sama sekali karena rasa senang dan bahagia menyelimuti ku.
Aku bahkan menolak untuk latihan Band dengan teman teman karena hal ini.
Sesampainya di rumah itu, aku pun segera turun mengetuk pintu dan memanggil manggil nama Dinda.
"Dinda sayang aku datang nih!" Ucapku sambil mengetuk pintunya.
Berulang ulang kali mengetuk pintu itu namun tidak satu pun suara terdengar.
Aku pun terdiam sejenak, lalu bergegas mengambil HP ku dan menelpon Dinda namun nomor tersebut sedang di luar jangkauan.
Aku pun mencoba mengetuk lagi.
"Tok! Tok! Tok!"
"Hallo, Assalamualaikum ada orang!" Ucapku namun jelas sekali tidak ada orang di rumah.
Lalu di mana Dinda berada, bukankah ia sakit.
Harusnya ia ada di rumah.
Memang sedikit aneh, mengapa tidak ada satu orang pun yanen jawab salam ku, bahkan ART saja tidak ada.
Rumah ini seperti kosong tanpa penghuni.
Tak berselang lama nenek buyut ku pun keluar dari rumahnya dan mengayun ayun kan tangan nya memanggil ku.
Ia sudah cukup tua jadi ia aak sulit untuk berteriak atau bicara dengan suara yang tinggi.
__ADS_1
"Ono opo Uut." Ucapku sambil menghampiri.
"Uwonge wes lungo yek medan using mbengi le." Jawab buyut ku dengan suaranya yang lembut dan pelan.
Buyutku adalah orang asli Jawa tengah yang merantau ke Sumatera Utara ini jadi ia kesulitan untuk bicara dengan bahasa Indonesia.
Karena lingkungan hidup dan juga pembawaan dari kecil.
Dan mendengar ucapan nya itu seketika jantungku seakan mau berhenti.
Rasanya hambar dan juga aneh.
Aneh sekali, seperti ada batu yang mengganjal di jantungku.
Rasanya sesak sekali.
Mengapa ia pergi lagi, mengapa ia meninggalkan aku lagi.
"Hughh..!" Ku tarik nafas panjang mencoba mengendalikan perasaanku.
Secara perlahan ku lepaskan dan berkata di dalam hati.
"Sabar sabar jangan sedih dulu."
Lalu aku pun berpamitan dengan dengan nenek buyutku sembari memberikan oleh oleh yang awalnya ingin ku berikan untuk Dinda yaitu jeruk.
Sedangkan apel ku bawa pulang untuk ibuku.
***
Sesampainya di rumah, aku menelpon Dinda kembali dan nomor tersebut masih saja non aktif.
Aku khawatir jika terjadi sesuatu padanya.
Sebab kejadian Minggu lalu masih membekas di mataku.
Dan jaket yang terkena darah Dinda hingga sekarang belum aku cuci.
Entah mengapa aku tak ingin menghilangkan darah dari jaket itu dan malah menyimpan nya hingga mengering.
Seperti aku ingin mengingat kejadian itu dimana untuk pertama kalinya aku melihat orang yang aku sayangi dengan sepenuh hati menjadi tak berdaya.
Aku juga terus mengingat di malam itu ia tidur di pangkuan ku dengan sangat nyenyak.
wajah nya yang pucat dan senyumnya yang polos meluluhkan hati ini.
Aku terus saja terbayang bayang wajah itu hingga saat ini.
Gerimis gemercik memukuli seng rumah ini.
Awan yang gelap dan mentari yang mulai terbenam membuat suasana seperti terkena ulti Helcurt.
Maksudnya menjadi kan suasana semakin gelap.
Tampak jam dinding menunjukkan pukul 06:14 sore, sebentar lagi Adzan berkumandang.
Saat ini Hpku sedang berdering.
Terdapat 2 panggilan di nomor baru tanpa nama.
Aku senang dengan gerakan panggilan itu.
karena perasaanku sedang tidak baik dan mungkin karena nomornya adalah nomor asing bagiku.
Tiba-tiba kakakku lewat dunia pun berkata"Angkat teleponnya siapa tahu penting."
Namun aku mengajukan yang begitu saja seolah tidak ada yang memanggil sama sekali.
__ADS_1
"Bagaimana jika itu Dinda." Ucapnya sambil melangkah pergi.
Aku pun segera bangkit dan mencoba mengambil ponsel itu namun panggilan itu telah tertutup.
Karena tak yakin jika itu Dinda aku pun membiarkan Hp itu tergeletak dan kemudian pergi tidur.
Namun Hp itu berdering lagi dan suaranya Terdengar jelas di teelinga.
Suasana hatiku yang buruk membuat ku enggan mengambil HP tersebut.
Namun suaranya terus. mendayu seolah memanggil manggil namaku.
Akhirnya kakak ku datang dan mengangkat telepon tersebut dan aku menghiraukan nya.
"Dek, ada yang nyariin ini." Ucap kakak ku mengetuk pintu kamarku.
"Siapa?" Tanyaku singkat.
"Dinda."
"GRUBYAK.!!" Suara aku terjatuh.
Ya aku terjatuh lantaran terkejut mendengar apa yang di katakan kakak ku.
Aku pun langsung bergegas keluar dari kamar.
"Nah!" makanya kalo ada yang telpon tuh di angkat." Ucap kakak sambil memberikan Hpku.
"Halo Momo, ini aku."
"Dinda, bagaimana kabarmu." Tanyaku yang khawatir padanya.
"Aku sehat oh iya sekarang aku udah nggak tinggal di tempat situ lagi."
"Aku tahu, tadi aku mampir ke rumahmu dan memanggil-manggil tapi tidak ada yang menyahut." Jawabku.
"Maaf aku tidak memberitahumu terlebih dahulu, mendadak ayah aku mau ngajak pindah." Ucap Dinda.
"Nggak apa-apa sih yang penting kamu sehat-sehat aja kan."
"sehat. Aku sudah membaik semua sudah berjalan normal tapi sepertinya tidak akan kembali!" Ucap Dinda.
Ucapan sangat mengejutkan.
Tidak akan kembali, lalu bagaimana aku harus hidup.
Aku terdiam sejenak, rasanya aku jadi malas untuk bicara lagi.
"Kenapa kamu diam, kamu terkejut ya." Tanya Dinda.
"halo bagaimana dengan hubungan kita, apakah kau tidak akan merindukanku atau akan berakhir begini saja." Tanyaku sedih.
"Dengerin dulu, maksudnya kamu tidak akan kembali ke kampung itu tapi kami pindah ke Tanjung balai." Ucapnya lagi memberi penjelasan.
"Oh syukurlah, tadi aku sampai panik aku pikir kita tidak akan bertemu lagi." Jawabku.
"Tenang aja di manapun kamu berada aku akan tetap menjadi milikmu." Ucap nya kemudian telepon itu terputus.
Aku pun terdiam sejenak, rasanya ada yang aneh dengan perasaanku.
Entah mengapa aku seperti tidak bahagia dengan apa yang aku dengar.
Ya aku merasa seperti sedang di bodohi oleh perasaan ku sendiri.
Bahkan rasa rindu yang begitu besar ini hilang begitu saja.
*****
__ADS_1