Penantian Yang Tertunda

Penantian Yang Tertunda
Aku yang lain


__ADS_3

Hidup memang aneh, kadang kita berusaha akan sesuatu namun ternyata hal yang kita inginkan dan perjuangkan tak bisa kita miliki.


Meski kita berusaha sekuat tenaga, berdo'a dan berusaha namun jika tuhan tidak berkehendak semua yang kita inginkan tak akan terjadi.


Seperti Zakia yang dari dulu ku inginkan namun ia tak pernah peduli dengan ku.


Sayup-sayup terdengar canda tawa para gadis yang sedang membicarakan pacarnya di siang yang terik ini.


Jam istirahat kali ini di isi dengan gosip'an para pemburu cowok kaya.


Dan di situ terdengar candaan Irma tentang pacar Zakia, ya aku tidak salah dengar Zakia sudah punya pacar.


Entah mengapa hal ini sedikit menganggu.


Seperti ada rasa cemburu, tidak tidak, aku tidak mungkin cemburu, tidak mungkin sama sekali.


Aku harus kuat, aku harus lupakan Zakia.


"Hai guys mau lihat sesuatu" ucap Selvi tiba tiba memotong pembicaraan mereka.


Aku yang sedang melamun pun ikut terkejut.


"Lihat apa?" jawab Irma.


"Sesuatu yang keren gak?" sambut Dede.


"Alah palingan, bekal makanan mu bentuknya baru kan" tambah Zakia.


"Ah bukan, ini spesial" ucap Selvi.


"Spesial, apa itu?" jawab Dede tertarik.


"Ini, spesial kan!!" ucap Selvi lagi sambil menunjukan seuntai buket mawar putih.


"Wah, keren.!"ucap Zakia "Pegang boleh!".


"Gak!, cium wanginya aja nih" kata Selvi lagi.


Dan mereka pun langsung mencium wangi bunga mawar itu.


"Pacar mu yang ngasih ini" ucap Dede.


"Iya dong" jawab Selviah.


"Ah, aku seumur umur gak pernah di kasih buket" tambah Zakia.


"Wah, gak bisa di biarin nih" ucap Dede, lalu ia menoleh ke arah ku.


"Momo, beliin aku kek gini dong" ucapnya padaku.


Aku pun mengangkat sebelah alisku, dan berekspresi seperti orang bingung 🤨.


"Dia malah bengong hahahaha" ucap Dede, di barengi tawa yang lain.


"Cowok gak peka mah mana mungkin bisa ngasih kek gini" tambah Zakia.


Selvi pun tersenyum lalu memeluk buket itu sembari mengatakan bahwa itu dari orang yang spesial.


"Beruntung banget kamu punya cowok romantis serta pengertian" Ucap Irma.


"Iya beruntung banget" sambut Dede.


"Aku harus minta ke cowok ku yang kayak gini" Kata Zakia.


"Guys ini dari Momo!!" ucap Selvi.


Mereka pun terdiam sejenak lalu tertawa., dan tawa paling kuat adalah tawa Zakia.


"Gak mungkin!" ucap Zakia.


"Beneran loh!" sambut Selvi meyakinkan.


"Wah Momo makin banyak nyali" kata Dede.


"Aku sih gak percaya!" sambut Zakia lagi.


"Aku percaya" ucap Irma tersenyum.


"Momo beneran ini dari kamu!?" ucap Dede kepadaku yang sedang duduk di sudutan.


Kalian harus tau aku selalu berada di kelas tak perduli meski aku sendirian dan sisanya adalah perempuan.


Itu selau ku lakukan sejak di SD hingga sekarang.


"Sepertinya iya" jawabku.


"Gak mungkin!" bantah Zakia.


"Kamu kenapa sih!" ucap Selvi.


"Dia cemburu!" Jawab Irma tersenyum lagi, Irma memang suka tersenyum.


"Ih, najis cemburu cemburu!" ucapnya membantah.


Entah kenapa aku sangat benci kata kata najis yang keluar dari mulutnya, Zakia kenapa kau seperti itu.


"Tunggu, kenapa Momo memberikan bunga padamu?" tanya Dede.


"Nah iya nih, aku juga pemasaran" Sambut Irma.


"Penasaran bukan pemasaran, kayak dagang aja" balas Dede.


"Kayaknya Momo mau jadiin aku pacarnya" ucap Selvi.


mereka pun langsung terkejut mendengar kata kata Selvi, termasuk aku ikut terkejut.

__ADS_1


Sungguh kata katanya mengejutkan.


"Momo, aku cemburu" ucap Dede padaku dengan nada mendayu.


"Entah mengapa aku menyesal berada di sini!" jawabku, lalu Dede pun tertawa.


"Pindah ke tempat Momo yuk" ucap Irma.


Tanpa pikir panjang mereka pun berpindah ke tempat aku duduk kecuali satu orang, kalian tau kan siapa!.


Sudahlah dia memang begitu.


"Momo jelasin ke mereka dong" ucap Selvi.


"Memang aku yang kasih" jawabku.


"OH MY GOD!" kata Dede dengan kuat dan memukul meja.


"Nah kan aku bener😋".


"Berarti kamu mau pacaran yah" ucap Dede lagi.


"Enggak!" jawabku, namun Selvi langsung berkata


"Jujur aja dong!".


"Aku jujur, aku gak kepikiran untuk itu".


"HAHAHAAHA.!" suara tawa dari luar kelas tiba tiba memecah perseteruan di dalam kelas.


"Siapa itu?" kata Irma.


"Itu Eka" jawab Zakia.


Ternyata dia ada di samping pintu sejak tadi namun karena ada di luar kami tak tau jika ia menguping.


"Si putri kodok itu lagi" ucap Selvi.


"Hus gak boleh gitu" jawab Irma.


"Entah kenapa aku gak suka banget liat dia" kata Selvi.


"Aku juga" sambut Dede.


"Aku tidak perduli padanya" sambutku.


kami pun lantas tertawa.


"Jadi gimana, kasih aku kepastian dong!" ucap Selvi, tampak nya ia serius bukan bercanda lagi.


"Bukan nya kamu pacar Tirta" kata Irma.


Aku pun langsung melihat Selvi seolah membenarkan ucapan Irma, sedangkan Dede mulai tidak perduli dengan hal ini, dia mulai diam seolah memikirkan sesuatu.


"Tirta selalu cerita tentang mu, dan dia sering kerumah mu" balas ku.


"Ya, kamu sendiri yang bilang kalau dia sering datang" sambung Irma.


"Tapi aku gak suka dia" tegas Selvi.


"Kenapa?" ucap aku dan Irma serempak,


Sedang Dede nampak menggores gores meja dengan sendok makan milik Selvi.


"Karena dia ******" ucap Selvi.


"Jalaaang, jalaaangggg, jalaaanggggggg...!!" ucap Dede menggemakan suara Selvi namun tetap pada kerjaan nya yaitu menggores meja.


Aneh sekali kelakuan nya, sepertinya kepalanya mulai geser atau terbentur sesuatu.


"Hallo, kau ini kenapa?" ucapku pada Dede.


Ia pun bangkit dan menoleh kearah ku dengan tatapan sinis lalu mengacungkan jari tengah nya 🖕.


"What, kenapa sih lu".


"Hahahaha.....!" tawa Irma melihat kelakuan Dede.


"Sepertinya gak ada yang perduli padaku" kata Selvi.


Memang kami tiba tiba teralihkan oleh sikap Dede yang aneh itu, dan lupa akan kata kata Selvi.


Bell pun akhirnya berbunyi dan murid murid yang ada di luar kelas masuk kembali kedalam kelas.


Rizky juga kembali ke kelas dengan membawa bakwan dan juga tahu isi titipan ku.


Pelajaran pun segera di mulai, saat itu Ibrahim yang masuk ke dalam kelas dengan membawa pelajaran sejarah.


Ia masuk dengan langkahnya yang nampak sombong, duduk dan membuka buku.


Namun ia terkejut melihatku ada di kelas.


"Wah sepertinya ada penyusup di kelasku" ucapnya dengan lantang.


Aku pun melihatnya dengan tatapan kosong, tak ada dendam di hati ku namun entah mengapa napasku mulai melambat dan jantungku mengencang.


"Kenapa kau ada di kelasku!" ucapnya lagi.


Tanpa pikir panjang aku pun mengambil tasku dan menyanding nya di punggung, lalu aku bergegas keluar dari kelas, namun Selvi menarik tanganku dan berkata "Tenang dulu, semua bisa di jelasin Momo!".


"Iya, biarkan ketua kelas menjelaskan pada pak Ibrahim dulu" sambut Madi.


Yusuf pun berdiri dan segera menjelaskan kepada pak Ibrahim kalau Momo dapat izin masuk oleh kepala sekolah.


Dan bahkan kepala sekolah dan beberapa guru datang langsung ke rumah Momo untuk mengajak Momo kembali ke sekolah.

__ADS_1


Mendengar ucapan itu, pak Ibrahim pun terdiam dan membiarkan aku kembali duduk, namun aku merasa tidak nyaman berada di kelas dengan guru emosian dan sok kuat seperti nya.


Apalagi ia tampak mencari cari masalah dengan ku dengan menyindir nyindir aku.


Bahkan ketika ia menjelaskan tentang sejarah sambil berjalan mengeliling kelas, ia kerap sekali menendang kursi yang aku duduki.


Sungguh hal ini membuat aku tak nyaman.


Madi yang kesal melihat hal itu akhirnya menjulurkan kakinya saat Ibrahim lewat sambil menendang kursi ku hingga ia terjatuh.


Ia pun langsung bangkit dengan emosi nya ia pun langsung melayangkan tangan nya kearah ku.


Aku yang sudah mengerti akan sikap nya itu langsung memajukan sikut ku menangkis tangan nya.


Ia pun semakin emosi, dengan membabi buta ia menendang ku.


Namun aku lagi lagi menangkisnya.


Suasana pun menjadi rihuk, Madi dan Rizky berusaha menghentikan Ibrahim sedangkan Tirta dan rawi menyuruh aku keluar dari kelas.


Tak sedikit kata kata kotor keluar dari mulut Ibrahim, ia nampak seperti preman jalanan yang mengamuk karena tak dapat jatah uang pasar.


Ibrahim adalah orang yang bertubuh kekar dan tentu saja kuat, Madi dan Rizky bukanlah apa apa baginya, ia sangat mudah melepaskan Rizky dan Madi dan langsung lari menerjang ku.


Tendangan nya yang kuat membuat aku, Tirta dan Rawi jatuh tersungkur, hal ini membuat aku tak tahan lagi dengan sikap nya, aku bahkan tak perduli lagi dengan sekolah ini, jika harus di keluarkan maka biarlah ini terjadi.


anak anak perempuan yang berteriak histeris membuat suasana semakin kacau dan mengundang perhatian dari kelas sebelah,


Bahkan banyak yang lari keluar karena takut.


"Berhenti" ucap pak Dedi berusaha menghentikan, namun Ibrahim mengacuhkan nya.


Ia berusaha memukul ku, dan aku tak lagi menangkis, namun juga membalasnya.


yah biarkan ini jadi pertaruhan hidup dan mati.


Ibrahim tiba tiba jatuh terpeleset saat akan menendang ku dan aku langsung menjatuhkan meja kearah nya.


keadaan pun berbalik, ia nampak mulai kewalahan.


Sedang aku mulai kehilangan kendali.


Wajahku mulai berubah, aku serasa kesurupan sesuatu.


Napas ku terasa panas dan membara, bahkan teman temanku tak lagi berani mendekat kecuali Madi.


Ibrahim mulai bangkit, mengangkat kursi kayu dan akan melemparnya kearahku.


Namun aku sudah lebih dahulu melemparkan kursi kayu hingga ia terjatuh lagi bahkan tertimpa kursi yang ia angkat.


Aku menggila..!!


Tertawa tanpa sadar, menyeringai dengan seram!!


Aku bahkan menyeret kursi lagi dan akan memukulkan nya kewajah nya.


Namun itu langsung di hentikan oleh pak Dedi, dan juga pak Eko.


Cengkraman tangannya sungguh kuat hingga menghentikan gerakan ku.


Aku di buat tersungkur dan mereka berdua mengunci kaki dan tangan ku hingga aku tak bisa bergerak.


Di sana nampak Ibrahim mulai bangkit kembali,


Melihat dia bangkit dan berjalan, emosiku kembali meluap, aku pun mengerahkan seluruh tenaga ku membuat pak Erdi dan pak Eko kewalahan hingga Madi pun ikut membantu agar aku dapat di hentikan, sedang kan Ibrahim melarikan diri.


Syahrul pun datang dengan membawa segelas air berisi bunga kenanga, dan langsung menyirami aku.


Aku pun langsung melotot kearahnya dan berkata dengan keras sekali.


"KAU PIKIR AKU KESURUPAN!!"


Syahrul yang takut langsung lari tunggang langgang, Final juga membaca ayat kursi berulang ulang.


Hal itu membuat emosi ku mereda, sebenarnya aku heran mengapa orang orang yang ada di dekatku tiba tiba membaca Ayat kursi.


Aku terdiam melihat mereka, dan aku mulai berpikir apakah aku ini setan.


Aku pun bangkit perlahan dan melihat sekeliling ku.


Kursi yang berserakan, meja meja berjatuhan dan banyak buku yang berlampar di kelas ini.


Aku tak sadar melakukan nya.


Final pun mendekati ku, menyalamiku dan berkata.


"Maaf Datuk, kami tidak akan menggangu cucumu lagi!".


Sontak kata katanya membuat aku tercengang, aku pun duduk kembali dan mulai mangatur nafasku perlahan lahan.


"Oke pak Momo udah sadar" ucap Final.


"Ayo ayo, bawakan teh panas untuk nya" ucap pak Erdy sembari mendudukkan aku di kursi.


Pelan pelan ia mulai bertanya.


"Apa yang kau rasakan".


"Dadaku sesak!" ucapku pelan.


"Coba buka bajumu" ucap pak Erdy, aku pun menuruti perintah nya dan terlihat memar biru di dadaku.


Rasanya nafasku semakin pelan dan sesak, kenapa ku juga pusing hingga tanpa sadar aku jatuh pingsan.


****"

__ADS_1


__ADS_2