Penantian Yang Tertunda

Penantian Yang Tertunda
PENANTIAN YANG TERTUNDA


__ADS_3

Bap. 3


Penantian yang Tertunda* “Aku harus bisa!!!”,


teriak gadis berambut panjang mengagetkan teman-temannya. Semua mata yang sedang berada di ruangan yang tak begitu luas itu tertuju padanya dengan penuh tanda tanya. Namun, ia hanya tersenyum.


Sunggingan di bibir mungilnya hanya menambah rasa penasaran oleh semua yang mengharap jawaban, terlebih Karti yang selalu ingin tahu.


Karti mengangkat alis kanannya ke atas dan memanyunkan bibirnya. Gadis yang berteriak tadi tak menghiraukan rasa penasaran teman-temannya. Biarlah.


Pikir gadis itu dalam hati, lalu melangkahkan kaki menjauhi yang lain. Ia berjalan pelan menuju ruang terbuka di depan kamarnya.

__ADS_1


Matanya mengintai ke arah sekitar tempat ia berada.


“Alhamdulillah sepi…”, katanya dengan riang. Ia selalu mencari ketenangan dalam hidupnya.


Penuh misteri dalam harinya. Itulah anggapan teman serumah tentang dirinya. Ya. Mereka adalah anak sekolahan yang hidup jauh dari orangtua demi menuntut ilmu.


Mungkin itu juga yang kadang menjadi beban dalam hari-hari gadis itu. Selalu terdiam dalam pikiran, tak pernah ia menceritakan masalah pada orang lain kecuali pada seorang yang dituakannya, orang serumah yang begitu bijaksana baginya.


Ia tak segera menjawab sampai asal suara tadi terdengar kembali dengan jelas di sebelahnya.


“Eh, iya… Ada apa?”, jawab gadis tadi dengan nada datar tanpa rasa bersalah.

__ADS_1


“Hmmm…. Kamu ini!!! Dipanggil berkali-kali nggak menjawab, ngapain aja sih kamu tadi, Pi?”


Bukannya langsung menjawab pertanyaan Piah,


tapi wajah gadis yang selalu ingin tahu ini malah terlihat begitu suram, perkataannya agak keras tak seperti biasaya, kedua tangannya ia genggamkan dengan kuat-kuat.


Piah agak terkejut dan meringis melihat teman sekamarnya yang bersikap tak wajar ini. “Maaf Kar… Ada apa…?


”, tanya Piah hati-hati dengan memelankan nada bicaranya ketika menatap kedua mata teman sekamarnya. Karti terdiam. Nafasnya masih kencang tak beraturan. Bagai seorang yang baru selesai lari marathon. Piah agak penasaran dibuatnya dan mencoba menenangkan perasaan temannya.


“Duduklah…”, pinta Piah seraya memohon pada Karti. Karti langsung mengikuti permintaan teman baiknya untuk duduk. Dia pun menyandarkan kepala di bahu Piah. Airmatanya perlahan menetes, membasahi lengan baju Piah. Nafasnya masih tak beraturan. Sejenak suasana menjadi hening seperti di makam yang tiada suara sedikit pun. Hanya kicauan burung yang mengisi keheningan. Melihat Karti seperti itu, Piah tak tega, ia pun mulai memecahkan suasana, dengan hati-hati ia bertanya. Ternyata orangtua Karti menelponnya agar dia langsung menikah setelah lulus sekolah. “Menyenangkan sekali”, pikir Piah yang ingin segera bertemu jodohnya kemudian menikah. Hal itu malah membuat Karti sedih karena dia merasa belum siap. “Terimakasih ya, Pi. Aku nggak tahu harus cerita ke siapa lagi selain ke kamu, aku percaya padamu, jangan ceritakan ini kepada siapapun ya…”, ucap Karti memelas. “Insya Allah…”, jawab Piah santai sambil menyibakkan senyum di bibirnya. Mentari mulai bergerak menuju peraduannya, langit mulai berubah menjadi gelap. Kedua sahabat yang duduk di ruang terbuka seketika beranjak dari tempatnya menuju ruang yang penuh kenangan selama hampit tiga tahun lamanya. Piah duduk di tempat belajarnya, mengulurkan tangan, menyibak buku demi buku di rangkaian kumpulan buku Islaminya yang direncanakan kelak akan dijadikan sebagai buku untuk perpustakaan pribadi. Sungguh keinginan yang begitu tak terbayangkan oleh teman seusianya. Ia pun mengambil buku tentang cinta dan pernikanan yang belum selesai dibacanya subuh tadi. Baru tiga lembar ia membaca, suara muadzin dari masjid sebelah mengagetkan seriusnya ketika membaca. Ia pun menutup buku dan segera keluar mengambil air wudlu. Ia dan teman serumah antre ketika itu. Rumah yang dihuni 21 orang termasuk pemiliknya itu terlihat ramai ketika waktu maghrib tiba. Berjamaah. Itulah kebiasaan di rumah atau pesantren binaan Bapak Kiai dari Pati itu. Mereka yang tinggal di rumah itu sangatlah merasa senang dan nyaman karena kesabaran Bapak Kiai dan kebaianhati Ibuk kepada mereka bak orang tua kandung yang mengayomi anak-anaknya. Setelah berjamaah semua penghuni rumah tetap berada di Mushala kecil depan rumah itu untuk melantunkan syair cinta pada-Nya. 

__ADS_1


__ADS_2