Penantian Yang Tertunda

Penantian Yang Tertunda
PENANTIAN YANG TERTUNDA


__ADS_3

Bab. 6


Setelah merasa lega, seperti biasa mereka semangat pagi dengan mengayuh sepeda ke sekolah. Dalam perjalanan, Piah masih berpikir tentang hari esok yang akan dihadapinya.


Dia masih bimbang akan keputusannya.


Dia semakin teringat akan cintanya pada Heru.


Pacaran… Kata-kata itu masih terngiang-ngiang di pikirannya.


*** Seminggu telah berlalu, hari yang dijanjikan untuk memberikan keputusan telah tiba.


Jantung Piah semakin berdegup kencang tak karuan. Fajar makin menyingsing.


Waktu menunjukkan pukul 05:47 WIB. Handphone-nya berdering. Tangannya gemetar, hatinya tak karuan, keringat dingin mulai bercucuran. Dia memberanikan diri melihat nama di layar handphone-nya. Mas Heru.


Nama yang dinanti-nanti kini ada di layar handphone-nya, tetapi dia tak berani mengangkat panggilan itu.


Dia memegangi kepala sambil memanyunkan bibirnya. Dua kali panggilan ia abaikan.


Namun, sesaat kemudian berdering untuk ketiga kalinya.


Ia pun mengangkat panggilan dan berucap salam dengan suara gemetar. Dalam percakapan kali ini mereka sempat berdebat agak lama tentang prinsip hidup dan keinginan, terlebih oleh Piah sampai akhirnya Heru benar-benar tak sabar dan mengharapkan kepastian dari pujaan hatinya yang telah memenuhi ruang hatinya.


“Bagaimana de’ Piah… Aku tidak akan memaksakan perasaan ini, hanya satu yang aku pinta, jujurlah pada perasaanmu, jangan membohongi diri dan perasaanmu

__ADS_1


de’…”, pinta Heru penuh harap.


“Mas… Aku… Aku…”, ucap Piah terbata-bata dan gemetaran.


“De’, aku serius menyayangimu, aku ingin membahagiakanmu jika Allah mengizinkan… De’, maukah kau menjadi pacarku?


”, kali ini Heru meminta dengan penuh ketegasan. Piah terdiam sejenak kemudian berkata singkat dengan hati yang masih penuh dengan debaran,


“Iya Mas… Aku mau…” Di kejauhan sana wajah Heru tampak berseri-seri, dia seperti mendapatkan bulan yang selalu dinantinya. Kini ia bisa meraih bulan itu. Namun di sisi lain, di samping kebahagiaan itu, Piah merasa tak lega, tak tenang dengan keputusan yang baru saja diucapkannya.


Pacaran… Satu kata yang tak pernah ada dalam kamus hidupnya, sekarang ia menjadi pelakunya.


Hari-hari Piah terasa penuh warna semenjak ia mengenal Heru, apalagi sejak ia jadian dengan Heru. Akan tetapi, ia selalu merasa menjadi orang yang paling bodoh ketika ia selesai melakukan tahajjud.


“Ya Allah… Ampuni aku kalau aku telah salah dalam mengambil keputusan… Apa yang harus aku lakukan???”, doa Piah dengan bercucuran airmata yang semakin membanjiri kedua pipinya. Tak terasa sudah sebulan ia jadian dengan Heru.


Minggu pertama ia terjatuh dari sepeda, hal yang tak pernah sekali pun ia alami sebelumnya sampai membuat sahabatnya kaget setengah mati.


Minggu kedua, ia hampir tertabrak mobil ketika hendak menyeberang jalan depan sekolah. Sungguh hal begitu menakjubkan oleh teman-temannya.


Piah yang terkenal sebagai seorang yang teliti dan berhati-hati dalam melangkah di hidupnya, ia malah terlihat ceroboh ketika itu.


Sedangkan yang paling fatal adalah minggu ketiga dan keempat setelah ia jadian, nilai Try Out UAN-nya menurun.


“Apakah ini suatu kebetulan ataukah ini murka-Mu terhadapku ya Allah…..?

__ADS_1


”, tanya Piah dalam hati ketika mentari mulai menampakkan cahyanya. Mempunyai pasangan hidup.


Itulah yang menjadi penantian Piah selama ini. Akan tetapi, ia tak menyangka akan menempuhnya dengan berpacaran.


“Hmmm….”, ia menghela nafas panjang. Ia merasa bahwa ia telah berdosa. Sejak saat itu Piah tak lagi menghiraukan telepon dari Heru, ia pun sebisa mungkin menghindar ketika Heru berkunjung ke rumah yang ia tempati.


Bapak Kiai sampai geleng kepala melihat tingkah anak didiknya itu.


Sebulan berlalu, tak pernah ada komunikasi diantara keduanya. Karena itu, Piah merasa bahwa dirinya benar-benar kelewatan. Seharusnya hubungan itu tak pernah terjadi. Seharusnya dia tak perlu menuruti hawa nafsunya untuk menjalin ikatan yang tak seharusnya ia lakukan.


Ia juga merasa bersalah karena tak memberi kabar atau penjelasan kepada pacarnya atas sikapnya selama ini. Dia pun mengambil handphone kemudian mencari nama yang hendak dihubunginya.


Mas Heru. Nama yang begitu dianggapnya sakral sejak hari jadian mereka. Tut…tut…tut… Tak ada jawaban.


Ia mencoba memanggil kembali. Kali ini ada ucapan salam dari arah sana, Piah menjawab salam dengan lembut seperti biasa.


“De’ Piah Sayang…, bagaimana kabarmu? Mas begitu merindukanmu Sayang… Kenapa ade’ tak pernah mengangkat telepon dari Mas? Kenapa tak pernah ada kabar darimu, ade’? Apakah Mas punya salah pada ade’? Tolong jangan mendiamkan Mas seperti ini… Mas mencintaimu, ade’ku sayang…


”, ungkap Heru panjang lebar. Pertanyaan berantai itu semakin membuat Piah jengkel dan ingin marah.


Apalagi panggilan “Sayang” yang semakin membuat risih telinganya. Namun, Piah mengurungkan niatnya untuk marah ketika ia ingat kembali tujuan ia menghubungi pacar kesayangannya itu.


“Maafkan ade’ ya Mas… Maaf kalau selama kita kenal, ade’ terlalu banyak melakukan salah baik yang ade’ sengaja ataupun tidak…


Terima kasih atas semua kebaikan yang Mas berikan pada ade’ ya…”, Piah berkata dengan hati-hati.

__ADS_1


Sejenak keduanya terdiam. Heru makin bingung dengan kata-kata pujaan hatinya. Karena itu, Heru minta penjelasan atas ucapan Piah. Mereka pun bicara dengan lembut seperti biasa


__ADS_2