
Tak terasa hari pun mulai beranjak pagi, entah apa yang kami bahas sampai suara ayam berkokok menandakan bahwa matahari akan segera terbit.
Kami pun tertawa mendengar suara ayam yang seolah olah menyuruh kami berhenti.
Hal yang paling utama pasti melepaskan rindu, kami ngobrol banyak hal sampai kami lupa waktu.
Tapi sepertinya kami harus mengakhiri percakapan ini karena aku harus sholat.
Ia pun menutup teleponnya dan mengatakan sampai jumpa besok yang artinya dia akan menelpon lagi.
Kadang aku berpikir sebanyak apa uangnya mengapa dia bisa menelpon ku sampai berjam-jam seperti itu.
**
setelah mandi dan sarapan aku pun berangkat sekolah.
hari ini aku berangkat agak cepat dan ternyata Zakia ya belum ada di simpang jalan tersebut.
Rasanya tumben sekali dia tidak ada di sini karena biasanya dia sudah menunggu di jalan ini.
Aku mulai berpikir haruskah aku menunggunya, mungkin tidak tapi jika tidak kasihan sekali dia harus pergi ke sekolah dengan menaiki bus.
Kalau dipikir-pikir menunggunya juga tidak ada pentingnya.
Tapi kasihan juga kalau tidak ditunggu.
Akhirnya aku menunggunya hingga beberapa saat namun ia tak kunjung muncul hingga aku pun bingung.
Mungkin dia tidak sekolah atau mungkin dia sudah pergi.
Mungkin saja dia sudah berangkat duluan bersama teman-teman nya.
Karena melihat ia tak kunjung datang aku pun untuk memutuskan untuk meninggalkannya.
Tiba-tiba aku melihat dia lewat dengan orang lain dan seperti itu pacarnya.
Terlihat jelas dari raut wajahnya yang begitu senang.
Apalagi iya merapat kan tubuhnya pada pria itu serta mengalungi pinggang tersebut dengan tangan nya.
Baguslah jika ia terlihat senang.
Aku pun lantas melajukan motorku.
Namun, aku tak bisa melaju dengan cepat karena mereka ada di depan ku, entah mengapa aku enggan melewati mereka.
Namun aku merasa aneh berada di belakang mereka.
Posisi yang serba salah ini menyebalkan.
Terlebih lagi mereka tampak asik bercanda mesra di depan mata kepala pundak lutut kakiku.
***
Aku pun telah berada di sekolah, dan pelajaran saat ini adalah bahasa Inggris.
__ADS_1
Entah mengapa aku tiba-tiba teringat kenangan waktu SD bersama Zakia.
Kami pernah melakukan percakapan bahasa Inggris bersama dan mendapat nilai sempurna saat itu.
Dan kini aku melihatnya dengan yang lain bermesraan.
Tunggu dulu kenapa aku peduli dengan kemesraan mereka.
Lupakan ini wahai kepala ku, aku tidak mau di anggap cemburu padanya.
"Momo, are you listen to me.!" Ucap Mem Emi tiba tiba.
"Yes Mem, sorry I'm out of focus!" Jawab ku terkejut.
"Why boy, are you having bad romance problems!" Ucap Mem Emi lagi dengan nada yang lembut.
"His girlfriend left him and the news is gone, Ma'am!" Sahut Andika Mirza yang duduk di bangku depan.
Sontak teman teman yang lain pun tertawa.
Kelas kami berisi murid murid dengan nilai nilai tinggi yang di pilih dan di jadikan kelas unggulan, maka bahasa Inggris adalah hal yang biasa bagi kami.
Hampir semua murid di kelas ini Pasih dalam berbahasa Inggris.
"just leave your boyfriend it's momo, no long distance relationship lasts, it's bulshit." Sambung Mem Emi.
"Wow, how are you sure of that."
"I'm.. You know lah!" Jawab Mem EMI.
**
Mungkin ia benar, hubungan LDR itu biasanya kandas di tengah jalan.
Mungkin sih, aku tidak terlalu peduli.
Untuk saat ini yang paling penting adalah bagaimana cara untuk bisa terus bersama dengan Dinda meskipun terpisah jarak.
LDR ini akan membuat pertemuan kami nanti di penuhi rasa cinta yang dalam.
Mungkin jika nanti bertemu lagi aku akan langsung melamarnya.
Tentu saja aku harus kerja dahulu.
Ya ini saat yang tepat untuk menabung sebanyak mungkin, hingga nanti jika sudah bertemu dengan Dinda aku sudah punya cukup uang untuk setidaknya bertunangan.
"Woi ngapain!" Ucap Firman dengan tiba tiba.
Aku yang terkejut, hampir saja jatuh keluar gedung karena saat ini aku sedang duduk di jendela lorong bagian ujung sekolah.
"Gila lu bro! hampir aja gua mampus!" Sahut ku dengan wajah yang pucat.
"Hahaha sory situ, Elu sih ngelamun terus." Sambut Firman kembali.
Aku pun lantas menunjukkan Hp ku dan memperlihatkan semua photo Dinda dan aku.
__ADS_1
Firman pun langsung melotot seperti tidak percaya jika gadis yang ada di Hp ku adalah pacar ku.
Aku tidak terkejut melihat reaksinya karena memang tidak ada yang percaya jika gadis yang seperti bidadari itu adalah pacar ku.
Bahkan kadang kadang aku sendiri tidak percaya.
Firman pun dengan segera berlari membawa Hp ku kedalam kelas.
Bahkan meninggal kan aku begitu saja.
Aku yang kesal langsung mengejarnya namun ia terlalu cepat dalam berlari hingga sulit untuk mengejarnya.
"WOI WOI WOI!!" Teriak Firman ketika masuk kedalam kelas hingga membuat seisi kelas langsung menuju kan pandangan nya ke Firman.
"Lihat ini, pacar si Momo!"
Mereka pun melihat Hp ku dan suasana pun menjadi ribut.
Terlebih lagi Sukma yang biasa buat onar di kelas yang langsung mendatangi aku untuk menanyakan kebenaran nya.
Dengan tenang aku menjelaskan hubungan ku dengan Dinda namun tidak banyak yang menerima kata kataku dan bahkan menganggap aku terlalu halu.
Andika Mirza pun langsung turut bicara.
"Aku kenal dengan perempuan ini, namanya Dinda."
"Kau kenal Dinda." Tanya ku serius.
"Ya dia dan keluarganya membeli rumah nenek ku." Jawab Mirza.
"Ini di luar nalar ku, kenapa aku tidak seberuntung kamu Momo!" Potong Eko sambil menepuk nepuk bahu ku.
"Iya, dari dulu aku ngincar Dinda tapi dia cuek terus." Sambung Mirza lagi.
"Ini pasti pelet." Sahut Sukma.
"Eh, kenapa sih kalian seheboh ini?" Jawabku.
"APA!, ini tuh berita besar!" teriak mereka serempak.
Aku pun terpaksa mengingat kan mereka dengan Festival sekolah dimana aku mengenal kan Dinda pada mereka.
Mereka pun terkejut karena kembali ingat dengan hal itu dan tak dapat lagi berkilah atau tidak percaya padaku karena aku sudah menunjukan bukti yang kuat.
Namun.
Aku tidak mengerti kenapa tapi, teman teman ku seperti tidak terima dengan apa yang aku miliki.
Apa semua laki laki seperti ini.
Dan semenjak itu mereka pun memberi julukan baru padaku yaitu Tuan penakluk bidadari atau Tuan Penari.
Dan hari hari ku mulai di panggil dengan sebutan yang aneh dan memalukan seperti itu.
Bahkan mereka tetap memanggil aku begitu saat di kantin dan di luar sekolah.
__ADS_1
Benar benar memalukan.
*****