Penantian Yang Tertunda

Penantian Yang Tertunda
PENANTIAN YANG TERTUNDA


__ADS_3

Bap. 4


Satu per satu menghadap Bapak Kiai untuk ngaji dan dibenarkan bacaannya kalau ada yang salah. Sekalian berjamaah shalat isya.


Suasana seperti inilah yang bisa menjadi penyembuh penantian Piah. Penantian apakah itu?


Penantian yang selalu membuat dia selalu merenung dan melamun di tempat yang jauh dari keramaian temannya.


“Piah, aku ke kamar dulu ya…”, sapa teman satu per satu meninggalkannya.


“Iya… Silakan…”, jawabnya ringan. Piah selalu biasa, santai dengan sikap teman-temannya, tapi dia selalu banyak pikiran dan tidak sering bercerita.

__ADS_1


Dia pun memanfaatkan waktu seperti ini untuk menjernihkan pikirannya dan bercerita kepada Bapak Kiai tentang masalah yang kadang dihadapinya. Dia senang bisa cerita dan tentunya selalu mendapatkan solusi dari Bapak Kiai.


Namun, kali ini berbeda. Ia diam saja sampai Bapak Kiai meninggalkan Mushala.


Ia hanya tersenyum ketika Bapak Kiai mengajaknya. Ini kali ia terdiam sendirian di Mushala.


Air matanya perlahan membasahi pipinya. Kerongkongannya terasa kering. Sesak di dada mulai membuncah.


“Ya Allah… Yang Maha Pemberi… Berikanlah hamba-Mu ini jodoh yang terbaik… Jodoh yang bisa menjadi imam hamba…


Ya Allah, Karti yang belum ingin menikah, sekarang sudah ada calon, lalu siapakah calon pendamping hidupku kelak???

__ADS_1


Aku butuh pangeran hatiku Ya Allah… Pertemukanlah aku dengannya segera”. *** “Kring… Kring… Kring…”, seperti biasa jam 03:00 WIB suara alarm Piah berbunyi meninggi. Ia membuka mata perlahan, disapunya kedua ujung mata dengan jari tengahnya yang lentik itu. Ia menatap atap tempat ia terlelap tadi. Alhamdulillah… Ungkapnya dalam hati kemudian berdoa sebelum ia beranjak dari tempat tidur dan mematikan alarmnya. Seperti yang sering ia lakukan, ia selalu mengambil air wudlu setelah bangun dari lelapnya. Ia pun shalat tahajjud di kamar yang masih tak ada bising sedikitpun. Usai shalat, ia tak kembali menikmati tidurnya lagi, tetapi ia melantunkan ayat-ayat suci sampai berlembar-lembar banyaknya kemudian tak lupa ia berdoa. Kemudian sampai subuh tiba, ia melanjutkan dengan mengkaji pelajaran untuk persiapan Ujian Nasional yang akan berlangsung 5 bulan lagi. Suara kokokan ayam mulai terdengar bersahutan, fajar mulai menyingsing. Matahari mulai menampakkan diri dari arah timur. Penghuni rumah sibuk dengan aktivitasnya masing-masing, begitu pula dengan Piah. Inilah hari pertama di awal pekan, mereka harus segera ke sekolah untuk mengikuti rutinitas yang tak asing lagi di hari ini. Upacara bendera dilaksanakan. Semua murid khidmad mengikuti, termasuk Karti yang berdiri di sebelah kiri Piah karena mereka adalah teman sekelas di jurusan Bahasa. Upacara selesai, semua murid memasuki kelas masing-masing.


“Pi, aku mau minta tolong kamu, boleh nggak?


”, tanya Karti setelah sampai di depan kelas. “Bilang aja, nggak usah malu-malu gitu lah”, jawab Piah sambil memegangi jilbab sebahunya yang tertiup angin. Karti masih pikir panjang sebelum mengutarakan maksudnya kemudian mengajak Piah duduk di teras. Mereka terlihat serius ketika bercakap-cakap. Sampai akhirnya Karti meminta kepastian dari gadis yang duduk di sebelahnya itu. “Bagaimana, Pi? Kalau bisa, aku akan mengabarinya saat ini juga. Nanti sepulang sekolah, aku akan menyuruhnya menunggu di taman sekolah. Aku akan menemani kalian…” “Hmmm… Aku bingung”, ungkap Piah sambil menutupkan kedua tangan di wajahnya. Dia berpikir agak lama sampai dikagetkan oleh satu kali bunyi bel pertanda mulainya jam pelajaran. Keduanya beranjak dari duduknya, Karti melihat ke arah Piah mengharap kesediaannya.


“Bolehlah…”, jawab Piah tiba-tiba mengagetkan sahabatnya. Mendengar jawaban dari mulut gadis berbibir mungil itu, wajah Karti seperti terkena sinar matahari yang begitu terang. Bel sekolah telah berbunyi sampi tiga kali pertanda waktu pulang, bagi kelas X dan XI tentunya karena kelas XII masih ada tambahan pelajaran. Kedua sahabat itu langsung berlari menuju Mushala untuk melaksanakan kewajibannya, kemudian berjalan pelan ke taman sekolah yang berada di depan dekat lapangan tennis. Piah duduk di kursi taman dengan hati yang penuh dengan debaran dan tak pernah berhenti menggerakkan jemarinya, Karti hanya tersenyum melihat kegelisahan sahabatnya. Dua menit kemudian yang ditunggu-tunggu datang juga. Piah tak berani bergerak, sosok yang masih asing baginya mendekat. Mata keduanya bertatapan tanpa disengaja, lalu Piah pun agak menunduk, malu. Wajahnya memerah. “Pi, kenalkan, ini saudaraku yang dari Kota Jenang itu”, jelas Karti datar dengan tersenyum. “Perkenalkan, aku Heru, anak Kudus”.


“Salam kenal, aku Piah, anak Pati asli”. Mereka pun berbicara seperti layaknya sahabat karib yang sudah lama tak bertemu, terlihat begitu akrab. Karti melihat jam tangan yang dikenakannya, waktu menunjukkan jam 13.55 WIB. Dia pun bertuturkata,


“Her, udahan dulu ya, sudah jam segini, kami ada tambahan jam, sebentar lagi masuk”. Sebelum berpisah terdengar jelas di telinga Piah ketika Heru berkata, “Terimakasih, senang bisa mengenalmu”.

__ADS_1


Piah hanya tersenyum. Heru pergi, keduanya pun bergegas meninggalkan taman menuju kelas. Mereka berlari melewati aula, laboratorium bahasa, dan perpustakaan. Sampailah di pertigaan lorong kelas, mereka berbelok ke kanan menuju ruang kelas. Belum sampai di kelas, bel sudah berbunyi. Mereka menghentikan langkah lari kemudian berjalan melihat guru yang tengah berjalan pelan. Ketika tambahan jam, Piah terlihat begitu ceria dari aura di wajahnya, bersinar, terlihat jelas bahwa hatinya sedang berbunga-bunga. Usai tambahan jam, seperti biasa Piah dan Karti menuju ke Parkiran, mengambil sepeda mininya. Ya. Setiap hari mereka mengayuh sepeda ke Sekolah tanpa rasa malu. 


__ADS_2