Penantian Yang Tertunda

Penantian Yang Tertunda
Arti nama


__ADS_3

Selamat pagi semua, ini adalah pagi yang menyebalkan.


Mata ku terasa panas dan kepala ku pusing akibat Peristiwa tadi malam.


Tidak tidur semalaman membuat badanku terasa sakit dan juga lemas.


Ini akibat suara gamelan yang terdengar sampai pagi itu membuat aku sulit tertidur karena suaranya akan semakin kuat jika aku memejamkan mata dan juga aura mistis nya yang membuat bulu kuduk berdiri terus.


Untung saja saat ini aku belum masuk sekolah, jika tidak ini pasti akan sangat menggangu.


Saat ini aku masih saja berbaring lemas di tempat tidurku.


Rasa mual dan pusing juga mengantuk menjadikan aku sulit bergerak.


Hal itu membuat ibuku menjadi khawatir akan keadaan pisik ku dan juga mental ku.


Karena waktu aku masih kecil dahulu, aku juga pernah hilang dari rumah nenek ku.


Kejadian itu sekitar jam 12 tengah malam.


Saat itu kami sekeluarga menginap di sana karena ada acara keluarga.


Saat itu umurku masih 2 tahun 4 bulan.


Awal mula aku hilang dari rumah karena saat itu aku sedang sakit perut, sedangkan WC milik kakek ku berada jauh di belakang rumah.


Tempatnya sangat gelap dan di kelilingi pohon kuwini.


Jaman dulu WC memang kebanyakan seperti itu jauh dari rumah dan juga bentuknya hanya sebatang kayu juga di tutup dengan terpal hitam.


Aku terbangun dan mencoba menahan sakit perutku sambil mencoba membangunkan sepupu ku Steven.


Namun iya tak mau karena takut, begitu juga pamanku Irawan.


Aku mencoba membangunkan juga yang lain nya tapi hasilnya sama saja.


Akhirnya aku nekat pergi ke tempat itu sendirian saja tanpa teman dan hanya bermodalkan senter kecil.


Aku berjalan tanpa rasa takut sedikit pun, berjalan dan terus berjalan sambil menahan sakit perutku ini.


namun semakin aku melangkah tempat yang aku tuju semakin jauh dan rasanya perutku semakin sakit.


Aku pun lelah kemudian berhenti sejenak di sebuah pohon.


Tiba tiba tempat itu pun sudah berubah menjadi sebuah pasar dan banyak orang orang yang mendekatiku serta membawaku ke sebuah tempat.


Di ajak lah aku ke sebuah pohon besar yang di sana ada sebuah ayunan.


Mereka menaruh aku di atas ayunan dan mengayun ku dengan seksama sambil menyanyikan lagu Jawa yang tidak aku mengerti.

__ADS_1


Saat itu aku pun tak bisa berbuat apa-apa dan hanya mengikuti apa yang mereka lakukan.


Rasanya menyenangkan berada di tempat itu, terlebih lagi mereka sangat baik dan ramah kepadaku.


Aku di beri buah buahan dan juga makanan yang banyak bahkan juga di kalungin karangan bunga yang harumnya sangat enak.


Tak beberapa lama aku merasa lapar dan ingin memakan buah yang mereka berikan, namun tiba tiba seseorang memukul tanganku dan buah itu pun terjatuh.


Aku pun sontak menatap orang tersebut yang tampak seperti aku, sangat mirip sekali. namun ia memiliki dua tanduk di kepalanya.


Ia menggenggam tanganku erat hingga aku merasa kesakitan.


Aku menjerit namun tak ada yang menolong diriku, orang orang di sana nampak tertunduk ketakutan kepada orang ini.


Hingga suasana tempat ini mulai berubah, yang tadinya terang perlahan lahan menjadi gelap, begitu gelap hingga aku tak dapat melihat apapun.


Yang kurasakan hanyalah genggaman tangan orang ini dan rasa dingin.


Tiba tiba aku sudah berada di bawah pohon besar yang sangat besar sekali.


Samar samar terdengar suara panggilan ibuku, ayah, kakek dan orang orang yang mencari ku.


Seseorang itu masih menggenggam tangan ku namun kali ini ia tersenyum sedangkan aku hanya melihatnya dengan tatapan kosong.


Kami hanya saling melihat namun tak sepatah katapun terucap di antara kami.


Mereka berdialog sebentar dan orang itu tertawa sangat keras dan melepaskan genggaman nya.


Ia pun mengusap rambutku dan berbalik, sedang aku terus menatap nya.


Seketika ia menjadi bayangan hitam yang sangat tinggi dan tiba tiba ia menghilang.


Aku pun terkejut karena ia menghilang dengan sangat cepat.


Aku dengan reflek menoleh ke arah kakek ku namun ia juga sudah menghilang entah kemana.


Tinggal lah aku seorang diri, berdiri diam tak tahu harus kemana.


Suara panggilan yang menyebut namaku semakin terdengar keras dan benar saja suara panggilan itu adalah teriakan orang tua ku dan juga orang orang yang mencari ku.


Ibuku langsung memelukku erat ketika menemukan aku di tempat itu sedangkan aku justru terkejut dengan reaksi mereka yang nampak panik.


"Ini kenapa rame rame?" Tanyaku bingung.


"Kau dari mana aja sih, mamak sama bapak khawatir nyariin kau." Ucap ibuku yang saat itu juga menangis karena mencari aku.


03:14 pagi, aku tak menyangka jika aku sudah pergi selama itu.


Yang aku ingat aku hanya pergi sekitar setengah jam, namun nyatanya aku pergi sudah sampai 3 jam lamanya.

__ADS_1


Pantas saja banyak yang mencari ku.


**


Itulah yang aku ingat saat itu selebihnya aku lupa apa yang terjadi.


Mungkin karena itu ibuku begitu khawatir, ia takut aku hilang dan tak kembali.


Bahkan ibuku melarang ku untuk memancing di belakang rumah lagi, bukan hanya di belang tapi aku tak di izinkan untuk memancing lagi mungkin untuk waktu yang lumayan lama.


Oh iya sejak kejadian itu kakek memberi nama baru untuk ku dan itulah alasan aku di panggil Momo karena Momo bukanlah namaku.


Tak apa aku senang jika di panggil dengan sebutan Momo karena terdengar unik dan jarang ada nama seperti itu.


Waktu pun beranjak siang di mana matahari sudah berada tepat di atas kepala.


Hari yang terik pun membakar bunga bunga di halaman rumah ku.


Mereka tampak layu seperti aku yang kehilangan mu, iya kamu Dinda.


Memandang photo mu di Hp ini membuat rinduku semakin mendidih.


Kira kira sedang apa kau di sana pikirku.


Lantas aku mencoba menelpon mu dan ternyata panggilan itu masuk, namun tak ada jawaban.


"Sedang apa kau sebenarnya dan kenapa kau tak mengangkat telpon ku ini." Pikirku.


Dalam hati aku berpikir mungkin memang Dinda tak mau aku ganggu lagi.


"ya! mungkin selama ini aku menggangu hidupnya karena itu dia pergi."


"Sekarang aku harus pergi agar tak menjadi benalu di hidupnya."


Memikirkan Dinda membuat aku sedih, karena aku begitu menyukai dirinya.


Walaupun hanya sekejap mengenalnya namun perasaan ini benar benar menyiksaku.


Aku tau dan juga yakin bahwa ia banyak yang menyukai namun aku merasa mampu memilikinya sekarang.


Aku merasa ia milikku dan tak akan ku biarkan di ambil orang, mungkin itu egois namun aku sungguh tak ingin kehilangan dirinya.


Suara dering terdengar dan getaran Hp ku membuat ponsel ini bergerak.


Aku yang tak punya semangat mengambil ponsel itu tanpa melihat dan saat itu juga.


******


Bersambung😋

__ADS_1


__ADS_2