
Tempat macam apa ini, gelap sekali.
Kenapa gelap sekali, aku tak bisa melihat apapun.
Aku melangkah di dalam kegelapan itu dan beberapa kali terjatuh.
Aku mulai takut.
Aku berulang kali memanggil Ibu dan Ayah ku..
Mak....!!!
Mamaaaakk!
Bapak!!
Namun tak ada satupun suara yang terdengar menyambut ku.
Tempat ini begitu gelap.
Aku terus berjalan, walaupun aku begitu ketakutan.
Aku terus melangkah lurus kedepan.
Air mataku pun mengalir karena takutnya akan tempat yang gelap ini.
Dan berulang kali aku terjatuh.
Apa orang orang di sekolah membuang ku ke jurang, atau aku sudah mati dan masuk ke kuburan.
tempat ini gelap sekali, gelap sekali.
Siapapun tolong aku.
"Kamu kenapa?" ucap seseorang dari belakang ku.
Suara itu begitu lembut, dan seperti nya aku mengenali suara itu.
"Dinda" jawabku sambil berbalik arah.
"Wah kau bisa mengenali meski hanya mendengar suara saja" ucapnya.
"Dinda kamu di mana?".
"Aku di sini, tepat di depan mu".
"Dinda".
"Ayo, maju dua langkah saja" ucap nya menunjukkan posisi ia berada.
Aku pun melangkah secara pelan pelan dan ia pun langsung merangkul ku.
Saat itu langit pun langsung terbuka, cahaya pun muncul.
Tempat yang awalnya gelap berubah menjadi terang.
"Selamat datang Momo" ucap Dinda.
"Tempat apa ini?" tanya ku bingung.
"Ini adalah tempat tinggalku" ucapnya lagi.
Aku pun terdiam melihatnya, ada rasa kesal dan juga rindu yang dalam.
Tanpa berpikir panjang aku pun langsung memeluknya, memeluk begitu erat.
"Kamu kemana aja sih"
"Maaf Momo"
"Aku kesepian tau"
"Aku juga, aku juga kehilangan dirimu".
"Kau lah yang pergi entah kemana"
"Maaf!".
Kami pun melepas rindu dengan pelukan yang hangat dan saat itu Dinda menagis.
__ADS_1
"Kau harus pulang, ini bukan tempat mu!".
"Kau juga" jawabku.
"Tidak, aku tidak bisa!" ucap nya.
"Aku tidak akan pergi tanpa mu".
Ia pun langsung mendorong tubuhku dengan kuat, hingga aku terlempar jauh.
Aku pun seperti terjatuh dan terombang ambing hingga aku tersadar.
Ini hanya mimpi.
Ini hanyalah sebuah mimpi, mimpi yang menyeramkan, aku terbangun di malam itu dan termenung.
Mimpi macam apa itu, dan kenapa Dinda tinggal di tempat seperti itu.
Aku merindukan dirinya, sangat sangat rindu.
Aku pun melihat sekeliling ku, terlihat Ibu dan adik ku tidur di lantai, dan tempat ini begitu asing.
Ruangan yang dingin dan juga baunya tak sedap.
Ada tabung oksigen, dan ada yang tertancap di tangan kiriku, sepertinya ini infus.
"Apa ini yang namanya rumah sakit"
"Sudah berapa lama aku di sini" ucapku bingung.
Sepertinya aku pingsan dan orang orang membawaku ke rumah sakit.
Apa yang terjadi sebenarnya, apa aku tadi hampir mati dan di bawa kerumah sakit.
Kalau begitu aku berhutang kepada Dinda, karena ia datang dan menolong diriku.
Tapi bagaimana ia bisa ada di tempat menyeramkan itu.
"Abang udah bangun" ucap adik ku.
"Murni, udah nih tapi kok aku gak bisa gerak ya!" jawabku pada adik bungsu ku.
"Ya jangan bangun dulu" jawabnya.
"Kau lapar apa gak?" ucapnya pelan, terlihat matanya sayup nampak seperti habis menangis.
"Enggak Mak"
"Makan dulu sini, dikit aja biar perutmu gak kosong" ucapnya.
Aku pun menurutinya dan ia pun mulai menyuapiku.
"Mamak gak marah?" ucapku.
"Enggak!" jawabnya dan air matanya pun langsung menetes.
"Mamak kok nangis!, maafin aku ya Mak".
"Iya mamak gak apa apa kok" jawabnya sambil menyuapiku.
Maafkan aku Ibuku, aku membuatmu khawatir dan mungkin juga membuatmu kecewa.
Aku hilang kendali dan menjadi gila, entah mengapa begitu.
Aku merasa bukan diriku saat itu aku merasa seperti orang lain.
Tapi aku berjanji aku tak akan lagi berbuat begini, aku gak akan membuat khawatir lagi.
Setelah selesai makan, aku pun kembali tertidur, dan ibu serta adik ku juga kembali tidur.
Namun sebenarnya aku hanya pura pura tidur saja.
Aku membuka mataku lagi dan berpikir sejenak, aku terbayang kejadian siang itu.
Serta bingung kenapa Ibrahim begitu membenciku, padahal aku tak pernah berbuat jahat padanya.
Mungkin ini akhir karir ku di sekolah, dengan kejadian itu aku pasti langsung di keluarkan dari sekolah dan hal ini akan membuat Ibuku sedih.
Aku benar benar mengecewakan nya.
__ADS_1
Andaikan ia tahu bahwa aku lah korban nya, pasti ia tak akan begitu kecewa.
Namun apalah dayaku aku hanyalah seorang bocah ingusan yang tak mampu menjelaskan situasi dan juga membela diri.
"Belum tidur?" ucap ayahku tiba tiba.
"Eh bapak"
Ia pun langsung mendekat dan duduk di sebelah ku, ia mengusap keningku dan tampak nya ia berbeda dari ibuku, ia tampak bahagia.
"Yang kau lakukan itu baru hebat, itu baru anak ku" ucapnya sambil mengelus elus keningku.
"Bapak gak marah?"
"Enggak lah, malahan bapak bangga sama kamu" ucap Ayahku tersenyum.
Aku pun terheran heran dengan ucapan ayahku, tapi ada rasa senang dengan apa yang ia katakan.
Benar benar ayah yang aku harapkan.
**
Ya waktu pun berlalu, saat ini aku telah berada di rumah setelah 2 hari berada di rumah sakit.
Ternyata ada memar di dada ku hinggat terjadi pembekuan di bagian dada.
Hingga pernapasan ku pun terganggu.
Hal itulah yang menyebabkan aku pingsan.
Sangat sulit untuk mengingat kejadian itu, itu terjadi begitu saja.
"Kenapa gak mandi, emang kamu gak sekolah" ucap ibuku.
"Apa aku masih boleh sekolah" jawabku.
"Masih, kan bukan Abang yang mulai perkelahian itu" sambut adik ku.
"Kok kamu tau?"
"Kami udah nonton videonya" ucapnya lagi.
"Video apa?" tanyaku.
"Udahlah bahas nanti aja, sekarang mandi terus sarapan" ucap Ibuku.
Aku pun melakukan perintahnya dan pergi ke sekolah, namun aku tak berjalan seperti biasa.
Ayahku menyuruh Andi untuk mengantarkan aku, ya sebenarnya kami memang sejalan, karena Andi sekolah di luar.
Di jalan Andi banyak bertanya, masalah Ibrahim bahkan masalah Dinda.
Namun aku hanya termenung.
Aku tak bisa cerita tentang Dinda, dia hilang entah kemana.
Aku sedih mendengar Andi bercerita tentang Dinda, atau memujiku tentang bagaimana Dinda memilih dan menyukai aku.
Karena hal itu seperti omong kosong sekarang, Dinda pergi saat dimana kami akan memulai hubungan.
Dan ia meninggal kan aku tanpa penjelasan.
Di perlakukan seperti ini sangat menyakitkan.
Aku tak lagi bertanya kabarnya, karena memang tak ada jawaban darinya.
Namun ada rasa lega ketika aku bertemu dia di dalam mimpi, aku memeluk nya dan itu terasa hangat sekali, seperti nyata.
Rinduku terobati sejenak namun muncul rasa rindu baru dan terus bertambah setiap detiknya.
Hugghh...!
kembali ke sekolah ini terasa sangat menyebalkan.
Entah apa yang merasuki mereka, hingga mereka tak lagi dekat denganku.
Ya kalian tau kan maksutku, para gadis tentunya.
Mereka seperti takut padaku.
__ADS_1
Ini aneh dan juga menyebalkan.
*****