
Ketika kamu bangun di pagi hari, pikirkanlah hal apa yang istimewa untuk, untuk bernafas, berpikir, menikmati dan mencintai.
Hidup lah dengan penuh harapan, karena harapan itu adalah matahari.
Matahari tetap terbit meskipun awan gelap menyelimuti, meskipun mendung dan hujan turun namun matahari tetap terbit.
Mungkin kau tak melihatnya karena awan mendung menutup rapat wujudnya.
Namun kau tak pernah sadar bahwa cahaya nya masih bersama mu.
Pagi yang mendung, rintik rintik hujan pun mewarnai pagi yang dingin ini, kabut yang menyelimuti jalanan pun terasa seperti awan yang jatuh dari langit.
Aku selalu bangun setiap pagi, dan hari itu akan jadi hari yang hebat.
Karena, engkau tak akan pernah tahu kapan harimu berakhir, maka bersyukurlah.
Langkah demi langkah terasa sangat nikmat, ku putar musik dan Headset di telinga.
Berjalan menikmati pagi.
Berjalan menjauhi segala hal negatif yang muncul di dekatku, contohnya Zakia.
Ya akan ku anggap ia hal negatif agar aku lepas darinya tapi jujur aku tak membencinya.
Aku hanya berusaha untuk tak mengganggu hidupnya lagi.
Mungkin juga dia menganggap ku sebagai hal negatif makanya ia menjauhiku.
Poto Dinda masih menjadi wallpaper di Hpku, karena aku masih menunggunya.
Tidak tidak, bukan menunggu tapi lebih tepatnya aku mengharapkan nya datang dan memberiku penjelasan.
Memberi kepastian dan bahkan harapan.
Kelas ini terasa sunyi meskipun begitu banyak orang.
Rumahku juga terasa kosong.
Terasa ada lubang di hati.
Aku sendiri, merasakan ruang yang makin menyempit dan menghimpit.
Tak ada penjelasan, tak ada kabar, tak ada kepastian.
Semua hal itu membuat aku sakit.
Aku sakit mengharapkan mu, sakit melupakan mu, dan sakit memikirkan ini.
Kembalilah dan temui aku, lalu tinggalkan jika kau memang tak mau.
Berikan kan biarkan aku bebas, agar aku bisa kembali terbang meski sayap ku telah patah.
"Momo sedang apa?" ucap Selvi yang tiba-tiba mendatangi aku.
"Tidak, hanya sedang melamun" jawabku tanpa menoleh.
"Momo, mau poto ku gak" ucapnya menyodorkan Hp.
"Poto mu, aku?"
Selvi apa yang sebenarnya kau pikirkan, apa kau benar benar ingin memberikan aku hatimu, seperti kata kata canda mu.
Aku harus jujur jika sesungguhnya kau orang yang paling baik di sekolah ini, juga sangat nyaman di dekatmu.
Namun aku tak bisa memberi ruang lagi, karena hatiku di penuhi dengan seseorang.
Seseorang yang sekarang aku tak tau ia di mana.
"Ya buat kenang kenangan, karena abis ini kita bakalan beda sekolah" ucapnya, tampak ada rasa sedih di wajahnya.
Aku pun mengangkat Hpku dan meletakan di meja agar ia bisa mengirim Potonya.
Namun ia terdiam sejenak melihat wallpaper di Hp ku.
Tak berapa lama ia pun mengambil dan membuka WhatsApp dan mengirimkan Potonya lewat chat.
"Photo mu mana?" tanya selvi.
"Aku belum punya, maksudku aku belum pernah berphoto dengan ponsel ini" jawabku.
"Yaudah deh, aku tinggal dulu ya, terima kasih Momo" jawabnya lalu ia keluar dari ruangan dan masuk beberapa notifikasi di Hp.
Nomor baru pun muncul dengan beberapa pesan singkat.
Selvi ternyata kau mengincar nomorku dengan cara mengirim photo mu.
Sangat aneh, tapi lucu juga.
Berbeda sekali dengan Dede, Irma dan Ayu yang terang terangan meminta nomorku.
Ia melakukan nya dengan sangat bagus, dengan begini ia tak perlu meminta nomor telepon, tapi bukankah tak baik juga memberikan photo pada seseorang yang bukan siapa siapa mu kan.
__ADS_1
Ah aku tak perlu ambil pusing soal ini.
Selviah dan DEDE Andiani
**
Setiap hari kami menghadapi les setiap pulang sekolah, dan itu terus di lakukan sampai ujian UN di adakan.
Membosankan, jenuh dan lapar.
Apalagi sekarang di kelas ini ada tambahan duo bucin yaitu Final dan Eka yang setiap les mereka pacaran di kelas.
Aku sih tak punya masalah dengan pacaran mereka, tapi aku tak tahan dengan lebay nya tingkah mereka.
**
Sore hari aku pulang dari sekolah bersama dengan teman teman berjalan kaki.
Menyenangkan juga bicara dengan mereka, teman teman yang sebentar lagi akan berpisah dari lingkungan ini.
Ya kami tak akan bisa berjalan bersama karena akan sibuk di sekolahnya masing-masing.
Mendapatkan tugas baru, teman baru dan tempat yang berbeda dari sebelumnya.
Aku senang mengenal kalian.
Jika nanti bertemu lagi di jalan, tolong sapa aku.
Tetap lah ramah dan anggaplah aku teman kalian.
Karena aku juga akan begitu.
"Wah, aku udah sampai nih, duluan ya" ucap ku kepada mereka.
Mereka pun menjawab serempak "Iya" kemudian melambaikan tangan.
**
Malam pun tiba, saat ini aku dan Andi akan melihat pertunjukan di dekat sekolah, karena ada seseorang yang mempestakan anaknya, atau lebih tepatnya menyedikan hiburan di pernikahan anaknya yaitu pertunjukan jarkep.
Sebenarnya aku tidak suka jarkep namun aku bosan berada di rumah terus dan menatap photo Dinda di dinding ku.
Jarkep singkatan dari kata Jarang Kepang adalah tradisi budaya Jawa.
Pertunjukan nya adalah tarian Jawa namun penari nya di rasuki oleh ruh halus atau sebangsa setan.
Sebagian orang percaya tapi banyak juga yang tak percaya seperti aku.
Tak lupa aku membeli kacang rebus agar lebih jos menonton pertunjukan ini.
"Hoy, lagi pa nih!" ucap seseorang mengejutkan kami dari belakang.
"Kau ini siapa?" tanyaku padanya.
Goblok, ini kan Selviah" ucap Andi padaku.
"Loh beneran" tanyaku serius.
"Masa Momo gak mengenali wajah umurku" ucap Selvi.
"Enggak, di sini kan gelap"
"Iya, ngomong ngomong kamu sama siapa" tambah Andi.
"Sama temen tuh" ucap Selvi menunjuk ke arah teman nya.
Andi pun mengambil kesempatan untuk berkenalan dengan teman teman Selviah sedang kan aku tak perduli dengan apapun yang mereka lakukan.
Bukan aku sombong, aku memang tidak terbiasa mendekati wanita yang baru aku temui dan aku juga tidak pandai berkata kata atau bercanda tawa seperti Andi.
Aku memang bodoh, ya memang seperti inilah aku.
Karena tak terbiasa dengan tontonan seperti ini, aku pun langsung bosan dan memutuskan untuk pergi ke sekolah untuk duduk duduk di teras.
Sedangkan Andi sibuk dengan wanita-wanita itu, Andi tampak sangat senang dan menikmati malam ini.
Biarlah biarkan ia menikmati keindahan hidup yang ia dapatkan, sedang aku akan meratapi Dinda ku.
"Momo memang suka menyendiri ya?"
"Selvi, ah enggak, aku cuma gak suka jarkep" jawabku.
"Oh, aku juga".
"Lalu kenapa kau kesini, nyari cowok ya"
"Aku emang Nuri cowok, dan sudah ku dapatkan sekarang".
"Waw, lalu kenapa kau gak kenalkan kepadaku?" ucapku.
Ia pun lantas mencubit lenganku dan nampak marah,
__ADS_1
"Ampun deh aku lihat kamu".
"Kenapa aku lagi sih, aku salah apa?"
"Cowok yang aku maksud itu ya kamu" ucap Selvi dengan tegas.
"Oh no, kau gak boleh mencari ku".
"Oh ya, memangnya kenapa?" jawabnya tengil.
"Aku hanya akan menyakitimu, kau kan sedih jika bersamaku dan senyuman indah mu akan hilang" jawabku.
Ia pun berhenti tersenyum, menundukkan wajahnya seakan kehilangan semangat.
Cukup lama ia terdiam, dan aku juga diam di sebelahnya sambil memainkan Hp ku.
Hingga suara teriakan memekak kan telinga terdengar di belakang sekolah.
Aku dan Selvi pun spontan bangkit dan menuju tempat itu.
Andi juga sudah berada di tempat itu bersama Madi dan Rizky.
"Siapa yang berantem tuh?!" tanyaku.
"Final dan abangnya Eka" sahut Madi tenang.
"Kok kalian diam aja!".
"Dih males banget bantuin orang sok kuat kayak final" ucap Rizky.
Aku pun tanpa pikir panjang bergegas mendatangi mereka.
Namun Selvi dan Andi mencegahku, Madi juga melarang aku ke sana.
Namun aku tak perduli, aku tetap berlari menuju tempat itu dan membantu Final.
Madi pin akhirnya ikut membantu karena melihat aku , begitu juga Andi yang ikut melerai perkelahian itu.
Final nampak babak belur di hajar oleh 2 orang sedang Eka nampak menangis di kursi kayu.
Perkelahian itu pun mengundang banyak orang.
Mereka yang penasaran pun ramai mengerumuni tempat itu.
Sedang Final nampak kacau, bajunya banyak yang sobek.
Mungkin ia di tarik tarik oleh mereka berdua.
Usut punya usut perkelahian bermula karena Eka menangis akibat *********** di remas oleh Final dan lebih parahnya Final sampai membuka paksa baju Eka.
Hal itu lah pemicu kejadian ini.
Lantas siapa yang melaporkan ini kepada abangnya Eka.
Tidak mungkin mereka bisa tau tanpa ada yang memberi tau.
Amarah Abang dan teman abangnya Eka mulai mereda, sedangkan Final di antar kan kerumahnya oleh Andi.
Abangnya Eka juga berterima kasih padaku karena melerai perkelahian itu.
Ya aku juga meminta maaf atas perlakuan Final sebagai sahabat masa kecilnya, meski di tolak aku tetap meminta maaf.
Ia pun memuji ku karena menurutnya aku anak yang sopan dan juga baik, namun setelah ia bertanya Mamuju dan aku menjawab nya, emosinya pun kembali meledak.
Ia dengan spontan menedang ku hingga aku tersungkur.
Aku yang bingung, berusaha bangkit dan melindungi diri.
"AN***G KAU" ucapnya dan kata kata kotor lain nya.
Ia berusaha menyerang ku, namun aku dengan mudah menangkisnya.
Pukulan nya tak berirama dan tak tentu arah, ini lebih mudah di tangkis ketimbang pukulan Ibrahim yang lurus dan pasti.
Namun ia tetap mencoba memukul ku hingga Anita dan juga Dewi berteriak.
"BANG, DIA ORANG BAIK!".
Dan tentu saja orang orang di sekitar menangkap dan menghentikan nya.
Anita pun menjelaskan bahwa Aku tak pernah menggangu Eka, malah gara gara Eka aku di keluarkan dari sekolah, itu pun juga atas hasutan Final.
Kami pun tercengang dengan pernyataan itu.
Kami baru tau dalang di balik semua ini, Final ternyata yang merencanakan ini, termasuk juga menghasut pak Ibrahim.
Ini terdengar konyol dan tidak masuk akal, tapi pernyataan Anita nampak sangat jelas.
Selviah, Madi, Rizky pun yakin akan kata kata Anita.
Namun timbul sebuah pertanyaan besar di benak ku.
Untuk apa Final melakukan ini.
__ADS_1
*****