
Senangnya bisa sekolah di sini, apalagi semenjak festival itu aku jadi sedikit lebih terkenal.
Banyak kakak kelasku yang mengajak aku menjadi anggota bandnya.
Para gadis pun jadi banyak yang kirim salam padaku.
Ya bagi yang tidak melihat aku bersama Dinda, yang lihat sih gak mau kirim salam.
Mungkin minder, atau kalah cantik hehehe ๐๐.
Yang paling kepo sih teman teman sekelas ku.
Mereka terus saja memuji aku karena tampil memukau di festival itu dan juga pacar ku yang amat cantik.
Dunia sedang berpihak padaku.
Semua berjalan sangat lancar hingga suatu hari terjadi sesuatu yang aneh.
Sangat aneh dan juga mengerikan.
Jadi suatu malam Minggu Dinda mengajak aku untuk main sepeda di tanjung balai tepatnya di Lapangan Pasir atau lebih di kenal Lapas.
Di sana sepeda di hias dengan lampu warna warni dan memiliki bentuk yang unik hingga asik di kendarai bersama kekasih.
Rasanya asik dan menyenangkan.
Jika kalian punya drone maka akan terlihat seperti ini suasana dari atas.
Begitu cantik dan penuh kerlap Kerlip lampu yang indah.
Kebetulan sekali Dinda punya drone dan sudah berulang kali ia mengajari aku bermain drone itu jadi aku bisa mengambil photo lapangan pasir dari atas.
Kami sampai sekitar jam 20 dan parkir di sekitaran ujung dekat hotel besar.
Setelah itu kami masuk dari bagian belakang.
Dinda juga hari ini cantik sekali, tidak tidak dia selalu cantik setiap saat dan hari ini cantiknya bertambah dari 1jt persen menjadi 2jt persen๐.
Aku bahagia sekali malam ini.
Aku rasa di manapun berada jika bersama Dinda aku selalu bahagia.
Selalu bahagia.
Bukan cuma hari ini tapi setiap saat.
Kami pun menghampiri tukang sewa sepeda listrik yang penuh pernak pernik lampu dan menyewanya untuk di bawa berkeliling tempat ini.
Aku sebagai supir dan Dinda sebagai penumpang nya.
Oh iya hampir lupa, kami tidak berangkat berdua tapi juga bersama teman teman yang lain.
Mungkin ini di sebut kencan ganda.
Suasana yang ramai pun tidak menjadi penghambat bagi kami namun sebaliknya membuat semangat kami semakin tinggi.
Pasalnya banyak sekali orang yang naik sepeda maupun becak dan warna kelap kelip di sepanjang jalan pun semakin mewarnai tempat ini.
Mungkin ini tidak seluas alun alun kisaran tapi tempat ini lebih terasa menyenangkan.
Setelah lelah bermain sepeda kami pun berjalan kearah kerang raksasa yang biasa di gunakan sebagai panggung konser.
Dan di balik panggung kerang tersebut terdapat banyak sekali penjual es kelapa muda, nasi goreng, mie goreng juga sate Padang.
__ADS_1
Sebenarnya banyak lagi bahkan hampir semua ada di tempat ini.
masakan nya juga lumayan enak.
seperti biasa aku selalu memesan sate Padang sebanyak 15rb sedang Dinda membeli 25rb sate kacang tanpa lontong.
Dan Es kenapa muda menjadi minuman paling favorit untuk menyempurnakan malam ini.
Tidak abdol rasanya ke tanjung balai tanpa minum air kelapa muda.
Makanan disini sangat enak meskipun tempatnya kurang bagus.
Terkadang juga sering sekali datang anak Funk mengamen.
Bukan menghina mereka tapi kami sangat tidak nyaman dengan kehadiran anak anak funk yang mengamen deng gitar kroncing dan suara yang tidak teratur.
Kadang bahkan mereka memaksa untuk diberi uang.
Jika tidak di beri kerap sekali mereka marah pergi sambil berkata kasar.
Itu adalah hal paling tidak menyenangkan di tempat ini.
Anehnya jika kita memberi mereka uang maka akan ada teman yang akan datang dan mengamen lagi di tepat makan kami.
Mungkin karena teman yang dapat itu memberi tahu yang lainnya.
Jadi di sinilah kami duduk menikmati kerlap kerlip lampu terang.
Namun tiba-tiba Dinda seperti terengah-engah.
"Kamu kenapa?" tanyaku heran.
"Gak tahu nih." jawab nya "Belikan air mineral dong sayang."
Aku pun bergegas pergi mencari kedai penjual air mineral juga sekalian obat.
"Kamu baik baik aja kan?" tanyaku saat kembali.
"Kita pulang aja yuk, biar kamu istirahat." Ucapku mengajaknya.
"Gak mau, aku masih mau ke Titi patembo." Jawabnya.
Karena ini adalah keinginan nya akhirnya aku langsung mengajaknya pergi ke Titi patembo.
Di sana kita bisa melihat kapal kapal nelayan seperti pukat apung, pukat tarik dan yang lainnya.
Semua tersusun rapi dan di beri lapu penerangan.
Sehingga dari atas jembatan gantung ini terlihat indah.
Sungai nya juga luas seperti danau Toba.
Mungkin yang membedakan hanya iklim dan pemandangan.
Nama jembatan ini adalah Jembatan Tabayang.
Namun orang orang menyebutnya Titi Patembo, entah siapa yang memulai mengucap kata Patembo namun orang orang lebih mengenal nama itu ketimbang Jembatan Tabayang.
Bersyukur ku Dinda punya Drone dengan kualitas yang bagus sehingga kami dapat mengambil photo dari atas sini.
Dan beginilah jika kalian melihatnya dari atas dan di siang hari.
Air yang biasanya keruh di akibatkan hujan yang mengguyur wilayah ini. Karena semua wilayah Tanjung Balai air nya akan mengalir dan sampai di sini.
Oh iya saat ini kami sedang menikmati Es Pokat capuccino, Es dengan perpaduan antara Capuccino dan buah Pokat menghasilkan rasa yang unik dan menyegarkan.
__ADS_1
Mungkin jika kamu berkunjung ke sini harus coba minuman yang satu ini.
Terlihat Dinda mulai membaik, setelah duduk di pinggiran jembatan ini.
Mungkin benar ia hanya kelelahan.
Sambil minum Es ia bersandar di pundak ku.
Dan saat itu kami duduk menghadap sungai dan membelakangi jalanan.
Ya seperti berada di tempat wisata.
dari kejauhan nampak sebuah Vihara Tri Ratna dengan patung Buddha Jullai yang berdiri menghadap lautan.
Juga menambah cantik pemandangan sekitar apalagi di bawah sana ada patai amor yang tepat berada di depan Vihara tersebut.
Tunggu, ini kenapa aku malah menceritakan isi kota Tanjung balai.
"Bagaimana rasanya." Tanyaku sambil mengusapi rambutnya.
"Manis dan juga kental, cincau nya juga terasa." Jawabnya.
"Eh, maksud ku badan mu bagaimana rasanya." Ucapku menjelaskan maksud perkataan ku yang cemas.
"Kamu mau coba, katanya mau nunggu halal dulu!"
"Dinda, astaga naga godzila piranha! Maksud ku keadaan mu apa sudah membaik." Ucapku lebih jelas lagi.
Ia pun memeluk ku dan berbisik pelan. "Keadaan sih kosong, aman pokonya deh."
Aku pun mengerutkan dahiku dan heran sendiri.
Mengapa tiba tiba dia jadi sedikit aneh.
Mungkin karena minuman ini, atau memang dia selalu berpikir demikian.
"Ayuk pulang, nanti kita coba ya." Ucap nya genit.
Dengan sigap aku pun memukul kepalanya dan berkata. "Udah bercandanya, malu nanti di dengar orang."
Ia pun lantas tertawa dan naik ke atas motor.
Kami pun berjalan pulang menuju rumah sambil bercanda.
Membahas apa saja dari yang penting sampai tidak penting.
Bahkan aku berulang kali terbayang ucapan Dinda tentang mencoba dirumah.
Oh pikiran ku jadi kotor dan aku membayangkan hal itu terus.
Tiba tiba iya batuk batuk, yang aku kira awalnya hanya batuk biasa.
Namun rasanya aneh, jaketku seperti agak basah.
Apa dia muntah pikirku, jadi ku coba berhenti di pinggir jalan namun ia malah marah dan menyuruh aku untuk lanjut terus.
Bahkan aku belum menoleh kearahnya.
Suasana yang tadi riang pun berubah menjadi hening.
Meski aku berusaha terus bicara padanya namun ia tetap saja diam.
Ia memeluk ku dengan erat sembari berkata "Biarkan aku istirahat sejenak saja dan banguni aku jika sudah sampai ya!"
Hanya itu, lalu ia pun tertidur lelap sambil memeluk ku di atas motor ini.
Aku pun memegangi tangannya dan sedikit membungkuk kan tubuhku agar ia nyaman
__ADS_1
*****