
Aku pun telah sampai rumah dan juga sudah mengantarkan ia ke rumahnya.
Setelah masuk beberapa langkah adik ku mendatangi aku dan memberikan sebuah kotak hadiah.
Aku terkejut, ku pikir ada hadiah untuk ku atas prestasi yang aku dapat namun ternyata itu sebuah paket dari pihak kantor pos.
Di sana tertulis nama pengirim dan juga nama penerima yaitu aku.
Dinda memberikan sebuah hadiah.
Aku pun gembira, ia mengingat aku dan memberikan hadiah spesial untuk ku.
Aku pun langsung membawanya masuk ke dalam kamar dan memeluk kotak tersebut.
Aku tak perduli isinya yang terpenting bagiku itu adalah dari Dinda.
Aku pun menurunkan photo nya yang tergantung di dinding kamar dan mengajak photo itu meng unboxing paket tersebut seolah-olah sedang bersama Dinda.
Perlahan lahan paket itu ku buka dan terlihat sebuah kotak kayu yang jadi tempat kadonya di sana juga tertulis kata Dinda love Momo forever.
Senyuman ku pun melebar dan hatiku berbunga-bunga.
Cepat cepat aku membuka kotak itu karena penasaran dan mendapati sebuah surat di dalam nya dan hadiah seperti photo photo miliknya.
Sebuah jaket, jam tangan dan juga sepatu.
Ini hadiah yang berlebihan menurutku, karena aku belum pernah memberi hadiah sebanyak ini sekaligus.
Singkirkan semua hadiah dan fokuslah pada surat ini.
Perlahan lahan ku sobek penutup amplop itu dan ku dapati 3 lembar kertas yang berisi tulisan bertinta biru, sesuai warna kesukaan nya.
Di sana tertulis kata kata yang rapi dan juga tercium wangi seperti parfum favoritnya.
tertulis seperti ini
Dear My Hubby
Assalamualaikum wrwb.
Hallo Sayang..
Bandung dulu baru Jakarta..
Senyum dulu baru di baca..
Aku bingung mau tulis apa.
Oh iya yang pertama sekali pasti tulis rindu ini.
Aku kangen kamu, aku sulit tidur mikirin kamu terus.
Aku bahkan rindu saat kamu menggigit jariku.
**
Aku pun tersenyum dan mengingat kejadian itu di mana ada suatu malam ia begitu jahil hingga aku menariknya dan menggigit jarinya.
Bukan nya kesakitan ia malah justru membalas dengan menggigit pahaku.
Itu sangat bar-bar namun lucu sekali.
Aku pun lanjut membaca.
Apa kamu sudah makan, eh jangan lupa makan ya nanti sakit loh.
Kalau kamu sakit nanti siapa yang kerja untuk cari uang buat lamar aku hehehe..
__ADS_1
Oh iya aku juga mau minta maaf setengah tahun ini hilang kabar.
Kamu marah ya..
Aku ngaku salah, tapi aku jujur sebenarnya bukan karena sengaja tapi karena keadaan.
Ku harap kamu bisa ngerti dan memaafkan aku.
Aku sengaja kirim surat karena gak punya nomor kamu lagi.
Hp aku rusak dan baru beli sekarang.
Apa kamu sudah ganti Hp juga sekarang ini.
Tunggu dulu, kenapa aku tanya hal ini.
Jadi gini sayang..
Mungkin kita akan lebih lama lagi bertemu.
karena mungkin tahun kedepan baru aku kembali kesana atau tidak sama sekali.
Aku tidak punya pilihan.
Aku cuma seorang anak yang ikut arah kemana orang tuaku.
Bahkan bisa jadi aku gak bisa datang kesana lagi.
Karena ayah sudah gak ada kerjaan lagi di sana.
Kamu ngerti kan artinya.
Cobalah untuk mengerti keadaan ini.
Aku tidak memaksa kamu untuk setia aku hanya meminta pengertian mu.
Cobalah cari pengganti aku.
**
Aku pun menutup kertas itu dan termenung.
Kepalaku rasanya pusing karena Kata katanya yang ujungnya menyuruh aku melupakan dia.
Bagaimana cara nya.
Sejak pertama bertemu aku sudah berusaha melupakan tentangnya bahkan berusaha untuk tidak jatuh cinta.
Aku berusaha sekuat tenaga namun aku semakin terjebak dengan rasa itu di tambah lagi engkau memberikan aku harapan yang dalam hingga aku tenggelam di dalamnya.
Lalu setelah semua ini, semua hal yang kita jalani dan kenangan kenangan indah itu.
Bagaimana dengan mudah kau katakan untuk lupakan saja.
Apa semua ini tak ada artinya sama sekali.
Setahun hubungan ini apa tidak ada artinya.
***
Malam pun tiba, aku yang jenuh menghadapi perasaan ini mencoba untuk mencari berbagai cara agar setidaknya aku bisa sedikit melupakan dia.
Namun ternyata tak semudah yang kubayangkan semakin Aku berusaha melupakan aku semakin teringat dan itu sangat menyakitkan.
Rasanya aku ingin menangis tapi aku malu jika nanti dilihat orang.
Oh Tuhan ini sakit sekali, mengapa kau berikan aku derita seperti ini. Perlahan-lahan aku mencoba kembali membuka kotak itu dan melihat surat yang ia berikan karena aku baru membaca satu lembar dari isi surat itu.
__ADS_1
Namun rasanya sepertinya aku tidak sanggup hanya melihat saja sudah membuat aku ingin menangis.
Sumpah aku seperti lelaki yang sangat bodoh sekali, ya iya ini sangat memalukan.
Aku memberanikan diriku untuk kembali membuka isi surat itu dan mulai membacanya secara perlahan-lahan.
Namun aku tidak membaca surat yang kedua tapi membaca isi surat yang pertama yang aku baca tadi siang.
Kubaca berulang-ulang dan mencoba memahami makna yang dikatakan.
"Mungkin kamu boleh lupakan aku dan tinggalkan semua ini, cobalah cari pengganti aku." Begitulah yang ia katakan.
Setelah ku pahami, ia bukan ingin memutuskan aku tapi menyuruh aku mencari pengganti.
Tunggu dulu kenapa terasa aneh bagiku.
Awalnya aku rasa menyuruh aku mencari pengganti sama artinya menyuruh aku memutuskan hubungan ini.
Namun ternyata di kertas kedua tertulis kata kata lanjutan yang ia ungkapkan bahwa ia akan menunggu ku sampai mati dan tidak akan meninggalkan aku.
Lantas ia menyuruh aku cari yang lain untuk apa.
Pikiran bodoh macam apa itu!.
"Aku bukan ingin menyuruh mu mendua namun jika kamu kesepian dan tak kuat kamu boleh cari yang lain, namun jangan lupakan aku."
"Aku siap jika harus di duakan namun aku tidak bisa jika kamu lupakan."
"Karena aku, akan selalu mencintaimu seumur hidupku."
Itulah yang tertulis di lembar kertas yang kedua.
Dan di lembar terakhir ada kata telpon aku dan ia memberikan nomor baru.
Aku pun langsung bingung apakah harus senang atau sedih.
Dan mengapa aku menangis.
Astaga ini bodoh sekali, ternyata ia tidak meninggalkan aku namun ia memberikan aku kebebasan dan kesempatan untuk ku supaya aku bisa merasa lebih tenang.
Namun selingkuh bukan lah pilihan.
Jika ia bisa menunggu aku yang jauh di matanya, bagaimana aku dengan jahatnya menduakan cinta nya yang sangat tulus.
Tentu saja aku juga akan menunggu sampai ia kembali, atau mungkin aku yang menjemput nya.
Aku pun menghapus air mataku dan kemudian bergegas menelponnya.
Rasanya jantungku berdetak kencang saat aku menelpon nomor itu seperti saat pertama kali aku menelponnya dahulu.
Panggilan itu pun terjawab namun tak ada suara yang terdengar.
"Halo, Assalamualaikum." Ucapku pelan.
"Waalaikumsalam Sayang, akhirnya kamu menelpon aku lagi." Jawabnya sambil menangis tersedu-sedu.
Aku yang mendengar suaranya yang serak saat bicara merasa jika ternyata aku salah.
Ternyata ia mengingat dan merindukan aku, bahkan menangisi aku.
"Dinda maaf." Ucapku.
Ia pun langsung menjawab dengan suara tangisnya yang semakin kuat hingga tanpa sadar air mataku juga ikut mengalir.
Rindu ini ternyata sangat berat seperti yang dilan katakan.
*****
__ADS_1