Penantian Yang Tertunda

Penantian Yang Tertunda
Kabarmu


__ADS_3

Sabtu sore, saat di mana toko akan tutup dan aku akan pulang.


Tentu hari ini sangatlah spesial, aku akan menyatakan cinta kepada Dinda sesuai janji yang kami buat.


Namun entah mengapa beberapa hari ini Dinda tak membalas pesanku bahkan tak mengangkat telpon ku.


Terakhir kali kami bertemu saat ia membeli kue untuk ultah gurunya setelah itu dia terus hilang kabar dan bahkan tak pernah mampir.


Apa ia sengaja membuat aku semakin rindu.



Aku benar-benar rindu padanya, terlebih lagi aku ingin mengucapkan cinta dan mengajak nya pacaran.


Hal yang membuat aku benar-benar merindukan dia, senyum manisnya dan suaranya yang lembut dan juga penuh kasih sayang.


Entahlah.


Mungkin dia ingin membuatku seperti ini agar aku semakin memikirkan nya.


Andai engkau tahu, tanpa engkau melakukan hal ini setiap detik aku selalu memikirkan dirimu.


Tapi biarlah aku akan lakukan apa yang engkau inginkan bahkan aku akan menjadi seperti yang engkau mau.


Andai engkau tahu selama satu Minggu ini aku benar benar berusaha untuk tidak takut menatap indah wajahmu, juga senyummu, aku bahkan takut untuk menyentuh jemarimu karena debaran jantung ini selalu menyiksaku saat aku berada di dekatmu.


Aku pun menghidupkan mesin motor ku lalu berkendara dengan sangat pelan sambil memikirkan tentang dirimu.


Jalanan ini pun terasa sangat sunyi, rumah terasa sangat kosong, terasa seperti ada lubang di dalam hati.


Aku duduk di sudut kamar sembari menatap foto mu yang aku pajang di dinding kamar ku, namun rasanya ruangan ini semakin gelap dan sempit.


"Tok tok" suara ketukan pintu kamar.


Aku pun membukanya dan ternyata itu adalah ibuku.


"Nanti Senin kau di suruh masuk sama buk Limah" ucap ibuku sembari menyodorkan surat.


"Oh, emang nya tadi buk Limah kesini?" tanyaku pada Ibuku.


"Iya sama temen temen mu jugak"


"Mereka juga datang".


"Iya anaknya buk Mega juga datang".


"Oh si Dede"


"Iya, cantik itu orang nya" ucap Ibuku.


"Cantikan juga calon pacarku"jawabku dengan bangga.


"Yang di dinding kamar itu".


"Iya".


"Hati-hati nanti jatoh nangis" ucap ibuku lalu ia kembali ke dapur.


Sepertinya ibuku memberi isyarat bahwa aku tidak boleh terlalu berharap pada Dinda.


Ini seperti saat aku pertama mengenalnya, juga takut terbang terlalu tinggi dan jatuh.


Tapi Dinda yang menarik ku terbang menunjukan betapa kuatnya sebuah ikatan.


Maka aku rasa aku bisa meraihnya dan berharap dapat bersama selamanya.


Meskipun saat ini ia hilang entah kemana.


***


Malam pun telah tiba dengan rasa separuh bimbang aku bersiap siap untuk datang menemui dirimu, seuntai bunga dan 3 batang coklat Silverqueen juga sudah aku siapkan.

__ADS_1


aku sengaja memilih mawar putih yang melambangkan dirimu yang terlihat sederhana namun begitu indah, engkau sungguh sangat mewah namun begitu sederhana, aneh sekali bukan.


Entah lah, aku hanya mengikuti isi hatiku.


Isi hati ini.


Andaikan engkau tau, aku sudah berlatih selama 1 minggu ini untuk bisa mengatakan cinta, cintaku padamu yang begitu sangat besar.


sampai aku tak mampu membendung nya.


Namun aku takut, takut jika aku menatap mata mu nanti aku berubah menjadi bodoh, dan akan merasa tidak mampu untuk bicara.


***


Akhirnya aku pun sampai di rumah Dinda, namun rumah itu tampak sunyi seperti tak berpenghuni.


Aku pun mencoba memanggil Dinda dengan mengetuk pintu rumahnya.


"Tok.. tok.. tok..".


"Assalamualaikum"


"Assalamualaikum Dinda".


Aku mengetuk pintu itu berulang ulang, dan memanggil manggil nama Dinda, namun masih tak ada jawaban atas kedatangan ku.


Panggilan telepon pun sudah berulang ulang kulakukan, namun masih saja tak ada respon sama sekali.


Kemana kah engkau Dinda ku.


Aku memutuskan untuk duduk sejenak di kursi itu, sembari menunggu ia keluar, atau mungkin pulang dari suatu tempat.


Aku terus menunggu hingga waktu semakin larut, rasa gelisah pun terus menghantuiku, apa ia sengaja melakukan ini, apa ia pergi dengan yang lain atau ia sedang sakit.


Lalu di mana kabar mu, di mana.


Ku lirik jam di Hp ku menunjukkan pukul 21:53.


Atau mungkin aku akan menunggu sebentar lagi saja, mungkin ia akan pulang.


Saat ia pulang aku tak akan bertanya apakah dimanakah atau kenapa, aku akan langsung mengutarakan isi hatiku ini.


Yang penting semua sudah aku lakukan dan tentang jawaban nya tinggal terserah padanya.


Tapi bagaimana jika pulang nanti ia bersama seseorang, laki laki tampan pula, atau mungkin ia pergi bersama orang yang namanya Nanda.


Apa aku bisa ikhlas.


Tapi tapi, jika ia ingin dengan yang lain mengapa ia memberikan harapan sedangkan aku sangat ketakutan.


Bahkan ia tak segan memanggilku sayang di depan umum seolah olah ia ingin menyatakan kepada orang orang bahwa ia mencintai aku.


Tapi sekarang engkau dimana, sedang apa dan dengan siapa, berilah aku kabarmu biar aku tak ketakutan seperti ini.


Waktu pun benar benar sudah sangat larut dan mungkin aku harus benar benar pulang.


kulihat sejenak bunga yang ku bawa, dan berpikir mungkin harus ku tinggalkan disini.


Tapi nanti jika di ambil orang bagaimana.


Akhirnya ku bawa lagi pulang bersamaku dengan harapan besok bisa bertemu.


Jam pun memberi tahu saat untuk iklas dan pergi tanpa cemas 22:41.


Ya ini waktu yang buruk untuk bertemu karena terlalu malam.


Di perjalanan aku termenung mumikirikan hal itu, kenapa dan dimana adalah pertanyaan utama untuknya.


Dan aku memutuskan untuk berhenti sejenak dan membeli burger kesukaan ku yang di jual di pinggiran jalan simpang empat asahan.


Tak di sangka di tempat itu ada Selviah dan teman nya sedang bercerita sambil menunggu pesanan burger mereka.

__ADS_1


Aku pun dengan cepat memakai Hodey ku dan memalingkah wajah agar tak terlihat olehnya.


Namun ia begitu peka.


Dengan mudah ia mengenali aku dan bahkan langsung memanggil tanpa ragu.


Aku yang pura-pura tidak tahu diam seribu bahasa, hingga ia bangkit dan menyentuh tanganku.


"Hei Momo, sombong banget sih".


"Ah Selviah, aku kira orang lain".


"Masa kamu gak kenal wajahku" ucapnya emakin mendekat.


"Di sekolah kan kamu pakai hijab jadi aku gak begitu kenal wajah aslimu tanpa hijab" ucapku mencari alasan.


"Bawa bunga tuh, buat siapa?" tanya Selviah.


"Ah gak ada, cuma pengen beli aja".


"Uuuu bohong" jawabnya tersenyum.


"Hehehe.."


"Buat siapa itu, Zakia ya".


"Oh itu mustahil, tunggu dulu kenapa Zakia" ucapku sedikit kesal.


"Yah, di sekolah kan banyak yang gosip in kamu suka Zakia".


"Sialan".


"Kenapa, emangnya itu gak bener".


"Ya mungkin dulu aku suka, tapi sekarang enggak sama sekali" jawabku meyakinkan.


"Kenapa?" tanya Selvi serius.


"Entahlah, aku jenuh menunggunya dan melihat sikap nya yang berubah ubah".


"Berarti ada ruang untuk ku dong" ucap Selvi.


"Hah..?".


"Ah cuma bercanda" ucap Selvi lagi.


Aku pun terdiam, dalam hati berguman "maaf sel, aku telah menambatkan hati pada seseorang, mungkin akan bertepuk sebelah tangan tapi aku akan berjuang sampai aku benar benar tersingkirkan".


"Nah, untuk mu".


"Yeyyy, makasih" ucapnya dengan sanang.


Tiba tiba bunyi kamera dan lampu flash pun muncul tiba tiba, ternyata teman Selviah mempoto kejadian itu.


"Apaan sih!" ucapku menatapnya.


"Ah enggak bang, cuma mengabadikan momen".


"Yasudah kami duluan ya Mamo, udah terlalu malam ini" ucap Selvi dengan wajahnya yang sumeringah kesenangan.


Tak lama kemudian aku juga pulang karena pesananku sudah matang.


Sampai di rumah aku kembali merenungi kehilanganku atas Dinda, kabarnya yang aku nantikan hilang, wajahnya yang aku rindukan juga hilang.


maaf aku memberikan bungamu pada orang lain, nanti aku belikan lagi bahkan yang lebih besar, karena jika ku simpan juga nanti akan layu.


Ku ambil potomu yang ada di dinding ku dan ku peluk erat dengan seolah olah itu adalah dirimu.


Hingga aku terlelap hingga tak sadarkan diri.


*****

__ADS_1


__ADS_2