
Selamat tinggal pantai, sampai jumpa di lain waktu.
Tak terasa sore hari telah tiba, waktu bersenang senang kami pun harus di akhiri.
Ini hari yang berat, karena setelah ini kami akan benar benar terpisah satu sama lain.
Mungkin akan tetap bertemu namun pasti tidak akan sama seperti dulu.
Mungkin ini cerita yang membosankan.
Tapi kalian pasti tau harunya perpisahan dengan teman teman baik kalian.
Di dalam bus ini kami bernyanyi riang dan juga bercanda tawa.
Sosok Zakia yang pendiam pun berubah menjadi periang saat ini.
Yah bagaimana pun ini adalah hari terakhir, jika tidak di nikmati akan sangat rugi.
Tawa dan canda ini begitu lepas, mereka seperti keluarga yang berkumpul di momen lebaran.
Tapi ini sedikit hampa, mungkin karena tak ada Selviah.
Karena biasanya ia selalu berada di dekatku saat saat seperti ini, tapi bukan itu yang ku maksud.
Aku hanya menyayangkan ketidak hadiran dirinya di sini, dia kehilangan momen bersama teman teman nya dan bukan karena aku ingin bersamanya di sini.
Baiklah, mungkin ada sedikit rasa ingin berduaan dengan nya tapi hanya sedikit, sekedar mengisi kekosongan di hati karena tak ada kabar Dinda.
"Ngelamun aja lu!" Tegur Andi yang duduk di sebelahku.
"Ah enggak, aku cuma kasihan sama Selvi yang gak ikut serta." Jawabku pada Andi yang saat itu tengah asik memakan cumi bakar yang ia beli di pantai tadi.
"Kenapa? lu kecewa karena lu gak punya temen untuk bermesraan gitu." Ucap Andi.
"Bukan gitu Bogeng."
"Lu sih gak peka sama dia, terang aja dia kecewa."
Andi benar, aku memang jahat kepadanya.
Namun haruskah aku terima dirinya sedang aku menyukai orang lain, apa itu adil, apakah pantas aku bersikap seperti itu.
"Lebih baik aku jujur walau menyakitkan dari pada aku bohong dan mempermainkan perasaan nya" Ucapku lalu menutup wajahku dengan sebuah topi bundar.
Sebenarnya ini topi Zakia, ia meminjamkan topi ini padaku saat Madi dan Andi tengah menimbun diriku dengan pasir di pantai tadi dan hanya menyisah kan kepala.
Yah dia tiba tiba baik hari ini.
"Itu karena kau mengejar yang pergi dan meninggalkan yang bertahan" Jawab Andi.
Sepertinya ia tau aku menolak Selviah, dan ia nampak kecewa dengan sikapku.
Namun aku bisa apa, inilah yang terjadi sekarang dan inilah kenyataan.
Selviah adalah gadis yang cantik ia pasti mudah menemukan seorang pria yang memang cocok untuknya.
Tanpa sadar aku tertidur di bus dan saat aku terbangun kami sudah berada di halaman depan sekolah.
__ADS_1
Rasanya aku baru memejamkan mata, ketika ku buka kembali tiba tiba sudah beda tempat.
**
Akhirnya semua berakhir dengan bahagia, kami saling bersalaman satu sama lain dan juga bermaaf-maafkan.
Rasa haru pun tak terelak kan, bahkan Dede menangis saat bersalaman dengan buk guru dan juga teman teman.
Tentu bukan cuma Dede yang menangis, Irma, Kiki, ayu Zakia dan juga yang lainnya ikut menangis.
Tenang teman teman, ini bukanlah perpisahan, ini cuma jalan baru menuju masa depan, maka dewasalah dan berhentilah menangis.
**
Hari baru, saat ini kami telah resmi lulus.
Waktu yang yang kami habiskan kini tinggal kenangan.
Namun sepertinya tak ada yang berubah.
Oh aku harus berkata apa, otak ku buntu sekali.
Saat ini aku tengah berbaring di kamarku, menatap ponsel yang terpajang photo Dinda.
Aku benar-benar merindukan sosok dirinya.
Entah mengapa aku mencoba menelpon nya lagi, padahal aku tau nomor telepon milik nya sudah lama tidak aktif.
Iseng iseng aku menghibur diri dan membiarkan telepon itu memanggil.
"Hallo!!" Tiba tiba terdengar suara di ponsel ku "Bang Momo ya!"
"Dinda!" panggil ku pelan dan rasa tidak percaya.
"Hallo bang Momo apa kabar?" tanya Dinda dengan suara lembut "Kok kamu diam."
Entah mengapa hatiku terasa campur aduk, pikiran ku kacau dan lidah ku keluh.
Aku tak mampu meluapkan perasaanku saat ini.
Aku marah, tapi juga senang, aku sedih tapi juga bahagia.
Ku letakkan kembali Hpku di meja belajarku dan aku terbujur lemas di kursi itu.
"Bang Momo, maafin Dinda ya, Dinda pergi tanpa kabar dan juga meninggalkan bang Momo tanpa pamit." Ucap Dinda dengan suaranya yang pelan dan nampak agak terengah engah.
"Bang Momo, Dinda tutup dulu yah!" Ucapnya lagi dan saat itulah aku teplek mengangkat Hpku dan memanggil namanya.
"Dinda!, Dinda kamu kemana aja aja sih!" ucap ku dengan nafas yang berantakan.
"Maaf bang Momo, aku salah" jawabnya pelan lalu panggilan telepon itu pun terputus.
Terputus.
Terputus dan tak ada suara lagi.
Rasanya semua ruang menjadi hening.
__ADS_1
Rasa macam apa ini.
Entah mengapa nafasku terasa lambat.
Tangan ku menggeletar, perasaan apa ini, perasaan macam apa nih.
Ku coba menelepon lagi namun kali ini nomor telepon miliknya sudah tak aktif lagi.
Rasanya sangat menyedihkan, aku tak tahu lagi harus berbuat apa.
Rasanya aku ingin menangis, mataku berkaca-kaca dan jantungku sakit dan nyeri sekali.
Aku terbujur lemas tak berdaya, teringat suaranya yang merdu dan serak seperti sedang sakit.
Namun yang tidak aku mengerti mengapa ia langsung mematikan Hp nya.
Nafasnya serak dan suara pelan sekali.
Ada apa dengan dirinya.
**
"Dek, kau kenapa?" tanya kakak ku yang melihatku urung iringan di lantai.
Aku pun bangkit dan mejawab pertanyaan itu.
"Tadi Dinda mengangkat telpon ku, tapi sebentar langsung di matikan."
"Dia bilang apa?"
"Dia cuma minta maaf lalu dia matikan Hpnya." Ucapku dengan wajah cemberut sambil menahan air mataku.
"Mungkin dia lagi ada masalah, jangan langsung nyimpulin sesuatu."
"Tapi dia hilang kabar satu bulan ini, aku tuh kecarian kak!"
"Oke, mungkin benar dia hilang kabar, tapi kau gak tau masalah apa yang dia hadapi kan" ucap kakak ku menjelaskan "Cobalah untuk bersabar sebentar."
"Ya baiklah." Jawabku tapi aku tidak dapat mencerna apa yang kakak ku katakan.
Bingung mau melakukan apa, aku terdiam di pojokan rumah, linglung.
Aku membayangkan wajah Dinda, dan malam di mana kami duduk berdua.
Mungkin jika saat itu kami langsung pacaran tidak akan seperti ini jadinya, atau mungkin malah lebih parah lagi.
Aku bingung, kenapa Dinda pergi tanpa kabar seperti ini.
Jika ia tidak mau denganku kenapa tak langsung katakan saja sejak awal, aku bingung dengan posisiku sekarang.
Haruskan aku mundur tanpa berperang atau maju tanpa tujuan.
Menunggu tanpa kepastian adalah perbuatan yang bodoh.
Atau memang akulah yang tak tau malu, harusnya aku sadar posisiku, jika dia pergi tanpa pesan itu artinya ia tak ingin bersamaku.
Atau sengaja membuat aku seperti ini.
__ADS_1
Oh ayolah, aku harus apa!?.
******