
Aku mulai bingung dengan keadaan ini, ini terlihat seperti kontes seksi.
Dinda yang tiba tiba masuk ke rumahnya keluar dengan pakaian yang berbeda dari sebelumnya.
Bahkan dia membawa sesuatu di tangan nya.
Penampilan Dinda lumayan seksi bahkan tali oppai nya sampai terlihat sebelah.
"Kenapa tiba tiba begini, gak baik kek gtu." Ucapku.
"Sebentar ya sayang, akan aku balas orang itu!" Jawab Dinda tersenyum.
"Gak harus kek gini kan, ini berlebihan." Ucapku dengan nada marah.
Ia pun terdiam sejenak.
Lalu ia mengambil HP ku dan menunjukan photo Tiara.
"Menurutmu ini tidak berlebihan." Tanya Dinda cemberut.
"Ya itu juga berlebihan." Jawabku.
"Ya kamu tahu, tapi kamu gak tau satu hal lagi yang berlebihan kan!"
"Apa?" Tanyaku.
"Ia mengirim nya ke kamu kekasihku, lalu kamu melihatnya dan itu seperti apa menurutmu." Ucap dinda, wajah cemberut nya membuat aku tak bisa menjawab satu katapun.
Aku tahu ia cemburu namun aku tidak mengerti maksud dari perbuatannya.
"Kamu mau apa."
"Apa kamu tidak suka melihat badanku." Tanya Dinda.
"Aku suka, jujur saja kau tahu bagaimana laki laki normal melihat wanita cantik, apalagi berpakaian seperti itu." Jawabku sambil memegang kedua pipinya.
Ia pun menatap ku dengan polosnya.
"Kau pacarku, harusnya aku bukan sekedar melihat kan, bahkan aku bisa meminta ini karena kau sudah menunjukan bentuk pinggul mu yang ramping itu."
"Tapi kita belum sah, kamu gak boleh kayak gitu." Ucap Dinda.
"Lalu kenapa kamu tunjukkan hal itu."
Ia pun terdiam, wajah nya masih saja cemberut namun ia nampak sedikit berpikir.
"Aku tidak bermaksud melarang mu, aku hanya takut tida bisa mengendalikan diriku."
"Ih gak boleh gitu." Jawab Dinda "Aku gak mau kayak gitu gk boleh."
"Aku juga!, sebenarnya aku hanya takut ada yang lihat kamu seperti ini, apalagi kita sedang ada di luar." Ucapku menjelaskan.
Ia pun nampak mulai menjauh, seperti bimbang dengan perasaan dalam hatinya.
"Aku harus menjagamu, dari segala sesuatu yang tidak baik."
Dinda pun menatap ku dan matanya berkaca kaca.
"Maaf Momo, sebenarnya aku kesal karena melihat ia menunjukkan bentuk tubuhnya padamu, kamu milik ku." Ucap Dinda sambil kembali menunduk kan wajahnya.
"Itulah kenapa aku blok akun nya."
__ADS_1
"Tapi itu malah bakal buat dia jadi jahat, atau mungkin terus mengejar mu." Balas Dinda.
"Jadi kamu maunya gimana." Ucapku dengan serius.
Dinda pun mendekat dan memelukku erat.
"Aku ingin tunjukkan padanya bahwa kamu sudah punya pacar dan lebih seksi darinya. "
Aku pun akhirnya juga terdiam melihat ucapan Dinda.
Aku mengerti sekarang maksud hati nya.
"Baiklah kita lakukan keinginan mu, tapi hanya satu saja." jawabku.
Ia pun menatap ku dan tersenyum lebar kemudian ia kembali memeluk erat diriku lagi.
Dinda pun berpose dan aku memotretnya dengan berbagai gaya.
kemudian mengirim photo nya pada Tiara.
Dinda nampak ceria setelah mengirim photo nya dan kemudian aku melepaskan jaket ku dan memberikan padanya.
"Kenapa, kamu gak kuat!" Ucap Dinda tersenyum.
"Iya sih, tapi bukan itu alasan aku beri jaket."
"Terus apa dong?"
"Kita ada di luar, orang orang banyak yang lewat, aku gak mau mereka lihat kamu kayak gini terus pikiran mereka aneh aneh." Ucapku menjelaskan.
Lagi lagi ia langsung memeluk aku, sepertinya ia sangat bahagia sekali.
**
bersama dengan dirimu pun harus berakhir.
Meski pun aku masih ingin berada dalam pelukan mu yang hangat ini.
Andai saja engkau dan aku sudah terikat dalam janji suci mungkin saja rasa ini tidak akan ada, karena setiap hari dalam hidupku aku bisa menatap dan memeluk mu sepanjang waktu.
Dan tidak ada lagi yang memisahkan kita.
Akan ku nantikan waktu itu datang dan aku bersumpah tidak akan menyia-nyiakan waktu itu.
"Apa kamu udah mau pulang." Tanya Dinda yang melihat aku bangkit dari kursi kayu itu.
"Ya, udah jam segini nih." Ucapku sambil memakai jaketku.
"Hmm.., sebentar lagi dong, aku masih kangen nih."
"Tapi kan ini udah larut."
"Sebentar aja, duduk sini 5 menit lagi."
Aku pun mengelus rambut nya dan kembali duduk.
"Tutup matamu, aku ada hadiah spesial nih." Pinta Dinda dengan manjanya.
Aku pun menuruti keinginan nya menutup mataku dan menunggu.
Ia pun perlahan lahan menarik kedua tangan ku dan melingkarkan di pinggangnya.
__ADS_1
Aku merasakan halusnya kulit Dinda dan begitu ramping bentuk pinggul nya.
Ia pun melingkarkan tangannya di bahuku dan kemudian terjadilah.
Ciuman bibir..
Ciuman pertama ku, aku belum pernah seumur hidupku ciuman di bibir dan baru saja kali ini merasakan kenikmatan dan sensasinya.
Otak ku mendidih dan rasanya seperti
Seperti apa, aku tidak tahu cara mengungkap ini, tapi kalian pasti tau rasa pertama kalinya melakukan ini.
Bagaimana rasanya dan bagaimana perasaan kalian.
***
Pagi itu aku pun berangkat sekolah sedikit lebih pagi karena aku punya tugas piket di pagi ini, jadi aku sengaja pergi lebih awal.
Bahkan jalanan masih agak banyak kabutnya, untung saja aku memakai jaket jika tidak pasti aku bisa kedinginan.
Di simpang Pasar Banjar menuju jalan besar terlihat beberapa gadis SMA menunggu angkot jemputan.
Memang jika kita naik angkot, kita harus lebih awal pergi sekolah agar tidak ketinggalan sekolah karena biasanya angkot cepat sekali penuh.
Ketika aku sampai persimpangan itu aku sengaja berhenti sejenak untuk menyebrang jalan raya itu dengan aman.
"Momo, haii Momo..!!" Panggil seseorang yang berada dalam kumpulan gadis gadis SMA itu.
Aku pun menoleh dan terkejut, ternyata itu adalah Zakia yang memanggilku.
"Oh hai."Sahutku tersenyum.
Ia pun lantas menghampiriku dan bertanya dengan sangat ramah.
"Lama gak jumpa, kamu sekolah di mana Sekarang." Tanya Zakia.
"Di YAPIM, kamu sekolah di mana?" Balasku bertanya padanya.
"Di SMA Negeri 1 Pasar Benteng, boleh aku numpang dengan mu." Ucapnya.
Aku pun lantas mengangguk dan ia pun naik ke atas motorku dan kami pun berangkat.
Di sepanjang perjalanan Zakia banyak bertanya padaku tentang sekolah, namun aku tak begitu mendengarkan apa yang ia katakan karena aku terbayang bayang tentang malam tadi bersama Dinda.
Aku bahkan lupa jika Zakia sedang menumpang padaku.
"Belok kiri Momo!" Ucapnya tiba tiba.
Aku pun terkejut dan dengan spontan berbelok.
Ha itu membuat kami hampir saja terjatuh karena berbelok dengan spontan.
"Jangan tiba tiba bego, aku kaget!" Ucapku agak keras.
"Kamu yang bego, kalau nyetir itu jangan ngelamun!" Balasnya marah.
Kalau di pikir pikir memang aku yang salah, harusnya aku tak melamun namun aku tak bisa mengendalikan perasaanku saat ini.
"Maaf maaf aku yang salah." Ucapku.
Ia pun mengangguk dan tertawa kecil, senyuman nya yang manis mengingatkan aku tentang masa SMP dulu.
Tapi aku tidak lagi terpaut pada dirinya, bahkan rasanya saat bertemu dengan Zakia terasa biasa saja.
__ADS_1
*****