Penantian Yang Tertunda

Penantian Yang Tertunda
Selviah


__ADS_3

Hari baru.


Tiba waktunya bagi kami untuk berpisah.


Guru guru berkumpul di dalam kelas dan juga para murid.


Kami mendekor kelas sedemikian rupa, memberikan karangan bunga dan juga menghibur para guru dengan musik.


Suasana begitu haru, apalagi ini adalah hari terakhir bertemu dengan teman teman.


Kami menyiapkan segala sesuatu yang di perlukan untuk menambah suasana meriah di kelas ini.


Kesan terbaik untuk di kenang.


Kami juga memasak makanan dan memakan nya bersama sama.


Tak lupa juga kami bernyanyi dengan di iringi gitar dan cajon yang Yusuf dan Rizky lakukan, sedangkan aku menjadi vokalis.


Kami menyanyikan lagu terima kasih guru dan juga lagu Bondan kita selamanya


Hari itu begitu menyenangkan.


Kami berbagi nomor telepon dan juga berphoto sebagai kenang kenangan.


Selvi memberikan kado berupa gelang besi stensil, Dede juga memberi kalung sebagai kado perpisahan.


Namun aku tak memberikan kado apapun dari mereka karena aku tak memikirkan hal itu sama sekali.


Jadi Dede meminta selembar photo ku dan juga mengajak aku berphoto bersama.


Selvi juga melakukan hal yang sama.


Acara itu pun berlangsung lumayan lama dan setelah itu kami merencanakan untuk jalan jalan ke pantai sebagai acara terakhir dari sekolah namun karena sudah terlalu siang rencana itupun di mundurkan menjadi besok.


Dan semua setuju dengan hal itu.


Dan juga ada hal yang terasa mengganjal di hati yaitu permintaan Selvia.


Tadi sebelum aku meninggalkan sekolah Selvi memanggilku dan mengajak ku bicara sebentar di belakang sekolah.


Ia berkata ingin memastikan perasaan di hatinya jadi ia memintaku untuk mendengarkan perkataan yang mungkin akan jadi yang terakhir kali.


Selvi menggenggam tanganku dan tangan nya sangat dingin.


Ia berkata dengan pelan namun pasti bahkan matanya sampai berkaca kaca.


"Aku benar benar suka sama kamu Momo, tolonglah untuk sekali ini saja beri aku cinta mu." Ucapnya dengan nada merengek.


Mendengar ucapan itu aku pun membatu, aku sedih dengan apa yang Selvi katakan namun hati terikat pada seseorang yang lain.


"Bagaimana aku memberikan itu, aku sendiri enggak tahu kemana cintaku pergi." Jawabku murung, aku benar benar bingung.


"Ini yang terakhir kalinya Momo, Jadi aku mohonlah." Ucap Selvi lagi.


"Baiklah tapi enggak sekarang." Jawabku.


Iya pun lantas menangis, air matanya jatuh membasahi pipinya yang chubby dan ia lantas menutupi wajahnya.

__ADS_1


"Sel jangan menangis, kamu kenapa sih?" Tanyaku dengan bodohnya.


Ia pun tak menghiraukan aku dan langsung berlari pergi.


**


Setelah aku pulang aku terus terbayang wajah Selvi yang menangis, bahkan sebelum saat masih di jalan aku Reus terbayang akan Selviah.


Hal itu terus terbayang di mata ku, aku merasa sangat jahat dan tak punya hati.


Kasihan Selvi, ia menangis di depan mataku sedangkan aku menyakiti perasaan nya.


Aku benar benar merasa bahwa aku orang yang sangat buruk.


Aku mencoba mengirim pesan padanya berulang ulang, namun tak di balas dan telpon ku juga tak di angkat olehnya.


Aku terus berpikir bahwa aku benar-benar menyakiti perasaan Selviah.


Hal itu membuat ku tak bisa tidur dan juga sakit kepala.


Bahkan terjadi dilema di hatiku, seperti ada aku yang lain bicara padaku dan berdebat akan kebenaran bahwa.


Selvi lebih ada untuk ku, dia juga sering memberikan bekal makanan miliknya padaku, menanyakan kabar dan perhatian.


Sedang Dinda meninggalkan aku tanpa kabar saat aku mulai mencoba melawan ketakutan ku akan cintanya.


Aku harus bagaimana, aku mungkin suka Selviah namun aku terlanjur jatuh cinta pada Dinda.


Dan selagi aku belum bisa melupakan bayangan Dinda aku gak akan bisa mencintai orang lain, itu tidak adil sama sekali.


Dan itu akan lebih menyakiti selviah, Dinda dan aku sendiri.


Selvi berhak untuk dapat yang lebih baik dari aku, mencintai aku pun hanya akan membuat hidup nya menderita.


Karena kekurangan ku dan juga sifat buruk ku.


Namun air mata nya itu, benar benar menyakitkan dan menyayat hati.


Baru kali ini aku membuat seorang wanita menangis.


Terlebih aku menyukai dia yang selalu baik di kelas.


**


Pagi hari pun tiba, bu siapkan tas berisi baju ganti dan juga sendal.


Tak lupa ku bawa karpet agar bisa duduk di pantai.


Ya, hari kami akan liburan.


Jemputan ku pun sudah datang, Andi mengantarkan aku ke sekolah.


Itu sebenarnya karena ia juga ikut pergi bersama dengan kami.


Bahkan persiapan nya lebih banyak dan tergolong tidak wajar.


"Buset!, segala kompor pun di bawa begitu." Tegur ku pada Andi yang sedang menyetir sepeda motor nya.

__ADS_1


"Ini namanya sedia payung sebelum hujan." Ucap nya tertawa.


"Lah? gak sekalian bawa panci lu."


"Tenang di dalam tas sudah ku siapin." Jawabnya.


Sungguh mengherankan kelakuan Andi, kenapa liburan menjadi seperti pindah rumah.


Akhirnya kami pun sampai, begitu juga yang lain nya.


Bus juga sudah terparkir di halaman sekolah dengan beberapa Guru di dalamnya.


Kami pun bergegas masuk, supaya mendapatkan kursi paling nyaman.


Semua murid sudah masuk ke dalam dan duduk di kursinya masing masing dan bus akan segera berangkat namun Selviah tak kunjung terlihat.


Aku bertanya pada Dede namun ia bilang tidak tahu, begitu juga Irma.


Entah kenapa Selviah tak kunjung terlihat.


Karena terlalu lama akhirnya kami berangkat tanpa Selviah.


Rasanya agak aneh Selviah tidak ikut pergi, karena biasanya ia yang paling antusias soal liburan ini.


bahkan ia membahas berulang ulang waktu itu dan juga mengatakan pada semua agar ikut apapun yang terjadi.


Namun dia yang tak ada di antara kami semua.


**


Kami pun telah sampai di pantai romantis daerah tebing tinggi.


Semua keluar dengan senang dan menikmati rekreasi itu dan ada juga yang coretan baju.


Tentu saja hal yang paling utama di lakukan di pantai ini adalah mandi.


Semua tampak bahagia.


Namun aku merasa seperti ada yang kurang.


Selviah.


Ya kehadiran Selviah adalah bagian yang kurang di sini, aku bahkan membayangkan dia ada di sini berlarian di pinggiran pantai.


Kenapa dia tak ikut bersama kami, apa yang terjadi.


"Kau kecarian Selvi kan" Ucap Zakia menegurku dari belakang.


"Ya, entah mengapa iya tak ikut" Jawabku.


Aku tak dapat menyembunyikan raut wajah ku yang sedih.


"Jika kau tidak menolaknya, dia pasti ikut" Ujar Zakia lalu pergi menjauh.


Kata katanya membuka pikiran ku, Zakia benar ini memang salahku.


Selvi mungkin marah dan tersinggung karena aku menolaknya dan memutuskan untuk tidak pergi.

__ADS_1


__ADS_2