
Aku terkejut.
Ketika melihat ponselku berdering dan tercantum nama mu di sana.
Kau akhirnya menelpon aku lagi setelah sekian lama Dinda.
"Hallo Momo." Ucap nya pelan.
"Hallo, Dinda ya." Jawabku.
"Apa kau masih marah padaku? boleh aku ceritakan dulu apa yang terjadi."
Aku terdiam sejenak, menatap gitar tua ku kemudian aku menjawabnya.
"Aku gak punya alasan marah, aku bukan siapa siapa mu kan!"
"Kok kamu ngomong nya kayak gitu, aku jadi sedih banget!" Ucapnya.
Lalu ia pun perlahan lahan menceritakan apa yang terjadi di malam itu.
Dinda menceritakan semua kejadian yang terjadi bahwa ia terpaksa pergi tanpa kabar karena Neneknya di Medan meninggal dunia.
Mereka pun langsung berangkat mendengar kabar itu.
Dinda juga menjelaskan bahwa ia sempat menelepon aku namun tak ku jawab.
Merasa tidak di respon Dinda memutuskan untuk menghubungi aku setelah di jalan nanti, namun tiba tiba Hp itu terjatuh di saat Dinda mencoba meletakan hp itu di dalam tas dan baru ia sadari ketika sudah berada di mobilnya.
Ia pun bingung bagaimana cara memberitahukan aku di tambah lagi Dinda sedang bersedih saat itu karena kehilangan nenek tercinta.
Ia pun menjadi serba salah.
"Ya sudah, maafkan aku ya Dinda." Ucapku padanya yang tampak nya sedang menangis di sana.
"Kenapa jadi kamu yang minta maaf, kan aku yang salah." Jawab Dinda dengan suara nya yang berubah serak.
"Apa kamu udah balik ke sini?" Tanyaku.
"Ya, nanti malam datang ya, biar kita selesaikan hutang di antara kita." Jawab Dinda, namun kata katanya yang mengacu kepada kepada menyelesaikan masalah di antara kami berdua terdengar seperti ia ingin hubungan antara kami ini berhenti sampai di sini.
"Kenapa kamu kok diam terus, masih marah ya?"
"Aku gak bisa datang!" Jawabku singkat.
"Loh kenapa, kamu gak kangen aku." Sahutnya.
Aku kangen.
Tapi aku sadar.
Bilang sekarang pun kamu tidak akan sadar ini.
yang ada hanya sebersit tanya.
Apakah yang menanti di sini hanya aku.
Apakah yang rindu dan merana hanya aku.
Apakah dengan semudah itu semua harus terjadi.
"Bang Momo, kok diam terus sih? aku tutup telponnya ya." Ucap Dinda. terdengar nada kecewa dari suaranya.
"Baiklah sampai nanti." Jawabku lalu meletakkan HP itu kembali di tempat nya.
__ADS_1
"Selama aku pergi ini kamu berubah ya!"
"Kenapa?" Jawabku.
"Aku tau aku salah, tapi kasih aku kesempatan, aku gak mau kehilangan kamu loh!" Ucapnya.
Aku pun langsung terkejut, ia mengatakan tak ingin kehilangan aku.
Jantungku pun langsung berdebar kencang dan semakin kencang.
"Bukan kah kau mau ninggalin aku tadi" Jawabku singkat.
"Ih bego ya, kalau aku mau ninggalin ngapain aku nelponin dan nyuruh datang."
Sepertinya ia serius, apa tidak apa apa seperti ini, perasaan apa ini sebenarnya.
Aku senang sekaligus sedih, karena ada rasa tidak pantas untuk aku memiliki Dinda.
Aku takut nanti iya kecewa akan keadaan ku tapi aku juga tidak ingin dia di miliki orang lain.
Pikirkan ku selalu berbelit Belit begini kalau memikirkan mu.
"Aku akan datang tapi kali ini gak janji." Jawabku.
"Oke oke aku ngerti kok, udah dulu ya." Sambut nya sekaligus menutup telpon.
Senang dan juga bahagia, itu yang kurasa kan saat ini.
Bagaimana tidak Dinda ternyata merindukan aku dan masih mencintai aku.
Mungkin aku masih terlalu kecil untuk bicara cinta tapi ayolah cinta datang pada siapa pun yang ia inginkan tak perduli tempat dan juga waktunya.
Apa aku benar.
Oke sekarang yang paling penting adalah meminta izin kepada ibuku supaya aku di izinkan keluar.
Tapi sepertinya itu berat sekali, apa lagi kejadian itu masih menghantui keluarga kami.
Tapi apa salahnya mencoba, mungkin saja di beri izin.
Tanpa pikir panjang aku langsung mencari ibuku, dan ternyata ia sedang berada di teras rumah.
"Ma, aku nanti malam keluar ya." Ucap ku merengek.
"Mau kemana?" Tanya ibuku.
"Datangi cewek lah."
"Enggak boleh!" Jawab ibuku singkat.
Aku pun langsung merayu rayu ibuku supaya di beri izin dengan berbagai alasan, namun ibuku sulit sekali untuk di bujuk.
Aku pun kesel dan kecewa, lelah membujuk ibuku namun tak ada respon baik darinya.
Aku pun mengirim pesan pada Dinda bahwa aku tak di beri izin keluar karena suatu alasan.
Dan untung respon darinya baik, Dinda memang orang yang pengertian.
Malam pun datang.
Aku duduk di kursi dengan masih memendam rasa kesal.
Aku ingin menemui Dinda, ingin bertanya kabarnya dan melihat wajahnya yang cantik itu.
__ADS_1
Aku rindu duduk di sebelah nya, menggenggam tangan mungilnya, dan mengusap rambutnya persis seperti yg film drama yang aku lihat di televisi itu.
Mungkin akan sangat menyenangkan rasanya.
Oh tidak aku jadi menghayal terlalu jauh, aku masih anak kecil tidak boleh berpikir berlebihan seperti ini.
Mungkin dengan melihat photo nya di ponsel ini bisa mengobati sedikit rasa rinduku.
Ku buka galeri dan memandangi semua gambar nya.
Begitu imut dan menggemaskan tingkah laku nya di galeri ini.
Aku tersenyum senang melihat bagaimana ia berpose dengan begitu imut dan tiba tiba aku menemukan satu photo yang buka Dinda.
Zakia, ini photo Zakia saat ujian UN itu, bagaimana aku bisa memilikinya.
Aku bahkan tak dekat dengan nya saat itu.
Apa dia yang mengirimkan photo ini.
Baiklah mungkin harus ku hapus saja pikirku.
Namun pandangan ku langsung teralihkan saat sebelum sepeda motor metik masuk ke halaman rumah.
Dari kejauhan tercium aroma parfum yang wanginya dan mempesona.
Namun sulit mengenalinya karena berselimut kegelapan malam.
Ia lantas turun dari motor itu dengan membawa sesuatu dan masuk ke rumahku dan membuat aku bingung.
Aku seperti mengenali orang itu, rambut nya yang pendek sebahu dan postur tubuh nya yang kecil dan mungil membuat aku terus terusan memandangi dirinya.
Seketika ia pun masuk ke dalam rumah dan datang lah sebuah motor lagi yang tentu tak asing bagiku yaitu Andi.
Iya langsung masuk ke rumah dan sepertinya gadis tadi datang atas petunjuk Andi.
Tak berapa lama Andi kembali keluar dan memanggil aku yang duduk di bangku luar samping rumah.
Adik ku juga keluar dan ikut menyuruhku masuk, hingga aku pun bergegas masuk ke rumah.
Aku tak tau siapa yang datang namun aku juga penasaran dengan sosok itu.
"Hai bang Momo, apa kau sehat." Ucap nya yang sambil menyambut aku yang baru saja masuk.
"Ayuk Momo duduk dulu, bah mantap ini." Sambut Andi.
Andi mengapa kau selalu begini pikirku, kau selalu baik padaku dan bagaimana aku bisa membalas nya.
Wanita itu menatap ku dengan senyuman yang akrab sekali di pikiranku.
"Apa kau melupakan aku, ini aku Dinda." Ucapnya.
Aku pun tersenyum dan mataku berkaca-kaca namun aku tahan agar tak tumpah di pipi ku.
"Aku tau." Jawabku sambil mengelus rambutnya dan langsung duduk bersebelahan dengan nya.
Matanya nampak sedikit lebam seperti kurang tidur dan agak pucat.
Tapi senyuman nya menutup semua itu.
*****
Bersambung 😁
__ADS_1