
Banyak hal terjadi, namun banyak yang sulit untuk di ungkapkan.
Tak terasa sekarang sudah waktunya kembali ke sekolah.
Masuk ke sekolah baru sangat mendebarkan, ada rasa takut dan was was akan sekolah yang kuhadapi saat ini.
Saat ini kami sedang berkumpul di lapangan yang sangat luas, semua murid baru berada disini.
Kami menghadapi masa MOS (masa orientasi siswa) yang di pandu oleh kakak kelas dan para guru.
Dari tempat aku berdiri terlihat gedung yang begitu besar dan megah, dari jendela lantai 3 terlihat para siswa sedang memandangi kami yang tengah berbaris mendengar kan arahan dari para senior.
Kami pun dibagi menjadi beberapa regu dan di bawah berkeliling kesemua bagian dari gedung sekolah itu, baik gedung depan maupun gedung belakang.
Semua nya berjalan normal, dan kami seperti melakukan tour wisata.
Sambil berjalan kami berkenalan satu sama lain dan aku mendapat banyak teman, yaitu Imam, Jali, Firman, Aldi, Rayhan, Rian, Bagus, Iqbal, Ridho dan masih banyak lagi mereka semua sangat ramah dan tampak akrab dengan ku.
Aku rasa ini akan jadi awal yang baik.
Setelah berkeliling kami pun di persilahkan untuk pulang namun kami di beri tugas untuk membuat topi kerucut dan juga dasi yang terbuat dari kulit jengkol dan juga petai.
**
Hari itu pun tiba aku dan semua pernak pernik yang aku buat sudah tersedia semua, namun ada suatu hal yang tidak masuk akal buatku.
Untuk apa kami memakai ini semua padahal hal ini tak ada sangkut pautnya dengan pelajaran ataupun jurusan kami.
Ini malah bentuk upaya untuk mempermalukan dan menindas kami sebagai murid baru.
Ini salah satu hal yang memprihatinkan di negara kami ini bahwa hal yang kadang menyakitkan dan memalukan malah di pertunjukan.
Aku dan para murid murid baru lainnya pun berkumpul berbaris di lapangan yang sama serta kami di pandu oleh kakak kelas dan yang berjumlah 2 orang setiap regunya.
hal yang mengesalkan pun terjadi di barisan kami yaitu kami di suruh tidur tiduran di lapangan yang terik dan kotor itu.
Tentunya hal itu tetap kami lakukan karena kami murid baru di sana.
Rasanya sangat panas dan juga tidak nyaman karena kami harus terbaring di lantai semen dan terjemur langsung oleh matahari.
Tiba tiba seseorang bangkit dari tempat itu dan protes kepada para senior itu tapi yang ia dapatkan malah perlakuan yang tidak baik.
dia di tangkap oleh dua orang senior yang berbadan besar dan satu orang lagi membuka bajunya dan di coret dengan spidol dengan selogan "Aku anak bandel."
__ADS_1
kami pun sontak bangkit dan tidak terima atas perlakuan itu, karena itu sudah salah satu bentuk perundungan atau pembullyan.
Namun ketua regu itu mengatakan bahwa ini adalah ujian mental dan juga ketahanan tubuh.
Ia juga menegaskan bagi siapa saja yang melawan akan di keluarkan atau tak di terima masuk ke sekolah ini.
Karena mereka punya hak penuh untuk melakukan MOS ini.
Kasihan sekali teman kami itu, ia benar benar di permalukan oleh mereka.
Tak banyak yang bisa ia perbuat, hanya diam dan kembali kebarisan.
Ia tampak pura pura tertawa geli padahal aku yakin di dalam hatinya ia begitu marah dan juga dendam.
Iya bernama Sukma Harry Aditya.
Aku sempat berkenalan dengannya semalam, dia sepertinya orang yang ramah dan juga berani terbukti dari tindakan protesnya.
Namun apalah daya kawan, kita mengikuti sistem di tempat ini maka mungkin berhati-hati lah dan jangan terbawa emosi.
Karena terlihat jelas di barisan sebelah kami ada satu anak perempuan yang di Jambak dan seorang laki laki yang di tampar.
Selesai melakukan semua acara di sekolah yang penuh kegilaan itu, kami di bawa keluar untuk berkeliling memutari jalan yaitu dari Simpang Kawat ke Simpang Empat dan kembali lagi ke Simpang Kawat tempat sekolah kami dan di iringi dengan drum band sekolah.
kami menempuh jalan sekitar 5km jauhnya.
Ada juga yang bajunya basah karena di siram air dan ada juga yang nampak menangis.
Bukan kah ini di luar nalar.
Apa kalian juga pernah mengalami hal semacam ini waktu kalian masuk SMA.
Bagaimana pendapat kalian tentang hal ini.
Setelah selesai berkeliling kami pun di beri waktu beristirahat sejenak sebelum di bariskan lagi untuk acara terakhir dan setelah itu di beri izin pulang.
Istirahat nya hanya berlangsung selama 15 menit dan setelah itu kami langsung di kumpulkan untuk berbaris kembali mendengarkan pengumpan dan arahan dari kepala sekolah.
Arahan nya cukup sederhana, hanya kata kata penyemangat untuk kami supaya tidak menyerah dan terus belajar.
Juga tentang kedisiplinan yang tinggi dalam melakukan kewajiban sebagai pelajar.
**
__ADS_1
Kami pun akhirnya keluar dari sekolah setelah semua acara yang ada, serta bersalam salaman dengan para senior yang menjadi pembina MOS sebagai bentuk persaudaraan dan juga menghapus dendam di antara kami.
Saat itu aku menerima selembar kertas yang terbungkus rapi dan berikat pita berwarna pink dari kakak senior secara diam diam saat di kantin.
Aku tak tahu apa maksud dari itu, tapi aku menerimanya saja, mungkin saja ada uang di dalamnya.
Tak lupa aku mampir kerumah pacarku Dinda, untuk memberikan sebuah bunga yang aku petik di halaman sekolah tadi.
Bunga itu cukup indah dan juga wangi, ku harap ia akan menyukai bunga ini.
Setelah sampai aku pun langsung duduk di bangku luar rumah untuk menunggu ia pulang dari sekolah.
Aku ingin masuk dan bertamu ke dalam, namun pintu rumah nya terkunci dan tampak tak ada orang di dalam nya.
Aku tak tahu apa pekerjaan orang tua Dinda, namun aku rasa mereka sangat jarang sekali terlihat di rumah saat aku berkunjung.
Aku bahkan sempat menganggap seorang bibi yang ada dirumahnya sebagai ibunya ternyata seorang ART (Asisten Rumah Tangga) yang ikut tinggal di rumah itu.
Aku jadi bingung tentang kehidupan Dinda, seperti nya ia kesepian karena orang tuanya sering larut saat pulang dan berangkat kerja sangat pagi.
"Wah kamu di sini!" Ucap Dinda yang turun dari sebuah motor dengan tiba tiba.
Aku pun lantas menoleh ke arah nya dan aku langsung terkejut melihat dia di antar oleh Nanda.
Aku pun terdiam terpaku, mengapa dia harus di antar Nanda pikirku.
Rasa kesal pun mulai timbul di hatiku, jelas aku cemburu.
"Maaf ya aku di antar Nanda, soalnya tiba tiba motor aku mogok gak mau hidup." Ucap Dinda yang menghampiri aku dan duduk tepat di sebelah ku.
"Harus dia ya!" Jawabku dengan raut wajahku yang kesal.
"Kenapa rupanya, macam pacar kau aja dia!" Sahut Nanda yang juga berjalan mendekat.
"Nanda, dia memang pacar ku!" Ucap Dinda menegaskan kepada Nanda.
Lantas Nanda pun terkejut seakan tak percaya dengan apa yang ia dengar, namun ia tahu Dinda orang yang jujur.
Iya pun marah dan mulai mengolok-olok aku dengan kata-kata yang tidak baik.
"Jelas kamu di pelet nih sama si burik ini, Muka pas Pasan gini mana pantes dapat kamu" Ucap Nanda.
"NANDA, aku gak suka ya kamu menghina pacar aku!" Bentak Dinda, dan seketika itupun Nanda pergi dan meninggalkan kami.
__ADS_1
Hal itu membuat ketegangan di antara kami bertiga.
*****