Penantian Yang Tertunda

Penantian Yang Tertunda
PENANTIAN YANG TERTUNDA


__ADS_3

Bab. 5


Hanya mereka yang bersepeda ke Sekolah sedangkan yang lain sudah bersepeda motor.


Tiga hari sejak hari itu, handphone Piah berdering.


“Hah? Nomor baru? Hmmm… Siapa ya?”, ungkap Piah yang penuh tanda tanya dalam dirinya. Semula ia jarang mengangkat telepon dari nomor yang asing baginya, tapi kali ini? Ia begitu ragu untuk tak menghiraukan panggilan tersebut.


“Assalamualaikum…”, ucapnya pelan dan hatinya begitu tak karuan ketika mengangkat telepon dari nomor asing tadi. Terdengar dari arah sana menjawab salamnya. Suara yang masih asing baginya, tapi ia merasa pernah mendengar suara seperti itu. Mereka pun bercakap-cakap sampai hampir satu jam lamanya.


Ternyata, penelepon itu adalah orang yang pernah ditemuinya beberapa hari yang lalu di taman sekolah. Hari berganti hari. Seminggu yang begitu cerah telah terlampaui secerah hati Piah ketika menerima telepon dari orang asing yang taka sing lagi di hatinya.

__ADS_1


“Pi, senyam senyum terus, ada apa sih?”, tanya Karti dengan nada curiga menyadari perubahan teman sekamarnya. “Oh, nggak apa-apa Kar… Emang salah ya kalau aku bahagia?” Malam harinya, Piah kembali ditelepon oleh orang asing tadi, mereka bercakap-cakap lama seperti biasanya. Akan tetapi, mala mini begitu berbeda dari malam biasanya.


“De’ Piah, aku mau bilang sesuatu padamu, tapi jangan marah ya?


” “Iya Mas Heru, bilang saja, silakan…


Insya Allah aku tidak akan marah Mas”, jawab Piah santai.


ungkap Heru panjang lebar kepada Piah yang hanya terdiam bagai disambar petir mendengar rangkaian kata manis dari bibir orang yang mulai masuk dalam hatinya. “De’, maukah kau menjadi pacarku?”,


tanya Heru kemudian. Piah masih terdiam. Pacaran… Satu kata yang tak pernah ada dalam kamus hidupnya, kini ia mendengar itu dari seorang yang sudah menyentuh perasaannya. Dalam hati ia bertanya, “Apa yang harus aku katakan padanya?

__ADS_1


”. “De’, kau mendengarku?”, suara Heru mengagetkan lamunnya. “Iya Mas, aku dengar…”, kemudian dengan agak terpaksa ia berkata lagi, “Aku senang bisa mengenalmu, tapi maaf Mas, aku tidak bisa jadi pacarmu…” Mendengar jawaban Piah, Heru agak terpukul. “Ya sudah kalau itu keputusan ade’, tapi tolong dipikirkan lagi ya, aku tunggu kepastianmu seminggu lagi”. Heru pun mengakhiri percakapan. Air mata Piah menetes perlahan.Tanpa disadari, sebenarnya ia begitu mencintai sosok yang masih asing baginya itu. Seminggu. Ucap Piah pada hatinya yang masih agak ragu dengan keputusannya barusan. Hari demi hari telah berlalu, Piah tak pernah lagi menerima telepon dari orang yang dikasihinya. Dia menjalani harinya dengan kesepian yang melanda jiwa.


“Andai saja aku menerimanya…”, ucap Piah dengan penuh penyesalan.


“Menerima siapa maksudmu?”, tanya temannya yang selalu ingin tahu seketika mendengar ucapan Piah.


Piah hanya tersenyum menanggapi pertanyaan sahabatnya. Mereka pun bercakap-cakap. Pagi ini terasa bersahabat. Mentari menampakkan sinarnya dari ufuk timur.


Semua penghuni pesantren binaan semangat menyambut hari ini kecuali seorang gadis yang terlihat menekuk mukanya tak bersemangat. Seminggu yang dijanjikan akan segera tiba. Besok adalah waktu untuk memberikan kepastian akan perasaannya. Gadis itu masih tampak kebingungan. Tangan kanannya memegang kening kemudian mengelus-elus pelan.


“Pi, aku jadi khawatir sama kamu. Seminggu ini kamu tampak aneh. Cerita dunk. Barangkali ada yang bisa aku bantu untuk meringankan beban pikiranmu”, ucap Karti perlahan dengan nada yang cukup keibuan itu. Piah yang semula tak ingin bercerita, ini kali ia tak dapat menahan perasaannya. Ia pun menceritakan tentang kejadian demi kejadian yang ia alami semenjak ia bertemu Heru sampai Heru nembak dia. “Hmmm…

__ADS_1


Ternyata Heru beneran serius sama kamu ya, aku kira dia cuma iseng ketika minta nomor teleponmu. Maaf karena aku nggak minta izin ke kamu dulu ketika berikan nomormu”, terang Karti panjang lebar pada gadis yang sedang dirundung nestapa itu.


__ADS_2