
Dinda Claudiaπ₯°π₯°π₯°
***
waktu terasa begitu lambat, untuk menatap matanya yang indah di penuhi bintang bintang, senyuman yang bagaikan rembulan dan apalagi..!!
Oh tidak, semua bagian dalam dirinya sempurna.
Rasanya seperti aku ingin mati dan pergi ke surga..!!!
Ini lebih dari kata kata hati berbunga bunga ini sangat lebih dari itu.
Bagaimana mengungkapkan ini semua, ini menumpuk terus memenuhi seluruh tubuhku sampai mau meledak.
Ia pun menggenggam tanganku, menggenggam erat dan mengajak ku duduk di singgah sana nan indah.
Di atas awan, kami serasa di atas awan nan tinggi duduk berdua bagaikan di surga.
Tunggu dulu, ini surga.!!
Aku sudah sampai surga.
Bagaimana bisa, apakah Dinda benar benar bidadari hingga ia bisa membawaku ke surga.
Aku sangat beruntung.
Ia pun menyandarkan kepalanya di bahuku, tersenyum manis dan tangannya melingkar di pinggangku.
Oh astaga ini sempurna.
teruslah begini!
Ini sangat menyenangkan.
Suara suara anak kecil pun bermunculan, berlarian di atas awan nan putih dan lembut itu.
Tunggu dulu..!
"Anak anak..!!, Dinda kenapa banyak anak anak di sini?" ucapku padanya.
"Jangan bercanda sayang" jawabnya tersenyum.
"Aku serius!".
"Tentu saja itu anak kita!".
"Oh anak kita".
"APA, ANAK!"
"SEJAK KAPAN..!"
"Sejak kita menikah sayang" jawab Dinda.
"TIDAKKK!!!" jawabku teriak.
"Kenapa?".
"Aku bahkan belum tau rasanya".
"Tapi ini anak kita, ini serius, kita sudah punya 3 anak".
"TIDAKKK!!!"
"TIDAAAKKKKKK!!!!".
"Ih diam, kenapa teriak!" ucap Dinda marah.
"Kapan kita melakukan itu, kenapa tiba tiba sudah anak 3!!" jawabku protes.
"Setiap malam, kamu memintaku setiap malam" jawabnya.
"AAAAAAHHHHHHGGGGG....!!!!!!!!"
"TIDAKKK!!!!!".
Dengan tiba tiba sebuah tinju pun melayang ke kepalaku dari arah belakang.
DIIAASSS!!
"Berisik bodoh!".
Aku pun terkejut, dan langsung bangun dari ranjang ku.
Panik, aku panik dan melihat jam di dinding kamar yang nampak waktu sudah menunjukan pukul 03:40 pagi.
"Astaga, apa semuanya tadi cuma mimpi".
Sebuah jeweran pun langsung hinggap di telingaku.
"Makanya sebelum tidur baca doa" ucap kakak ku Ayu.
Ya aku punya seorang kakak perempuan, dia anak tertua di antara kami.
"Aduduh sakit!" jawabku merintih kesakitan karena jeweran itu.
"Bikin bising aja, orang lagi tidur jugak!".
"Kak, apa tadi malam aku keluar" tanyaku memastikan.
"Gak!" jawabnya sambil pergi meninggalkan kamarku.
__ADS_1
"Oh tidak!, gawat gawat gawat!!".
"Aku ketiduran dan lupa untuk kerumah Dinda".
Aku berguling guling di kasurku dan sesekali memukul kepalaku sendiri dengan keras, karena dengan bodohnya aku ketiduran dan lupa pada janji Dinda.
Aku benci dengan diriku sendiri dan kecewa berat atas kelalaian ku.
"Astaga dia pasti kecewa".
"Aku menyakiti nya tanpa sengaja".
"Bodohnya aku ini!!".
Aku pun menutupi wajahku dengan bantal sambil menyesali segala yang aku lakukan hari ini.
Membuang kesempatan bahkan menyakiti seseorang yang benar benar aku sukai.
Tapi bagaimana lagi, semua sudah terlanjur terjadi, mungkin memang gak jodoh.
Tiba tiba muncul suara aneh dari balik bantal ku, dan seketika itu muncul getaran pelan beberapa kali.
Aku pun mengangkat bantal dan mencari sumber suara itu dan menemukan sebuah ponsel.
"Kapan aku punya HP" ucapku dalam keadaan terkejut dan mengambil HP tersebut.
"Waduh Hp Dinda nih".
Aku pun teringat kejadian tadi malam itu, sebelum pulang ia memberikan Hp nya padaku.
Aku langsung melihat bekas luka ku dan ternyata benar bukan mimpi karena benar benar ada lecet bekas seretan aspal dan bekas obat merah Dinda.
Aku pun menghela napas lega, tersenyum dan kemudian membuka hp tersebut ternyata memiliki 2 pesan yang isinya dari Dinda sendiri.
"Udah tidur Momo".
"Aku tiba tiba kebangun nih".
Aku pun berpikir dan mencoba membalas nya namun karena tak mengerti cara memainkan Hp aku menulis asal saja.
"hsnhankahmksak" tulisku dan kemudian aku send ke dia.
"Apa sih aneh!" jawabnya mungkin terkejut dengan isi pesan ku.
"Magaf" tulisku mulai bisa sedikit sedikit.
"π€£π€£π€£π€£π€£π€£" balasnya emoticon.
"Hahaha..belum bisa pakai Hp" jawabku.
"Oh yasudah besok aku ajarin, di toko kan besok".
"Minggu libur, senin dah" jawabku.
"Lagi balas pesan mu, sambil bingung π".
"Kok bingung, kenapa?" tanya ia, lewat pesan itu.
"Sepertinya aku salah pencet dan masuk ke menu aneh, gimana cara mundurkan ini?".
"Hahaha hahaha... lucu".
"Serius aku gak paham!".
"Klik aja tombol bulat di tengah, terus klik tanda segi empat dan klik huruf X untuk menghapus semua" jawabnya menjelaskan dengan benar.
"Oh ternyata gampang".
"Hahahaha, udikπ€£".
"Aku gak pernah punya Hp".
"Ih cupu, hahahaha" balasnya lewat pesan suara.
Namun karena aku tak mengerti, aku tak membuka pesan itu tapi malah bertanya, "Musik apa itu".
"Musik, musik apa?".
"Kamu ngirim gambar mic dan titik titik gitu" ucapku tak mengerti.
"Astaga itu pesan suara, klik aja pesan itu maka bakalan muncul suaraku" tulisnya.
"Oh maaf, aku gak ngerti".
"Beneran gak pernah pegang Hp ya".
"Pernah sih Hp kakak, tapi cuma buat main game".
"Oh suka game".
"Ya, kamu lagi apa!".
"Mikirin kamuπ₯°π₯°".
"Wah kok bisa, Btw cara buat gambar gambar kecil gitu gimana" tanyaku polos.
"Astaga, hahahaha" jawabnya, seperti nya iya benar benar lucu melihat kebodohan ku menggunakan HP ini.
"Lah, lucu ya?".
"Kamu bener bener bikin aku ketawa malam malam gini".
__ADS_1
"Ya kebodohan kuemang menghibur orang orang".
"Gini, di papan keyboard bawah ada gambar senyum, klik aja itu".
"Oh ini ya".
"Ya, gampang kan".
"Wah banyak banget, keren".
"Hahahaha, lucunya dirimu".
"π₯°πππππβΊοΈπππ πππ³π°π€ππ€«ππ€«ππ€" balasku padanya.
Ia pun mengirim pesan suara lagi dan isinya adalah tawa nya yang pelan namun nampak lepas sekali.
"πππ€«π€ππ"
"Ih apasih!, gak boleh tau!".
"Apa?".
"Gak boleh kirim emot itu".
"Kenapa, aku gak ngerti".
"Pokonya gak boleh, pantang".
"Oh siap bos".
Kami pun berbincang bincang lewat Hp hingga adzan subuh pun terdengar dan saat itu pun aku pamit untuk sholat dan menghentikan percakapan ini.
Dan kami pun berhenti saling membalas pesan dan aku meletakan Hpku di atas meja dan pergpi ke mushola terdekat untuk menunaikan kewajiban.
**
Setelah selesai, aku pun kembali kerumah dengan terburu-buru karena ingin melanjutkan percakapan dengan nya.
Namun saat aku pulang Hp itu sudah tidak ada di atas meja.
"Kak, lihat Hp ku".
"Loh itu Hp mu".
"Ya, itu Hpku".
"Wah ini Hp mahal loh, kok bisa dapat Hp kayak gini?".
"Emang nya itu mahal ya".
"Ya, ini jutaan harganya, Nemu di mana?".
"Seseorang yang ngasih".
Kakak ku pun langsung membuka Hp itu yang memang tidak memiliki kunci layar.
Sontak ia tersenyum dan mengolok olok aku.
"Cie punya pacar".
"Ah enggak!" jawabku mengeles dan kemudian merampas HP itu dari tangan kakak ku.
"Ih pelit banget, cuman lihat sebentar".
"Gak boleh, nanti semua pesanku ko baca".
"Cie, udah cetingan sama ayang!!".
"Apa sih!".
"Cieeee...!!!, kubilang kan mamak ah!!!".
"Ih puak labu kali kau".
"Cie marah".
"Bodoh ah" ucapku, namun kemudian ia berteriak.
"MAMAK OH MAMAK!!!".
"Ih Apaan sih!!" jawabku kesal.
"Makanya minjem, kalau gak ku aduin nih!".
"Eh bangs** ya memang".
"Bodo amat!".
"Yaudah nanti aku pinjemin".
"Yes, bener ya!".
"Iya iya, tapi aku mau chatting dulu".
"Cie cie.., yaudah deh".
Akhirnya aku lepas dari kakak ku yang narsis dan kepo itu, namun aku sedikit takut jika ia mengadukan aku.
Jadi aku harus baik baik padanya agar ia tak bawel dan jadi benalu.
******
__ADS_1