
Kali ini kayangan dibuat heboh oleh kasus skandal yang memalukan para dewa. Batara Kama yang berjuluk Dewa Penyebar Rindu, kepergok sedang mojok dengan bidadari Subang Wulan.
Padahalbidadari Subang Wulan adalah bidadari kesucian, yang tidak boleh ternoda sedikit pun. Bahkan ditaksir dalam hati pun tidak boleh. Subang Wulan adalah lambang kebersihan dan kehormatan para bidadari.
Karena terperangkap jurus 'Angin Rindu' dari Batara Kama, maka bidadari Subang Wulan mabuk kepayang. Ia membalas kerlingan mata Batara Kama, bahkan membalas cubitan lembut dari sang Dewa Penyebar Rindu itu.
Akhirnya mereka berdua lari ke arah pojok taman dan berhaha-hihi di sana. Kebetulan waktu itu Dewa Pengawas sedang lakukan patroli keliling, sehingga Batara Kama dan Subang Wulan kepergok basah sedang saling mengasah mulut dan bersilat lidah.
Mereka segera ditangkap dan diadili.
Dalam mahkamah pengadilan para dewa dan bidadari, Batara Kama sempat mengajukan pembelaannya di depan sidang.
"Menurut Kitab Undang-undang Hukum Kayangan, yang disebut pelanggaran cinta adalah apabila pasangan itu sudah melakukan 'wikwik' tanpa selembar benang pun di tubuhnya. Sedangkan apa yang kulakukan dengan Subang Wulan masih dalam batas-batas berpakaian rapi, Tuan Dewa Hakim!"
Subang Wulan juga mengeluarkan pembelaannya,
"Betul, Paduka Dewa Hakim. Saya belum diapa-apain kok. Cuma dicium dan dimerahin saja. Sedangkan 'jimat' saya masih awet, tidak robek, tidak ternoda, tidak dijamah, sedikit pun tidak. Kalau tak percaya boleh diperiksa."
Hakim para dewa berkata,
"Pemeriksaan tidak mungkin dilakukan karena hari ini laboratorium tutup. Yang jelas tindakan kalian telah melanggar kode etik kayangan. Kalian layak mendapat bintang, eh... layak mendapat hukuman sesuai pasal lima belas ayat dua yang berbunyi: 'barang siapa mojok dengan sengaja ataupun tidak sengaja tanpa seizin Sang Maha Dewa, maka orang tersebut dianggap melanggar kode etik kayangan dan dianggap juga mencemarkan kesucian kayangan.' Sedangkan menurut kitab undang-undang yang berlaku di sini, pelanggaran seperti itu dikenakan denda kurungan lima ribu tahun atau menebusnya dengan cara dibuang ke bumi!"
"Interupsi!"
Seru dewa yang berpakaian serba coklat.
Tangannya diacungkan ke atas, sehingga para peserta sidang memandang kepadanya.
"Saya sebagai Dewa Pembela tertuduh merasa keberatan dengan ancaman hukuman yang Paduka Dewa Hakim bacakan tadi."
"Apa alasan keberatanmu, Dewa Pembela?"
"Tidak benar kalau hanya karena skandal mojok saja sampai membuat si tertuduh harus dibuang ke bumi! Dalam kitab Undang-undang Kehormatan, pasal seratus satu koma lima, ayat tiga dikatakan; 'Pembuangan ke bumi bisa dilakukan apabila tertuduh melanggar kesalahan sampai tiga kali. Sedangkan Batara Kama baru satu kali ketahuan mojok dengan bidadari. Perbuatan mojoknya yang tujuh kali kan tidak ketahuan oleh petugas, jadi Batara Kama tidak layak untuk dibuang ke bumi!"
Suara gemuruh menyebar di ruang sidang para dewa. Paduka Dewa Hakim mengetok-ngetok telunjuknya ke meja, suaranya keras, seperti ketokan palu.
Dok, dok, dok...!
Lalu suasana menjadi tenang karena hadirin pada bungkam.
"Jadi ternyata Batara Kama sudah melakukan perbuatan mojok seperti itu sebanyak delapan kali?!"
"Benar!" seru Dewa Pembela.
"Tapi yang ketahuan kan hanya satu kali!"
"Hukuman semakin parah. Kami baru tahu kalau Batara Kama melakukan pelanggaran sampai delapan kali."
Batara Kama melirik Dewa Pembela dengan sengit lalu berkata
"Tugasmu itu meringankan hukumanku, bukan memberatkan!"
"Wah, maaf... aku keceplosan ngomong!" Dewa Pembela tampak sedih.
"Paduka Hakim...," seru seorang bidadari berbaju ungu.
"Batara Kama memang layak dihukum berat, karena saya sendiri pernah diajaknya mojok karena jurus 'Angin Rindu'-nya. Tapi tidak banyak, hanya empat kali."
Salah seorang wanita cantik yang juga termasuk bidadari berpakaian putih mengacungkan tangannya
"Saya juga pernah, tapi baru dua kali!"
Satu bidadari berdiri dan berseru
"Jujur saja, saya juga pernah diajak mojok, tapi tidak sampai berbuat yang begitu-begitu. Cuma sebatas 'basah muka' saja."
"Berapa kali?"
"Tak banyak. Cuma delapan belas kali."
"Waaaaah...," semua yang hadir geleng-geleng kepala.
Subang Wulan tiba-tiba mendekati Batara Kama dan menamparnya.
Plaak...!
"Pendusta! Kau bilang belum pernah berbuat begitu, ternyata kata-katamu itu hanya gombal semata!"
Batara Kama diam, hanya mengusap pipinya yang merah karena tamparan bertenaga dalam itu. Sebelum Subang Wulan berkata lagi, telah terdengar seruan seorang bidadari berpakaian jingga yang langsung maju ke depan meja Paduka Dewa Hakim.
"Saya setuju kalau Batara Kama dibuang ke bumi, karena dia telah mengkhianati saya dengan perbuatannya yang baru sekarang terbongkar di depan sidang. Saya sakit hati dengan Batara Kama. Saya terbujuk dan terayu olehnya, sampai saya jatuh cinta dan menyerahkan segala-galanya, termasuk cincin peninggalan orangtua saya juga saya serahkan. Ternyata dia berjiwa playboy, mata keranjang, don yuan, dan pokoknya memuakkan!"
Paduka Dewa Hakim geleng-geleng kepala. Para hadirin bergemuruh lagi mengomentari laporan-laporan tersebut.
Setelah Hakim mengetukkan jarinya lagi, suasana menjadi hening, maka terdengarlah ucapan Paduka Dewa Hakim yang bernada tegas.
"Hukuman pembuangan tetap harus dilakukan untuk Batara Kama dan Subang Wulan. Maka dengan ini...," kata-kata itu segera terpotong,
"Interupsi!.."
"Saya sebagai Dewa Jaksa Penuntut merasa keberatan jika Subang Wulan ikut dibuang ke bumi. Karena Subang Wulan termasuk salah satu dari sekian korban yang dirugikan oleh tindak pelecehan cinta dari Batara Kama!"
"Jadi bagaimana tuntutanmu?"
"Jangan buat Subang Wulan menderita rugi dua kali, itu namanya hukum yang tidak adil. Yang jadi korban jangan dirugikan lagi. Yang menjadi tertuduh itulah yang wajib menjalankan hukuman!"
"Usulmu diterima, Dewa Jaksa Penuntut!" kata Paduka Dewa Hakim.
"Dewa Pembela," bisik Batara Kama yang memang tampan rupanya itu,
__ADS_1
"Lakukanlah pembelaan untukku. Jangan diam saja!"
"Interupsi!" seru Dewa Pembela,
"Kami keberatan jika hukuman untuk Batara Kama adalah pembuangan atas dirinya. Sebab, jika Batara Kama dibuang ke bumi, maka citra dan kehormatan para dewa akan menjadi cemar dan diketahui oleh manusia! Ini sama saja memalukan seluruh warga kayangan. Kami mohon keputusan pengadilan ditinjau kembali demi menjaga nama baik para dewa. Sebab bagaimanapun juga Batara Kama masih termasuk dewa. Manusia akan mengecam kita habis-habisan jika ada dewa melakukan pelecehan cinta sampai dibuang ke bumi. Kecuali jika Batara Kama itu bukan dewa, tak ada masalah lagi. mau dibuang kek, digantung kek, dipancung kek, terserah! Tidak akan menimbulkan pencemaran di kalangan para dewa!"
"Kalau begitu, Batara Kama dicoret dari daftar nama-nama dewa!"
"Setujuuu...!" seru yang lain.
Batara Kama melirik Dewa Pembela,
"Lagi-lagi kau memberatkan tuduhanku! Gara-gara kau, aku bukan saja dijatuhi hukuman malah dicoret dari daftar para dewa! Sudah, aku tak perlu kau bela lagi!"
"Wah... salah lagi kata-kataku?!"
Dewa Pembela tampak sedih dan menyesal.
Paduka Dewa Hakim berseru
"Putusan pengadilan mutlak menyatakan Batara Kama sebagai pihak bersalah dengan tuduhan; Mencemarkan nama para dewa, mencemarkan kesucian para bidadari dengan pelecehan cintanya, merendahkan martabat dan kesucian kayangan, serta merugikan beberapa bidadari yang terbuai rayuan asmara gombalnya. Maka dengan ini Mahkamah Pengadilan Tertinggi Kayangan menjatuhkan hukuman kepada Batara Kama berupa pembuangan dan pencoretan nama!"
"Interupsi!" kata Batara Kama sendiri.
"Saya minta grasi!"
"Keputusan hukuman belum dijatuhkan sudah minta grasi?! Tidak bisa!" tegas Paduka Dewa Hakim.
Lalu ia melanjutkan membacakan hasil keputusannya.
"Atas perbuatannya yang melanggar kode etik kayangan ini, maka dengan ini Batara Kama kami nyatakan dibuang ke bumi dan berubah wujud menjadi manusia biasa dengan segala sifat dan kodrat manusia ada padanya!"
Hadirih bertepuk tangan.
Batara Kama tundukkan kepala.
"Tetapi...," lanjut Paduka Dewa Hakim.
"Karena Batara Kama pernah berjasa kepada masyarakat kayangan, maka seluruh kekuatan ilmu kedewaan dicurahkan kepadanya sebagai bekal kehidupannya di permukaan bumi."
Batara Kama segera angkat kepala dan memandang Paduka Dewa Hakim, ia tampak
tegang karena punya kegembiraan tersendiri, yaitu akan menerima kekuatan ilmu kedewaan.
Dewa Pembela berseru
"Sampai berapa lama Batara Kama menjalani hukuman hidup sebagai manusia di permukaan bumi, Paduka?"
"Sampai batas waktu tertentu. Batara Kama boleh kembali ke kayangan dan menjadi dewa lagi apabila ia sudah kawin dengan putri raja jin dan mampu menghasilkan keturunan. Apabila anaknya lahir, maka seluruh kekuatan kedewaan yang ada padanya akan hilang dan menitis ke anak tersebut, entah anak laki-laki atau perempuan sama saja. Anak itu sendiri akan menjadi dewa apabila ia berhasil menebus kesalahan orangtuanya dengan berbuat baik dan menjadi pembela kebenaran. Ia akan kita angkat ke kayangan apabila sudah menikah dengan warga kayangan. Barang siapa mengabdi kepada anak itu, entah menjadi pelayannya atau menjadi gurunya, maka orang tersebut berhak kita beri tempat sebagai manusia yang hidup di kayangan."
Batara Kama terbengong memandangi Dewa Hakim yang menatapnya. Semua peserta sidang pun diam tak bersuara sedikit pun. Maka Dewa Hakim berkata lagi.
Tok, tok, tok...!
Lalu seberkas sinar putih menyilaukan turun dari langit-langit dan menerjang Batara Kama.
Zrraaab...!
Batara Kama dibungkus cahaya putih menyilaukan. Dalam sekejap cahaya itu pun lenyap.
Blaab...!
Batara Kama jatuh terkapar tak sadarkan diri. Dewa Pembela kaget dan segera meminta petugas keamanan sidang untuk menolong Batara Kama.
"Cepat bawa dia! Dia mengalami shock berat! Bawa ke Rugada!"
"Apa itu Rugada?"
"Ruang Gawat Darurat! Lekas...!"
"Oh sudah ganti nama ya.."
Dewa Hakim berseru
"Tak perlu dibawa ke sana! Rohnya telah kukirim ke bumi, sebentar lagi raganya akan lenyap menyatu dengan rohnya di sana. Kerahkan petugas pengawas agar mengawasi dia selama di bumi!"
Suara-suara itu sebenarnya didengar oleh Batara Kama, tapi makin lama suara tersebut makin kecil dan kian samar-samar diterima pendengarannya. Batara Kama merasa sedang berputar-putar memasukiterowongan cahaya. Ia ingin berteriak minta tolong, tapi mulutnya tak bisa digerakkan dan suaranya bagaikan hilang tak tersisa sedikit pun di tenggorokan.
Pada saat itu muncul sesosok tubuh kurus bermata cekung, jenggotnya panjang, kumisnya juga panjang, semuanya berwarna putih uban. Alisnya pun panjang, sama dengan bulu matanya yang panjang berwarna putih pula.
Sosok kurus itu mengenakan kain abu-abu membungkus tubuh dengan sisa kain menyilang kedua pundak. Rambut tamu yang hadir di pengadilan para dewa itu sangat tipis. Mungkin hanya delapan belas lembar.
Kehadiran tokoh agak bungkuk ini membuat para dewa diam terpaku dengan mata tertuju tegang ke arahnya. Tokoh tersebut berjalan dari pintu masuk ruang sidang sampai mendekati meja hakim.
"Begawan Dewa Gesang, aku mengucapkan selamat datang atas kehadiranmu di ruang sidang ini," kata Dewa Hakim.
"Tapi apa penyebabnya sehingga kau datang sebagai tamu tak diundang di sini?!"
"Aku menuntut keputusanmu, Dewa Hakim! Kau telah membuang anakku, Batara Kama dengan keputusan berat sebelah! Aku akan menuntutmu dengan caraku sendiri. Bersiaplah!"
"Tunggu dulu, Begawan!" cegah Dewa Hakim.
"Keputusan ini kuambil berdasarkan kitab undang-undang yang sudah kau setujui juga pada waktu pembuatannya!"
"Kitab undang-undang itu telah kau ubah sebagian isinya! Jika hanya kasus pelecehan cinta saja tidak ada ketentuannya yang mengatakan seorang tertuduh harus dibuang ke bumi!"
"Itu tidak benar! Aku tidak mengubah isi kitab undang-undang ini!"
"Omong kosong!" bentak Begawan Dewa Gesang.
__ADS_1
"Sebagai ayah Batara Kama, aku tidak bisa menerima keputusan peradilanmu! Kalian semua bersekongkol menjauhkan Batara Kama karena ada pihak yang menginginkan jabatannya sebagai Dewa Penyebar Rindu!"
"Jangan kau kotori kayangan dengan pembelaan sepihakmu, Begawan Dewa Gesang! Sadarlah bahwa kau telah mulai dikuasai oleh nafsu pribadi, yang mementingkan keluarga daripada tegaknya sebuah keadilan!"
"Jangan banyak bicara! Aku sakit hati mendengar anakku dibuang ke bumi! Sebaiknya terimalah pengadilanku sendiri untukmu, Dewa Hakim!"
Begawan Dewa Gesang segera rentangkan tangannya ke atas. Ketika kedua tangan kurus itu diangkat ke atas, maka datanglah angin topan yang bergemuruh dari kejauhan menuju Balai Sidang para dewa itu. Semua hadirin yang ada di dalam ruang persidangan menjadi cemas dan gentar. Mereka tahu bahwa Begawan Dewa Gesang mempunyai bekal ilmu lebih tinggi dari Dewa Hakim sendiri.
Gemuruh angin segera memekakkan telinga mereka. Bangungan itu pun bergetar, dan atapnya tersingkap terbang.
Kraaak...! Braaak...!
Angin topan raksasa menyambar bangunan itu, memelintirnya menjadi remuk dan puing-puingnya terangkat terbang tak tentu arah.
Suasana menjadi gaduh. Para dewa dan bidadari segera tancapkan kaki dengan ilmu mereka yang bernama jurus 'Cakar Dewa'.
Dengan menggunakan jurus 'Cakar Dewa' maka tubuh mereka tak bisa terbawa terbang, seakan kaki mereka tak bisa dicabut dari tempat pijakannya. Tetapi pakaian mereka menjadi berantakan, bahkan ada yang tercabut dari tubuh dan ikut terbawa terbang.
Wruusss...!
“Ooh... pakaianku?! Pakaianku...?!" teriak bidadari yang segera jongkok dan mendekam karena pakaiannya tercabut lepas dari raganya.
"Begawan! Hentikan perbuatanmu!" teriak Dewa Hakim yang berlindung dengan cara merapatkan kedua tangannya di dada, tubuhnya bergerak-gerak bagaikan menahan kekuatan yang ingin menerbangkannya.
Seruan itu tidak dihiraukan oleh Begawan Dewa Gesang. Ruang persidangan hancur lebur. Tubuh Begawan Dewa Gesang gemetar karena masih keluarkan jurus penghadir badainya. Tiba-tiba Dewa Hakim berseru kepada yang lain,
"Serang dia!"
Para dewa dan bidadari yang hadir di situ segera melepaskan pukulan bersinar hijau muda. Dari telapak tangan mereka melesat selarik sinar hijau menghantam ke tubuh Begawan Dewa Gesang.
Clap, clap, clap...!
Berlarik-larik sinar hijau menghantam telak Begawan Dewa Gesang dari berbagai arah. Tetapi Begawan Dewa Gesang segera sentakkan kaki kanannya satu kali
Dug...!
Tubuhnya memancarkan sinar merah berlarik-larik ke segala arah.
Sraab!
Sinar-sinar merah itu menghantam tubuh mereka, membuat mereka saling terbang terpental tunggang langgang. Teriakan mereka saling bersahutan. Kayangan menjadi guncang bagai dilanda kiamat.
Dewa Hakim sendiri sempat tersentak mundur delapan tindak. Tetapi ia segera memutar kedua tangannya dan dari kedua telapak tangan keluar sinar biru besar yang segera mengurung tubuh Begawan Dewa Gesang.
Slaaap...! Suuuuzzz...!
Tubuh Begawan Dewa Gesang tidak memancarkan sinar merah lagi. Sinar merahnya bagaikan dipadamkan oleh sinar biru yang melapisi keadaan sekelilingnya dalam jarak lingkar sekitar empat langkah.
Tetapi Begawan Dewa Gesang masih kurang puas, sehingga kedua tangannya segera disatukan di atas kepala dan pertemuan kedua telapak tangan itu memancarkan sinar putih perak ke berbagai arah.
Sinar putih perak itu menghantam sinar biru pengurung diri.
Zraab...! Jegaaaar...!
Kayangan semakin semrawut. Mereka yang tidak berada di tempat itu pun ikut terpental tunggang langgang.
Tanaman-tanaman di taman bidadari menjadi rusak, bahkan ada beberapa yang tumbang. Air kolam taman muncrat ke atas bagaikan disentakkan oleh tenaga dalam dari bagian bawahnya.
Ledakan amat dahsyat tadi menimbulkan nyala api yang berkobar di udara, terbang ke sana-sini bagai memburu mangsa.
Namun para dewa dan bidadari yang ingin diterjang kobaran api segera saling rapatkan kedua tangan di dada dan tubuh mereka mengeluarkan asap berhawa sejuk. Ada yang sampai sekujur tubuhnya menjadi putih bagaikan dilapisi busa-busa salju, sehingga dari kejauhan tampak seperti segumpal kapas.
Begawan Dewa Gesang tak tahu, bahwa akibat dari murkanya itu, bumi pun menjadi berguncang bagai dilanda gempa. Lautan bergolak, batu-batu karang retak, tanah di sana-sini pun mengalami kelongsoran. Pohon-pohon tumbang, dan beberapa bangunan tempat hunian manusia ada yang roboh.
Mereka yang hidup di bumi menganggap keadaan itu sebagai keadaan datangnya kiamat. Mereka saling ketakutan dan mencari keselamatan masing-masing. Mata air di beberapa tebing jebol, tanggul-tanggul pun pecah, sehingga banjir melanda di beberapa tempat di permukaan bumi.
Murka sang ayah yang membela anaknya dari hukum pembuangan itu hampir saja membuat keadaan bumi porak poranda, terbelah menjadi beberapa bagian.
Untunglah murka itu segera berhasli dihentikan oleh munculnya tokoh berpakaian kain putih bintik-bintik emas. Tokoh itu berparas tampan, walau kelihatan sudah lanjut usia. Seluruh rambutnya putih rata, panjang sebatas punggung.
Kehadirannya sangat tiba-tiba, berdiri di depan Begawan Dewa Gesang. Kedua tangannya segera diangkat sebatas dada dalam posisi telapak tangan terbuka ke
depan. Segala sinar yang keluar dari tubuh Begawan Dewa Gesang terhisap masuk ke telapak tangan tokoh yang baru datang itu. Bahkan kekuatan hembusan angin membadai itu pun bagai terhisap seluruhnya ke telapak tangannya.
Dalam waktu beberapa kejap saja suasana menjadi hening dan tenang kembali. Getaran dan guncangan hilang. Api yang berkobar-kobar lenyap tersedot dua telapak tangan si tokoh berpakaian putih bintik-bintik emas itu.
Pada dewa dan bidadari pun menjadi lega melihat kemunculan tokoh tersebut. Bahkan mereka segera menunduk dengan badan sedikit bungkuk dan kedua kaki berdiri rapat. Mereka memberi hormat kepada tokoh yang datang di depan Begawan Dewa Gesang.
Bahkan sang Begawan sendiri tampak segera tundukkan kepala memberi hormat dalam sikap.
"Murkamu kelewat batas, Dewa Gesang! Kau membuat kayangan menjadi neraka. Jika kayangan seperti ini, lalu apa yang terjadi di permukaan bumi? Lebih parah dari keadaan di sini, Dewa Gesang!"
"Mohon ampun, Sang Hyang Guru Dewa...," ucap Begawan Dewa Gesang dengan sopan dan sangat hati-hati.
Rupanya tokoh yang hadir menenangkan suasana itu adalah Sang Hyang Guru Dewa, tokoh tertinggi para dewa yang berpenampilan kalem dan bersikap bijak. Tidak ada yang berani melawan Sang Hyang Guru Dewa, karena bukan saja beliau adalah senior mereka, namun juga beliau adalah guru bagi para dewa-dewi.
Tentu saja Begawan Dewa Gesang takut kepadanya. Kedua kakinya sampai gemetaran. Karena ia tahu, sekalipun Sang Hyang Guru Dewa orangnya kalem, wajahnya selalu ramah, tapi sekali menjatuhkan hukuman tak tanggung-tanggung.
"Setinggi apa pun ilmumu, Dewa Gesang, masih ada yang lebih tinggi lagi. Demikian juga dengan diriku, setinggi apa pun ilmuku, masih ada yang berilmu lebih tinggi lagi, yaitu Sang Maha Dewa Hyang Widi Wasa! Jadi jangan kau takabur dengan ilmumu, sehingga melepaskannya secara semena-mena hanya untuk menuruti emosimu belaka."
"Saya membela anak saya, Sang Hyang Guru."
"Memang, seorang ayah punya hak melakukan pembelaan terhadap anaknya. Tetapi hendaknya pembelaan itu berdasarkan suatu pertimbangan salah dan benar. Jika Batara Kama memang tidak bersalah, kau berhak membelanya. Tapi Jika Batara Kama bersalah, jangan sekali-kali membelanya. Karena itu sama saja seorang ayah menjebloskan anaknya ke lumpur kesesatan. Pembelaanmu terhadap anak yang salah sama saja membunuh anak sendiri, membutakan mata hatinya untuk tidak bisa melihat lagi mana yang benar dan yang salah! Sekalipun Batara Kama adalah anak dewa senior, tapi jika ia bersalah harus menjalani hukuman yang berlaku. Jangan mentang-mentang dia anak dewa senior, lalu dia bebas dari segala tindakan yang tidak benar karena pembelaanmu! Salah kaprah hidupnya jika kau hanya menggunakan sistem keluarga!"
"Sekali lagi, saya mohon ampun, Sang Hyang Guru."
"Ya. Kuampuni. Tapi kembalikan lagi suasana di kayangan menjadi seperti semula! Aku tak ingin kayangan rusak hanya gara-gara emosimu yang salah!"
Sang Begawan kian tertunduk karena rasa bersalahnya.
__ADS_1