Pendekar Ganjen

Pendekar Ganjen
Rencana Melawan Ratu Peri Sore


__ADS_3

Semasa Yuda Lelana belum menikah dengan Murti Kumala, penguasa Benteng Geladak Hitam yang bernama asli Dardanila itu masih cantik. Selain cantik juga sexy dan menggairahkan. Tapi saat yang datang Pandu Puber, perempuan itu tidak secantik dulu.


Ketika Pandu Puber diantar dua penjaga gerbang setelah terlebih dulu diantar si baju hitam dari pantai tadi, keadaan di dalam ruang pertemuan itu masih bersuasana serius. Di ruang pertemuan yang dulu pernah dijadikan tempat pertemuan ayah Pandu dengan Dardanila itu tampak beberapa orang sedang berbicara dengan Ratu Geladak Hitam.


Tubuh Ratu Geladak Hitam menyedihkan sekali. Kurus, berkulit keriput, bongkok, pipinya kempot, dahinya berkerut-kerut seperti lipatan sarung kumal. Rambutnya beruban tak rata. Pokoknya je lek sekali deh. Tak ada pantasnya sedikitpun kalau dipajang dalam bufet kaca.


Sang ratu sedang bicara dengan dua wanita yang usianya separo baya. Kalau saja dulu waktu Yuda Lelana datang ke situ Pandu ikut serta, pasti Pandu mengenali dua wanita tersebut. Mereka adalah Kutilang Manja dan Peluh Selayang, murid dari Nyai Sirih Dewi, dari perguruan Sekar Bumi yang menempati Bukit Bara.


Sekarang Kutilang Manja sudah berusia empat puluh dua tahun, sebab waktu bertemu dengan Yuda Lelana ia berusia dua puluh empat tahun. Sedangkan Peluh Selayang sudah berusia empat puluh enam tahun. Sekalipun begitu mereka masih tempak cantik dan belum terlalu tua. Bahkan kecantikan mereka semakin kelihatan matang, seakan tumbuh sebagai wanita yang punya segudang pengalaman dalam bercinta.


Tiga wanita dan dua lelaki anak buah Dardanila merasa terkejut ketika penjaga gerbang menghadap dan memberitahukan adanya tamu yang bernama Pandu Puber. Mata tua Ratu Geladak Hitam terkesiap, lalu berubah menjadi tegang, seperti mata kedua wanita murid Nyai Sirih Dewi itu.


“Pandu Puber…? Bukankah….bukankah dia yang belakangan ini dikenal dengan nama Pendekar Ganjen?” ujar Ratu Geladak Hitam.


“Kalau tak salah dengar, konon dia anak dari Yuda Lelana,” sambung Kutilang Manja dengan hati berdebar-debar sebab dulu ia pernah hampir jatuh cinta mentok kepada Yuda Lelana.


“Suruh dia masuk dan menghadapku,” kata Dardanila kepada penjaga gerbang.


Maka sang Pendekar Ganjen pun dibawanya menghadap. Ruang pertemuan menjadi hening mencekam. Mata mereka terpana memandang seraut wajah tampan yang menggetarkan hati. Rambutnya punk-rock, bajunya ungu keren karena berbintik-bintik seperti tetesan embun pagi, tubuhnya tegap, gagah dan tampak jantan sekali.


Kutilang Manja tak sadar sampai membuka mulutnya beberapa saat lamanya. Mulut sampai terasa kering karena kena angin.


Kekakuan mereka yang menyerupai patung hidup itu segera berakhir setelah Pendekar Ganjen bicara sambil sunggingkan senyum yang mampu menghentikan jantung orang setua Dardanila tapi masih bersemangat muda. Untung saja Dardanila segera menarik napasnya panjang-panjang, sehingga jantungnya tak sempat berhenti karena senyuman yang amat membius sukma itu.


“Apakah di sini tempat pertemuan orang bisu?”


Dardanila memaksakan diri untuk batuk-batuk kecil, membuat merekapun mulai sadar akan keterbungkaman mulut penuh rasa kagum itu.


“Benarkah kau putra Yuda Lelana sang dewa itu?” sambut Dardanila dengan suaranya yang gemetar karena ketuaan fisiknya.


“Ya, aku putra Yuda Lelana yang sudah kau kenal, Nyai Ratu.”


“Ooh…..cobalah mendekat kemari, aku ingin melihatmu lebih jelas lagi, Nak!” kata Dardanila, dan Pandu Puber pun segera mendekati dengan senyum masih menari-nari di wajah indonya yang luar biasa ganteng itu.


Dengan mata yang sedikit rabun Dardanila meraba-raba dada Pandu, bahkan rabaannya naik ke wajah. Setiap lekuk wajah disentuhnya agar lebih jelas lagi merasakan sebentuk ketampanan anak Yuda Lelana. Pandu Puber sendiri sempat merinding diraba nenek bungkuk berkulit keriput. Ia risi, wajahnya diobok-obok oleh tangan kurus bagai tulang terbungkus kulit. Tapi ia bertahan demi melegakan si nenek yang tampak menyedihkan itu.

__ADS_1


“Ya, ya, ya….” Dardanila manggut-manggut, senyum tuanya membias tak sedap dipandang mata.


“Ternyata memang tampan. Lebih tampan dari ayahnya.”


“Bagaimana kabar…..ayahmu, Pandu Puber?” tanya Kutilang Manja agak malu.


“Ayah sudah kembali ke kayangan. Ibuku digondolnya juga!”


Mereka tertawa lirih mendengar ucapan Pandu Puber yang cuek sekali itu.


“Kudengar kau terkena racun ‘Tua Bangka’ dari Ratu Peri Sore, Nyai Ratu?”


“Benar. Aku bertarung dengannya dua purnama yang lalu.”


“Apa masalahnya?”


“Mempertahankan Bukit Bara,” jawab Peluh Selayang.


Wanita itu sejak tadi menatap Pandu tiada bosannya. Bahkan kalau bisa wajah itu menempel lekat-lekat di kedua matanya. Padahal Peluh Selayang sudah punya suami lho. Tapi setahun yang lalu sudah cerai sih, jadi dia berani menikmati wajah seorang pemuda yang menggelitik hasrat bercumbunya. Peluh Selayang berkata lagi,


“Ratu Peri masih doyan tambang emas juga rupanya?”


“Mereka tidak menggubris soal tambang emasnya,” sahut Kutilang Manja.


“Yang mereka butuhkan di sana adalah tanah Kapur Gaib.”


Pendekar Romantis yang semula menatap wajah Kutilang Manja dan membatin sisa kecantikan wanita itu, kini jadi berkerut dahi. Rasa herannya tercetus dalam sebuah tanya,


“Apa yang dimaksud dengan tanah Kapur Gaib itu, Bibi?”


“Tanah Kapur Gaib adalah sebidang wilayah yang dapat untuk menyerap segala kekuatan gaib yang melintasi Bukit Bara. Seluruh kekuatan gaib yang melintas di atas tanah Kapur Gaib itu terserap dan dapat dimanfaatkan oleh Ratu Peri Sore dan anak buahnya sebagai kekuatan tambahan pada diri mereka. Kabarnya, Ratu Peri Sore berhasil memperoleh jurus ‘Keringat Matahari’ dari memanfaatkan dan mengolah kekuatan yang terserap di tanah Kapur Gaib.”


Pandu Puber terperanjat. Ia ingat cerita Mirah Duri tentang kekalahan kakeknya Kala Bopak, akibat terkena jurus ‘Keringat Matahari’ dari Ratu Peri Sore. Giginya sempat menggeletuk menahan dendam, tapi ia cepat bisa kuasai diri sehingga tampak tenang kembali.


Peluh Selayang menyambut kata-kata Kutilang Manja,

__ADS_1


“Guru kami, Nyai Sirih Dewi, adalah salah satu korban dari jurus ‘Keringat Matahari’. Beliau musnah tanpa jasad pada saat kami melihat Ratu Peri Sore menghantamnya dengan jurus tersebut.”


“Kakekku juga begitu!”


“Siapa maksudmu?” sergah Dardanila.


“Kala Bopak, raja jin penguasa Pulau Iblis!”


“Mam puslah dia….!” Tak sadar Dardanila mengucapkan sumpah serapahnya, karena hatinya masih luka jika ingat Pulau Iblis yang dulu dikuasainya sempat direbut oleh Kala Bopak.


Hampir saja Pandu Puber marah mendengar sumpah serapah Dardanila. Untung segera dijernihkan oleh Peluh Selayang, sehingga keadaan menjadi damai dan adem lagi.


“Aku ingin berhadapan dengan Ratu Peri Sore, Nyai Ratu. Bagaimana caranya? Apakah aku harus menemuinya di Hutan Kulit Setan atau di Bukit Bara?”


“Sebenarnya….” Kata Dardanila setelah berpikir sesaat.


“Aku bisa membantumu melawan Ratu Peri Sore jika keadaanku pulih seperti sediakala, tidak menjadi setua ini dalam waktu dua bulan saja.”


Pandu Puber merasakan kata-kata itu sebuah pancingan dari sang Ratu Geladak Hitam. Jelasnya, sang Ratu minta diobati oleh Pandu Puber. Tapi Pandu pikir-pikir dulu, soalnya wanita itu tadi habis mengecam kakeknya.


Kutilang Manja berkata kepada Pandu,


“Ratu Peri Sore bukan tandingan kita. Dia sukar dibunuh karena tentunya kekuatan gaibnya sangat tinggi, apalagi ditambah hasil pengolahan kekuatan dari tanah Kapur Gaib. Jika kau melawannya, kau akan binasa, Pandu. Ada baiknya kalau kau lupakan saja tentang Ratu Peri Sore itu. Jaga dan kendalikan emosimu biar tidak membunuh dirimu sendiri!”


“Tapi aku tahu kelemahan si Ratu Peri Sore itu!” sahut Dardanila.


Pandu Puber berpaling memandangnya. Dardanila langsung berkata,


“Tolong bantu aku melenyapkan racun ‘Tua Bangka’ ini, nanti akan kubantu kau mengalahkan Ratu Peri Sore, karena aku tahu kelemahannya.”


“Jika kau tahu, kenapa tidak kau hantam kelemahannya itu saat bertarung denganmu?” kata Pandu Puber menampakkan pemikirannya yang kritis.


“Aku belum sempat memukul kelemahannya. Dia lebih cepat melumpuhkan diriku dengan racun brengseknya ini!” geram Dardanila.


“Penderitaanku ini punya hikmah sendiri. Aku jadi punya siasat sendiri untuk melawan dan mengincar kelemahannya. Karena itu, jika kau bisa melenyapkan pengaruh racun ‘Tua Bangka’, aku bisa membantumu mengalahkan Ratu Peri Sore. Kita sama- sama menyimpan dendam kepada mahluk memuakkan yang satu itu!”

__ADS_1


__ADS_2