Pendekar Ganjen

Pendekar Ganjen
Rencana Menolak Perjodohan


__ADS_3

Pucuk dicinta ulampun tiba. begitulah pepatah yang serasi untuk nasib Pandu Puber yang datang ke koraja untuk temui Lila Anggraeni. Gadis cantik itu ada di depan rumahnya yang mewah bagai istana kecil. Maklum rumah saudagar kaya, bisnisnya ke mana-mana, kalau nggak mewah sih kebangetan. Rumah itu mempunyai pintu gerbang sendiri dari terali besi anti karat warna putih mengkilap.


Waktu itu sang gadis sdang berada di luar gerbang. Bukan semata-mata ingin mejeng, tapi agaknya ia punya alasan tersendiri. Seperti ada yang ditunggu. Pandu-kah yang ditunggu? Oh, bukan. Ternyata yang ditunggu seekor kuda. Kuda putih berjambul lebat dan halus, dituntun oleh seorang pelayan pengurus kuda. Pelayan dan kuda muncul dari samping halaman rumah mewah itu. Ada bungkusan yang diikut sertakan di samping pelana kuda. Wah, kayaknya cewek itu mau kabur dari rumah. Wajahnya sendu, bicara dengan palayannya pelan sekali. Bahkan sempat salaman dengan pelayannya sebelum naik ke punggung kuda.


Pandu Puber memperhatikan dari sisi tersembunyi. Ia merasa heran melihat suasana yang tak beres itu. Maka ia segera muncul dari balik warung nasi yang mirip gardu listrik itu. Pandu Puber datang dari arah depan kuda. Sang kuda mulai berjalan pelan, sang gadis lambaikan tangan kepada pelayannya. Sang pelayan buru-buru masuk ke dalam pagar tembok tinggi itu. Sang gadis bermaksud memacu kudanya agar cepat tinggalkan tempat. Tentu saja Lila Anggraeni kaget melihat Pandu Puber sedang berjalan di depannya menuju ke arahnya. Kaget itu membuat senyum ceria Lila Anggraeni mekar bak jamur di musim hujan. Sinar matanya berbinar-binar seperti petromak penuh minyak. Jantungnya berdetak-detak bagai irama beduk menjelang lebaran.


“Ikutlah aku...! Cepat, ikutlah aku...!” katanya tergesa-gesa. Pandu Puber agak gugup. Kuda melangkah cepat, Pandu Puber terpaksa berlari-lari mengikuti dari samping.


“Ada apa? Kenapa kau tampak gugup?”


“Ikutlah aku! Kita bicara di tempat sepi. Ayo...”


“Iya, tapi...tapi masak aku lari terus sih?”


“Lompatlah!”


“Lompat ke mana? Ke jurang?” sentak Pandu agak keki.


Kudapun segera dihentikan setelah Lila Anggraeni sadar bahwa larinya sang kuda terlalu cepat. Pandu segera naik di belakang Lila Anggraeni, lalu mereka melesat pergi bersama dalam iringan musik sepatu kuda.


Tuk, tik, tak, tik, tuk, tik, tak, tik, tuk...! Suara sepatu kuda.


“Aku harus pergi! Harus minggat dari rumah!” kata Lila Anggraeni dengan wajah duka dan hampir menangis. Mereka ada di lembah yang teduh. Pandu cepat-cepat mengingatkan gadis itu.


“Awas, jangan menangis. Aku tak mau kalau kau menangis. Aku akan lemas seperti dulu lagi.”


“Tapi hatiku sedih!”


“Sedih boleh, tapi jangan menangis!” kata Pandu Puber tegas-tegas.


Kuda ditambatkan di bawah pohon tak jauh dari mereka. Lila Anggraeni bersandar di pohon, satu kakinya ditekuk, menempel pohon. Ia menunduk dalam duka. Pandu Puber ada di sampingnya. Satu tangannya disanggakan ke pohon itu juga. Lalu dengan nada romantis pemuda tampan itu berkata


“Kau boleh sedih, tapi harus punya alasan. Kau boleh pergi dari rumah, tapi juga harus punya alasan. Sama halnya kau mninggalkan hati seseorang, harus punya alasan yang kuat. Jangan pergi begitu saja, nanti sekeping hati yang kau tinggalkan akan hancur selembut tepung terigu.”


“Aku memang punya alasan kuat. Dan...ah, untunglah kau datang. Hatiku sedikit terhibur oleh kedatanganmu, Pandu.”


“Tak ada penghibur hati wanita secantik kau kecuali kehadiranku.”


Pandu Puber mulai ‘menggombal’ di samping telinga Lila Anggraeni. sang gadis terbuai, cuping hidungnya kembang kempis menikmati bunga indah di hati. Ia diam saja ketika dagunya dicubit Pandu. Ia mau tersenyum ketika Pandu pamerkan senyumannya yang menjerat hati itu.


“Ada persoalan apa, Sayang?” tanya Pandu kia romantis.


“Ada seseorang ingin datang untuk melamarku!”


“Oh...!” Pandu Puber berlagak kaget.


“Ayahku akan menerimanya. Aku sudah menolak, tapi ayahku tetap mengharuskan aku kawin dengan orang itu. Aku benci! Benci... sakali!”


Buk, buk, buk...! Dada Pandu dipukul-pukul gadis itu. Pemuda itu diam saja. Tapi akhirnya terbatuk-batuk karena pukulan tadi. dalam hatinya berkata


“Benci sama ayahnya kok yang remuk dadaku?”


Lila Anggraeni berkata sambil mulutnya bergerak-gerak lancip, mirip pinsil alis. Pandu memperhatikan dengan gemas. Ingin meremas mesra bibir itu.


“Sekarang ayahku sedang menjemput tamu itu di pantai. Kupikir, daripada aku nantinya menderita tekanan batin dapat suami yang tidak kucintai, lebih baik aku pergi dari rumah. Minggat ke mana saja.”


“Kau tinggalkan alamat nggak untuk ayahmu nanti?”

__ADS_1


“Minggat kok pakai ninggalin alamat?! Itu namanya ngungsi! Bukan minggat!”


Pandu Puber tertawa, sengaja memancing suasana agar tak terlalu tegang.


“Kau pernah bertemu dengan lelaki itu?”


“Pernah, ketika aku ikut Ayah berlayar membawa rempah-rempah.”


“Ganteng?”


“Ahh...ya gitu deh!” Lila Anggraeni cemberut.


“Sama aku ganteng mana?”


“Mana ada lelaki yang lebih ganteng darimu?” Lila Anggraeni berlagak bersungut-sungut.


“Aku bertemu dengan pria itu ketika ia disewa Ayah untuk menjadi pengawal perjalanan. Karena Ayah takut dibajak oleh orang-orangnya Sikat Neraka. Rupanya disitulah pria itu jatuh hati padaku. Ia mengirimkan utusan untuk mengantarkan surat lamaran. Lalu ayahku menerimanya tanpa persetujuan denganku lebih dulu.”


“Dia anak orang kaya?”


“Ah, nggak seberapa kaya!” jawab gadis itu meremehkan sang pria yang mau dikawinkan dengannya itu.


“Buatku kaya atau miskin sama saja, yang penting hati saling mencinta dan mau sehidup-semati. Itu sudah cukup bagiku.”


“Kau memang gadis yang mulia, Lila. Kebeningan hatimu, serasi dengan kecantikan wajahmu. Tak ada gadis semulia hatimu di dunia ini.”


“Betulkah?” Lila Anggraeni menatap lembut.


“Aku berani bertaruh potong telinga panci, tak ada gadis semulia hatimu, yang bisa memandang cinta sebagai keagunngan hidup, bukan sarana pemburu harta.”


“Pandu, kenapa baru sekarang kudengar kata-katamu itu?” bisik Lila Anggraeni pelan. Tangan gadis itu merapikan baju Pandu. Jemari lentiknya menyentuh-nyentuh permukaan dada bertato mawar. Ia berkata lirih lagi, penuh ungkapan jiwa.


Mata Pandu Puber begitu bening menembus kelopak cinta yang diharapkan Lila Anggraeni. Sang gadis sendiri tak mau berhenti menikmati keteduhan di mata si tampan beranting satu itu. Lalu, ia memberi isyarat dengan redupkan mata. Pandu mengerti maknanya. Bibir yang merekah itu segera dikecupnya pelan-pelan.


Ceess...!


Sekujur tubuh Lila Anggraeni terasa dialiri setrum yang menerbangkan khayalannya jauh di awang-awang. Ia biarkan bibirnya dilumat dengan sentuhan pelan sekali. Bahkan Lila Anggraeni semakin merapatkan badan dan memeluk pemuda tampan itu erat-erat. Seakan ia ingin menenggelamkan seluruh tubuhnya ke badan Pandu Puber.


Sayang sekali Pandu Puber segera melepas kecupannya dengan gerakan pelan. Meski bibir itu telah terpisah, Lila Anggraeni masih merasa bagai dilumat dengan lembut. Matanya masih terpejam mesra. Ketika napas hangat Pandu terasa menjauh, barulah Lila Anggraeni membuka matanya pelan-pelan. Bibir itu bergerak-gerak mengucapkan kata berbisik,


“Pandu, bawalah aku lari. Kemana pun kau pergi, bawalah aku serta.....”


“Itu bukan cara terbaik.”


“Lalu apa menurutmu cara yang terbaik untuk kita?”


“Aku akan menemui ayahmu.”


“Jangan!” Lila Anggraeni tersentak tegang. Pelukanpun terlepaskan.


“Mengapa takut?”


“Ayahku akan marah besar padamu. Selain itu, kalau kau bertemu dengan orang yang melamarku, kau bisa dibunuhnya. Aku tak mau kau mati, Pandu.”


“Aku juga tak mau,” balas Pandu.


“Tapi barangkali, ayahmu perlu kuajak bicara empat mata agar terbuka pikirannya tentang cinta.”

__ADS_1


Lila Anggraeni menghempaskan mapas lemas.


“Kurasa itu jalan yang terburuk Pandu. Ayahku sudah telanjur silau oleh nama besar calon suamiku itu.”


Mulut sang gadis terbungkam sejenak. Ia termenung, namun sebentar kemudian terdengar suaranya lagi,


“Atau...mungkin ayahku takut menolak lamaran orang itu. Aku sendiri juga takut kalau menolaknya secara langsung, bisa-bisa aku ditelanjangi di depan umum. Dia...licik dan jahat menurut pandanganku.”


“Bangsawankah dia?”


“Ngakunya sih bangsawan. Entah kenyataannya, mungkin saja bangkotan! yang jelas ia orang kesohor dari Tanah Sakura.”


Pandu mulai terperanjat.


“Siapa namanya?!” sergahnya bersemangat.


“Gelarnya saja Pendekar Samurai Cabul. Nama aslinya Shoguwara!”


“Gila!” sentak Pandu dengan mata melotot.


“Bukan. Dia bukan orang gila. Tapi entah juga kalau Shoguwara itu artinya gila. Aku tak tahu bahasa tempatnya sih.”


“Maksudku, peristiwa ini peristiwa yang gila bagi diriku.”


“Jadi... kau sekarang punya penyakit gila?” kata Lila Anggraeni dengan polosnya. Pandu Puber sempat jengkel mendengar kebodohan gadis itu.


“Aku datang menemuimu hari ini sengaja untuk pamit padamu.”


“Pamit?”


“Aku akan pergi ke Tanah Sakura mencari Pendekar Samurai Cabul. Tak tahunya justru orang itulah yang akan datang melamarmu. Itukan gila namanya? Gila sekali, kan?”


“Iy...iya sih! Samurai itu memang gila. Tapi...”


“Aku sengaja mau menemuinya di Tanah Sakura untuk menantangnya bertarung. Gelar pendekarnya akan kurebut, karena tidak sesuai dengan tingkah lakunya sebagai seorang pendekar yang gemar menelanjangi wanita memakai samurainya!”


Lila Anggraeni menjadi tegang. Ia mulai sadar apa sebenarnya yang dimaksudkan dalam kata-kata Pandu Puber itu. Rasa takut mencekam jiwa, tercermin lewat sorot mata dan ekspresi wajahnya.


“Kau...kau akan melawannya? Maksudmu tarung pakai senjata, gitu?”


“Kau ini kok masih **** aja sih? Sekarang begini saja deh....kita pulang ke rumahmu! Aku akan berpura-pura menjadi kekasihmu.”


“Maksudmu.....maksudmu berpura-pura menjadi kekasihmu.”


“Ya. Kau keberatan?”


“Aku ......hmm.....maksudku, kenapa hanya berpura-pura?”


“Kita boleh jatuh cinta tapi jodoh bukan kita


penentunya!”


Lila Anggraeni menunduk lesu. Pandu Puber segera berkata,


“Sudahlah, itu bisa dibicarakan nanti. Yang jelas aku akan berpura-pura jatuh cinta padamu dan memancing Pendekar Samurai Cabul untuk masuk ke arena pertarungan! Kau harus membantuku, karena aku akan membantumu melepaskan dirimu dari perjodohan itu, Lila!”


“Apakah...apakah....apakah kau sanggup mengalahkan dia?”

__ADS_1


“Kita lihat saja nanti!”


__ADS_2